
"Youngmi?" panggil seseorang. Aku tersentak dan menoleh pada sumber suara.
"KAMU?" Aku mengerjap sejenak.
"Apakah doaku yang tadi terkabul?" gumam Youngmi hampir tak terdengar.
"Wae? Iya, ini aku." Ia menaikkan sebelah alisnya setelah memandangi tingkah Youngmi yang kebingungan.
"Eoh? Aku tidak apa-apa kok!" Aku tersenyum canggung. Aku tidak menyangka belum genap satu jam tapi doa yang aku panjatkan sepertinya sudah dikabulkan. Tapi, apakah ini suatu kebetulan? Atau Yonghwa sendiri yang ada di mana-mana? Aish! Sudahlah! Aku bisa memintanya bermain piano suatu hari nanti, ia sendiri yang mengatakan bisa bermain piano.
"Kamu sedang apa di sini?" tanyaku lalu memandanginya dari ujung kepala hingga kaki, ia tengah mengelap wajahnya yang dipenuhi keringat menggunakan handuk kecil.
"Aku sudah tahu jawabannya tapi masih bertanya?" batinku merutuki diri sendiri.
"Aku sedang berolahraga, kamu sendiri sedang apa di sini? Apa jangan-jangan kamu ingin melompat?" Yonghwa semakin mendekat dengan tatapan mengintimidasi.
"Tentu saja tidak! Kata siapa aku ingin melompat?" bantahku cepat dan berlalu darinya.
Ia terkekeh, yang kini menyejajarkan langkahnya di samping si gadis Han.
"Baiklah, baiklah! Oh iya, kamu tidak latihan?"
"Latihan? Latihan apa?" Aku balik bertanya, menatap orang-orang yang sedang menikmati waktu sorenya di sungai Han.
"Piano, apalagi jika bukan latihan piano?"
"Ah .... piano? Di hari libur aku tidak latihan piano, alasannya ya karena aku tidak memiliki piano di rumah. Hanya di sekolah aku bisa bermain piano," imbuhku yang sudah berhenti di tempat jajanan kesukaanku yaitu odeng dan hot bar.
Yonghwa ikut terhenti, ia hanya menggeleng lalu menilik gadis di depannya ini.
Aku berbalik mendekati Yonghwa sambil menyodorkan setusuk odeng yang sudah di celupkan kedalam semangkuk kuah sebagai pelengkap. "Yonghwa-ssi, ayo buka mulutmu! Aaaaa ....."
Aku menyuapinya. "Bagaimana? Enak, kan?" tanyaku tersenyum, Ia hanya menatapku tanpa mau berpaling sambil mengunyah.
"Youngmi-ya," panggilnya. Aku tengah memakan hot bar terakhir dan berbalik lagi kearahnya. "Waeyo?" Kami kembali berjalan.
"Apa kamu ingin berkolaborasi denganku suatu hari nanti?" tanya Yonghwa.
"Kolaborasi?" Aku menatapnya tidak mengerti.
"Ya, kolaborasi bermain piano. Aku ingin bermain satu instrumen bersama ibuku tapi .... tidak pernah terwujud," ujarnya terdengar lirih.
Kami berhenti setelah sampai di halte bus. Aku mendongak pada pria jangkung di sampingku ini⎯kira-kira tingginya 180 cm,
lalu menilik wajahnya dari samping.
"Boleh saja! Memangnya instrumen apa yang ingin kamu mainkan?"
Aku tidak ingin bertanya tentang ibunya karena sudah tampak jelas akan membuatnya semakin sedih dan juga masalah tangannya yang tidak bisa di gerakkan waktu itu, aku ingin sekali bertanya tentang itu. Tapi, sepertinya ia akan kembali marah lagi jika aku membahas itu.
"Hm ... aku akan memberitahumu setelah aku siap berlatih piano lagi!"
"Baiklah!" Aku tersenyum.
"Kajja! Jemputan sudah datang, aku akan antar kamu pulang," ujar Yonghwa, sambil mencekal lengan Youngmi agar mau ikut bersamanya.
Aku hanya mengangguk dan malah mengikutinya, entah kenapa aku tidak ingin menolak.
*****
11 Tahun yang Lalu.
"Eomma, kalau nanti sudah sampai di rumah baru kita, aku ingin segera memainkan piano baru yang appa belikan untukku!"
Ibu mengusap suraiku dengan tangannya yang lembut dan nyaman lalu tersenyum lebar padaku. "Tentu! Kamu akan main sepuasnya. Ibu akan menemanimu bermain piano atau Yonghwa ingin berkolaborasi dengan ibu?"
Aku mengangguk sebagai tanda mengiyakan. "Eomma, bisakah tuliskan kembali chord tuts dari instrumen G Minor Bach - Lou Ni untukku?"
