ME

ME
BAB 22



London, Inggris.


Satu minggu yang lalu,


"Oh, Youngmi-ya! Maaf aku baru sempat memegang ponsel, karena masih ada kelas tadi. Ada ap⎯"


"Yeoboseo, apa ini Yonghwa?"


"O-oh, benar aku Yonghwa. Kau siapa?"


Yonghwa sedikit terkejut karena suara yang ingin sekali ia dengar ternyata bukan seperti yang diharapkan. Entah suara siapa yang baru saja ia dengar. Di saat itu juga, Yonghwa memberhentikan langkahnya, sepertinya ada hal buruk terjadi. Ya, ia merasakan hal itu.


"Ini aku Choi Ji Hye, Ji Hye senior Youngmi di tempat kerjanya. Apa kau ingat?" tanyanya di sebrang sana.


Yonghwa mengurai ingatannya. "Ah, aku ingat! Ada apa, Noona? Kenapa bisa ponsel pacarku di tanganmu?"


"Itu .... Karena .... selama ini aku yang memegang ponsel Youngmi, nanti saja aku ceritakan jika kamu sudah di Korea. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa Youngmi sedang koma di rumah sakit sudah hampir satu bulan. Aku hanya ingin memberitahu itu, dan aku harap kamu bisa menjenguknya."


"MWO? KOMA?"


*****


Ini adalah hari ketiga Yonghwa berturut-turut datang menjenguk Youngmi, hari ini ia sengaja datang hampir tengah malam dan lebih lambat dari biasanya. Sepulang dari suatu tempat, ia tidak langsung ke rumah sakit. Ada sesuatu yang sudah ia persiapkan untuk Youngmi menjelang hari ulang tahunnya.


Sebuah rekaman yang ingin Yonghwa perlihatkan padanya bahwa ia sudah bisa bermain piano kembali dan memberitahu hasil yang ia ajarkan tidak sia-sia.


Kini ia duduk di sisi ranjang Youngmi. Menyuguhkan senyum terbaik ketika kami saling bertatapan. Kemarin menurut penjelasan dokter, jantung Youngmi semakin melemah bahkan detakannya tidak normal. Youngmi mungkin hanya akan mendengar, tapi untuk bicara, masih sangat lemah. Jadi Yonghwa akan berbicara selembut mungkin agar tidak membuatnya terkejut.


"Annyeong, Youngmi-ya ...," sapanya. Younghwa lagi-lagi tidak sanggup untuk menatapnya. "Apakah hari ini kamu sudah semakin membaik? Melihatmu bangun menatapku seperti ini, mungkin rasanya seperti melihatmu bersemangat dan ceria lagi seperti biasanya. Aku rindu ketika kamu memarahiku karena menyerah bermain piano."


Kali ini reaksi Youngmi tertawa⎯meskipun terlihat samar karena tak bersuara dan terhalang oleh ventilator, Youngmi ingat akan hal itu. Tawa yang menular, karena setelah itu, ia juga ikut tertawa. Youngmi kembali menatap Yonghwa, menunggu kelanjutan apa yang ingin ia katakan.


"Youngmi-ya, jika kamu menginginkan sesuatu katakanlah. Selama aku mengenalmu bahkan sampai aku menjadi pacarmu, sedikit saja kamu tidak pernah mengeluh padaku. Aku sangat khawatir. Ayo lakukan sama-sama untuk menggapai sesuatu yang kamu inginkan. Kamu harus cepat sembuh."


Youngmi tetap menatapku, kali ini hanya dengan anggukan lemah dan senyum. Tangannya kemudian bergerak pelan, membuat Yonghwa terkesiap. Youngmi menunjuk pada laci di sebelah ranjangnya. Dan ia mengerti lalu segera membuka laci itu, menemukan buku berjudul 'The Subtle Art of Not Giving a Fck: A Counterintuitive Approach to Living a Good Life' karya Mark Manson dan setelah Yonghwa buka lembaran pertama terdapat amplop berwarna merah muda tertulis 'To: Lee Yong Hwa' dalam aksara hangul.


"Buku dan surat ini untuk aku?"


Youngmi mengangguk cepat lalu memicingkan matanya. Aku tersenyum senang. "Gomawo!"


Yonghwa nyaris saja hanyut dalam perasaan yang melambung tinggi, kalau saja tidak teringat satu hal; kado kedua yang sudah ia siapkan.


Segera ia keluarkan laptop di tas besarnya dan menyalakan video rekaman ia berhasil bermain piano. "Kamu tahu? Ini adalah aku yang sudah berhasil bermain piano. Bagaimana permainanku? Bagus, bukan?" Yonghwa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


Youngmi menonton video itu dengan mata berbinar. Senyumnya lebih merekah dari sebelumnya. Perlahan, Youngmi mencoba beranjak untuk duduk dan membuka alat bantu napasnya yang sudah lama terpasang.


"Kamu hebat, aku tahu kamu hebat dalam bermain piano! Terima kasih sudah berusaha berlatih kembali," ungkapku lirih dengan napas terengah-engah, Yonghwa tersenyum dan memeluk aku yang semakin melemah.


