ME

ME
BAB 6



"Sudah baikan?" tanyanya menatapku dari samping. Aku dan Yonghwa tengah duduk di belakang pintu ruang musik.


Ia memberikan sebotol air mineral dan bekal yang tadi dibawa.


"Minumlah dulu agar lebih tenang setelahnya makan ini," ujarnya lalu membuka tutup botol dan sekotak bekal yang berisi empat sandwich di dalamnya. Aku mengangguk, mengambil sebotol air di tangannya dan meminumnya.


"Memangnya yang tadi di ruangan dance itu siapa? Dan sedang apa mereka?" tanyanya sangat hati-hati agar Youngmi tidak kembali syok.


"Aku tidak tahu, sepertinya mereka sepasang kekasih. Aku hanya mendengar cewek itu meminta pertanggung jawaban dan entah diapakan wanita itu hingga menjerit kesakitan. Dari tampilan cowok itu sepertinya aku mengenalnya. Tapi aku tidak yakin. Saat melihat mereka tapi tidak bisa menolongnya, rasanya aku tidak berguna."


"Oh begitu! Sudah tidak apa-apa, lagi pula kamu tidak mengenal mereka jadi anggap saja hal itu hanya angin lalu, ada aku di sini jika terjadi sesuatu!" Yonghwa berusaha menenangkan.


"Ne, gomapta!"


Yonghwa mengambil satu sandwich, memotongnya menjadi dua, lalu memberikan satu potongan padaku. Aku menaikkan sebelah alis, menilik wajahnya.


Yonghwa tersenyum. "Ini ambilah, aku tahu kamu belum makan siang, bukan? Ayo makan, semua ini akan berlalu!"


Entah kenapa, lelaki di hadapannya ini terlihat sangat manis di mata Youngmi. Hey! Apa yang aku pikirkan, aku menggeleng.


"Waegeurae?" tanyanya berhasil membuatku terkejut.


"Ani-aniyo!" Aku segera mengalihkan pandangan.


Kami terdiam menikmati setiap gigitan sandwich yang sudah tak tersisa. Kami berkelut dengan pikiran masing-masing. Aku menoleh pada Yonghwa yang tengah menatap piano di sana tanpa mau berkedip.


"Apa kamu bisa bermain piano?" tanyaku memecahkan keheningan dan membuatnya menoleh kepadaku.


"Ye?"


Aku terkekeh memandangi ekspresi wajahnya. "Aku bertanya, apa kamu bisa bermain piano?" ulangku.


Ia terdiam beberapa detik lalu kembali menatap piano. "Ya, aku bisa!" ujarnya lirih dan tersenyum sangat tipis.


Youngmi masih menatapnya lekat, ia merasakan ada suatu kepahitan pada tatapan Yonghwa ketika memandangi dan mendengar kata piano. Apakah ia memiliki kenangan buruk tentang piano? Atau sesuatu terjadi? Sudahlah, itu masalah pribadinya yang tidak seharusnya ditanyakan.


"Jika bisa, kenapa tidak kamu coba mainkan?" Pinta Youngmi tanpa memaksa. Meskipun ia tahu, Yonghwa tidak akan mau. Ia menoleh, matanya bertemu dengan mataku.


"Apa kamu sangat ingin aku memainkannya?" tanyanya tanpa mau berpaling. Aku mengangguk mengiyakan.


"Tidak bisa jika sekarang. Lain kali saja, bagaimana? Tapi aku juga tidak bisa berjanji padamu," ujarnya tersenyum.


"Baiklah, tidak apa-apa. Lain kali saja!" Aku mendapati kedua tangannya menaut kuat dan bergetar. 'Ada apa sebenarnya?' Batin Youngmi.


*****


Youngmi tengah berjalan menyusuri koridor sekolah menuju kelasnya. Selama perjalanan, ia menilik orang-orang yang sepertinya sedang bergosip. Kata 'forum sekolah' dan 'dikeluarkan' terdengar menghampiri telingaku.


"Forum sekolah? Dikeluarkan? Siapa?" Batin Youngmi menerka-nerka.


Kelas 3.2....


Aku memajukan kursi tempatku duduk lalu mencolek bahu teman sekelas di depanku ini. Ia menengok. "Wae?"


"Aku ingin tanya, sebenarnya mereka sedang membicarakan apa sepertinya sangat penting ya?" tanyaku penasaran.


"Memangnya kamu tidak melihat berita di forum sekolah?" Ia balik bertanya.


Aku menggeleng. "Ne, ajig-yo!" ( iya, belum! )


"Pantas saja! Nih aku beritahu ya, forum sekolah sedang ramai membicarakan tentang Ibunya Jeon So Ra dari anak kelas 2.2 melaporkan Kyungsoo karena melakukan kekerasan pada Sora."


"Mwo? Kekerasan Kyungsoo? Kyungsoo dari kelas kita?" ujarku yang hampir meninggi. Gadis di depanku ini⎯Seo Yi⎯ mengangguk mengiyakan.


"Dan katanya lagi, mereka pacaran lalu Sora hamil. Sebab itu dia meminta pertanggung jawaban pada Kyungsoo tapi malah mendapat kekerasan," cetusnya berbisik padaku. Mataku membulat sempurna. "Jin-jinjjayo? Hamil?"


'Jadi, kejadian kemarin yang aku lihat dan aku dengar adalah Kyungsoo dan Sora?' gumamku sangat pelan sambil mengingat.


