
Youngmi masih terngiang-ngiang dengan tawaran Seungjo-Saem, menurutku itu tawaran yang menggiurkan. Siapa yang tidak ingin sekolah di luar negeri dengan beasiswa? Aku sangat ingin meskipun bukan cita-citaku, apalagi negara yang ditawari adalah Rusia. Di sana piano adalah instrumen yang mulia dan disediakan untuk para elit. Tidak hanya aku yang mendapat kesempatan ini, ada beberapa siswa-siswi prestasi lainnya dari kelas 12 untuk mendapat kesempatan yang sama dan diajukan oleh sekolah secara langsung.
Di tanganku saat ini terdapat sepucuk surat yang harus aku berikan kepada waliku untuk persetujuan beasiswa ke luar negeri. Tapi, waliku⎯Min Jee eonni⎯ sudah tidak bersamaku, entah di negara mana dia tinggal sekarang.
"Youngmi?" panggilnya lalu menyentuh bahuku. Aku menoleh padanya dan buru-buru menaruh surat yang ada di tanganku ke dalam tas.
"E-eoh? Eonni!"
Jihye menaikkan alis. "Apa itu yang kamu sembunyikan?" tanyanya penasaran dan mendekat.
"Ye? Ah .... itu tadi surat pemberitahuan ujian kelulusan yang akan segera dilaksanakan," imbuhku tersenyum canggung.
Jihye semakin mendekat, ia menyipitkan kedua matanya. "Jinjja? Bukankah itu surat cinta, Youngmi-ya?" godanya sambil menahan tawanya.
Aku berdehem, menatapnya tajam. "Aniyo, eonni! Mana mungkin surat cinta diberikan padaku! Tidak ada yang menyukaiku!"
Jihye tertawa sangat puas lalu mengusap bahuku lembut. Aku mengernyitkan dahi. "Aigoo! Uri Youngmi! Benar-benar sangat polos, laki-laki tampan yang saat itu ke sini memangnya kamu tidak bisa merasakan tatapannya?"
"Aish! Merasakan tatapan? Tatapannya biasa saja padaku, aku juga tidak merasakan apapun," sergah Youngmi tidak membenarkan.
"Ne, Ne! Aku yakin kamu akan merasakannya suatu hari nanti," ujarnya lagi.
"Oh iya, eonni aku ingin bertanya padamu." Aku tidak menggubris perkataannya dan mengganti topik.
"Mwo? Tanyakanlah." Jihye tengah sibuk merapihkan gelas-gelas yang sudah bersih.
"Jika kamu mendapat suatu kesempatan, misalnya eonni ditawari belajar di luar negeri. Apakah eonni akan segera mengambil kesempatan itu? Atau malah memikirkannya terlebih dahulu?" tanyaku sambil memandangi kegiatannya.
"Hmm .... aku akan memikirkannya lebih dulu, meskipun itu kesempatan bagus tapi jika tidak sesuai dengan kemampuanku percuma saja. Lebih baik, pelajari dahulu kemampuan kita, pelajari juga negara yang akan menjadi tempat kita belajar dan ini yang paling penting, fakultas yang akan kita pilih, hal itu harus di pikirkan matang-matang biar tidak menyesal dikemudian hari," jawabnya sekaligus memberi saran.
Aku tersenyum setelah mendengar saran dari Jihye eonni. Ia seperti kakak keduaku, ketika aku sedang kesulitan, aku akan meminta saran dari Jihye eonni, dan terkadang ia tidak pernah bertanya masalahku tapi langsung memberiku solusi. Sifatnya itu lah yang membuatku merasa ia mengerti perasaanku.
Aku selalu mengingat perkataannya, saat di mana aku tidak bisa memberi alasan padanya dari setiap masalahku.
"Ada banyak alasan dan hal yang tidak seharusnya kamu katakan kepada seseorang ketika kamu sedang mengeluh atau bercerita padanya. Dan bagiku, alasan itu tidak penting, yang paling penting adalah apa yang ada di benakmu, jika ingin kamu keluarkan, kamu harus bisa keluarkan. Jika tidak bisa dikeluarkan, jangan pernah memaksakan."
"Eonni, gomawo!"
*****
"Bicceul ssotneun sky
Geu arae seon ai I
Kkumkkudeusi fly
My life it a beauty
Eodiseo manhi deureobon iyagi
Miun oriwa baekjo,
Tto nalgi jeonui nabi
Saramdeureun molla,
Neoui nalgaereul mot bwa
Nega mannan segyeraneun geon
Janinhaljido molla
But strong girl"
Alunan nada dering di ponsel Youngmi berbunyi kencang. Aku yang sedang mengerjakan tugas sekolahku terperanjat mendengar lagu dari Taeyeon - I terus terulang-ulang berbunyi tanpa mau berhenti sebelum sang pemilik ponsel mengangkatnya.
"Ne, ne ..... aku datang!" Keluhku sendiri.