"Maaf aku belum bisa memberimu sesuatu yang berharga, aku hanya bisa memberimu buku itu. Jika waktumu luang bacalah buku kesukaanku itu."


Yonghwa mengangguk. "Aku akan baca nanti!" Ia mengusap punggungku lembut. "Saeng il chukhae, Youngmi-ya," bisik Yonghwa tulus.


"Gomawo!" Aku justru semakin sulit menguasai diri, dan menangis sejadi-jadinya di pelukan Yonghwa.


Youngmi menatap lelaki di depannya dengan mata yang memerah. "Yonghwa-ya, berikan ponselmu," perintahku masih menatap Yonghwa.


"Untuk apa?" Yonghwa menautkan alis.


Aku hanya terdiam dengan tatapan kosong dan aku tidak menjawabnya.


Tanpa bertanya lagi, Yonghwa segera mengambil mantel dan merogoh saku mantelnya. "Ini," Yonghwa berusaha memberi ponselnya tapi aku tidak mengambilnya.


"Nyalakan kameranya," perintahku lagi. Mendengar itu, Yonghwa terperanjat dan tanpa menjawab, ia segera menuruti perintahnya.


"Ayo kita berfoto. Selama kita bersama, belum ada satu pun foto kita berdua, bukan?"


Perlu waktu untuk Yonghwa mencerna permintaannya itu. Apa maksud dari permintaannya ini? Bukannya ia tidak senang hanya saja, Yonghwa bingung. Antara gelisah dan takut dengan foto bersama yang dimintanya. "Baiklah." Kami berfoto bersama.


Setelah beberapa menit berlalu. Youngmi kembali berbaring dan memasang alat bantu pernapasannya, napasku kembali terengah-engah dan jantungku kembali berdetak tidak normal. Aku menatap Yonghwa sambil tersenyum simpul. "Foto .... itu .... untukmu," jelas Youngmi, terbata-bata.


Yonghwa sangat panik ketika menilik 'Bedside Monitor' yang menandakan detak jantung Youngmi semakin melemah. Dan, ia merasa foto itu adalah kenangan terakhir yang ingin Youngmi berikan padanya.


"Youngmi-ya, kamu baik-baik saja? Apa kamu mendengarku?"


Youngmi memejamkan mata⎯seolah-olah ingin mengabaikan ucapannya.


"Saranghae, Youngmi-ya. Aku rasa aku harus mengucapkan ini. Aku benar-benar mencintaimu."


Yonghwa mulai lepas kendali; mengungkapkan perasaan pada gadis yang sudah menjadi pacarnya tanpa berpikir bahwa saat ini tepat atau tidak. Youngmi benar-benar tidak merespon. "Youngmi-ya, jebal ireona!"


Masih dengan mata terpejam, aku tersenyum bahagia dan mencoba mengucap dengan suara rendah dan terbata-bata. "Aku ... le ... lah. Aku ... mau isti ... rahat."


Itu yang dikatakannya. Terakhir kali. Dan, ia hanya menjawab dengan senyuman bahagianya.


*****


Jika ada seseorang yang bertanya kapan terakhir kali Yonghwa menangis, jawabannya adalah saat kepergian ibunya. Setelah itu, hari ini, kepergian Young Mi.


Hari itu menjadi percakapan panjang terakhir di antara kita. Dan ternyata itu alasannya kenapa Youngmi menjawab dengan senyuman dan aku mengerti sekarang. Youngmi juga mencintainya, serta mungkin itu adalah sudah menjadi firasat Youngmi tentang hidupnya. Dan .... firasat itu, tidak datang padaku.


Rasanya masih seperti mimpi buruk yang jauh lebih menyeramkan, ketika hanya mampu menatap foto Young Mi yang terbingkai terletak di atas peti kayu dan dihias rangkaian bunga di sekelilingnya, tapi tidak lagi bisa secara langsung melihat wajahnya. Biarkan kami dan orang-orang menangis. Biarkan diriku sendiri, Ji Hye nuna dan yang lainnya memakai seragam hitam, tanda mengantar kepergiannya. Lalu, Min Jee⎯kakak kandung Young Mi⎯ membawa pasu dan menaruhnya di kaca besar berdampingan dengan pasu ayah dan ibu Young Mi⎯tanda Young Mi benar-benar tiada; sosoknya, senyumnya, ceritanya, tak akan pernah ada lagi di alam nyata.


Youngmi-ya, jika memang bukan kehidupan ini kita bersama untuk waktu yang lama, aku akan terus berdoa kepada Tuhan, semoga kita bersama untuk waktu yang lama di kehidupan berikutnya.


⎯⎯⎯


*Ventilator ; mesin yang berfungsi untuk menunjang atau membantu pernapasan. 


*Saeng il Chukhae ; Selamat ulang tahun.


*Jebal Ireona ; Kumohon bangun.


*Bedside Monitor ; adalah suatu alat yang digunakan untuk memonitor vital sign pasien, berupa detak jantung, nadi, tekanan darah, temperatur bentuk pulsa jantung secara terus menerus.


*Pasu ; yakni sebuah guci yang menyimpan sisa kremasi almarhum.