
Di depan piring dan gelas kotor dapur kafe ini, pikiranku kacau. Seolah-olah kekuatanku untuk mencuci ini semua saja, terkuras pada ingatan kemarin sore dan semalam.
Kemarin sore, ketika Yonghwa memelukku secara tiba-tiba, aku masih mengingat jelas debaran kencang yang aku rasakan. Entah Yonghwa bisa mendengarnya atau tidak, yang jelas kami berdua benar-benar canggung saat ini.
Dan lagi, kasus seperti kejadian Kyungsoo dan Sora terulang lagi tapi untungnya pasangan itu segera pergi dan menjauh dari ruang klub musik. Aku masih saja kepikiran akan hal ini lagi, semoga pasangan itu hanya bertengkar kecil dan tidak menjadi masalah bagiku.
Lalu semalam, aku mencoba menghubungi Min Jee eonni menggunakan telepon di salah satu restoran yang aku kunjungi. Seperti yang Seungjo-Saem katakan, memang benar nomor itu milik sekretarisnya. Aku bahkan sangat-sangat membenci kakakku sekarang.
"Nona, ada panggilan untuk anda."
"Dari siapa?"
"Saya tidak tahu, dia tidak mau mengatakan namanya dan dia mengatakan Nona akan mengenali suaranya."
"Tidak perlu! Jika dia tidak ingin mengatakan namanya, lebih baik tutup saja teleponnya."
Begitulah sekiranya, ketika dia menolak untuk berbicara padaku. Aku belum menyebut namaku saja dia sudah sangat malas untuk sekadar mencoba bicara, bagaimana nanti jika aku menyebut namaku?
"Youngmi-ya," suara Jihye eonni terdengar menghampiriku. Aku segera menoleh.
"Aku butuh beberapa gelas dan apa kamu ....," suaranya tergantung begitu menatap tumpukan piring dan gelas kotor di wastafel yang belum aku sentuh. "Kamu belum mencucinya?"
Aku bergeming. Terlalu merasa bersalah untuk menjawab. Jihye eonni mengusap pundakku, dan berbicara dengan nada yang lebih tenang. "Lebih baik kamu menjaga kasir bersama Eun Bi, urusan cucian ini biar aku yang urus."
"Tapi eonni...."
"Sudah tidak apa-apa, aku paling cepat dalam mencuci piring!" Ia mendorong pelan badanku dan aku mengangguk.
Waktu sudah menunjukkan hampir jam sepuluh malam, kami semua tengah membersihkan kafe dan bersiap untuk tutup.
Jihye eonni mendekatiku dan sorot matanya seperti meminta penjelasan padaku atas kejadian tadi. "Kamu memiliki masalah lagi?" tanyanya menyelidik.
"Ya? Tidak, eonni!" jawab Youngmi terdengar acuh.
"Jujur saja padaku, aku sudah mengenal dirimu. Aku bahkan mengenali tingkah lakumu jika sedang memikirkan sesuatu!" tukas Jihye berusaha membuat Youngmi tidak menyimpan masalahnya sendiri.
Aku hanya mampu menundukkan kepala, sambil membersihkan meja.
"Kamu bertengkar lagi dengan kakakmu?" tanyanya lagi masih penasaran.
Aku menghela napas.
"Iya, aku bertengkar lagi dengannya," ujarku bohong.
Aku memang belum mengatakan kebenarannya pada Jihye eonni, jika aku mengatakannya pasti aku merepotkannya lagi. Aku bahkan sampai meminta tolong padanya untuk menjaga Choco⎯anjing kesayangku⎯ selama aku di sekolah. Lebih tepatnya ibunya yang menjaga Choco karena Jihye eonni harus kuliah.
"Kenapa bisa?! Sekarang apalagi masalahnya?" Pekiknya meninggi. Aku tersentak.
"Itu ... hanya masalah kecil, eonni!" jawabku cepat.
"Baiklah, aku tidak memaksa kamu bercerita."
*****
⎯ Sydney, Australia ⎯
PLAK!!
PLAK!!
"Wanita tidak tahu diri! Sudah di buang ke negara orang masih saja menggoda suamiku!" bentaknya setelah meninggalkan bekas tamparan di kedua pipi Min Jee.
Min Jee memegangi kedua pipinya yang semakin panas dan memerah. "Cih ... siapa yang menggoda suamimu?! Apa kau tidak mengaca, ahjumma? Kau adalah perebut suami orang yang sesungguhnya!" cibir Minjee dengan tatapan menjijikkan.
"Apa kau bilang?"
"Kau adalah perebut suami orang yang sesungguhnya! Bukan aku!" ulangnya menyeringai. Wanita tua itu mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan membunuh.
"Ahjumma, apa kau tahu suamimu .... ah bukan, dia suami orang lain adalah pasienku. Kau mengaku istrinya? Hal semacam ini saja kau tidak tahu!" tukasnya meremehkan.
"Apa?"
"Ya! Jika kau tidak percaya, tanyakan padanya. Tapi ingat, kau harus lembut padanya jika kau tidak ingin Tuan Park mati." Min Jee membungkuk pamit.
