Merman, I'M In Love!

Merman, I'M In Love!
Pembuktian Fakta



Cyrano melambaikan tangan, lalu mulai menyelam ke dasar lautan. Terus berenang, dengan cepat. Sesampainya di tempat ia tinggal, seorang laki-laki melihat kedatangannya.


"Aku tidak akan lari lagi, Paman. Aku akan datang di persidangan."


Odahinu mengangguk, lalu mengawal Cyrano ke sebuah tempat. Ruangan dengan jeruji yang terbuat dari tulang ikan. Di sana, biasanya digunakan sebagai persinggahan warga Mertopia yang hendak disidang.


Cyrano duduk di sebuah batu di dalam ruangan tersebut. Ia memikirkan cara untuk membuktikan bahwa ia tidak mencuri pusaka milik penguasa kerajaan tersebut. Namun, seorang mermaid mendatanginya.


"Kukira kau akan seperti pengecut. Tidak akan pernah kembali lagi ke tempat ini, dan bersembunyi di tempat lain."


"Pada kenyataannya, aku bukan seperti itu. Aku tahu, kau lah pelakunya, Kak."


"Sudah kukatakan, jangan panggil aku kakak!"


"Dan lagi-lagi, kenyataannya, kau adalah kakakku!"


Vaelia berenang mendekati jeruji.


"Aku sudah katakan, bahwa kau tidak pernah akan bisa menggantikan aku yang berdarah murni! Kau adalah makhluk percampuran menjijikkan yang pernah aku tahu." Kemudian gadis itu berbalik dan menjauh.


"Tidak ada kemurnian di dunia kita, Kak! Bahkan kakek kita, Poseidon, punya seorang anak setengah manusia."


Vaelia membalikkan wajahnya dan mendesis marah.


"Kau pergilah saja dari sini! Dan buatlah anak yang setengah-setengah. Sama kelasnya denganmu!"


Beberapa penjaga mengantarkan makanan untuk Cyrano. Mereka belum tahu, siapa sebenarnya tawanan di ruang itu. Kenapa mendapatkan perlakuan khusus.


"Kau beruntung, tidak ada orang yang dihukum mendapatkan makanan seperti ini!" penjaga itu mengulurkan bungkusan makanan.


"Terima kasih."


"Oh, iya. Aku dengar, kau juga yang pernah berurusan dengan manusia. Kuberitahu, ya. Manusia itu makhluk yang paling serakah. Kau tidak akan selamat jika berurusan dengan mereka."


Merman penjaga itu pergi setelah menyerahkan jatah makanan. Cyrano tersenyum, teringat dengan Medelline. Ia yakin, apa yang dikatakan penjaga tadi, tidak sepenuhnya benar. Gadis manusia itu bahkan tidak ingin dirinya terluka.


Keesokan harinya, Cyrano di bawa ke persidangan. Banyak Mermaid dan Merman yang berkumpul di tempat itu. Sebuah tempat luas yang terlihat seperti aula, tetapi tidak beratap. Beberapa Mermaid dan Merman, duduk di sebuah kursi yang terbuat dari batu karang, di hadapannya.


Seorang merman membacakan kesalahan yang "dianggap" dilakukan oleh Cyrano. Beberapa hukuman yang akan ia dapatkan jika terbukti salah, juga disebutkan.


"Lalu, apa Anda punya pembelaan, Tuan?" Hakim bertanya pada Cyrano.


"Aku ... aku ...."


"Kalau tidak ada pembelaan, maka saya akan membacakan keputusan tentang hukuman apa yang akan Anda tanggung."


Cyrano baru saja ingin mengatakan penyanggahannya, tetapi seorang Merman menghentikannya.


"Saya tidak bermaksud mengganggu jalannya persidangan. Hanya saja, apakah kalian mengenal siapa anak laki-laki ini?"


Para Mermaid di kursi tamu saling berpandangan. Sang hakim sudah mengisyaratkan laki-laki itu tutup mulut. Namun, tidak berhasil. Odahinu tetap berbicara.


"Laki-laki muda ini adalah putra dari Raja kita, Raja Triton."


Suara keterkejutan yang kompak, terdengar dari mulut hadirin.


"Bagi kami para Mermaid atau Merman yang bekerja di istana utama mengenalinya."


"Lalu apa hubungannya dengan kasus pencurian ini? Silsilah tidak bisa membuat seseorang terlepas begitu saja dalam hukum negara ini." Hakim menyela perkataan Odahinu dengan nada gusar.


