
Han Young Mi sudah kritis selama dua minggu. Penyakit jantung yang Youngmi derita sejak kecil tak kunjung membaik. Han Min Jee sang kakak sangat terpukul dengan keadaan adiknya Han Young Mi, ia bahkan tidak tahu adiknya sakit separah ini sejak dari kecil. Min Jee ditemani Choi Ji Hye yang bergantian menjaga Youngmi di rumah sakit. Min Jee mengorbankan pekerjaannya demi menemani Youngmi.
Saat ini, ponsel Youngmi diambil alih oleh Ji Hye agar tetap bisa berhubungan dengan pacar Youngmi yaitu Yonghwa yang hingga dua minggu ini ia tidak tahu keadaan sang kekasih. Min Jee dan Ji Hye sengaja tidak memberitahu demi kebaikan Yonghwa sendiri. Dan pastinya, hal itu juga yang diinginkan Youngmi jika ia sudah sadar nanti.
"Kau masih terjaga? Sudah makan malam?" Jihye menempuk pundak Min Jee, dan sudah kembali kerumah sakit setelah selesai dengan kuliah dan pekerjaannya.
Min Jee menoleh, sambil menyeka kedua matanya yang sudah tertangkap oleh Ji Hye. "Tak kusangka hidupnya begitu berat. Dia begitu ceria dan memiliki senyum yang manis." Ji Hye mengikuti tatapan Min Jee dan menatap Youngmi yang terbaring lemah di sana.
Ji Hye menaruh kantong tas yang berisi sekotak bubur dan buah-buahan segar yang sudah dikupas dari kulitnya. "Eonni, makanlah setelah itu istirahat! Malam ini biar aku yang menjaga Youngmi," ucapnya sambil mengusap pundak Min Jee.
"Seharusnya aku tetap berada di sisinya, seharusnya aku mendengarkan ketika ia mengeluh sakit, seharusnya aku ...."
Ji Hye menangkup tubuh Min Jee untuk memeluknya. Min Jee menangis sesegukan dalam pelukan Ji Hye.
"Eonni, tenanglah! Ini semua bukan salahmu, jangan menyalahkan diri sendiri. Kuatkan dirimu!" ucapnya berusaha menenangkan Min Jee. Ia menangis sejadi-jadinya.
Young Mi hanyalah satu dari sekian banyak remaja tidak beruntung yang berusaha hidup bahagia dengan sejuta impian atau tanpa impian. Lahir dari keluarga yang sederhana, berusaha untuk melanjutkan pendidikannya ke universitas tapi mimpi itu tidak jadi ia raih, Youngmi memilih bekerja paruh waktu agar bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Tidak ada keberuntungan dalam hidupnya, sekali pun ia berusaha sekuat tenaga sampai membuang semua waktunya, hanya sia-sia saja. Ia gagal untuk yang kesekian kalinya mengikuti semua audisi. Piano adalah satu-satunya keahlian yang ia bisa.
Hari-hari berlalu begitu cepat, sudah hampir satu bulan Youngmi masih tak sadarkan diri. Jantungnya berdetak semakin melemah, bahkan operasi hingga belasan kali pun hasilnya tidak ada.
"Eonni, apa sudah saatnya kita beritahu pacarnya? Aku hanya berfirasat, mungkin kekuatan cinta mereka bisa membuat Youngmi bangun?" saran Ji Hye.
"Mana mungkin? Memangnya ini cerita dongeng?" Min Jee tertawa pelan. Melihat itu Ji Hye merasa berhasil membuat kakak dari Youngmi tertawa setelah sekian lamanya ia selalu murung, menangis dan bahkan senyum sedikit pun enggan.
"Hey! Ayolah, eonni. Cerita dongeng lebih baik, kan? Kita harus percaya mukjizat, apapun hal yang kita coba pasti ada sercecah harapan di sana!" ucap Ji Hye bersemangat.
Min Jee tersenyum. "Baiklah beritahu saja dia, lelaki itu pasti sudah curiga Youngmi tidak pernah mau ditelepon."
"Ye, siap."
*****
Kondisi Young Mi membuat kami berdua terpukul. Wajah pucat itu membuat Min Jee meminta maaf berulang-ulang, meskipun berujung tidak ada reaksi setelahnya. Dan, Ji Hye pun juga begitu. Kami berdua beusaha keras agar menyembunyikan kesedihan di depannya, dan menggantikannya dengan suara ceria agar merangsang Youngmi segera bangun.
Beberapa hari ini, ruangan kamar VIP yang di tempati Youngmi dipenuhi oleh bunga-bunga dan banyaknya buah-buahan segar yang dikirim oleh seseorang bernama Lee Yong Hwa. Ia memberi pesan lewat ponsel Youngmi bahwa ia tidak bisa ke Korea dalam waktu dekat. Dan, beberapa hari lagi ia pasti akan ke Korea dan mengunjungi kekasihnya.
