
Sudah beberapa hari, keadaan laut belum membaik. Robert berdiri di atas tebing yang tinggi. Di bawahnya, gelombang tinggi menghantam. Sesekali, terlihat petir menyambar permukaan laut jauh di sana. Angin menderu, berembus. Laki-laki itu menarik napas dalam-dalam. Mengingat perkataan putrinya tadi.
Robert tidak bisa membayangkan, jika ia harus merawat dua orang lagi di saat tubuhnya mulai menua dan pendapatan yang tidak seberapa. Laki-laki itu memikirkan cara untuk membujuk putrinya, untuk menyerah. Perdebatannya tadi pagi, membuatnya yakin bahwa ia tidak becus merawat Medelline sebagai putri kandungnya.
"Aku tidak bermimpi, Ayah! Suamiku seorang Merman! Kami saling mencintai, aku yakin itu!"
"Hentikan semua kegilaan ini, Sayang! Ayah lelah, Ayah muak! Kau boleh jatuh cinta dengan siapa pun, tetapi seorang Merman? Itu hanya imajinasimu! Katakan, siapa b*jingan itu, yang membuatmu menderita seperti ini!"
Medelline menangis, tanpa berbicara apa-apa lagi. Dengan terhuyung-huyung, pergi. Keluar dari tenda.
Robert mengusap kedua wajahnya dengan kasar, ia frustasi. Masih memandangi lautan yang bergejolak. Ia senang jika putrinya hamil. Itu berarti dia akan dikaruniai seorang cucu. Namun, mendengar bahwa mungkin saja putrinya hamil anak monster sungguhan, ia kesal.
Robert menarik lembut tangan putrinya yang sedang membagikan makan siang pada para penduduk yang masih mengungsi.
"Ada apa, Ayah?"
"Duduklah, aku ingin berbicara padamu."
Medelline menyelesaikan pekerjaannya membagikan makanan. Kemudian mengikuti ayahnya.
"Bisakah kau membuang saja bayi itu? Kau yakin bahwa bayi itu bukan monster? Bagaimana jika ia meminta makan yang 'tidak normal', manusia misalnya?"
"Tidak, Ayah! Ayah pikir suamiku itu seorang monster? Suamiku tidak memakan manusia. Ia sangat menyukai selada."
"Kau bilang, ia seorang Merman, Duyung. Mereka makan daging manusia!"
"Tidak, Ayah. Cyrano berbeda!"
"Ia juga punya nama seperti manusia?"
"Tentu saja!"
Robert mengembuskan napas kasar. Kesal.
"Aku tidak bisa merawat bayi itu! Aku sudah tua dan tidak bisa bekerja lebih untuk membiayai kalian berdua."
"Aku tidak membutuhkan uang dari Ayah. Aku bisa mencarinya sendiri!"
"Dengan keadaanmu yang lemah seperti ini?"
Medelline menangis, ia lelah berdebat dengan sang ayah. Bersikeras untuk mempertahankan bayi di dalam rahimnya. Meskipun, sang ayah bersikukuh memintanya untuk menggugurkan kandungan.
Robert mengelus kalung milik almarhum istrinya. Laki-laki itu menangis dalam hati. Sepanjang hidupnya, Medelline tidak pernah membantah. Gadis itu begitu penurut. Namun karena obsesinya pada makhluk air yang menurutnya tidak nyata itu, anaknya berubah.
Robert berpikir berulang-ulang kali. Merasa bersalah atas perkataannya yang sedikit keterlaluan. Mulai berpikir bahwa ia akan memaklumi kehadiran bayi tersebut. Kelak, ia ingin berusaha keras untuk menghidupi putri dan cucunya tersebut. Laki-laki itu pun berjalan kembali ke tenda pengungsian. Berkompensasi dengan egonya.
Mata Robert mencari-cari sosok Medelline. Beberapa lama ia mencari, tetapi tidak ia temukan. Kemudian, ia berpapasan dengan perempuan tua yang sempat menolong putrinya.
"Aku belum melihat anak itu hari ini. Mungkin ia di lokasi pengungsian lain."
Robert berjalan ke lokasi lain tempat pengungsian untuk mencari Medelline. Meski sudah berkeliling, ia juga tidak menemukan perempuan muda itu.
Di tempat lain, di tepi teluk Orelia, Medelline duduk. Pandangannya jauh ke depan. Melihat gelombang air yang masih tinggi. Angin kencang meniup rambutnya berwarna tembaga hingga berkibar-kibar. Seakan tidak takut dengan laut yang bergejolak, ia termangu.
