
Youngmi duduk di atas kasur dan mengeluarkan isi tasnya, semuanya berisi buku-buku tebal latihan untuk suneung. Aku mengecek ponsel dan membuka aplikasi countdown suneung, di sana tertulis D-31, kurang tiga puluh satu hari lagi suneung akan segera dilaksanakan. Dan malam ini, aku harus mulai berjuang. "Semangat, Youngmi-ya!"
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, dan aku sama sekali tidak bisa fokus bahkan satu soal pun belum ada yang terselesaikan. Memoriku terus mengurai pada kejadian lima hari yang lalu. Aku mencoret-coret kertas kosong, frustasi. Youngmi tidak tahu sikap asli Yonghwa seperti apa dan tidak tahu harus percaya pada siapa, Seo Yi atau Yonghwa. Aku sempat berharap bahwa ia adalah teman kecil yang selama ini aku cari.
*Flasback, Lima Hari Yang Lalu.
"Bogoshipeo, Youngmi-ya!" bisiknya lembut. Youngmi tersadar dan segera menjauhkan tubuhnya.
"Maaf, aku harus segera pulang," pungkas Youngmi, lalu berbalik dan kedua tungkainya tidak mau bergerak.
"Youngmi-ya, aku mohon jangan pergi!" cegahnya cepat. Gadis itu terdiam. "Dengarkan aku sebentar. Beri aku waktu, sepuluh menit saja."
Youngmi akhirnya berbalik, dan mendongak agar bisa menatap lelaki di depannya ini serta membiarkan ia berbicara lebih dulu.
"Apa kamu menghindariku?" tanya Yonghwa mulai membuka suara. Youngmi tertegun.
"Siapa yang menghindarimu? Bukannya kamu yang menghindariku?" Youngmi balik bertanya, sambil menunduk.
Lelaki berambut hitam pekat bergaya comma itu mencengkram bahu Youngmi, sehingga aku kaget karena dua stimulus tersebut. Mata kami saling bersitatap. Hening.
"Kamu yang menghindariku," jawab Yonghwa tidak mau melepas cengkramannya. Dan, aku masih betah menatap maniknya.
"Aku menghindarimu? Hah! Bukannya kamu yang menghindariku? Setelah aku bertemu dengan kekasihmu Ye Ji, Seo Ye Ji. Kamu menghindar dariku." sergah Youngmi langsung menyudutkan Yonghwa.
Mendengar itu, Yonghwa membulatkan mata dan melepas cengkramannya di bahu Youngmi. Ia terdiam.
"Kenapa? Benar, bukan? Aku sudah tahu. Lagi pula aku tidak marah. Kamu menghindariku dan berpacaran dengannya atau tidak, itu bukan masalah untukku. Kamu dan aku hanya sebatas teman duet, guru dan murid dalam bermain piano! Tidak lebih dari itu." Youngmi tersenyum tipis.
Yonghwa semakin mendekat, matanya menelisik dalam. Aku segera menundukkan kepala. Jantungnya mulai berdebar-debar tak karuan, mungkin Yonghwa sudah mendengar debaran jantungku yang seperti ingin keluar dari tempatnya.
Tak lama kemudian, ia tertawa terbahak-bahak. "Kamu cemburu?" bisiknya di daun telinga Youngmi dan membuatnya berpaling dengan wajah yang seperti terbakar.
"Ya! Siapa .... siapa yang cemburu?!" pekik Youngmi gugup. Aku memeluk sebuah tas yang sudah berpindah di depanku dengan eratnya.
Oh! Tuhan, demi apapun. Yonghwa sangat gemas melihat tingkah gadis di depannya, rasanya ia tidak rela jika seseorang melihat hal ini. Ia tersenyum.
"Baiklah. Aku akan beritahu, Ye Ji adalah pacarku memang tapi itu dulu, kami sudah putus. Dan, gadis yang tadi kamu lihat adalah adikku. Kamu pasti berpikir aku sedang berciuman, bukan?" goda Yonghwa.
Aku terdiam. Setiap perkataannya membuatku berpikir agar dapat memahami. Aku membulatkan mata, lalu mendongak. "Jadi kamu?"
"Seperti yang aku katakan tadi, aku dan Yeji sudah tidak ada apa-apa. Saat kamu juga bertemu dengannya pada waktu itu, aku berniat mengakhiri hubungan kami. Dan gadis yang tadi adalah adikku, aku sedang memakaikan plaster di pipi kirinya yang tergores pintu kafe," jelasnya memberi jeda.
"Maaf aku membuatmu salah paham. Selama ini, aku tidak bisa bertemu denganmu untuk sementara, karena .... ada masalah di keluargaku," lanjutnya lirih.
Aku menggeleng dan tersenyum. "Aku mengerti. Sebelumnya aku sudah mengatakan, itu tidak masalah untukku! Lagi pula, kamu bebas dekat dengan siapa pun."
