
Aku tengah duduk di salah satu kafe terdekat bersama Yonghwa. Aku sangat kaget ketika bertemu dengannya di depan gedung entertainment. Entah ini sengaja atau memang kebetulan tapi aku tetap yakin ini hanya sebuah kebetulan.
"Apa kabar, Youngmi?" tanyanya mencoba membuka obrolan, Yonghwa tidak tahan dengan suasana yang semakin canggung.
Aku yang dari tadi menundukkan kepala saat ini tengah menatapnya. "O-oh? Iya, kabarku baik! Bagaimana denganmu?"
"Ya, aku juga sangat baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang aku!" ujarnya bersemangat sambil mengacungkan jempol.
Aku mengernyitkan dahi melihat tingkahnya. "Ada apa dengannya?" Batin Youngmi.
"Ah .... hahaha .... syukurlah jika kamu baik-baik saja!" Responku tertawa kikuk.
Yonghwa menatapnya datar, di bibirnya ia menahan untuk tersenyum.
Aku menilik wajah Yonghwa yang tak berekspresi, aku berdehem lalu mengambil segelas kopi di depannya lalu meminumnya dengan canggung. Kali ini, Yonghwa yang tertawa terbahak-bahak.
"YA! LEE YONGHWA!" teriakku yang membuat beberapa pengunjung kafe menoleh pada kami. Yonghwa tersenyum pada pengunjung kafe yang menatap kami serta mengisyaratkan agar tidak salah paham.
"Aku bercanda tadi dengan memasang ekspresi seperti itu!" ujarnya terkekeh.
"Aku tahu! Aku juga bercanda! Wlee!" Kali ini aku yang meledeknya.
Yonghwa tersenyum lembut. "Imutnya!" gumamnya sendiri.
"Ye?"
"Tidak! Oh ya, kamu sedang apa di gedung agensi entertainment itu?" tanyanya lalu menatapku.
"Aku ikut audisi," jawabku singkat.
"Jinjja? Kamu ingin menjadi idol? Artis?" tanyanya lagi semakin penasaran.
Aku menggeleng cepat. "Tidak keduanya, aku ingin menjadi seorang pianist!"
"Pianist? Wae?"
"Tidak ada alasan. Sudahlah, sebenarnya ada apa kamu mengajak aku ke sini?! Jika tidak ada, aku akan pergi sekarang!" kataku bersiap-siap untuk berdiri.
"JANGAN!" teriaknya membuatku tersentak. "Kamu mau kemana? Aku belum selesai bicara denganmu." ucapnya lagi.
"Aish! Oke oke ... Kamu mau bicara apa? Cepat katakan, aku harus bekerja." Aku duduk kembali.
Yonghwa membenarkan duduknya dan menghela napas. Aku hanya diam sambil menatapnya agar ia bisa membuka suaranya.
"Maaf, Youngmi-ya!"
"Maaf, untuk apa?"
Aku mengerutkan dahi, tidak paham dengan kata maafnya.
"memangnya dia berbuat apa denganku hingga meminta maaf? Lebih baik dengarkan saja dulu." Batinnya.
"Untuk kejadian seminggu lalu, ketika aku memaksamu menjadi saksi kasus Kyungsoo dan Sora, aku minta maaf!" Yonghwa berusaha tidak salah bicara.
"Tidak! Seharusnya aku yang minta maaf padamu karena menolak permohonanmu. Aku tidak marah padamu, saat itu aku hanya banyak pikiran dan sangat takut untuk terlibat," ungkapnya tersenyum.
"Apa yang kamu takutkan? Jika memang benar itu kesalahan Kyungsoo, aku juga tidak akan meminta bantuanmu karena aku mengenal Kyungsoo. Ketika dia bilang 'tidak', itu artinya memang dia tidak melakukan begitu pun sebaliknya ketika dia mengatakan 'iya'. Hanya saja yang menjadi semakin rumitnya ketika dia mencekik Sora, itu yang membuat kasus ini semakin rumit. Dan, masalah kehamilannya, Sora sudah mengaku bahwa dia hamil bukan karena Kyungsoo," ujarnya menjelaskan padaku.
Yonghwa menoleh kearahku karena aku tidak merespon ucapannya. Aku pun ikut menoleh .... Ya, manik kami kembali bertemu.
"Maaf, Youngmi!" Yonghwa benar-benar serius.
"Aku sudah mengerti jadi tidak perlu terus-menerus meminta maaf lagi!" Aku tersenyum lebar padanya.
*****
"Bagaimana keadaan adikku? Apa kamu sudah mendapat informasi tentang kehidupannya sekarang?" tanya seorang wanita yang masih memandangi rintikkan hujan di luar sana melalui jendela besar apartementnya.
