Merman, I'M In Love!

Merman, I'M In Love!
Kerinduan



Matahari sudah bersinar terang, kedai baru saja buka. Seorang perempuan dengan rambut berwarna tembaga dan bola mata hijau cemerlang, terlihat membersihkan meja. Sesekali, ia mengelus perutnya yang mulai membukit. Luciana, pemilik kedai, sering menyuruhnya istirahat karena kondisinya.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Aku sudah mendapatkan apa yang aku butuhkan. Tidak adil rasanya jika aku hanya diam saja." Medelline menolak untuk beristirahat lebih .


"Setidaknya, kasihanilah anakmu di dalam, Meddy."


Medelline tersenyum.


"Ia akan jadi anak yang kuat, Nyonya. Tidak perlu khawatir."


Luciana mengalah, membiarkan perempuan itu menyelesaikan pekerjaannya.


Sudah beberapa pekan berlalu sejak Medelline kembali dari dasar laut Aegeis. Keputusan yang ia ambil memang berat, tetapi ia sudah pasrah jika sudah tidak bisa bersama sang suami. Sejak awal, hubungan mereka diperkirakan tidak akan berhasil.


Meski begitu, tidak ada yang berbeda. Medelline tetap datang ke teluk Orelia setiap akhir minggu. Duduk di sana hingga matahari terbenam. Tentunya, tanpa sepengetahuan bangsa Nereid. Ia selalu membawa seikat selada dan melemparkannya jauh ke depan. Hingga benda itu hilang ditelan ombak.


Di tempat lain, Cyrano sama menderitanya seperti Medelline. Ia memang tidak mendapatkan hukuman karena terbukti tidak bersalah. Namun, hukuman terberat baginya, tidak bisa bertemu dengan perempuan yang ia cintai.


Cyrano melihat seekor kepiting sedang mengoyak daun yang sepertinya ia kenali.


"Hei, kau dapat dari mana benda itu?" tanya Cyrano.


"Aku menemukannya tenggelam di dekat teluk. Ini memang tidak enak, tetapi tidak buruk juga."


Hati Cyrano terasa seperti disayat-sayat. Ia tahu, itu pasti Medelline. Hanya dia yang melakukan hal tersebut. Seketika, bayangan wajah dan senyuman perempuan itu membuatnya makin rindu.


Cyrano keluar dari kediaman, ia berencana untuk keluar sebentar. Namun, kebetulan Odahinu datang.


"Anda dilarang naik ke daratan, Pangeran."


"Aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar, Paman."


Odahinu memerintahkan beberapa pengawal untuk menemani Cyrano.


"Ini hanya untuk keamanan Anda, Pangeran."


Setelah peristiwa peperangan dengan bangsa Nereid, penjagaan Mertopia diperketat. Apalagi, Vaelia disinyalir sedang menghimpun kekuatan untuk mendukungnya dalam usaha menduduki takhta sang ayah.


Hari demi hari, Triton makin melemah. Hal itu membuat Odahinu makin getol mencari dukungan untuk Cyrano.


"Kenapa bukan Paman saja yang naik takhta?" protes Cyrano di suatu saat yang lalu.


"Saya bukan keturunan Dewa. Dewa minor sekali pun, hanya Merman biasa. Mengangkat diri saya sebagai pemimpin Mertopia, sama saja memancing murka para dewa di Olympus. Anda keturunan Dewa Poseidon. Meski tidak lahir dari Ratu."


"Kakakku lebih berhak. Kenapa kau tidak mendukungnya, Paman."


Cyrano tidak tahu, justru alasan yang membuatnya terobsesi untuk menjadikan seorang Merman menjadi pemimpin Mertopia, dikarenakan perkataan Mermaid sombong tersebut.


"Saya yakin, Anda lah, sosok yang dibutuhkan untuk kemajuan Mertopia."


Vaelia mengumpulkan beberapa klan Sireneid untuk mendukungnya. Klan itu terkenal dengan sifatnya yang tangguh dan membenci siapa pun selain bangsanya sendiri.


Di kediamannya, Cyrano baru ingat dengan berkah yang diberikan sang kakek. Ia mengelus ikat pinggangnya. Memejamkan mata, berharap ia bisa melihat Medelline. Ketika membuka mata, ia melambaikan tangan, sihir keluar dari tangannya. Sebuah bayangan muncul di hadapannya.


Cyrano tersenyum saat melihat bayangan yang terlihat di depannya. Medelline tersenyum melayani para pelanggan. Ia menyentuh bayangan tersebut, di perutnya.


"Aku harap, aku bisa bertemu denganmu, Anakku!"


Cyrano melambaikan tangan lagi, saat mendengar gerakan seseorang berdiri di belakangnya.


"Sejak kapan Anda bisa melakukan itu?"


Bersambung ....