Aku segera mendudukkan diri di atas kasur empuk goshiwon lalu segera mengambil ponsel dan mengangkat telepon, entah dari siapa itu.
"Yeoboseo." ( Hallo )
"Ne, ne .... benar, itu saya."
"....."
Keesokan harinya,
Aku berjalan dengan lesu di koridor sekolah menuju kelas, entah kenapa hari ini aku sangat tidak bersemangat bahkan jantungku terus berdetak sangat cepat dari semalam hingga detik ini.
"Annyeong," sapa Seo Yi teman yang duduk di depanku.
"Annyeong, Seo Yi-ssi!" sapaku lirih lalu tersenyum.
Seo Yi memandangi wajahku sebelum bertanya.
"Neo, gwaenchana? Wajahmu sangat pucat!" Cetusnya terdengar khawatir.
"Eo-eoh? Aku baik-baik saja! Tidak usah khawatir, wajahku memang seperti ini."
"Selamat pagi, keluarkan buku paket bahasa Inggris kalian. Hari ini saya akan membahas materi lanjutan kemarin," Cho-Saem telah memasuki kelas 3-2 untuk memberikan pelajaran pertama, bahasa Inggris. Semua murid telah berada di bangku mereka masing-masing dan bersiap menerima pelajaran pertama.
⎯ 12.00 PM ⎯
Bel tanda istirahat makan siang berbunyi nyaring. Seluruh siswa-siswi berjejalan keluar dari kelas mereka masing-masing untuk menyerbu kantin bagi yang tidak membawa bekal. Mereka saling tidak mau kalah ingin keluar lebih dulu. Kecuali aku yang masih betah terduduk di bangku dan menidurkan kepala di atas meja dengan tangan sebagai bantal.
Aku mencoba untuk beranjak berjalan menuju pintu, aku menatap sekeliling tidak ada orang satu pun di koridor. Youngmi masih memegangi kepala yang semakin terasa berdenyut, badannya juga semakin sangat lemas dan tiba-tiba saja napasku terpenggal-penggal. Dug!
"AHHH!" Aku memegangi dada, jantungku berdebar sangat kencang, sakit.
"Do .... dowa ..... dowajuseyo!" (Tolong aku!)
BRUK!
Youngmi pingsan.
⎯ RUANG UKS ⎯
Dua jam berlalu.
Perlahan, Youngmi membuka matanya. Merasakan siluet cahaya sore mulai membakar sebelah pipinya. Mengerjap sejenak. Lalu ia beranjak untuk duduk dan belum menyadari keberadaan seseorang di sampingnya tengah duduk memperhatikan jendela dan tempat tidur di depanku.
"Di mana ini?" Youngmi kebingungan.
"Kau di UKS sekolah. Bagaimana keadaanmu?" Suara berat seorang pria dewasa terbetik di telingannya dan membuat Youngmi tersentak lalu menengok ke arahnya.
"Omo! Saem, sedang apa di sini?" tanyaku setelah menilik rupa dari Seungjo-Saem yang tengah duduk di bangku samping kasur UKS.
"Tentu saja menjaga muridku yang sedang sakit. Makanlah ini, kau kelelahan dan perutmu juga belum di isi apapun, bukan?" imbuhnya lalu memberikan semangkuk bubur padaku. Aku hanya mengangguk dan mengambil mangkuk itu.
"Kamsahamnida, Sa⎯"
"Bukan aku yang memberikan bubur itu, tapi pacarmu," potongnya membuatku terkejut.
"Ha? Pacar? Pacarku? Aku tidak memiliki pacar, Saem!" Bantahku cepat.
"Akui sajalah, dia sangat khawatir padamu. Aku tidak bisa berlama-lama lagi menjagamu. Jika kau masih belum baikan tidurlah lagi, jika sudah membaik temuilah pacarmu Lee Yong Hwa," ujarnya berlalu dariku.
Aku melengos mendengar ucapan Seungjo-Saem, ia sangat senang menggodaku. "Aigoo! Siapa yang pacaran dengannya?!" Gerutuku kesal.
*****
Sepulang sekolah, aku tengah menunggu seseorang di parkiran sekolah. Aku hanya ingin berterima kasih padanya karena sudah menolongku, Seungjo-Saem mengatakan Yonghwa yang menolong dan membawaku ke UKS kemarin. Ya, aku tidak sempat untuk menemuinya kemarin karena aku sudah hampir telat ke kafe tempatku bekerja.
"YONGHWA-YA!" Teriak seorang gadis yang membuat Youngmi ikut tersentak lalu menengok pada sang empu. Gadis itu menggandeng lengan Yonghwa tanpa ditolak olehnya.
"Siapa dia? Pacarnya, kah? Kenapa rasanya aku sangat marah melihatnya?" Gumamku sendiri. "Aish! Pacarnya atau bukan, itu bukan urusanku! Sudahlah, aku tidak ingin menganggu mereka." Youngmi berbalik dan berlari cepat menuju tempat kerjanya.
.....