ME

ME
BAB 20



Salju pertama ditahun ini telah turun. Pandangan mataku terpikat pada apa yang ada di luar jendela, pandangan yang tidak asing lagi, terlihat banyaknya pasangan kekasih berjalan beriringan sambil berpegangan tangan, bersenda gurau menikmati jalanan yang dihujani butiran putih angin itu. Sempat terbesit di dalam pikiranku untuk melakukan kencan bersama Yonghwa dimalam ini. Tapi apa daya, Yonghwa berada di Inggris empat hari yang lalu untuk melanjutkan pendidikannya.


Youngmi telah menyadari lelaki yang sekarang telah menjadi kekasihnya adalah teman masa kecilnya, meskipun ia belum menyadarinya tapi aku langsung mengenalnya. Lelaki kecil yang pada saat itu mengenalkannya pada piano dan mampu membuat hidupnya kembali berwarna.


Bagaimana aku bisa yakin bahwa Yonghwa adalah lelaki kecil itu? Aku melihat foto masa kecilnya, aku melihatnya saat ia mengajakku ke apartemen milik mendiang ibunya. Dan anehnya, kejadian yang sama waktu itu telah kembali, kami berpisah dimusim dingin dan setelahnya salju pertama turun.


Tokk... Tokk....


Ketukan pintu yang tiba-tiba itu membuatku bangun dari pikiranku. "Iya sebentar! Siapa?" tanyaku pada seseorang yang mengetuk diluar pintu.


"Ini aku Choi Ji Hye!"


"Oh, eonni masuklah." Aku mengizinkan masuk wanita itu.


"Apa kamu baik-baik saja? Ini aku belikan kopi macchiato hangat kesukaanmu agar kamu bisa tenang." Jihye eonni tersenyum sambil memberikan kopi kesukaanku yaitu macchiato padaku.


"Terima kasih, eonni. Aku baik-baik saja! Tapi, ada apa kamu mengunjungiku malam-malam begini?" tanyaku lagi sambil menyesap kopi hangat yang sudah aku genggam.


Jihye tersenyum kembali lalu duduk dikursi belajarku. "Hehehe... aku hanya mengkhawatirkanmu. Bagaimana jantungmu apa sering kembali sakit?"


Aku terdiam sejenak. Aku mencoba mengurai kata-kata sebelum aku menjawabnya. "Sebenarnya .... akhir-akhir ini, jantungku sering sakit. Setelah aku meminum obat pun terkadang sakit itu menghampiri dan terasa lebih sakit dari sebelumnya seperti ada sumbatan di jantung, sangat sesak!" jawabku lirih.


Kami berdua mengobrol lumayan lama dengan ditemani kopi yang menghangatkan tubuh dimusim dingin ini. Dan, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


"Youngmi-ya, lusa akan aku antarkan kamu ke dokter, ingat harus ke sana! Kalau begitu aku pulang sekarang," pamit Jihye setelah pacarnya menjemput. Aku hanya mengangguk dan tersenyum simpul, lalu melambaikan tangan.


Esoknya,


Aku memiliki janji temu dengan Soojung untuk mengikuti audisi lomba musik seluruh remaja Korea. Audisi ini adalah harapan terakhirku untuk menunjukkan bakat pianoku. Jika nanti aku tidak lolos, aku akan fokus pada pengobatanku.


"Soojung-ah," panggil Youngmi, sambil menepuk pundak milik gadis bernama lengkap Kim Soo Jung.


Soojung segera menoleh. "Oh, sunbae!" Ia tersenyum simpul ketika melihatku.


"Maaf aku terlambat, apa kamu sudah lama menunggu?"


"Tidak kok, sunbae. Aku baru saja sampai lima menit yang lalu, jadi kamu tidak terlambat," ungkap Soojung meyakinkan.


Aku mengangguk mengerti. "Gomawo. Ayo, nanti antriannya semakin banyak!"


"Ne, sunbae!"


*****


"Eonni, apa kamu tahu harga kamera itu?" tanyanya setelah melihat sebuah kamera terpajang disalah satu toko elektronik.


"Kamera? Aku tidak tahu, memangnya kenapa?" Kini Jihye berhenti di samping Youngmi serta ikut memandangi kamera di balik kaca besar.


"Tidak, tidak! Aku hanya bertanya saja," jawabku berjalan kembali mendahului Jihye.


"Hey, kamu ingin membelinya, kan?"


Aku menggeleng cepat. "Tidak, eonni. Aku hanya bertanya saja!" Youngmi berjalan cepat.


"Jeuiseonghamnida," ucap kami berbarengan.


Aku mendongak perlahan, mengenali suara wanita di depanku. Mataku membelalak. "Min ... Min Jee eonni?!" pekikku yang hampir berteriak.


*Kedai Kopi


Kami bertiga tengah duduk di salah satu bangku kafe paling ujung yang berdekatan dengan jendela. Sungguh, hari ini mood seorang Youngmi sudah sangat kacau karena penyakitnya yang semakin parah dan sekarang aku malah bertemu dengan wanita yang tidak ingin kutemui sama sekali dan muncul secara tiba-tiba.


