
Triton baru saja beringsut bangun. Ia duduk di ranjangnya yang luas. Beberapa mermaid pelayan, melayaninya. Mengganti pakaian dan membersihkan tubuhnya. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak di sekitar istananya.
Triton didampingi beberapa pengawal dan mermaid, mengelilingi istana miliknya. Ia tersenyum saat melihat binatang-binatang laut bergerombol. Mengobrol dengan santai, hingga tidak menyadari bahwa rajanya ada di sekitar situ.
Triton terkejut saat tidak sengaja mendengar seekor ikan Marlin dan kepiting, berbincang-bincang.
"Untung saja, raja bisa diselamatkan, Marley! Aku tidak menyangka, gadis itu terlalu ambisius. Aku benar-benar jadi tidak suka dengan mermaid itu!"
Triton mendekati kedua makhluk itu, setelah mendengar kalimat terakhir kepiting.
"Kalian sedang berbicara tentang apa?" tanya Triton.
Tanpa menolehkan tubuhnya, kepiting tadi bercerita kepada Triton. Marley menyadari, siapa sosok itu. Ia sudah berusaha memberitahu si kepiting. Namun, tidak berhasil. Binatang bercapit itu tetap berbicara tanpa henti. Menuturkan apa yang ia ketahui.
"Jadi, kau pikir putriku akan mencelakaiku? Omong kosong!"
Si kepiting terkejut saat menyadari bahwa laki-laki yang ada di hadapannya adalah Triton sendiri. Ia sungguh menyesali kebodohannya.
Sesampainya di Istana, Triton mencari putrinya. Mereka berdua bertemu di sebuah ruangan.
"Vaelia, apakah benar kau pergi ke celah di daerah bermuda?"
Vaelia terkejut mendengar pertanyaan sang ayah. Namun, ia berusaha tenang dan biasa-biasa saja.
"Kenapa Ayah bertanya padaku seperti itu? Bukankah semua Mermaid tahu aturan tentang tidak boleh ke tempat tersebut."
"Sungguh?"
"Ya, Ayah. Kecuali memang bukan mermaid sesungguhnya. Ia tidak tahu aturan itu."
Vaelia mulai melancarkan taktik busuknya. Mencoba berkelit dan melemparkan masalah kepada orang lain.
"Apa maksudmu, Putriku?"
"Apa masuk akal jika seorang mermaid sepertiku, melakukan hal tersebut, Ayah? Bukannya yang berpotensi adalah ...." Gadis itu mencoba untuk melempar umpan.
Kau ingin berkata bahwa itu ulah adikmu?"
"Bukan tidak mungkin, Ayah."
"Tidak! Cyrano tidak pernah berbuat jahat. Ia juga tidak terlihat menginginkan suatu hal."
"Di dalam hati, tidak ada yang tahu, Ayah."
Triton pergi dengan ekspresi wajah yang dingin. Ia mulai ragu dengan kebaikan Cyrano selama ini. Laki-laki itu terus berpikir sepanjang perjalanan pulang.
Cyrano datang ke kediaman Triton. Laki-laki itu masih khawatir tentang kesehatan ayahnya. Saat ia datang, sang ayah sedang duduk termenung di singgasananya. Bahkan saat putranya mendekat, Triton tidak sadar.
Cyrano tidak bermaksud mengagetkan Triton. Namun, secara reflek, raja Mertopia itu bersiap menghunuskan tombak bermata tiga yang muncul di tangannya secara ajaib.
Cyrano menghindar, hingga terpelanting jauh. Suaranya menyadarkan sang ayah.
"Kau, tidak apa-apa anakku?"
"Tidak apa-apa, Ayah."
Triton teringat dengan perkataan Vaelia. Matanya menatap tajam pada Cyrano.
"Apa kau tahu, ada orang yang berusaha meracuniku dengan sebuah ramuan?"
"Ya, ayah."
"Kau tahu ramuan apa itu?"
"Itu adalah bisa ular laut yang paling mematikan."
Triton terkejut, bahwa Cyrano mengetahui hal tersebut, tetapi diam saja tanpa melapor.
"Pengawal! Jebloskan dia ke dalam kurungan!" Triton menunjuk ke arah Cyrano.
"Ayah, bukan saya pelakunya! Tetapi ...."
"Kakak! Aku ... aku ...."
"Aku tidak sudi menjadi kakak penjahat sepertimu!"
Cyrano merasa kesal melihat Vaelia yang berpura-pura tidak bersalah.
