ME

ME
BAB 10



Esoknya, 4:00 PM


"Bos, lihat ada cewe di jendela ngintip-intip ke arah sini terus tuh kayaknya." Minho mengetuk-ngetuk meja Yonghwa yang masih bersitatap dengan buku tebal di tangannya.


"Biarin aja lah, lagi nyari orang kali di kelas ini," ujarnya tanpa mau menoleh.


"Yaelah bos, nyari orang apanya, udah pada pulang tinggal kita di sini," ujarnya lalu menatap lagi ke arah jendela.


"Yah cewenya pergi tuh. Lihat dulu dong harusnya, cewe tadi tuh Youngmi!" Ia memberitahu sambil menekan kata dari nama Youngmi.


BRAK!


Yonghwa menaruh buku di atas mejanya dengan kencang hingga membuat lelaki di sebelahnya⎯Minho⎯ terkejut. Yonghwa beranjak berdiri.


"Mau kemana, bos?" tanya Minho lalu mengernyitkan dahi. Tidak ditanggapi, Yonghwa mempercepat langkahnya.


Minho menggeleng. "Ckck .... orang yang belum menyadari perasaannya sendiri seperti Yonghwa jika sudah ditinggalkan pasti menyesalnya diakhir."


Yonghwa tersenyum tengah berjalan di belakang gadis manis itu⎯Youngmi. Ia memperlambat langkahnya agar bisa mengamati gadis itu dari jarak 2 meter.


Youngmi menghentikkan langkah, merasakan seseorang sedang mengikuti di belakang. Badannya mulai bergidik merinding. "Sepertinya ada yang mengikuti! Apa cuma firasatku saja?" Gumamku pelan.


Aku mengangkat tas kecil yang berisi bekal. Niatnya, aku ingin memberikan pada Yonghwa sebagai tanda terima kasih, tapi aku selalu berpikir bagaimana jika pacarnya melihat dan salah paham padaku? Aku menghela napas. Ya, lagi pula aku gagal memberikan ini.


Youngmi tersentak ketika tas kecilnya sudah berpindah tangan pada lelaki di depannya yang sedang tersenyum senang.


"YA! Kamu .... kamu membuatku jantungan!" Protesku kesal.


Ia tertawa puas lalu mengintip isi tas kecil di tangannya. "Ohhh .... jadi kamu mengintip di jendela kelasku karena ingin memberikan ini?" godanya menahan senyum.


"Hah? Ti-tidak! Siapa yang ingin memberikan padamu? Aku .... aku membawa itu untuk diriku sendiri dan belum sempat aku makan karena dipanggil Seungjo-Saem," ucapku berbohong lalu menunduk.


"Oke oke .... aku akan menerima ini jika kamu mengatakannya padaku."


Aku menaikkan sebelas alis. "Mengatakan? Tidak ada yang ingin aku katakan."


Yonghwa melangkah mendekatiku dan refleks kedua kaki Youngmi berjalan mundur. "Yonghwa-ssi, ada apa?" tanyaku takut-takut menatap sekeliling jalan. Ia hanya senyam-senyum karena gemas dengan gadis di depannya.


Tanpa rasa tahu malu, ia menggenggam tangan kananku dan membawa kesuatu tempat. Ia tidak peduli gadis itu bersikeras menyingkirkan tangannya sampai gadis itu diam karena pasrah dan mengikutinya.


Yonghwa membuka kotak bekal yang aku bawa untuknya, berisi sekotak penuh kimbap dengan bermacam topping rasa dan isian. Aku sengaja membuat berbagai macam isi, karena aku tidak tahu makanan kesukaannya seperti apa jadi kubuatkan dengan berbagai isian.


Aku memandanginya yang sedang asik memakan kimbap yang aku buat tanpa bersuara sedikit pun. Saat ini kami tengah duduk di kafe tempatku bekerja, dari jarak jauh aku bisa melihat Jihye eonni sedang tersenyum ke arah kami seperti sedang mengejekku.


"Apakah sangat enak?" tanyaku lalu menelan ludah ketika melihatnya makan dengan sangat lahap.


"Ya, sangat enak! Seperti buatan ibuku!" jawabnya tanpa mau menoleh lalu tak lama kemudian ia melirikku setelah berhenti memakan kimbap terakhir. Aku tersadar, kimbap terakhir yang ia pegang sudah terjatuh dan aku memandangi ekspresi wajahnya seperti menahan sakit.


"Gwaenchana? Yonghwa-ssi, gwaenchana?" ujarku panik. Aku menatap tangannya yang bergetar dan ia berusaha menggerakkan tangannya dan gagal.


PLAK!! Ia menepis tanganku dengan cepat.


"Jangan pernah menyentuh tanganku!" bentak Yonghwa dengan tatapan tajamnya yang membuat kedua kakiku melangkah mundur. Ia mengambil tasnya lalu beranjak berdiri dan pergi tanpa menoleh kepada Youngmi.


