Merman, I'M In Love!

Merman, I'M In Love!
Kebahagiaan itu ....



Cyrano berjalan perlahan dengan kayu yang ujungnya menyala-nyala. Mendekati semak-semak yang bergerak-gerak. Betapa terkejutnya saat ia melihat kucing berwarna hitam dengan mata menyala di kegelapan. Secara reflek, laki-laki itu menjauhi binatang tadi. Rasa tidak nyaman, muncul setelah hewan tersebut muncul.


"Tidak perlu kau usir, Cyra. Kucing adalah binatang paling ramah, meski liar di alam bebas."


Namun, Cyrano sudah mundur saat kucing liar tadi berdengus-dengus. Sepertinya, binatang itu juga merasakan hal yang sama. Tidak nyaman. Medelline yang tadinya berdiri di belakangnya, langsung maju. Gadis itu berusaha menjinakkan kucing di hadapannya.


Dalam sekejap, kucing berbulu hitam itu sudah nyaman dalam gendongan Medelline.


"Dia tidak akan memakanmu, Cyra. Cobalah pegang!"


Cyrano masih bergidik takut melihat kucing tersebut. Ini baru pertama kali ia melihat binatang seperti itu.


"Apakah dia beracun, Meddy?"


"Beracun? Bagaimana bisa binatang lucu dan menggemaskan ini mengandung racun?"


Cyrano masih enggan menyentuh benda berbulu tebal di pangkuan Medelline. Sementara gadis itu sibuk mengelus-elus bulu lembut binatang tersebut.


Cyrano tidur di dekat api unggun, sementara Medelline dan kucing hitam tadi, di sisi lain. Ini pertama kalinya laki-laki itu tidur di luar air. Menjadi seperti manusia. Baginya, itu bukan hal yang buruk. Ia menikmati rasa dingin dari embusan angin. Hangatnya api yang menyala-nyala di dekatnya.


Keesokan harinya, Medelline terbangun lebih dulu. Ia mencari-cari kucing yang tadi malam bersamanya. Kemudian, perutnya mulai lapar. Ia membuka kantong yang ia bawa. Mengeluarkan beberapa potong roti kering. Setelah menciduk air laut, sedikit, ia mencelupkan roti tersebut dan membakarnya di atas bara api.


"Kau harus makan, Cyra. Ini, makanlah!" Medelline mengulurkan sobekan rotinya kepada Cyrano.


"Apa kau tidak membawa selada, Meddy?"


"Selada akan layu jika kita membawanya dalam perjalanan."


Mau tidak mau, Cyrano mengambil roti yang ditawarkan. Mulai memakannya perlahan. Rasanya, seperti mengeringkan tenggorokannya. Menyesakkan dada, hingga ia menepuk-nepuk dadanya sendiri.


"Kau tidak apa-apa Cyra?"


"Tidak apa-apa, tetapi kenapa makanan ini begitu menyiksa tenggorokanku? Rasanya begitu kering!"


Setelah menghabiskan makanan, mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan.


Medelline melihat sebuah rumah kecil dengan bentuk yang menarik di atas tebing tak jauh dari teluk Aegis. Ia meminta Cyrano untuk memanjat ke sana.


"Itu sangat tinggi, Meddy. Kau yakin akan ke sana?"


"Ayo, coba saja!"


Ketika mendekati rumah tadi, Medelline terkejut saat melihat kucing hitam yang ia temui kemarin, ada di depan pintu. Berdiri memandangi dirinya.


"Luna, ini makananmu!" Seorang nenek dengan jubah hitam, keluar dari rumah tadi, membawa sepiring makanan. "Oh, ternyata, ada tamu," lanjutnya.


Cyrano dan Medelline saling berpandangan, lalu mendekati wanita tua tadi. Medelline mengelus kucing yang duduk di depan pintu.


"Ternyata namamu, Luna. Nama yang indah seperti wujudmu."


Binatang itu kemudian mengeong manja. Mengusapkan kepala pada gadis tadi.


"Kami mencari seseorang ahli ramuan. Apa Anda tahu tentang hal itu, Nyonya." Medelline mulai menjelaskan.


"Memangnya ramuan mana yang kalian inginkan?" tanya wanita itu.


"Ramuan yang bisa membuatku menjadi manusia seutuhnya," sahut Cyrano.


"Lebih baik aku yang menjadi Mermaid, Cyra."


Selama kedua orang tadi berdebat. Sang nenek tersenyum lebar. Mereka berdua tidak tahu, bahwa perempuan tua tersebut adalah bangsa Nereid yang enggan tinggal di lautan. Bertahan hidup seperti manusia di tebing tersebut.