"Adik anda baik-baik saja, Nona. Hanya saja dia kesulitan masalah keuangan, ini adalah bukti adik anda sudah menyewakan apartemen serta dia bekerja di kedai kopi dan satu lagi, Nona Youngmi pernah melakukan percobaan bunuh diri sebanyak tiga kali di jembatan Mapo." lapornya lalu menaruh empat lembar foto di meja ruang tamu sebagai bukti dari hasil penelusurannya.
"WHAT?! Apa aku tidak tidak salah dengar? Bunuh diri? Adikku yang ceria melakukan percobaan bunuh diri katamu?" Wanita itu⎯Han Min Jee⎯ kakak Youngmi, menoleh dan tidak percaya dengan laporan dari Tuan Jung yang diberitahukan padanya. Tuan Jung hanya mengangguk.
Minjee menghela napas agar tidak mengeluarkan emosinya. "Ya sudah, jika terjadi bahaya lagi, kau harus cepat urus itu. Apa ada hal lain lagi tentangnya?"
"Maaf, Nona. Aku baru ingat, adikmu mengikuti audisi di salah satu agensi entertainment, dia mendaftar sebagai pianist," lapornya lagi.
"Audisi? Pianist? Ternyata dia benar-benar telah memiliki keinginan untuk digapai!" gumamnya lirih. Minjee masih ingat betul, hal pertama yang adiknya kuasai dalam waktu singkat adalah alat musik bernama piano.
"Tuan Jung!" panggilnya tegas.
"Ye, Nona?"
"Carikan semua mengenai pendaftaran lomba piano di negara ini atau pun di Korea. Pastikan adikku untuk ikut!" Perintahnya masih menatap keluar jendela tanpa mau berpaling.
"Ye, saya mengerti! Ada lagi yang ingin di tanyakan, Nona?"
"Oh iya, bagaimana dengan wanita tua itu? Apa dia ada pergerakan untuk mengusik hidupku lagi? Jika wanita tua itu mulai bergerak, Kamu harus segera melindungi adikk bagaimana pun caranya!"
"Ye, Nona. Kami telah memantaunya, tidak ada pergerakan sama sekali dari Nyonya Park! Sepertinya dia sudah bernapas lega karena telah mengirim Nona ke Australia, jadi dia tidak menganggu Nona lagi."
"Baiklah! Jung-ssi kamu boleh pergi!"
"Ye, Nona!" Ia membungkuk sebentar dan berjalan keluar dari apartemen Minjee.
Minjee menyeringai. "Wanita tua yang kolot! Kamu pikir setelah mengirim aku ke negara ini, suamimu tidak akan mencari?" gumamnya dengan tatapan devil.
*****
⎯ Kediaman Lee Yong Hwa.
"Tuan Muda, sarapan sudah kami siapkan. Serta ada pesan dari Tuan Lee, beliau mengatakan ada urusan mendadak jadi tidak bisa berangkat bersama anda. Nanti beliau akan menyusul, Tuan Muda," ujar salah satu pelayan.
Sang empu yang dipanggil Tuan Muda tersenyum dingin mendengarnya.
"Tidak apa-apa, ahjumma. Sudah biasa ayah seperti itu di setiap peringatan kematian ibu. Beritahu ayah aku tidak akan menunggu, aku akan ke sana sendiri," katanya sambil merapihkan jas hitam yang sudah ia kenakan.
"Ye, Tuan Muda."
"Ahjumma, mobil sudah di siapkan?" tanyanya lalu berbalik menatap pelayan tua yang masih betah membungkukkan badannya.
"Sudah, Tuan Muda."
"Baiklah! Bilang pada Tuan Gong, hari ini aku akan menyetir sendiri." Yonghwa berjalan dengan gagahnya.
⎯ Rumah Duka ⎯
Yonghwa tengah berdiri di depan kaca yang terdapat pasu⎯guci penyimpan abu kremasi⎯ milik ibunya. Bunga yang ia bawa sudah bertengger di dalamnya. Menempelkan seikat bunga kecil di balik kaca itu lalu menunduk sambil berdoa untuk mendiang ibunya.
"Apa kabar, ibu?"
"Aku di sini sangat baik, berkat ibu. Apa kau sudah lihat gadis yang sedang aku dekati?" Ia menghela napas lalu menatap lekat foto ibu yang ada di depannya.
"Aku akan perkenalkan padamu nanti, jika sudah waktunya. Aku beritahu sedikit saja tentangnya, dia sangat mirip dengan ibu, sangat amat mirip. Ketika sedih gadis itu akan bermain piano seperti ibu." Ia menunduk sejenak.
"Ibu, maaf. Aku masih belum bisa menepati janji untuk bermain piano lagi. Tapi, secepatnya aku akan menepati janji itu, ibu harus melihat dan berikan aku keberanian di surga sana."
Yonghwa mengecek arloji di lengan kanannya. Ia mendongak dan tersenyum.
"Ibu, aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku harus pulang sekarang, lain kali aku akan mengunjungimu lagi." Yonghwa membungkuk.