Medelline tersadar, bahwa ia tidak boleh mengorbankan bayinya demi keegoisan sendiri. Perempuan itu segera berlari menjauh dari gelombang laut yang makin tinggi dan mengejarnya.
Medelline memutuskan untuk pergi ke tempat lain. Ia tidak mau kembali ke pengungsian. Masih enggan bertemu dengan Robert, ayahnya. Tekadnya sudah bulat. Mempertahankan bayinya, meski itu artinya melawan keinginan sang ayah.
Medelline duduk bersandar di dalam kuil Zeus. Ia mengenang saat dulu Cyrano menikahinya di tempat tersebut. Bibirnya tersenyum. Kenangan-kenangan bersama sang suami, membuatnya kembali menitikkan air mata.
Seorang dewi minor penunggu kuil Zeus, muncul di hadapan Medelline. Ia berwujud perempuan tua dengan pakaian nelayan.
"Kenapa kau menangis di sini? Apa kau dicampakkan laki-laki? Kebanyakan pria memang egois, tetapi itu tidak penting bagi perempuan seperti kita bukan? Selama ada kenangan indah tentangnya, cinta tetap bersemi." Perempuan itu duduk di sebelah Medelline.
"Suamiku tidak mencampakkan aku. Ia hanya tidak bisa selamanya bersamaku."
"Memangnya alasan apa, sehingga membuat kalian tidak bersama?"
"Dia makhluk yang hidup di bawah laut." Medelline menoleh ke arah perempuan tadi. "Aku yakin kau juga tidak akan percaya denganku dan menganggapku gila," lanjutnya.
"Terkadang, kita membutuhkan orang gila. Untuk suatu perubahan. Apakah kau tahu kisah tentang Uranus yang dibunuh anaknya sendiri? Itu demi kegilaannya akan kekuatan. Tetapi jika tidak seperti itu, dunia tidak akan berjalan seperti semestinya."
"Suamiku seorang Merman!"
"Itu tidak gila!" Perempuan tadi mendekatkan bibirnya ke telinga Medelline. "Pemilik kuil ini, bahkan menikahi banyak manusia. Orang tua para gadis, menganggap anaknya gila. Tetapi, nyatanya Herakles terlahir!" ungkapnya.
"Siapa sebenarnya dirimu? Kenapa kau tahu begitu banyak hal di dunia ini?"
Perempuan tadi terkekeh.
"Aku juga menggilai sesuatu. Tetapi aku tidak cukup berani untuk menjadi benar-benar gila sepertimu. Menikahi seorang Merman cucu dari dewa utama."
Medelline terkejut, ia heran kenapa perempuan di sampingnya tahu siapa Cyrano.
"Tidak masalah gila atau tidak. Tetapi, adanya janin dalam rahimmu, artinya, dewa telah memilihmu. Dia bukan bayi biasa. Bayi yang dilingkupi berkah para dewa. Tidak perlu khawatir dengan hal yang tidak pasti. Laki-laki yang mencintaimu, pasti akan tetap mencintaimu. Melindungimu, mendukung segala yang kau lakukan. Meski tidak ada di sisimu terus."
"Aku tidak tahu, kau siapa, Nyonya. Tetapi, kata-katamu, membawa ketentraman dalam hatiku. Terima kasih. Ya, apa pun yang terjadi, aku akan melindungi anak ini."
"Apa boleh aku menyentuh anak itu?"
Medelline menarik lembut tangan perempuan tadi. Ia yakin bahwa seseorang yang duduk di sampingnya itu, bukan orang biasa.
"Aku tidak mempermasalahkan itu."
Perempuan jelmaan salah satu dewi minor penjaga kuil Zeus itu, tersenyum. Ia mengelus perut Medelline. Mengucap sebuah kalimat. Memberkati bayi yang ada dalam kandungan Medelline.
"Aku mungkin belum bisa melihatmu, karena kau masih di dalam sana. Tetapi, setelah kau lahir ke dunia, jadilah pelindung orang tuamu. Terutama ibumu yang cantik dan baik hati ini. Kau mungkin bukan manusia biasa. Tetapi kelak kau akan jadi anak yang luar biasa."
Medelline terkesima dengan perkataan perempuan berbaju nelayan tadi.
"Apakah kau seorang dewi?"
Bersambung ....