Merman, I'M In Love!

Merman, I'M In Love!
Obsesi



Sesuai dugaan Cyrano sebelumnya. Beberapa prajurit Merman datang ke pondok di tepi pantai. Tempat di mana tadinya ia dan istrinya tinggal. Para prajurit tersebut mengobrak-abrik tempat itu. Mencari Medelline untuk dihabisi. Beruntung, peri pohon tadi telah membawanya keluar dari rumah.


Medelline telah sampai di istana Nereid. Ratu Merine segera berjalan turun dari tahta ketika ia datang. Wanita cantik itu memeluknya dengan erat.


"Syukurlah kau baik-baik saja, Sayangku! Maaf, aku tidak bisa hadir dalam acara bahagiamu."


"Itu bukan masalah, Yang Mulia."


"Untuk sementara, kau tinggallah di sini. Setelah keadaan mulai aman, kau boleh pulang atau tetap tinggal di sini. Sesuai pilihanmu."


Di Mertopia, di sebuah ruangan pada istananya yang berkilauan di bawah laut, seorang laki-laki berdiri di balkon. Menengadahkan kepala. Merman berbaju zirah, memberinya salam hormat.


"Jadi, putraku sudah menikahi seorang manusia?"


"Ya, Yang Mulia."


"Apa dia terlihat bahagia?"


"Ya, Baginda."


"Baguslah! Selama ini aku melihatnya hidup dalam hinaan, karena kesalahanku. Harusnya aku memberikannya posisi khusus. Tetapi kau tahu, kan? Istriku pasti akan mengguncang Mertopia jika aku memberikan keistimewaan kepada putraku dan Penelope itu."


Triton menghela napas. Ia mengingat kembali masa-masa saat bersama Nereid kesukaannya, Penelope. Kemudian, ia teringat dengan perempuan manusia yang dinikahi putranya.


"Prajurit, apa gadis manusia itu baik-baik saja?"


"Ya, Yang Mulia. Ia aman dalam lindungan Ratu Merine."


"Ah, ya. Wanita pemimpin Nereid itu. Aku berhutang sangat banyak kepadanya. Juga, kali ini, mungkin aku membutuhkan bantuannya juga."


Triton berjalan ke meja tempat biasanya ia membaca di kamar. Dengan sihir, ia menulis sebuah pesan rahasia. Memberi segel resmi dan memberikan benda itu kepada prajurit tadi.


"Kau, pergilah ke laut Aegeis. Bawa ini kepada Ratu Merine. Tetapi, jangan sampai ada yang tahu. Mengerti?"


"Ya, Yang Mulia."


Triton kembali ke balkon, berdecak. Ia cuma berharap bahwa umurnya panjang sehingga mampu menjaga putranya yang malang. Kemudian, ia terbatuk. Memegangi dadanya erat-erat. Para gadis pelayan, bergegas menopang sang raja agar tidak jatuh ke lantai.


Seketika, istana Mertopia menjadi terlihat sibuk. Beberapa ahli ramuan dan pengobatan, datang ke kamar sang raja. Berita jatuh sakitnya Triton, membuat Odahinu berhenti memaksa Cyrano untuk menikahi seorang mermaid pilihannya.


"Ayahanda sedang sakit, Paman! Rasa-rasanya, tidak beretika ketika kita malah sibuk mencari gadis mermaid untuk kunikahi."


Tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Odahinu menuruti keinginan Cyrano. Ia pun bergegas menuju kamar sang baginda.


Cyrano tidak tahu, bahwa Odahinu sedang melancarkan rencana jahat. Di sisi lain, Vaelia pun mencari kesempatan untuk membinasakan ayah kandungnya. Obsesi pada takhta Triton, membuat dirinya gelap mata. Mereka berdua, dengan cara sendiri ingin mewujudkan impian masing-masing. Meski kelak nyawa makhluk lain menjadi korbannya.


Dengan tatapan sedih, Cyrano memandang ayahnya yang terbaring di ranjangnya. Ia ingat betul, meski ia disembunyikan dari rakyat Mertopia, Ayahnya itu datang secara rutin, menemuinya. Menemaninya bermain. Menceritakan kisah-kisah patriotik para dew dan keturunannya.


Cyrano menggenggam tangan Triton. Tiba-tiba, mata yang terpejam itu, membuka perlahan.


"Ah, Putraku. Akhirnya aku bisa melihatmu secara langsung." Triton melambaikan tangan, isyarat agar semua orang keluar dari kamarnya.


"Bagaimana keadaan Ayahanda sekarang? Mana yang sakit? Saya akan memeriksanya."


