
Dua Minggu Kemudian.
Tepat saat aku berhenti di persimpangan karena lampu menyala merah. Aku melihat spanduk 'Suneung Daebak', 'lakukan yang terbaik' masih tergantung di sebuah mall dan beberapa tempat gedung tinggi di Seoul. Sepertinya sudah seminggu spanduk itu ada di sana.
Inilah hari sakral bagi semua penduduk Seoul! Suneung tiba. Pada hari ini Seoul menjadi kota yang damai demi menghormati terselenggaranya ujian. Hal-hal yang membuat Seoul menjadi damai hari ini adalah kendaraan dilarang membunyikan klakson karena itu akan menganggu ujian. Orang-orang juga mulai bekerja sekitar pukul sepuluh agar saat pagi hari jalanan tidak macet. Bahkan bandara Incheon mendadak beku, tidak ada aktivitas pesawat untuk sementara saat ujian dilaksanakan karena suara pesawat akan mengganggu bagian ujian listening comprehension. Bus umum juga datang lebih sering untuk mencegah keterlambatan peserta ujian. Sangat damai dan terkendali, kan?
Akhirnya, aku tiba juga. Suasana di sini sudah ramai. Di pintu gerbang, sudah bersiap beberapa ambulans untuk berjaga-jaga kalau di tengah ujian ada murid yang sakit. Di sepanjang pintu masuk tempat ujian, adik-adik kelas membawa spanduk dan berteriak menyemangati. Aku tersenyum ketika melihat adik-adik kelasku dari klub musik setia menyemangati di pintu gerbang.
"Sunbae, Semangat!!!" teriak mereka.
Aku tersenyum dan mengangguk. "Gomawo!"
8.40 am. Start! Berjuanglah Youngmi!
*****
Pesan singkat dari Yonghwa yang datang ke ponsel membuat senyumku mengembang. Aku segera mengambil mantel dan berlari menemuinya. Menyusuri jalanan malam yang dingin dan langsung menaiki bus, beruntungnya bus berhenti tepat setelah aku sampai di halte.
⎯ Sungai Han ⎯
"YONGHWA-SSI," panggilku setelah menemukan sosoknya tengah duduk di antara rerumputan seperti sedang piknik. Aku berjalan menghampirinya.
Yonghwa melambaikan tangan dan tersenyum. "Cepat kemarilah!" pekiknya lalu berdiri menungguku dengan senyum yang tak pernah luntur.
Kami berdua saling mengeratkan pelukan, tak ada satupun yang membuka suara. Youngmi memiliki firasat buruk saat ini, entah apa itu? Tapi yang jelas kekasihnya, Yonghwa bertingkah aneh.
"Aku merindukanmu, Yonghwa-ssi!" ucap Youngmi memecahkan keheningan.
Lelaki itu lantas membentuk jarak antara tubuhnya dan tubuh gadis dalam kungkungannya. Yonghwa tersenyum lebar. "Aku juga merindukanmu, Youngmi!"
Aku mengangguk pertanda mengerti. "Kamu ingin membicarakan apa denganku?" tanyaku menilik matanya dalam, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya membuat ia terlihat sedih.
"Mianhaeyo!" Yonghwa menunduk.
Youngmi menautkan alis tidak mengerti. "Ye? maaf untuk apa? Kamu melakukan kesalahan yang fatal?"
"Youngmi-ya," panggil Yonghwa terdengar serius.
"Iya, kenapa?"
Yonghwa mencekal kedua tanganku sebelum ia membuka suaranya. Menatapku dalam. "Aku akan ke Inggris dua hari lagi!"
Kontan mataku nyaris keluar. "Mwo? Inggris?!"
pekikku tak percaya.
"Iya" jawabnya mengangguk membenarkan. "Aku ingin kita tetap berhubungan, apa kamu mau menungguku?" tanyanya.
Youngmi segera memeluk kembali lelaki di depannya itu, sangat erat. Aku belum mau menjawab. Aku ingin waktu berhenti sejenak saja, agar aku bisa bersamanya untuk waktu yang lama. Tapi, kenyataannya waktu berlalu dengan cepat.
Youngmi menghela napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Iya, aku akan menunggumu! Kita masih tetap sepasang kekasih," Aku tersenyum tipis.
"Gomawo!"
"Tapi berjanjilah padaku!"
"Berjanji?" Yonghwa menautkan alis.
Aku mengangguk. "Iya, berjanjilah padaku! kamu akan tetap sehat ketika sudah kembali ke Korea dan menyelesaikan kuliahmu dengan hasil terbaik, ok?!" Youngmi mengajukan jari kelingkingnya. Yonghwa menautkan kelingkingnya padaku.
"Oke, tidak masalah, aku berjanji! Dan, ketika aku sampai di Seoul orang pertama yang akan aku temui adalah .... kamu!" Kami tersenyum simpul. Yonghwa membelai suraiku.
"Yonghwa-ya, jika kamu datang dan aku sudah tidak ada lagi di dunia ini, maafkan aku!" batin Youngmi.