"Saya tidak mengatakan hal itu. Hanya saja, ada sebuah kenyataan yang dirahasiakan, ditutupi dan dianggap rumor belaka."


Cyrano memandang pamannya tersebut. Ia berharap laki-laki itu membocorkan identitas yang sebenarnya.


"Makhluk ini, tidak murni! Dia hanya setengah Mermaid. Darahnya tercampur dengan kotoran. Oleh karena itu, ia menginginkan milik Baginda raja untuk mewujudkan keinginannya," lanjut Vaelia.


Suara terkejut, terdengar dari hadirin. Vaelia terus-menerus menghina asal-usul Cyrano. Hingga laki-laki sudah tidak bisa lagi menahan amarah. Odahinu terdiam, karena ia tidak mungkin melawan mermaid di hadapannya. Putri kandung Triton.


Amarah yang menumpuk di rongga dada Cyrano, membuatnya melepaskan sihir khas milik bangsa nereid. Pusaran air kecil muncul dari kedua tangannya dan mulai membesar.


"Aku tidak membutuhkan senjata atau pusaka apa pun untuk membuat hal semacam ini!" Cyrano berteriak lantang, pusaran air mulai membungkus ekornya hingga sebatas pinggang.


Merman dan Mermaid yang hadir, membelalakkan mata. Mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat. Seorang Merman bisa mempunyai kekuatan seperti itu. Itu sebuah keanehan.


"Cyrano, cukup! Apa kau akan menghancurkan tempat ini?" Odahinu mulai berteriak saat pusaran air sudah membungkus tubuh laki-laki muda tersebut.


Beberapa Mermaid dan Merman yang menonton, melarikan diri. Berlindung.


Cyrano sudah berhenti, ia menunduk. Menyesal.


"Jadi, para hakim. Memang seperti itulah kenyataannya. Yang Anda lihat, adalah kemampuan sihir yang dimiliki oleh bangsa Nereid. Ya, anak ini adalah setengah Nereid. Dengan kemampuan seperti itu, tidal mungkin dia mencuri pusaka tersebut untuk mengendalikan cuaca."


Semua yang hadir saling berpandangan. Mereka juga menunggu keputusan sidang.


"Baiklah. Kali ini, Cyrano ... ehem, maksudnya pa-eh, Tuan Cyrano. Anda dibebaskan karena tidak terbukti bersalah dalam masalah ini."


Cyrano memang bebas dari hukuman, tetapi tatapan sinis dari orang lain, makin banyak didapatkannya. Dari dulu, Nereid adalah bangsa yang Mermaid tidak sukai, karena kegemaran mereka menolong para nelayan dan pelaut tersesat.


Odahinu mendekati Cyrano saat pemuda itu tengah kebingungan.


"Pangeran. Dengan begini, orang tidak akan meremehkan Anda lagi."


"Betulkah, Paman?"


"Ya. Bagian terhebatnya, Anda juga seorang putra raja. Anda berhak menggantikan Baginda Raja kelak."


"Baguslah."


Odahinu tersenyum puas. Ia sangat senang bahwa hasutannya pasti akan berhasil.


Sementara itu, di daratan. Medelline sedang duduk memandangi lautan yang tadi sedikit "Mengamuk", tetapi sekarang sudah tenang.


"Baru saja sebentar kau pergi, Cyra. Tetapi aku sudah sangat ingin melihat wajah dan mendengar suaramu," ucap Medelline penuh perasaan.


"Meddy, kau tidak mau ikut ayah ke pusat keramaian?" Tanpa disadari, Robert sudah berdiri di dekat putrinya.


"Aku tidak berminat, Ayah."


"Kau bilang ingin menukarkan emas itu." Robert berbisik di telinga putrinya.


"Ah, iya."


Medelline bergegas bangkit, berjalan menuju kapal, membawa kantong kecil dan menyelipkan di pinggangnya.


"Ngomong-ngomong, di mana adikku itu. Beberapa hari ini, aku tidak melihatnya."


Langkah Medelline terhenti saat mendengar perkataan sang ayah. Ia tahu betul bahwa pamannya yang jahat itu telah tenggelam dan dimakan ikan raksasa.


"Itu ... aku tidak tahu, Ayah."


"Ah, iya. Aku lupa, laki-laki itu memang suka aneh-aneh saat di tengah lautan. Mungkin dia sudah turun ke daratan lebih dulu."


Susah payah Medelline menelan ludah.


Bersambung ....