
Dua minggu kemudian.
'Tuk'
Kriiingggg...! Kriiingggg...! Kriiingggg...!
Suara alarm dan pen rollerball yang terantuk meja membuat kesadaranku kembali sepenuhnya. Mengerjap sejenak, mencoba beradaptasi dengan sisa cahaya lampu di meja belajar yang masih berpijar sementara matahari di hari minggu sudah hampir tinggi. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan. Dan sialnya selalu tumpukan buku-buku tebal dan lembaran soal-soal latihan untuk ujian yang pertama kali menyapa pagiku. Alih-alih aku akan melihat wajah ibu yang bisa aku nikmati, tapi apa daya itu semua tidak pernah benar-benar terjadi. Sejak lahir, aku tidak pernah merasakan kehadiran dan kehangatan seorang ibu.
Ya, kau bisa menyebut hidupku menyedihkan. Faktanya, aku sudah beranjak dewasa dan tidak bisa mengharapkan apapun lagi jadi aku bahagia-bahagia saja dengan hidupku yang membosankan ini. Jangan membayangkan kehidupanku akan seperti yang lainnya, berkencan dengan lelaki idaman, shopping, nongkrong atau apapun itu. Jangan mengharapkan hal yang tidak pasti seperti itu. Bagiku menikmati udara di alam bebas sudah cukup membuat hidupku terasa manis.
Tok.... tok.... tok .....
"YOUNGMI-YA, APA KAU SUDAH BANGUN?!" teriak seseorang dari balik pintu.
Kali ini suara teriakkan seorang wanita dan suara pintu kamar kostku di ketuk olehnya yang terdengar tidak sabaran ingin segera di buka. "Jamkkanmanyo!" teriakku yang masih dengan rasa kantuk yang tak berujung, aku meregangkan badanku yang terasa kaku dan mati rasa.
Ceklek
"Ya, Youngmi! Kamu membuatku khawatir, dari mana saja kamu? Aku sudah berkali-kali menghubungimu tapi tidak ada jawaban sama sekali!" pekik Jihye kesal. Ia melangkah masuk sambil menenteng dua kantong tas yang sepertinya berisi makanan.
Youngmi nyengir kikuk.
"Mianhae, eonni. Aku baru saja bangun."
"Yasudah tidak masalah, lain kali ponselmu jangan disilence. Kamu sudah makan?" Jihye membuka isi tas yang di bawanya, lalu menaruh beberapa tupperware besar berisi kimchi di kulkas kecil berwarna silver yang berdekatan dengan kamar mandi.
"Ajig-yo, eonni." Aku tengah memperhatikan gerak-geriknya.
Jihye menoleh, bola matanya menyipit. "Mwo? Empat jam lagi makan siang dan kamu pasti belum sarapan dan meminum obatmu?!" Ia dengan cepat menyiapkan sarapan untukku.
"Eonni juga makanlah!" ujarku padanya.
Jihye eonni menjadi sangat protektif padaku semenjak ia tahu bahwa aku di diagnosa memiliki penyakit mematikan yang bisa merenggut nyawaku kapan dan di mana saja tidak mengenal waktu dan tempat. Lalu sekarang, ia juga sudah tahu bahwa kakak kandungku⎯Min Jee⎯ tidak tinggal bersama denganku lagi, karenanya ia semakin ketat dalam mengawasiku.
Barangkali aku berpikir bahwa penyakitku ini diturunkan oleh ayah. Tidak ada yang salah bukan jika aku berpikir begitu? Ayah membenciku sejak dulu, bahkan beliau tidak pernah merawatku, hanya Min Jee eonni yang mengasuh dan merawatku sedari kecil dan di bantu oleh bibi dari adik ibu. Tapi beliau tidak bisa untuk terus mengasuhku, bibi harus segera menikah dan aku kehilangan kontak dengannya.
"Aku sudah makan. Sekarang giliran kamu,
Makanlah! Setelah itu minum obat dan istirahatlah yang cukup. Kamu harus segera kembali sehat, oke?!" tegas Jihye memperingatkan.
"Aigoo! Ne, aku akan makan ini!" jawab Youngmi, lalu memakan sarapan yang sudah disiapkannya untukku.