Aku mematung seakan-akan tubuhku tak bisa di gerakkan. Baru pertama kalinya, aku dibentak oleh seorang pria yang tidak memiliki hubungan apa-apa denganku dan hanya sebatas teman. Menakutkan untukku.


"Gwaenchana?" suara Jihye eonni yang terdengar khawatir berhasil membuatku menoleh padanya. Aku mengangguk. Ia mengusap punggungku, menyalurkan ketenangan.


*****


Bell pulang sekolah akhirnya berbunyi. Dengan kecepatan kilat Youngmi menemui Seungjo-Saem untuk memberitahu semuanya. Seharusnya aku menemuinya tadi siang saat jam istirahat tapi beliau tidak ada di ruangannya jadi aku gagal bertemu dengannya, semoga kali ini ia ada di ruangannya.


Jika aku sudah mengatakan semua padanya, kemungkinan aku akan pasrah dengan nasib kehilangan beasiswa keluar negeri itu.


"Saem," panggilnya tepat di depan meja Seungjo-Saem. Beberapa guru sudah berpamitan pulang pada guru berkacamata tebal di depanku ini. Seungjo-Saem yang baru menyadari keberadaanku akhirnya beliau mendongak. "Oh, Youngmi?" panggilnya.


Tanpa di suruh, aku segera mendudukkan diri tepat di depan Seungjo-Saem. Beliau menatapku terheran. "Saem," panggilku lagi, karena bingung harus dimulai dari mana berbicara padanya.


"Ada apa? Apa kau sudah mendapat izin dari kakakmu?" tanya Seungjo-Saem.


Aku menggeleng lalu menunduk. "Saem, tidak bisakah tanpa perlu izin darinya?" tanyaku pelan. Beliau yang tengah mengetik pada keyboard komputernya terhenti dan kembali menatapku.


"Hal ini harus benar-benar di diskusikan dengan kakakmu. Ceritakan padaku jika terjadi sesuatu." Seungjo-Saem menilik wajahku dengan intens. Aku masih menunduk dan tidak mau melihatnya.


"Aku sudah menjadi guru bertahun-tahun, berbagai macam murid dan masalahnya sudah pernah aku tangani. Kakakmu tidak lagi tinggal bersama denganmu, bukan?" ujarnya lagi.


Aku lagi-lagi terdiam, tidak kaget dengan apa yang di ucapkan olehnya. Seungjo-Saem sudah tahu aku dan kakakku sedang ada masalah, jika ini demi kebaikanku, Minjee eonni akan langsung menyetujuinya dan tidak akan menunggu sampai berhari-hari seperti ini.


"Kau akan terus diam?"


Aku menghela napas panjang dan memberanikan diri menatap guru di depanku ini. "Saem, kakakku sudah tidak tinggal bersamaku lagi. Ia kabur membawa semua barangnya, aku tidak tahu dia di mana sekarang ....."


*****


Hari ini, aku telah selesai mengikuti audisi yang keempat kalinya dan kali ini aku memberanikan diri mengikuti audisi di salah satu agensi besar seperti saran Jihye eonni. Youngmi sungguh merasa dunia begitu kejam padanya. Bagaimana bisa aku ditolak oleh ketiga agensi itu secara bersamaan di hari yang sama?


Aku berjalan menelusuri sungai Han dengan tubuh yang lesu setelah mengeluarkan semua kemampuanku. Semangatku menguap lalu hilang entah kemana. Seperti ada yang mengacaukan pikiranku. Terlalu banyak yang aku pikirkan hingga aku tak tahu apa yang sedang aku pikirkan. Ia mendudukkan dirinya di pinggiran sungai Han.


Aku mengedarkan pandangan. Aku menatap sepasang kekasih yang tak jauh dari keberadaannya sejenak lalu menatap sungai Han yang tenang. Aku merogoh sesuatu di saku jaketku, terdapat kunci yang masih aku simpan hingga saat ini pemberian teman masa kecilku. Terakhir kali aku berkunjung kerumahnya, piano di sana sudah tidak ada dan rumah itu pun sudah di jual. Ya, satu-satunya tempat untuk aku menunggunya sudah tidak ada lagi, miris memang.


Tanpa terasa hari semakin sore. Aku beranjak berdiri dan menaruh kembali kunci berharga ke dalam saku jaket. Aku menautkan kedua tanganku sebelum berbalik dan pulang. "Tuhan, siapapun laki-laki yang bertemu denganku hari ini, siapapun laki-laki yang pertama kali memanggil namaku di hari ini. itu berarti dia adalah teman masa kecilku, teman yang pertama kali mendengarkan aku pada alunan alat musik piano," batinku berdoa.


"Youngmi?" panggil seseorang.


( Kimbap ; jenis makanan Korea yang terdiri dari nasi yang dibungkus dengan rumput laut. Hampir mirip sama Sushi )