⎯ Ruang Kerja Min Jee ⎯
Min Jee memegangi kepalanya yang sedikit pening. Hari ini sangat melelahkan untukku, bagaimana tidak? Tiba-tiba saja wanita tua itu datang hanya untuk menamparku. Untung saja jadwal operasi dua pasienku sudah dijalani sebelum wanita tua itu datang, jika tidak? Mungkin aku bisa merenggut nyawa seseorang dalam satu hari.
Tok! Tok!
"Selamat malam, Nona," Ia membungkuk.
Aku hanya mengangguk sebagai balasan. "Ada apa, Tuan Jung?"
"Nona, sepertinya adik anda sedang dekat dengan putra dari Tuan Lee pemilik Jeju World Villa. Tuan Lee sudah mulai mencari tahu tentang adik anda," lapornya masih betah membungkuk.
"Wah, benarkah?" Minjee menyandarkan diri pada kursi kerjanya dan tersenyum.
"Akhirnya mereka bertemu," gumamnya.
"Ye, apa ada perintah, Nona?"
"Tidak ada, untuk saat ini biarkan mereka dekat. Karena sebelumnya mereka pernah menjadi teman!"
*****
"Ada apa ayah memanggilku?" tanya Yonghwa tanpa basa-basi setelah berada di ruang kerja ayahnya.
Ayahnya membalikkan kursi yang sedang ia duduki. "Kau masih bertanya ada apa? Jelaskan ini," pintanya lalu melempar lembaran foto di hadapan Yonghwa.
Aku membulatkan mata, terkejut memandangi foto-foto itu. "Kau memata-matai aku, abeoji?"
Ia menyeringai. "Kau putraku, wajar jika seorang ayah ingin tahu kegiatan putranya di sekolah. Apa kau berpacaran dengan gadis itu?"
Yonghwa mengepalkan kedua tangannya lalu menghela napas. "Tidak, kami hanya teman. Kenapa? Ayah tidak mengizinkan aku berteman dengannya?" Aku menahan emosi.
"Kau boleh berteman dengannya, tapi ingat belajarmu. Aku tidak ingin nantinya mendapat kabar bahwa nilaimu turun. Kau mengerti, Yonghwa?"
Aku menatapnya tajam dan sudah mengerti apa yang ayahku katakan. Ia mengancamku dengan alasan sekolah dan nilai. Apa pantas beliau disebut ayah? Bahkan, beliau tidak tahu kondisi putranya sendiri. Sungguh, memilukan.
"Tentu, aku akan pertahankan nilai-nilaiku!"
⎯ 10:30 PM ⎯
Aku merenggangkan tubuh setelah selesai menutup kafe malam ini. Sebelum kembali ke goshiwon, aku akan mampir ke rumah Jihye eonni untuk mengambil Choco.
"Sunbae, aku duluan," ujar Eunbi membungkuk pada kami dan segera berjalan pergi.
"HATI-HATI, EUNBI-YA!" teriakku, sambil melambaikan tangan. Sedangkan Jihye eonni masih membenarkan tali sepatunya.
"Ayo!" Jihye memeluk lengan kiriku dan tersenyum senang. Aku hanya menggeleng melihat tingkahnya.
"Youngmi!" suara berat seseorang terdengar. Aku dan Jihye eonni menoleh padanya. "Eoh? Yonghwa?"
Yonghwa mengangguk dan tersenyum. Ia memandangi kafe yang sudah gelap dan terpajang papan 'close' di sana. Aku mengikuti arah pandangnya.
Jihye eonni hanya senyam-senyum tidak jelas menatap kearah kami, ia sangat bahagia melihat aku dan Yonghwa. Ya, katakanlah ia mendukung kami.
"Kau pergilah bersamanya," bisiknya. Aku bergidik lalu menggeleng agar Jihye eonni tidak pergi. "eonni, andwae!"
"Kalau begitu aku duluan, Youngmi-ya, Yonghwa-ssi." Jihye mempercepat langkahnya.
"Ah .... kamu ingin minum kopi?" tanyaku setelah kepergian Jihye. Yonghwa hanya diam saja.
"Gwaenchanayo?" tanyaku lagi khawatir, wajahnya terlihat murung.
Hening.
Ia menarik lenganku dan membuat kami saling berhadapan. "Kenapa? Ada apa?" Youngmi menilik lelaki jangkung di depannya yang masih saja diam. Ada apa dengannya? ekspresi wajahnya sangat dingin, tidak seperti Yonghwa yang aku kenal.
"Apa kamu akan langsung pulang?" tanya Yonghwa, lalu mengukir senyum di bibirnya yang sepertinya di paksakan.
Aku membalas senyumnya. "Tidak, Aku akan ke apartemen Jihye eonni untuk mengambil Choco," jawab Youngmi.
"Choco?" Yonghwa menaikkan sebelah alis.
Aku mengangguk. "Iya, Choco adalah anjing peliharaanku. Kenapa?"
"Ohh .... anjing peliharaanmu. Kalau begitu, setelah mengambil Choco, bisakah temani aku, malam ini?"
"Ye?"
⎯⎯⎯⎯
* Abeoji ; Ayah ( Formal )
* Andwae ; Jangan!