"Youngmi-ya," panggilnya serius.
Youngmi tersenyum. "Kenapa?"
Ia mendekat dan menatapku sangat dalam. Alisku bertaut. "Ada apa dengannya?" Batin Youngmi.
Yonghwa menghela napas. "Aku suka padamu, Han Young Mi! Jadilah milikku?"
"Ne?"
⎯⎯⎯
Youngmi mengacak-acak rambutnya, kesal. Lalu menidurkan kepala pada meja belajar di hadapanku. "Apa yang harus aku katakan sebagai jawaban?" gumamku sendiri.
Yonghwa memilih untuk membunuh waktu dengan cara bermain basket. Yonghwa menyimpan bola basket di lokernya, sehingga bisa ia mainkan kapan pun ia mau. Yonghwa adalah atlet basket di sekolah, karena sudah kelas akhir ia memilih keluar dari tim basket sekolah.
Dua puluh menit Yonghwa bermain basket, matahari sudah tergantikan oleh langit malam. Yonghwa memutuskan untuk menunggu ke gerbang sekolah. Ya, karena ia sedang menunggu seorang gadis yang entah sejak kapan mengisi hati dan pikirannya. Pandangannya tak kenal henti menelisik seluruh sekolah. Pada saat yang bersamaan, gadis itu⎯Youngmi⎯ muncul bersama dengan yang lainnya. Wajah Youngmi tampak berseri-seri seperti biasanya. Rambut cokelat mudanya diikat rendah dan dibagi menjadi dua bagian yang di biarkan menghiasi bahunya.
"Sunbae, sepertinya ada seseorang yang terus memperhatikanmu," ujar Soojung, sambil menunjuk kearah gerbang sekolah. Aku mengikuti arah tunjuknya, lalu menyipitkan mata.
"Hey! Mungkin dia sedang mencari pacarnya," sergah Youngmi masih menatap penasaran lelaki jangkuk itu, yang sepertinya tidak asing dengan gaya dan postur tubuhnya.
"Wah sunbae, dia semakin mendekat!" Soojung semakin antusias.
Aku menggeleng sambil berdecak dengan tingkah Soojung yang terlihat histeris pada lelaki tengah berjalan kearah kami.
"Annyeong," sapanya tersenyum, setelah berdiri di hadapanku dan Soojung.
Bola mata Youngmi nyaris keluar. "Kamu?"
Yonghwa masih betah tersenyum.
Soojung mendekatiku. "Dia pacarmu, sunbae?" bisiknya nyaris terdengar.
"Dia ...."
"Tentu saja, aku pacarnya." Yonghwa menyela dan mencekal lenganku dengan erat. Aku tersentak. Sedangkan, Soojung maniknya berbinar-binar mendengar hal ini. "Daebak! Pacarmu sangat tampan!"
"Kalau begitu, kami berdua pergi dulu!" Yonghwa segera menarikku lembut.
"Jangan percaya, Soojung-ah!" teriakku agar tidak ada gosip nantinya.
⎯ Caffést ⎯
Kami saling berhadapan di meja kafe tempatku bekerja yang ternyata sengaja dipesan oleh Yonghwa karena ia ingin berbicara denganku. Aku menatap Yonghwa meminta penjelasan, kenapa ia menggangguku apalagi ini tempat aku bekerja. Yonghwa sepertinya sedang berpikir sebelum membuka suaranya. Youngmi meraih cangkir dengan dua tangan lalu menyesap macchiato yang mulai mendingin.
"Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?" tanyaku membuka obrolan. Tak ada jawaban. "Cepat katakan, Lee Yong Hwa! Aku harus bekerja!"
Ia tersentak, lalu menatapku. "Apa kamu sudah memikirkan jawabannya?" tanyanya langsung.
"Apa?" Youngmi bingung.
"Apa kamu sudah memikirkan jawabannya?" ulangnya serius. "Aku menyukaimu dengan serius, bukan main-main," ungkapnya menilikku dalam.
Aku menunduk dan memejamkan mata. "Aku menerimamu!" jawab Youngmi dalam satu tarikkan napas.
"Benarkah?" pekiknya tidak percaya.
Aku mengangguk mengiyakan. "Tapi Yonghwa-ssi, aku ingin selama kita menjalin hubungan tidak mengganggu belajar atau pekerjaanku. Aku akan fokus belajar untuk ujian nanti."
"Hey, ayolah! Aku juga berada di kelas akhir, jadi tidak akan mengganggu belajarmu. Tenang saja, ok?" Yonghwa tersenyum dan mengusap sebelah pipiku lembut. Youngmi tersenyum sumringah.
⎯⎯⎯
*Sunbae ; Senior
*Daebak ; Hebat
*Suneung ; ujian Negara untuk seluruh siswa kelas dua belas atau CSAT (College Scholastic Aptitude Test)