
Setelah sarapan satu potong roti, aku memasukan sereal ke dalam semangkuk susu. Ini adalah bagian dari kebiasaanku di pagi hari sebelum ke sekolah, jika di hari libur aku akan mengganti sereal dengan meminum kopi dan cheese cake sebagai sarapanku. Aku menilik arloji di lengan kiriku, jarum jam sudah menunjukkan pukul enam lima belas, masih terlalu pagi memang untuk berangkat ke sekolah.
Aku menoleh pada Choco yang sedang tertidur di atas tempat tidurku, aku tidak tega meninggalkan Choco sendirian di kost, biasanya jam segini Ji Hye eonni sudah menjemput Choco untuk membantuku merawatnya. Tapi, hari ini ia tidak bisa menjemput Choco karena Jihye eonni tengah sakit.
Di benakku terpikirkan satu nama seseorang yang mungkin bisa membantuku menjaga Choco yaitu Lee Yong Hwa. Tapi, aku tidak yakin dia mau membantu atau tidak menjaga anjing kesayangku ini. Semenjak kejadian dua hari yang lalu ketika aku bertemu Yeji tanpa disengaja, Yonghwa jadi sulit ditemui dan aku bahkan tidak bisa bicara lagi dengannya, seperti seseorang yang sedang menjaga jarak.
Aku menghela napas dalam satu hentakkan dan mendekati Choco. "Sudahlah! Lagi pula, Chocoku ini pasti tidak apa-apakan aku tinggal sendirian? Kalau begitu aku berangkat sekolah dulu, oke Choco? Annyeong!"
⎯ 12:00 PM ⎯
"Youngmi-ya, kamu tidak membawa bekal?" tanyanya Seo Yi yang sudah duduk berhadapan denganku.
Aku menggeleng. "Kenapa? Kamu juga tidak membawa bekal? Mau ke kantin bersama?"
"Tidak-tidak! Aku membawanya kok, ini!" Seo Yi langsung menaruh sekotak bekal yang cukup besar di atas mejaku. "Ayo, makan bersama! Aku membawa terlalu banyak," ajaknya bersemangat.
"Tapi aku ...."
"Tidak ada tapi-tapi! Sudah ayo makan, aku tidak sanggup menghabiskan ini semua. Bantu aku, Youngmi!" Seo Yi dengan cepat memberi satu pasang sumpit padaku.
aku menerimanya sungkan. "Baiklah, makasih."
"Youngmi-ya, apa kamu mengenal Yonghwa?" tanyanya, sambil melahap lagi makanannya.
"Yonghwa?" Aku menautkan kedua alis.
"Iya, Yonghwa dari kelas 3-1, Lee Yong Hwa. Laki-laki yang selalu menempel padamu."
"Oh, kalau dia aku mengenalnya. Kenapa memangnya?" tanya Youngmi.
"Tidak, biasanya kalian selalu bersama ketika jam istirahat. Tapi aku lihat sudah dua hari ini sepertinya kalian tidak bersama! Youngmi-ya, Apa kalian berdua berpacaran?" Seo Yi menatapku dengan penasaran. Aku membalas tatapannya, di sana aku merasakan tatapan tajam yang menegaskan bahwa ia tidak suka dan seperti meminta penjelasan tentang hubungan aku dan Younghwa. Apa Seo Yi menyukai Yonghwa?
"Tentu tidak! aku mana mungkin aku pacaran dengannya? Kami hanya sama-sama menyukai piano, dan ia memintaku untuk mengajarinya," jelas Youngmi cengengesan.
"Ah begitu, syukurlah! Aku kira kalian berdua berpacaran. Apa kamu tidak pernah dengar dia sudah punya pacar?" tanyanya lagi, lalu memajukan duduknya.
Youngmi menggeleng cepat.
"Aku tidak pernah mendengarnya!" jawabnya terdengar santai. Aku masih mencerna setiap pertanyaan yang dikeluarkan oleh Seo Yi, sepertinya ada sesuatu yang ingin dia beritahukan padaku, entah apa itu tapi yang jelas sepertinya hal yang sangat penting. Tapi ia terlalu berbelit-belit jadi aku tidak bisa memahaminya.
"Kamu tidak pernah mendengar? Dia tidak pernah bercerita atau memberitahumu?"
"Iya, dia tidak pernah bercerita atau pun memberitahuku!"
"Wah benarkah?!" Seo Yi tidak percaya, ia segera merogoh ponsel miliknya sendiri yang berada di dalam tas. Ia memperlihatkan sesuatu padaku di ponsel miliknya, aku dengan cepat mengambil ponselnya untuk melihat lebih dekat hasil jepretan di ponselnya.
Kontan mataku membulat sempurna. "Ige mwoya?" tanyaku nyaris tak terdengar.