Triton tersenyum saat melihat sang putra mengkhawatirkan dirinya.


"Aku tidak apa-apa. Hanya penyakit yang biasa dialami oleh merman tua. Aku sudah hidup ratusan tahun."


"Sungguh?"


"Kau tahu, Cyra? Dulu waktu kau lahir, aku sangat bahagia. Aku yakin kau akan mirip sekali dengan ibumu. Ternyata dugaanku benar. Aku sudah mendengar kisah-kisahmu. Maaf, aku tidak bisa melakukan apa pun untuk menolongmu."


"Ayahanda tidak perlu meminta maaf. Justru saya yang harus meminta maaf karena terus-menerus membuat keributan."


Triton terkekeh.


"Dulu, waktu muda. Aku lebih nakal daripada kamu, Cyra. Ayahku sampai kewalahan untuk membuatku diam. Hingga aku punya anak-anak yang menggemaskan. Anak-anak yang menggemaskan itu pun, kini tumbuh jadi sosok yang membanggakan."


"Saya tidak seperti itu, Ayahanda."


"Kau memang benar-benar mirip ibumu. Ibumu adalah peri yang sangat istimewa. Meski ia tidak bisa berumur panjang dan tinggal jauh dari tempat semestinya, ia tetap semangat menjalani hidupnya. Kecantikan dan kebaikan hatinya yang membuatku terpikat. Meski banyak yang menentang hubungan kami saat itu, aku tidak peduli. Penny-ku harus jadi milikku."


Cyrano meraih tangan Triton, perlahan. Saat ia melihat kristal air mata mulai mengambang dari sudut mata laki-laki tua itu.


"Kau harus hidup setangguh ibumu, Cyra. Ia tidak pernah takut dengan vonis bahwa ia tidak berumur panjang. Seperti Nereid lainnya. Ia yang paling suka bergaul dengan manusia. Menolong anak-anak yang tenggelam di pantai dan Nelayan yang diganggu sereneid."


Triton menyihir dengan sisa energinya. Ia memunculkan wajah ibu kandung Cyrano. Cyrano begitu takjub melihat gambaran di depannya. Seorang peri dengan mata dan warna rambut yang ia miliki. Kulit cemerlang dengan pipi yang merah merona.


"Dia sangat cantik, bukan? Jika ia sehat, seharusnya ia yang memimpin di laut Aegeis. Kau putranya, putra seorang Nereid terhormat. Jangan ragukan apa yang ada dalam dirimu. Bahkan, kau mewarisi kekuatan ibumu. Aku tahu, bukan kau yang mencuri terompet kerang saktiku."


"Kenapa Ayahanda diam saja saat itu?"


"Jika aku berbicara dan langsung membelamu, aku tidak akan pernah tahu, kekuatan apa yang kau miliki. Kau pun juga, bukan?"


Cyrano tersenyum.


"Jadi, Ayahanda sedang menguji saya kala itu?"


Triton terkekeh.


"Aku lelah Cyra. Aku ingin memejamkan mataku sebentar. Kau pergilah beristirahat."


Tanpa mereka berdua ketahui, Vaelia berdiri di depan pintu kamar. Mendengarkan percakapan kedua Merman tersebut. Hatinya terbakar. Ia semakin ingin menghancurkan Cyrano. Ia tidak pernah diperlakukan seakrab itu. Hanya karena ibunya pergi dari Mertopia.


Cyrano keluar dari kamar Triton. Ia terkejut saat melihat Vaelia berdiri di sana. Ia begitu risih melihat adik tirinya memandanginya.


"Alihkan matamu itu! Atau aku akan menusuknya dengan tombakku."


Cyrano mengerutkan dahi. Ia tidak mengerti, kenapa putri duyung tersebut begitu membencinya.


"Maafkan aku, Kakak."


"Sudah kubilang, aku bukan kakakmu! Ibuku adalah ratu mermaid yang bernilai. Sedangkan ibumu ...."


"Ibuku? Ibuku juga Nereid yang hebat. Jika mau, ibuku pun bisa memimpin sebuah kerajaan. Apalagi aku!"


Vaelia terkesiap dengan perkataan Cyrano. Ia berpikir bahwa laki-laki itu berniat untuk merebut takhta darinya.


"Akulah putri Triton yang terlahir dari Mermaid berdarah murni yang mulia. Bukan keturunan kotor semacam kau! Kau tidak akan bisa mengalahkanku!


Cyrano menolehkan kepala dengan kesal, ia merasa muak dengan hinaan kakak tirinya.


"Kau! Diamlah! Atau aku harus mewujudkan ketakutan terbesarmu, Kak?"


Bersambung ....