"Youngmi-ya, cepatlah bangun. Lihat ruanganmu penuh dengan bunga yang dikirim oleh pacarmu. Dia benar-benar khawatir padamu. Kamu sudah berjanji kan, untuk menunggunya? Dan juga, sudah berjanji padaku, kamu akan menjadi menjadi seorang pianist yang sukses, kan?" Ji Hye mengusap lembut surai Youngmi.
Hari ini Yonghwa datang setelah ia berhasil mengambil cuti kuliahnya. Ada sesuatu yang ingin ia persiapkan untuk kekasihnya⎯Youngmi menjelang hari ulang tahunnya.
Sebuah kamera profesional berwarna hitam yang Ji Hye noona beritahu padanya dan juga sesuatu yang spesial akan Yonghwa tunjukkan pada Youngmi. Ia rasa itu cara semesta mendukungnya untuk menjadi bagian dari pemulihan kondisi Youngmi.
Semoga saja, dengan ini semangat hidup Youngmi kembali terbakar. Tidak mengambil keputusan yang berbahaya jika dikepung masalah. Karena aku, Lee Yong Hwa, kekasih Youngmi yang akan menjadi bagian dari seseorang yang memedulikannya, dan juga melindunginya.
Suara gaduh terdengar dari ruangan kamar Youngmi ketika posisi Yonghwa tinggal dua meter dari kamarnya. Di dalam kamar Youngmi, aku tahu, memang bukan Youngmi sendiri yang berada di sana. Di sana pasti ada kakak kandungnya Min Jee dan juga Ji Hye .
Napasnya tercekat. Mungkinkah suara itu pertanda baik bahwa Youngmi sudah siuman? Semoga saja itu benar. Yonghwa berjalan lebih cepat sebelum pikiran buruk menyerang lebih tak keruan dan lebih menakutkan.
Bruk!
Ji Hye dan Min Jee terkejut dan menoleh pada sang empu yang membuka pintu kamar dengan kerasnya.
"Lee Yong Hwa, akhirnya kau datang!" suara Ji Hye nyaris berseru. Ji Hye noona menyuruhku merapat lewat gerakan tangannya.
Dari situ, Yonghwa menyadari sesuatu. Gadis yang sangat ia rindukan terbaring lemah, kini membukakan matanya dan menatap Yonghwa sambil senyum⎯meskipun hidung dan beberapa titik di tubuhnya terhubung selang. Yonghwa mengerjap beberapa kali, berusaha mengumpulkan kesadaran bahwa yang ia lihat bukan mimpi. "Youngmi-ya!"
Youngmi tidak menjawab. Tapi, ia tahu pasti bahwa Youngmi menjawab sapaku di balik tatapannya. Sepertinya Tuhan benar-benar berada dipihak Yonghwa, ketika ia datang, gadis pucat pasi yang ia rindukan itu kini tengah menatapku.
Min Jee dan Ji Hye tersenyum melihat kami. "Youngmi-ya, kami akan beri waktu untuk kalian berdua bicara," ujar Min Jee sambil mendorong pundak Ji Hye. Youngmi tersenyum dan mengangguk lemah.
Yonghwa perlahan mendekat dan duduk di samping tempat tidur Youngmi. Ia menggenggam tangannya dan menatap matanya berusaha mengisyaratkan kerinduan dari sana. "Youngmi-ya, saraisseoseo gomawo."
Youngmi, dengan senyum yang masih tergaris tipis di bibirnya, menatap Yonghwa dengan mata yang berbinar. Ia tahu, Youngmi bahagia. Kami saling bertukar senyum. Menikmati suasana hangat yang entah sejak kapan kami rindukan.
"Youngmi-ya, maafkan aku! Aku sempat tidak tahu bahwa kamu sakit dan sudah koma selama satu bulan ini. Maaf, aku tidak berada di sisimu selama ini." Yonghwa berusaha memahan air matanya yang ingin keluar. Youngmi menggeleng, mengisyaratkan tidak apa-apa semua sudah baik-baik saja dan tatapannya tertuju pada kotak merah yang ada di tangan Yonghwa, ia ikut melirik kotak merah itu.
"Ah, ini .... bukan apa-apa," Yonghwa segera memberi pada Youngmi dan menaruhnya di sebelah bantalnya. "Bukannya nanti saja, setelah kamu benar-benar sembuh, oke? berhubung Youngmi sudah siuman, apa kita perlu membuat perayaan?" Yonghwa menoleh pada Ji Hye dan Min Jee. Keduanya mengangguk.
⎯⎯⎯⎯
*Noona dibaca (Nuna) ; Artinya adalah kakak perempuan, dan digunakan oleh adik laki-laki yang memanggil kakak perempuan.
*Saraisseoseo Gomawo ; 'Terima Kasih karena tetap bertahan hidup.' Ucapan yang biasa disebutkan ketika mendapat seseorang yang baru pulih, atau bertemu seseorang setelah sekian lama tidak bertemu.