
Satu pekan berlalu, aku dan Yonghwa terus berlatih piano, sedikit perkembangan dari permainan piano Yonghwa. Meskipun, tiga hari berturut-turut ia tidak bisa menyentuh tuts pada piano. Tangannya kembali kaku dan tidak bisa digerakkan. Dan, hari ini aku akan mengantarnya ke dokter tempat di mana ia ditangani sebelumnya.
"Yonghwa-ssi, kamu yakin tidak apa-apa jika aku ikut mengantarmu?" tanya Youngmi.
"Tentu saja tidak apa-apa!" Jawab Yonghwa santai.
Youngmi mengangguk mengerti.
"Benarkah baik-baik saja, Yonghwa-ssi?"
"Kenapa? Kamu khawatir denganku?" Ia balik bertanya, sambil menahan senyumnya.
"Ti ... tidak! Hanya saja kamu terlihat memaksakan diri," kataku menatap lurus jalanan kota Seoul.
Ia tersenyum. "Jika aku tidak memaksakan diri, selamanya aku tidak akan pernah menyentuh piano," katanya sangat yakin.
Lelaki jangkung itu berhasil membuatku merapatkan bibir ketika mendengar tekad kuatnya.
"Maaf, aku berkata begitu," ucapku menunduk.
Yonghwa tertawa pelan.
"Kenapa? Kenapa kamu tertawa?" Youngmi mengernyitkan dahi.
"Tidak usah dipikirkan, itu sudah keputusanku. Ayo, Han Young Mi! Kita akan telat jika terus mengobrol," ajak Yonghwa sambil menawarkan lengannya untuk di gandeng. Aku tersenyum sungkan dan akhirnya bersedia menggandeng Yonghwa.
*****
Youngmi melempar senyum kepada Yonghwa ketika selesai keluar dari ruang periksanya. Ia tampak murung sambil membalas senyumku yang dipaksakan. Youngmi beranjak berdiri lalu mendekatinya.
"Bagaimana hasilnya?" tanyaku hati-hati.
"Jangan bahas di sini, ayo!" Yonghwa melangkah mendahului.
"TUNGGU! LEE YONG HWA!" teriak Youngmi lalu berlari menyusulnya yang sudah melangkah jauh.
Kaki panjangnya melangkah, sembari sesekali menengok menilik gadis di belakangnya. Demi apapun Yonghwa tidak bisa menyembunyikan senyum gemasnya melihat Youngmi yang berusaha menyejajarkan langkah untuk berada di sampingnya.
Buru-buru Yonghwa berhenti dan berbalik.
Bruk!
"Aw!" Youngmi meringis lalu memegangi dahi.
"Maaf!" ujarnya lalu mendongak.
Tampak ia menundukkan sedikit kepalanya, mataku dan matanya bertemu. Jarak kami sangat dekat. Aku bahkan bisa merasakan hembusan napasnya di wajahku. Yonghwa tersenyum lembut.
"Ya, Tuhan. Sangat tampan," batinnya.
Sekujur tubuhku bergetar bahkan hatiku berdebar-debar. Youngmi berjalan mundur ketika ia mencoba mendekat, Yonghwa menggenggam tangan kananku.
"Ayo! Jalanmu sangat lama! Jadi, aku akan menggenggam terus tanganmu ini," ucapnya tepat di wajahku serta senyum di bibirnya tidak pernah luntur. Youngmi mengerjap sejenak, mencerna semua yang terjadi.
⎯ 1:30 PM ⎯
Youngmi menelan salivanya, bola matanya kontan hampir keluar memandangi lelaki di depannya tengah memakan semangkuk jajangmyeon. Berlebihan memang ekspresiku, aku hanya terkejut pada lelaki kurus nan jangkung ini yang hampir memakan empat mangkuk jajangmyeon porsi besar. Dan, aku bahkan belum menyentuh makanan di depanku ini.
"Kenapa? Kamu tidak makan?" tanyanya dengan makanan penuh di mulutnya.
"Eoh? Ini aku akan makan!" ujar Youngmi lalu memegang sumpit yang sedari tadi tidak disentuhnya. Sungguh, aku sudah sangat kenyang hanya melihat Yonghwa makan.
"Youngmi-ya," panggilnya, sembari menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Kenapa? Kamu ingin tambah lagi?" tanya Youngmi terheran-heran. Lelaki itu tertawa mendengar pertanyaan Youngmi.
Tenang saja! Aku sudah sangat kenyang. Kamu tidak ingin bertanya padaku?"
Youngmi menautkan alis. "Bertanya apa?"
Yonghwa tersenyum tipis lalu memperlihatkan telapak tangan kanannya yang terdapat bekas jahitan di sana. Aku nyaris tersedak ludahku sendiri, jadi ia ingin aku bertanya kondisinya? Aku sengaja menahan untuk tidak mengungkit hal itu, sudah terlihat jelas dari raut wajahnya tadi ia tampak sedih.
Telapak atas dan bawah tangan kanan Yonghwa memiliki bekas jahitan, aku kira hanya telapak atasnya saja tapi ketika ia membalikkannya, aku tidak sanggup melihatnya.
