Merman, I'M In Love!

Merman, I'M In Love!
Hadiah yang Indah



"Ayahmu mencari ke mana-mana, Meddy. Pulanglah!" Kemudian laki-laki dengan topi lebar itu memandangi perut Medelline yang membuncit. "Pantas saja Robert begitu mengkhawatirkanmu."


"Tidak, Paman. Aku tidak ingin pulang ke mana pun. Di sinilah rumahku." Bulir bening jatuh dari ujung mata Medelline. Ia menunduk.


"Baiklah, baiklah! Di mana pun, asal kau bahagia. Apa boleh kuberitahu ayahmu tentang keberadaanmu di sini?"


"Jangan, Paman "


Luciana mengamati Medelline dan orang asing sedang berbicara. Dari kejauhan. Perempuan itu berjalan mendekat saat melihat rekan kerjanya menangis.


"Apa ada masalah? Tolong jangan ganggu putri saya!" Luciana menatap tajam pada pria yang duduk di hadapannya.


"Tidak, Nyonya. Tidak ada apa-apa. Semua baik-baik saja." Medelline berusaha meyakinkan Luciana. "Apa pesanan, Paman?" Kemudian ia menoleh ke arah teman ayahnya tadi.


Luciana berlalu setelah memastikan tidak ada apa-apa yang terjadi pada Medelline. Ia melihat perempuan muda itu berjalan masuk ke dapur. Kemudian keluar membawa sebuah nampan berisi makanan dan minuman pesanan.


Namun Luciana merasa heran, setelah itu, lama Medelline tidak keluar lagi dari dapur. Penasaran, perempuan itu segera masuk ke dapur.


Betapa terkejutnya Luciana saat melihat Medelline meringkuk di lantai menahan sakit. Wajah perempuan muda itu merah padam. Air menggenang di bagian bawah tubuhnya.


"Meddy! Apa ini sudah waktunya?" Luciana berjongkok, menyentuh air yang menggenang dan mengendusnya. "Tunggu di sini sebentar! Aku akan memanggil bantuan!"


Medelline mengangguk lemah. Kemudian merangkak mencari sandaran. Ia menahan rasa yang bergejolak di bagian perutnya. Napasnya tersengal-sengal. Keringat membanjiri punggung dan wajahnya.


Medelline mulai lemas saat Luciana datang dengan perempuan yang memakai celemek putih. Tas kotak kulit ada di tangannya. Dengan bantuan Luciana, perempuan setengah baya tadi mengangkat Medelline ke ranjang di kamarnya.


Luciana berlari ke kedai, lalu menutup semua pintu dan jendelanya. Kemudian masuk ke kamar, memegangi tangan Medelline yang menggenggam kuat. Ia menyemangati perempuan itu.


Tiba-tiba, cuaca yang tadinya tenang dengan semilir angin, berubah. Langit menjadi gelap, petir menyambar-nyambar. Suara angin di luar menderu. Bahkan, air laut bergejolak. Hal itu berlangsung cukup lama. Hingga nelayan yang akan berangkat menuju laut, mengurungkan niat.


Ajaibnya, semua kekacauan cuaca, berhenti saat tangis bayi terdengar di ruangan yang terbuat dari kayu tersebut. Luciana tersenyum, ikut bahagia saat melihat bayi mungil yang menangis. Rambut bayi itu berwarna tembaga dengan bola mata hijau. Kulitnya putih bersih dengan pipi kemerahan dan bibir merekah.


"Selamat, Nyonya. Bayi Anda begitu tampan."


"Tampan? Ia terlihat sangat cantik," sela Luciana.


"Tetapi, ia laki-laki."


Setelah Luciana mengantar perempuan yang membantu kelahiran bayi tadi, perempuan itu kembali ke kamar. Ia duduk di tepi ranjang Medelline.


"Bolehkah aku menggendongnya sebentar?" tanya Luciana.


Tanpa ragu sedikit pun, Medelline menyerahkan bayi dalam dekapannya itu ke perempuan di sampingnya.


"Meskipun dia laki-laki. Tetapi kenapa parasnya begitu elok? Lihatlah! Ia mewarisi mata dan rambutmu, Meddy!" Luciana terus berbicara. Antusias. "Apa aku boleh bertanya tentang sesuatu?" Luciana menatap Medelline, berusaha menangkap ekspresi wajahnya.


"Kenapa tidak boleh?"


"Sebenarnya, di mana Ayah dari bayi ini?"


Medelline menunduk, terdiam.


"Tunggu! Tunggu! Aku tidak bermaksud ... jika kau tidak ingin menjawabnya, maka, tidak perlu. Laki-laki memang kadang bisa menjadi sangat br*ngsek."


Medelline menggelengkan kepala.


"Dia adalah laki-laki yang sangat baik. Hanya saja, kedudukan dan statusnya, membuat kami tidak bisa bersama, Nyonya. Saya yang memutuskan untuk menjauhiny. Saya yakin, ia begitu mencintai saya."


"Apa dia tahu tentang kehamilanmu sebelumnya?"


Medelline menggeleng.


"Bisa jadi, kehadiran bayi ini akan membuatnya bahagia! Apa kau berencana untuk memberitahunya, Meddy?"


Medelline teesentak. Ia baru saja memikirkan sebuah hal konyol. Ia ingin bangkit dari ranjang, tetapi, tubuhnya masih terasa berat.


"Kau di sini saja, Meddy! Biar aku yang mengurus kedai sendirian. Yeah! Aku akan mengadakan pesta untuk laki-laki tampan mungil itu!" Luciana mengedipkan sebelah matanya. Tersenyum lebar. Meletakkan bayi itu di sebelah Medelline.


Di bawah laut, para Nereid merasa bingung tentang perubahan cuaca yang tiba-tiba. Mereka berusaha mencari sumber badai, tetapi nihil.


"Aneh! Apa ada sesuatu yang sudah terjadi di luar jangkauan pandanganku?" Ratu Merine berpikir keras di atas singgasananya. Setelah mendengar penuturan para utusan. Baru kali ini ia menjumpai fenomena seperti ini. Namun ia sedikit merasakan, pernah mengalami hal seperti itu.


Bersambung ....