"Kamu kenal gadis ini? Tiga hari yang lalu, aku tidak sengaja melihat mereka berdua sedang makan malam di salah satu restoran yang aku kunjungi bersama keluarga. Mereka sangat mesra, aku berfirasat bahwa mereka sedang berkencan dan gadis itu mungkin memang pacarnya!" Ia terdiam sejenak ketika matanya memandang ke arahku yang belum memberi respon.
"Youngmi-ya, kamu baik-baik saja?" Panggilnya khawatir, sambil melambaikan kedua tangannya ke wajahku.
"Ya! Han Young Mi!" pekik Seo Yi geregetan.
Youngmi tersadar dari lamunannya.
"Eoh? Kenapa?" Aku mencoba untuk tenang ketika Seo Yi sudah memberi penjelasan pada foto yang ada di ponselnya. Entah kenapa aku merasa sangat marah dan tidak senang. Aku bahkan tidak tahu bagaimana harus menanggapi hal ini.
"Kamu baik-baik saja? Maaf jika aku memberitahukan hal ini, aku pikir kamu sudah tahu! Aku khawatir kamu disakiti oleh lelaki br*ngsk itu"
"Hey! Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah memberitahuku!"
Seo Yi mengangguk dan tersenyum. "Oh iya, kamu juga harus tahu ini, meskipun Yonghwa tampan, tidak ada yang berani mendekatinya. Kamu tahu kenapa?"
"Ya! Karena dia playboy! Sudah banyak korban yang termanipulasi oleh kebaikannya, Youngmi-ya!"
"Apa? Playboy? apa maksudmu?"
"Kamu bisa bertanya pada yang lain atau kamu bisa mencari tahu sendiri. aku juga tidak tahu pasti karena tidak mengenalnya secara pribadi. Aku harap kamu bisa menilainya dengan baik!"
*****
"Kau kenapa? Sedang memikirkan yeojachingu-mu?" senggol Minho pada teman seperjuangan di sampingnya yang terlihat sedang berkelut pada pikirannya⎯sedih.
Tidak ada respon. Minho kembali fokus pada playstation milik Yonghwa.
"Cerita dong elah, kalau ada masalah! Berantem lagi, kah? Sama pacar atau Youngmi?"
Yonghwa menoleh pada Minho dengan tatapan tajamnya. "Song Min Ho," panggilnya, yang membuat sang empu merinding.
"Ke .... kenapa?" Minho merasakan hawa membunuh di dekat Yonghwa.
Yonghwa tertawa sangat kencang ketika menilik ekspresi temannya. Minho berdecak lalu menggeleng. Detik berikutnya, Yonghwa terdiam.
"Ayolah, cerita padaku." Minho semakin penasaran.
"Yeji dan Youngmi, mereka adalah teman ketika masih di bangku sekolah menengah pertama," jelas Yonghwa tenang.
"Apa? Apa aku tidak salah dengar? Mereka berteman? Pacar dan calon pacarmu berteman?"
"Ya! kau mau mati? Memangnya kau tuli? Entah kenapa aku merasa bersalah kepada Youngmi!" ujarnya kesal.
Minho cekikikan mendengar perkataan lelaki di sampingnya. "Hahahaha .... seorang playboy sepertimu merasa bersalah?"
Yonghwa tidak merespon, fokusnya teralihkan dengan bermain PS.
"Kau harus ingat perkataanku, sepertinya kali ini kau harus berjuang untuknya. Agar kau tidak menyesal nantinya."
*****
Mata indah itu perlahan terbuka, mengerjap perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya, menutupi wajah cantiknya dengan telapak tangan, menghalangi silau mentari yang menembus kaca bening di samping tempat tidurnya.
Gadis itu memegangi kepalanya yang tanpa permisi terasa sangat pening. Dengan tubuh bergetar, aku beranjak dari tidur, kakiku terasa lelah tidak sanggup untuk sekadar menopang tubuh, aku berangsut duduk di pinggiran kasur minimalis kost ini.
"Awww....!" pekik Youngmi merasakan dadanya kembali sakit dan berdebar-debar semakin kencang. Aku segera mengambil ponsel di samping tempat tidur yang sudah bergetar.
"Yeoboseyo!" sapaku lirih. Aku masih betah memegangi dada yang semakin membuatku sakit.
"YA! HAN YOUNG MI! KAMU BARU BANGUN?!" teriak seseorang di sebrang sana.
"Eon ... eonni, tolong aku!"
Tut .... tut ....
"Ha .... hallo! HAN YOUNG MI!"
⎯⎯⎯
*Ige Mwoya ? ; Apa Ini ?
*Yeojachingu ; Pacar
*Playstation (PS) ; adalah konsol permainan grafis dari era 32-bit.