"Aku menderita paralisis akibat kecelakaan yang aku alami sebelas tahun lalu," ungkapnya Yonghwa yang tengah menatapku.
Yonghwa tersenyum sebelum menjawab. "Penyakit paralisis adalah kondisi lumpuh karena gangguan saraf yang berperan dalam mengatur gerakan otot tubuh, membuat anggota tubuh tidak bisa digerakkan. Aku mengalami ini akibat kecelakaan. Karena hal ini aku menyerah pada piano."
*****
"Permisi ... saem ada apa memanggilku?"
"Oh, Youngmi. Duduklah," suruhnya lalu menaruh buku yang tadi ia pegang.
"Sekolah berhasil menghubungi kakakmu, dia sudah setuju dengan beasiswamu jadi kamu hanya perlu mengisi ini," ucapnya memberi beberapa lembar kertas yang bertuliskan 'persyaratan' di depannya.
"Ne? Kakakku? Dia benar-benar bisa dihubungi?" tanya Youngmi tampak syok. Ia bahkan mengabaikan persyaratan beasiswa di depannya.
"Ya tentu, kamu baik-baik saja?" Seungjo-Saem mengernyitkan dahinya ketika menatap wajahku.
"Ne! Saem, bisa saya meminta nomor kakak saya yang anda hubungi?"
"Tentu bisa, ini yang kau minta, tapi nomor itu milik sekretaris kakakmu." Seungjo-Saem memberi selembar kertas bertuliskan beberapa angka padaku tanpa bertanya, ia mungkin sudah tahu aku ditinggalkan oleh kakakku sendiri.
"Kamsahamnida, saem. Aku akan mengisi ini dan segera memberikan padamu," ujarku buru-buru mengambil kedua kertas itu lalu membungkuk pamit.
⎯ Ruang Klub Musik ⎯
Youngmi tengah terduduk di hadapan piano milik sekolah, entah apa yang sedang ia pikirkan. Di sisi lain, seorang lelaki tampan dengan perawakan kurus tegap pemilik rambut comma hitam tengah bersandar pada piano, menilik gadis di depannya. Tatapan gadis itu sangat kosong.
"Youngmi-ya," panggilnya, sambil melipat kedua tangannya di dada. Tak ada respon.
Yonghwa mendekatkan wajahnya.
"Youngmi-ya, gwaenchana?" bisiknya yang membuatku tersadar. Aku menoleh, manik kami kembali bertemu. Ia tersenyum lembut.
"Ne, aku baik-baik saja!" jawabnya seperti terhipnotis dengan pesona lelaki di depannya.
tak!
"Aw...." ringisku sakit.
Yonghwa menyentil dahinya karena terlalu gemas dengan gadis di depannya. "Kamu sedang memikirkan apa?!" godanya.
Aku melengos. "Tidak!" bantahku cepat. "Sedang apa kamu di sini?"
"Hanya lewat," jawabnya santai.
Aku hanya mengangguk mengiyakan.
"Aku pikir kamu ingin berlatih lagi."
"Tidak, nanti saja! Kenapa memangnya? Kamu ingin aku menemani terus?" godanya lagi menahan tawa.
Aku bergidik mendengar kata-katanya, ingin rasanya aku lempar lelaki ini ke kutub utara. Untung saja kesabaranku tak ada habisnya untuk memaklumi lelaki bernama Lee Yong Hwa ini.
"Oh iya, bukankah kamu mendapat beasiswa ke luar negeri juga, Yonghwa-ssi?" tanyaku menoleh padanya yang sudah duduk di sampingku.
Ia mengangguk membenarkan. "Iya, kenapa?"
"Apa kamu sudah memilih negara mana yang kamu inginkan?"
"Mungkin .... Amerika atau mungkin nanti aku memilih stay di Korea tanpa mengambil beasiswa itu," ucapnya lalu beranjak berdiri dan mendekati pintu.
Aku tersenyum dan tersadar akan kenyataan. Aku tahu, Yonghwa mendapatkan atau tidak mendapatkan beasiswa pun, baginya memilih universitas yang diinginkan bisa terwujud dengan mudah. Tidak seperti diriku, jika kesempatan ini sampai membuatku menyesal karena salah pilihan, aku tidak tahu lagi nasibku ke depannya.
Aku beranjak berdiri lalu mendekatinya karena sedari tadi ia mematung dan tidak beranjak.
Youngmi terkejut, lelaki itu tiba-tiba menarik lenganku dan mendorong tubuhku ke dalam pelukannya. Kontan mataku membulat. "Kenapa? Kenapa, Yong ... Yonghwa-ssi?"
"Ssttt .... jangan bersuara," ujarnya pelan, ku mengangguk. Ia memelukku semakin erat.
Dari luar ruangan musik terdengar seseorang sedang melakukan sesuatu.
⎯⎯⎯
*Jajangmyeon adalah jenis masakan Korea yaitu Mie Saus Pasta Kacang Kedelai Hitam.
Search aja ya, kalau mau tahu lebih banyak.