"Menjadi apa pun, kalian telah diikat dengan takdir. Jadi, kalian tidak membutuhkan ramuan apa pun. Tetapi, ramuan di tanganku ini, bisa mengubah salah satu di antara kalian." Perempuan tua itu menunjukkan sebuah botol kaca kecil, berisi cairan dengan warna emas yang cemerlang.


Meski kedua orang tadi pulang dengan tangan kosong. Mereka bahagia, dan saling mengikat janji. Menjadi apa pun, mereka akan selalu bersama, kelak.


Medelline baru saja mengembalikan kuda yang ia sewa. Kemudian memandang langit yang gelap karena tertutup awan, tidak seperti biasanya. Ia baru ingat bahwa dirinya menyuruh Cyrano menunggu di kedai makanan tanpa atap.


Medelline berlari, saat hujan semakin deras.


"Ah, tidak! Tidak, Cyra. Aku harap kau akan baik-baik saja."


Terlambat, sampai di tempat Cyrano berada, beberapa orang lain sudah berkumpul. Mereka terkejut dengan perubahan yang terjadi pada laki-laki tadi. Ekornya yang cemerlang berkibas-kibas.


Beberapa orang mulai mencari alat untuk menangkap Cyrano, saat ia sudah berwujud merman sempurna.


"Tidak! Tidak! Jangan! Aku mohon." Medelline memohon kepada orang-orang untuk melepaskan Cyrano.


Di sisi lain, bagian dasar laut di teluk Aegis, Seorang wanita yang bersahaja, terkejut dengan apa yang dilaporkan oleh salah satu prajuritnya.


"Jadi, itu adalah keponakanku?"


Medelline menghalangi orang-orang yang beringas dengan tangan kosong. Ia melindungi Cyrano menggunakan badannya sendiri.


"Kumohon, jangan lakukan itu. Dia tidak berbahaya." Medelline terus memohon.


"Aku tahu, makhluk itu tidak berbahaya. Tetapi malah menguntungkan bagiku." Seorang laki-laki menyahuti perkataan Medelline.


"Ya, ya betul. Yang aku dengar, setiap bagian tubuh Mermaid berharga sangat mahal." Laki-laki berkepala pelontos ikut membenarkan.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo, kita tangkap dia!"


Sementara itu, Odahinu merasa kesal saat ia mendengar berita bahwa Cyrano sedang diburu manusia. Ia meminta bantuan para Sereneid untuk ikut naik ke daratan, melindungi putra Triton tersebut.


Sesampainya di daratan, Odahinu yang sudah berubah wujud seperti manusia, menghunuskan tombak bermata tiga pada manusia. Para Siren mulai menyanyi.


"Paman, apa yang Paman lakukan?"


"Aku akan menghabisi semua manusia yang sudah melihat wujudmu, Pangeran."


"Jangan, Paman. Jangan!"


Odahinu merasa heran kenapa Cyrano malah melindungi manusia yang hampir saja mencelakainya.


Manusia-manusia yang mendengar nyanyian Siren telah berjalan menuju lautan. Medelline juga terpengaruh, hanya saja, Cyrano menahannya. Memeluk kuat gadis itu.


Meski Cyrano berteriak-teriak minta ampun, Odahinu tidak menghentikan Siren-siren yang menyanyi. Kemudian, ia terpaksa melepaskan kekuatannya di daratan.


Cyrano membuat badai tornado yang sangat dahsyat. Menggulung manusia-manusia yang mulai menceburkan diri ke laut, mengembalikan mereka ke daratan. Ia juga mengikat Medelline dengan pusaran angin.


Wanita tua di tebing Aegis, yang ternyata adalah Nereid, telah tiba di tempat tersebut. Ia membantu Cyrano menyelamatkan beberapa manusia, mengikat mereka di pohon-pohon dengan meminta bantuan Driad dan Hamadriad.


Beberapa Nereid yang merasakan fenomena abnormal di daratan segera bergegas menuju tempat tersebut. Mereka mulai memukul mundur pasukan Odahinu dan para Siren. Mengangkat manusia yang tenggelam dari lautan.


Seorang Nereid dengan baju zirah yang berkilauan, terus memerintahkan untuk merangsek ke depan. Hingga semua Mermaid dan Sereneid kembali ke lautan.


Setelah menyelamatkan manusia-manusia tersebut, para Nereid menggunakan sihir mereka. Memanipulasi ingatan. Membuat orang-orang yang menyaksikan kejadian di luar nalar itu, melupakannya.


Dari tempatnya terikat, Medelline memandang kejadian itu dengan takjub.


"Ini sungguh hebat!" gumamnya.


Bersambung ....


*Driad dan Hamadriad adalah nimfa/peri yang tinggal di pohon-pohon dan hutan.