"Bukankah sudah ibu tuliskan?" Ia menatapku, sambil mengingat-ingat.
"Aku sudah berikan kepada gadis kecil yang tadi bersamaku di ruang piano, eomma!"
Aku berpikir sejenak.
"Aku rasa dia lebih membutuhkannya dan aku yakin dia akan baik-baik saja dengan alunan instrumen itu jika dia mempelajarinya."
"Baiklah, ibu akan menuliskan ulang untukmu." Ibu memelukku dengan erat.
Bim! Bim! ....
BRAK!
Sebuah truk besar menabrak mobil kami dari samping kanan tempatku duduk, aku tak melihatnya karena pandanganku dihalangi oleh ibu yang telah memindahkan duduknya ditempat dudukku tadi, lalu ia merengkuh diriku kedalam dekapannya.
"Eom .... eomma!"
Kepalaku mulai terasa pening, tangan kananku terasa sakit karena tertusuk sesuatu. Perlahan pandanganku terasa berat hingga akhirnya aku terpejam.
Di sisi lain,
"Bagaimana keadaan ayah saya, dok?" tanyanya tak sabaran.
Sang dokter menghela napas sebelum menjawab. "Mohon maaf, kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan ayah anda. Beliau sudah tiada akibat serangan jantung," ujarnya membungkuk sedikit dan berlalu darinya.
Gadis remaja itu⎯Han Min Jee⎯ menggeleng. "Tidak ... tidak mungkin!" Ia mendekati adik kecilnya lalu memeluknya.
"Eonni!" rengeknya, keduanya menangis.
⎯
Satu pekan berlalu, ibu dan sopir kami meninggal dunia. Saat itu aku belum tersadar dan masih menjalani operasi pada tanganku. Aku mengalami patah tulang pada tangan kananku dan pada telapak tangan tertusuk pecahan kaca mobil hingga menebus kulit, tulang dan daging. Akibat kecelakaan yang aku alami, aku sudah tidak bisa lagi bermain piano.
*****
Sore ini, aku berlari menaiki tangga dan koridor sekolah. Aku berjanji akan menjadi guru piano untuk Yonghwa setelah pulang sekolah. Ia bilang sudah siap untuk bermain piano kembali, meskipun aku tidak tahu, dia benar-benar bisa mengalunkan tuts pada piano? Atau bisa, tapi apa penyebabnya sampai ia tidak bermain piano lagi? Masih tanda tanya memang karena aku tidak berani menanyakannya, aku akan menunggu sampai ia mau memberitahu sendiri.
BRUK!
Ia terkejut ketika menilikku mendobrak pintu dan terlihat mengatur napas agar kembali normal sehabis berlari tadi.
"Mian .... mianhae, aku telat!" Youngmi segera mendudukkan dirinya di lantai tanpa peduli ekspresi wajah Yonghwa yang sangat gemas pada gadis manis ini.
"Tidak perlu khwatir, kamu tidak telat. Lagi pula aku juga baru saja datang." Ia sudah terduduk di hadapan piano.
Aku mendekatinya lalu menilik kedua tangannya yang sedang ia gerak-gerakkan. Aku merogoh kantong jas sekolahku. "Yonghwa-ssi, ulurkan telapak tangan kananmu," perintah Youngmi.
"Untuk apa?" tanya Yonghwa lalu mengulurkan telapak tangan kanannya. Aku melipat sapu tangan milikku dan mengikatnya pada uluran tangannya.
Ia menaikkan sebelah alis tanda tidak mengerti dengan ikatan sapu tangan yang ada di telapak kanannya lalu menatapku meminta penjelasan
"Anggap saja, luka itu tidak pernah ada jadi kamu bisa melupakannya sejenak saat bermain piano. Sapu tangan yang aku ikatkan semoga membantumu!"
"Aku mengerti. Gomawo."
Kami berdua tersenyum.
*****
- Eomma ; Ibu ( Informal )
- Appa ; Ayah ( Informal )
- Kajja ; Ayo
*Odeng ( Eomuk ) ; disebut juga Fish Cake. Odeng terbuat dari ikan yang dihaluskan dan dicampur dengan tepung terigu bersama bumbu-bumbu. mirip seperti Bakso Ikan di Indonesia. Ini salah satu jajanan kaki lima yang paling terkenal di Korea.
Bisa search ya untuk lebih mengenal jajanan Odeng ini.
*Hot Bar ( baca Hot baa ) ; kembaran Odeng, bedanya Hot Bar dimasak dengan cara digoreng dan jauh lebih banyak variasinya. Bisa search ya untuk lebih mengenal jajanan Hot Bar ini.