"Aku sangat benci dengan pembohongan dan penipuan! Aku selama ini menghormatimu sebagai Kakak, tetapi kau telah membuatku melewati batas kesabaran."
Vaelia tertawa.
"Memangnya kau bisa apa? Menghilang dari kerajaan ini?"
"Ya! Inilah, bedanya aku dan dirimu!"
Cyrano menjentikkan jarinya, untuk berpindah dengan cepat. Ia lega, sihir itu berhasil. Meloloskan diri.
Di aula kerajaan, Vaelia bingung mengetahui bahwa Cyrano mempunyai kekuatan sihir. Namun, di sisi lain, Triton tersenyum. Karena ia sempat mengenali sesuatu yang dipakai putranya.
"Pengawal! Cari dia!" teriak Vaelia murka.
Cyrano sampai di pintu gerbang istana bawah laut Aegeis. Ia tidak perlu berenang jauh sekarang. Ikat pinggang berkilauan, pusaka pemberian kakeknya, telah membantu.
"Pangeran? Ada apa?" Seorang Nereid melihat Cyrano berdiri di pintu gerbang.
"Apa bibi ratu ada di tempat?"
"Ya, Pangeran. Saya akan melapor ke istana."
Beberapa saat kemudian, Nereid penjaga gerbang kembali menemui Cyrano.
"Silakan masuk ke aula kerajaan, Pangeran. Ratu menunggu Anda di sana."
Ratu Merine sedang memandangi bola kristal bercahaya di hadapannya. Kemudian, saat ia menyadari kehadiran Cyrano. Perempuan itu mengalihkan wajahnya dari benda di depannya.
"Bibi, apakah saya boleh tinggal di sini, sementara waktu?"
Ratu Merine tersenyum.
Di tempat lain, Medelline baru tiba di teluk Orelia. Ia duduk di tepi laut dengan kaki menjuntai ke dalam air. Seperti biasa, ia menunggu suaminya muncul dari dalam air. Ia tersenyum-senyum sendiri, menebak-nebak reaksi sang suami saat mengetahui dirinya sedang mengandung.
Medelline kembali membawa seikat selada, kesukaan Cyrano, tadi ia lupa membawanya.
Matahari hampir tenggelam, tetapi Cyrano tidak juga muncul. Medelline tetap menunggu, hingga sang Surya tenggelam di balik garis laut.
Menelan kekecewaan mendalam, Medelline menangis. Ia mengelus perutnya. Sambil menghapus air mata, ia bangkit dan berjalan pulang.
Medelline menangis sepanjang hari, ia telah menduga, hal ini mungkin akan ia alami. Dari awal, ia sadar bahwa pernikahan dua ras memang terlalu susah untuk berhasil. Perempuan itu mengusap-usap lembut lukisan suaminya yang ia gambar sendiri. Baginya, meski mungkin Cyrano telah mencampakkan dirinya, ia tidak akan membuang makhluk di dalam kandungannya.
Di laut Aegeis, saat larut malam, Cyrano baru teringat bahwa ia seharusnya bertemu dengan istrinya di teluk Orelia. Ia tidak berenang, meski menguras energinya, ia menggunakan sihir perpindahan tempat. Sesampainya di tepi teluk Orelia, ia melihat beberapa pasukan Merman berpatroli.
Cyrano kembali ke Aegeis, mengurungkan niatnya untuk menemui Medelline. Ia menunggu saat aman.
Odahinu semakin geram, mengetahui akal bulus Vaelia. Ia tahu betul, siapa sebenarnya yang mencoba membunuh Triton dengan ramuan beracun. Meski ia juga berusaha melenyapkan sang raja, tetapi hatinya tidak terima saat tuduhan diarahkan ke Cyrano.
Tidak ada orang yang tahu, Odahinu telah menganggap Cyrano seperti anaknya sendiri. Aneh, tetapi sejak pertama kali dengan anak laki-laki itu, ia sudah terikat. Apalagi, dulu Merman muda itu pernah menolongnya dari jerat manusia.
Odahinu bergegas menuju aula kerajaan, menemui Triton.
"Apakah kau yakin anak itu di sana, Panglima?"
"Ya, Baginda. Saya yakin. Saya juga tahu benar ketulusan Pangeran. Ia bahkan tidak tega membunuh seekor cacing laut. Mana mungkin ia berniat mencelakai ayah kandungnya."
"Kalau begitu, jemput ia untuk pulang ke Mertopia. Aku akan mengembalikan nama baiknya."
Di tempatnya berdiri, Vaelia merasa kesal mendengar percakapan rahasia kedua Merman di hadapannya.
Bersambung ....