"Bagaimana kabarmu?" tanyanya memulai pembicaraan, sedangkan aku hanya menatapnya tidak suka.


"Tidak perlu basa-basi. Tidak ada yang perlu kita bicarakan, kan? Kalau begitu aku permisi!"


"JANGAN PERGI!" teriaknya, nyaris membuatku terperanjat. "Youngmi-ya, mianhae. Jeongmal mianhae! Aku tidak niat meninggalkanmu. Aku⎯"


"Kamu apa? Kamu pergi dengan suami orang lain? Dan, menjadi selingkuhan?" Aku tatap sengit wanita yang menjadi kakakku ini. Jihye hanya diam dan mengusap pundakku agar aku tetap tenang.


"Apa kau bilang?!" Min Jee nyaris membentak dan matanya beradu dengan mataku.


"Eonni menjadi selingkuhan dan pergi dariku karena memilih laki-laki itu, bukan?!" Youngmi tersenyum sinis.


"Ya, Han Young Mi! Selama ini aku menahan semuanya, aku menjaga dan merawatmu sebagai adikku satu-satunya tapi kamu berani mengatakan hal itu padaku? Aku bahkan tidak marah bahwa kamu penyebab kematian ibu dan ayah! Sadarlah, kamu memang anak pembawa sial seperti yang ayah katakan!"


"Mwo?" Youngmi terdiam dengan tatapan tajam. Tak lama, napasnya terengah-engah, bibirnya bergetar, dan terlihat begitu lemah bahkan hanya untuk bicara beberapa patah kata saja. Youngmi terjatuh dari kursinya, dadanya berdenyut lebih cepat dari biasanya, sakit .... sangat sakit. Tubuhnya melemah dan cahaya matanya meredup dalam sekejap.


"YOUNGMI-YA!" Seseorang berseru.


Youngmi tak bergerak sekalipun di guncang tubuhnya. Gadis itu, kehilangan kesadarannya.


*****


Min Jee tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya ketika memapah tubuh adiknya Youngmi yang terkulai lemah dari kedai kopi ke rumah sakit bersama dengan Jihye. Segala bentuk ketakutan menyelimuti, membekukan sel-sel saraf otak keduanya untuk berpikir jernih.


Min Jee merasakan hal yang sama ketika mendapati tubuh sekarat ayah dan ia tidak bisa melakukan apapun. Min Jee merasa bersalah, bahkan bisa-bisanya ia mengatakan hal seperti itu pada adiknya sendiri.


Sudah lebih dari dua jam kami menunggu di sini, di depan ruang operasi, menunggu dokter yang menangani Youngmi keluar memberi kabar. Min Jee dan Ji Hye, wajah kami terpasang dengan air muka yang sama; campuran bentuk kegelisahan, ketakutan, ketidaknyamanan dan segala perasaan yang sulit didefinisikan. Tidak ada satu pun di antara kami yang mulai bersuara.


Tepat pada saat itu, seorang dokter wanita beserta dua perawat yang mendampingnya keluar dari ruang operasi Youngmi. Kami berdua terkesiap dan serempak bangkit dari duduk menghampirinya.


"Kami meminta maaf untuk mengabarkan bahwa keadaannya masih kritis. Penyebabnya, ada penyempitan dan pengerasan pada pembuluh darah arteri pada jantung atau biasa dikenal atherosclerosis." Penjelasan dari dokter memperburuk suasana. "Selain itu, kami menemukan ini."


Dokter itu mengacukan tabung obat milik Youngmi, dan hanya Jihye yang tahu. Min Jee terbelalak dengan tabung obat yang sudah berada di tangannya. "Jadi .... selama ini adikku, mengidap penyakit jantung koroner?"


"Iya, benar. Apa tidak ada yang mengawasinya selama ia mengomsumsi ini? Obat itu tidak hanya untuk jantungnya tapi juga sudah tercampur dengan obat penenang atau obat sedative. Untung saja dia tidak mengonsumsi ini berlebihan."


Ji Hye dan Min Jee bungkam. Terlalu malu untuk mengakui bahwa, ya, keduanya tidak tahu. Di balik sikap Youngmi yang ceria, keduanya sama sekali tidak tahu, selama ini Youngmi kehilangan semangat hidup. Melihat ia hanya terbaring lemah dengan wajah pucat pasi di ruang ICU membuat keduanya tidak berhenti menyalahkan diri sendiri.


⎯⎯⎯⎯


*Jeuiseonghamnida ; Maafkan Saya.


*Atherosclerosis ; atau aterosklerosis adalah penyempitan dan pengerasan pembuluh darah arteri akibat penumpukan plak pada dinding pembuluh darah. Kondisi ini merupakan penyebab umum penyakit jantung koroner (Atherosclerosis Heart Disease).