*****
"Maaf menunggu lama," ujarku pada Yonghwa yang sejak tadi menunggu di mobilnya. Begitu aku datang, Yonghwa segera mengembalikan posisi jok yang tadi sempat dia datarkan untuk bersandar⎯sedikit berbaring.
Tadinya kami sedang makan siang, karena aku yang tidak mau pulang jadi kami bisa sampai ke Busan sekarang.
"Mumpung di Busan, mau ke pantai Haeundae?" tawar Yonghwa. Youngmi mengangguk cepat. Setelah ia mengatakan akan pergi ke Inggris Youngmi terlihat murung dan kadang berbicara seadanya. Paling tidak hari ini Yonghwa bisa membuatnya senang dengan pergi ke pantai.
"Apa persiapanmu ke Inggris sudah selesai?" tanya Youngmi.
"Semua barang yang penting bagiku, sudah aku masukkan koper dan sisanya pelayan rumah yang membereskan."
"Ah begitu. Jadi kamu sudah cek megastudy?"
Yonghwa mengangguk cepat. "Tentu saja, aku sudah cek."
"Benarkah? Bagaimana hasilnya?" tanyaku sangat penasaran dan menatapnya dari samping.
"Sangat-sangat memuaskan! Kamu beruntung mendapatkanku" ujarnya lalu tersenyum sangat lebar.
"Aigoo! Iya, Tuan Muda, aku sangat beruntung mendapatkanmu!" Youngmi mengejek dan kami tertawa bersama.
Kami tiba di pantai Haeundae. Walaupun ini sudah jam delapan malam, pantai masih ramai, padahal ini musim dingin. Kebanyakan yang datang para remaja, sepertinya mereka sama seperti kami yang baru saja bertarung dengan suneung kemarin. Rasanya lega sudah melewati ujian terbesar selama sekolah.
Kalau datang ketika terang, pasti pasir putih pantai ini lebih bisa dinikmati pemandangannya. Sayangnya, kami datang malam hari, satu-satunya cara menikmati pasir adalah dengan berjalan menyusuri pantai dengan kaki telanjang. Aku menaruh sepatu dan sepatu Yonghwa di dekat mobil, aku segera berlari ke air. Yonghwa menyusul kekasihnya yang sudah berlari duluan ke arah air⎯AIR?!
"Youngmi! Tidak ada rencana kita masuk ke air! Kamu tidak membawa pakaian lain! Kamu bisa basah! Kamu bisa sakit nanti!" teriak Yonghwa.
"Huh! Dasar! Gitu saja sudah takut! Memangnya kita sudah buat rencana akan ke sini?! Tidak perlu khawatir!" sentak Youngmi lalu tertawa.
Aku kembali berjalan ke arah air.
"HUWAAA! Choowa! Choowa!" Youngmi segera kembali menjauhi air dan menghampiriku dengan senyum yang tidak pernah luntur. "Astaga, airnya seperti es! Jangan ke sana, Yonghwa-ssi!"
Yonghwa tertawa, lalu tersenyum. Ia memakaikan mantel tebalnya ke punggungku. "Awas saja, jika kamu sakit!" Younghwa mencubit hidungku. Ia sangat gemas dengan semua yang dilakukan Youngmi. Aku hanya menatapnya datar.
Youngmi tiba-tiba memelukku dengan eratnya. Senyum Yonghwa meluntur. Ia bisa merasakan tubuh kekasihnya bergetar. Yonghwa berusaha untuk melepas pelukan agar bisa melihat wajahnya, tapi usahanya sia-sia Youngmi memeluk semakin erat tanpa mau dilepas pun barang sebentar. "Tidak bisakah kamu tidak pergi?" tanya Youngmi lirih.
Yonghwa terdiam, detik selanjutnya ia memeluk gadisnya.
"Apa sekarang aku tidak diizinkan untuk pergi?" Yonghwa mencoba tenang.
Aku menggeleng. "Aku ingin terus berada di sisimu! Apa semua ini karena aku jadi kamu harus ke Inggris?" tanyaku masih tidak mau melepas pelukan.
"Youngmi-ya, itu tidak benar! Aku ke sana karena memang sudah keputusanku dan janjiku pada ayah. Janji itu, sudah ada sebelum aku berpacaran denganmu. Mianhae!"
*****
Sydney, Australia.
"Nona, semua persiapan sudah selesai. Anda besok bisa langsung ke Seoul tanpa hambatan!"
"Baiklah, jika semua sudah siap. Bagaimana keadaan Tuan Park?"
"Kondisinya masih kritis. Putra-putri Tuan Park menunggu Nona sebagai dokternya. Mereka tidak mempercayai dokter lain selain, Nona. Nyonya Park juga sudah mempercayai Nona," jelasnya membungkuk.
"Oke! Kau juga bersiaplah, Jung-ssi. Besok kau harus ikut bersamaku juga."
"Ye, Nona!"
⎯⎯⎯⎯
*Suneung Daebak ; Semacam pemberi semangat agar para siswa berjuang dengan baik untuk Suneung.
*Choowa ; Dingin