*****
Ketukan jari tangan yang seirama dengan lantunan suara musik menemani Youngmi duduk di antara pengunjung kafe. Dari jendela, aku bisa melihat para pejalan kaki yang berlalu-lalang menembus rintikkan hujan yang semakin deras. Aku merapalkan doa agar tak akan bertemu dengan siapapun di kafe ini, sekali ini saja, aku hanya ingin sendirian menikmati rintikkan hujan yang membuatku tenang.
Sialnya, doaku tidak terkabul. Hujan mulai berhenti. Youngmi mematung sesaat, jantungnya mendadak berdebar begitu saja dan segera memalingkan wajah. Aku mengerjap berkali-kali untuk memastikan, apa yang aku lihat dari luar jendela kafe. Tapi pikirannya justru berkhianat, aku semakin penasaran dengan dua sejoli di depan tempatku duduk.
Aku kembali menoleh perlahan. Mataku membulat, detak jantungku makin liar. Aku buru-buru memalingkan wajah kembali dengan wajah memerah saat lelaki jangkuk itu⎯Yonghwa⎯ mengalihkan pandangan dan menoleh pada kaca yang terdapat gadis bersurai panjang sepinggang tengah buru-buru pergi dari tempatnya duduk.
Yonghwa lantas membentuk jarak antara tubuhnya dan tubuh gadis dalam kungkungannya. Seringai tipisnya terbentuk. "Aku harus pergi sekarang. Sorry, tidak bisa mengantarmu. Kau bisa pulang sendiri, kan?" Kata Yonghwa.
Gadis itu mengangguk, lalu memberhentikan taksi. "Ne! Terima kasih untuk hari ini. Sampai nanti, oppa."
"Hm... Sampai nanti." Yonghwa tersenyum ketika taksi itu sudah melaju.
Yonghwa berjalan dengan langkah cepat, sembari pandangan mengitari jalanan untuk mencari seorang gadis mungil yang tadi tertangkap pandangannya. Ia tidak bisa menyembunyikan senyum gemasnya melihat gadis itu⎯Youngmi⎯ seterkejut itu, bahkan sampai mengumpat kesal.
Beberapa menit berlalu, ia sudah menemukan Youngmi tengah berdiri di halte bus terdekat. Buru-buru Yonghwa berlari menghampirinya, dengan cepat ia menarik lengan Youngmi yang akan menaiki bus. Gadis itu menoleh padanya.
"Annyeong, Youngmi," sapa Yonghwa tersenyum lebar.
Youngmi terdiam, tidak menggubris. Detik berikutnya, aku menatapnya lalu menepis tangan Yonghwa. "Eoh? Annyeong! Maaf, Yonghwa-ssi, aku harus segera pulang!" pungkas Youngmi sebelum akhirnya beranjak pergi begitu saja meninggalkan lelaki yang sedang tersenyum simpul. Yonghwa segera mencekal kembali lengan gadis mungil itu.
Aku tersentak. "Ya! Lepaskan!" pekik Youngmi mencoba menepis tangan kekar milik lelaki jangkuk itu. Namun, gagal. Genggaman itu semakin kencang.
"Lepaskan, aku mohon! ini sakit, Yonghwa-ssi!" Aku meringis kesakitan.
Yonghwa berhenti dan berbalik setelah mendengar sang gadis kesakitan. Yonghwa melepaskan genggamannya, di sana terlihat lengan Youngmi memerah. "Mianhae," ia berjalan mendekati sedangkan aku mundur tanpa ekspresi.
"Maaf untuk apa?" Youngmi menatapnya tajam.
Tak ada respon. Yonghwa segera merengkuh tubuh gadis itu, memeluknya. Dan, membuatku terkejut. Detik itu juga, jantungnya berdebar semakin kencang. Aku berusaha melepaskan pelukan tapi ia semakin mengeratkannya. seperti terhipnotis, Youngmi terdiam, tidak membalas. Dan, bahkan aku bisa mencium aroma maskulin milik Yonghwa.
"Bogoshipeo, Youngmi-ya!" bisiknya lembut.
⎯⎯⎯⎯
*Jamkkanmanyo ; Tunggu Sebentar.
*Kimchi ; Salah satu makanan korea ini merupakan sayuran yang difermentasi dengan bumbu khas sehingga menghasilkan rasa yang pedas dan asam.
*Ajig-yo ; Belum.
*Bogoshipeo ; Aku merindukanmu.