"Kenapa?" Ia mengernyitkan dahi. "Ah hahaha... tidak-tidak!" Aku tertawa kikuk.


Aku lagi-lagi tak menyangka dengan Kyungsoo yang kelihatannya tidak banyak tingkah tapi melakukan hal seperti itu.


 


⎯**Caffést**⎯


 


"Kamu sudah tahu kasus Kyungsoo?" tanyanya membuka obrolan. Aku terdiam dengan kalimat pembukanya, sepertinya ia ingin meminta tolong padaku.


"Jika kamu diam berarti, iya!" cetusnya lagi.


Aku meniliknya tanpa ekspresi. "Iya aku tahu!" jawabku mengikuti alur pembicaraannya.


"Dua orang yang kamu lihat dan dengar saat itu sedang bertengkar adalah Kyungsoo dan Sora. Aku tidak menyangka dia akan melakukan hal seperti itu." Ia menghela napas sebelum melanjutkan omongannya.


"Aku ingin meminta tolong padamu," lanjutnya.


"Minta tolong padaku?" Aku mengepalkan kedua tangan.


Ia mengangguk mantap. "Bantu Kyungsoo dan jadi saksinya. Hanya kamu yang pada saat itu melihatnya dan hanya kamu yang bisa membantunya!"


"Mwo? Neo michyeoss-eo? Aku tidak akan pernah menjadi saksi!" (Apa kamu gila?)


Aku beranjak berdiri. Ia mencegah dan menggenggam erat tangan kiriku.


"Jebal, Youngmi-ya," ujarnya memohon.


"Kyungsoo mengetahui tentang aku yang melihatnya?" tanyaku untuk memastikan.


"Tidak! Aku tidak memberitahunya, aku melakukan ini hanya untuk membantunya dan juga merahasiakanmu yang melihatnya pada saat itu."


Aku menatapnya cukup tajam.


"Yonghwa-ssi, kamu ingin aku menjadi saksi? Itu sama saja dengan terlibat, aku tidak ingin. Aku pikir kamu sudah menjadi temanku dan ternyata? Kamu ingat kata-katamu pada saat itu? Kamu bilang aku tidak sendiri, karena ada kamu. Tapi, kamu malah melimpahkan ini kepadaku?!"


Genggamannya semakin mengendur, ia merapatkan bibirnya dan terdiam. Aku berbalik. "Ka! Aku tidak ada urusannya dengan kasus temanmu." ( Ka ; Pergilah! )


Yonghwa berjalan menjauh dariku tanpa sepatah kata pun bahkan tidak menoleh sama sekali. aku beringsut duduk pada bangku di dekatku. "Mianhae, Yonghwa-ssi! Hidupku sudah sulit, aku tidak ingin tambah sulit!" Batin Youngmi.


*****


Dua hari berlalu...


Setelah berita itu, Kyungsoo di score selama satu minggu sedangkan Sora tetap bersekolah tapi di dampingi oleh ibunya, pihak sekolah masih memberinya wewenang untuk belajar di sekolah selama kandungannya belum membesar dan risiko yang akan ia dapat adalah tidak akan naik kelas.


Aku tidak lagi bicara dengan Yonghwa bahkan aku tidak pernah melihat batang hidungnya di sekolah semenjak pembicaraan terakhir waktu itu.


"Hah! Sudahlah!" Aku menidurkan kepala menghadap jendela lalu memejamkam mata dan membiarkan siluet cahaya menuju sore menerpa wajahku.


"YOUNGMI!" teriak seseorang yang membuatku terperanjat bangun.


Aku menoleh pada sang empu yang baru saja memanggil namaku.


"Seo Yi-ssi, bisakah kamu tidak menganggetkan aku seperti itu?" Protesku padanya.


"Hehehe ... maaf-maaf! Aku terburu-buru sekarang. Oh iya, kamu di panggil Seungjo-Saem," ujarnya lalu beranjak keluar.


"NE, GOMAWO!" teriakku berterima kasih.


Di sepanjang jalan koridor menuju kantor guru, Youngmi menerka-nerka, kenapa ia di panggil, lagi? Apa karena anggota klub musik yang akan bertambah? Atau karena nilai? beasiswa? Masalah masa depan lagi? Sudahlah. Aku mempercepat jalan.


"Permisi, Saem!" Aku sudah berdiri di hadapan guru berkacamata tebal yang hobi gonta-ganti case pada ponselnya dan aku merinding, melihat sekarang casenya berwarna ungu dengan banyak gambar love di sana. Aigo! Seungjo-Saem sangat maniak pada case handphone.


"Oh! Youngmi," panggilnya, melirikku sekilas. Ia menaruh lembaran kertas yang telah di coret-coret⎯di beri nilai. Lalu, tangannya dengan lincah mengetik pada keyboard komputer.


"Youngmi-ya, kemarilah dan lihat ini," perintahnya. Aku mendekat dan menatap layar komputer yang menayangkan video CCTV sekolah. Kontan mataku nyaris keluar.


"Itu kau, kan?" tanyanya. Aku terkejut ketika mendengar suara Seungjo-Saem. Aku menunduk dan tidak menjawab. Ia membenarkan posisi duduknya dan menatapku.


"Pihak sekolah akan memanggilmu menjadi saksi baru untuk kasus Kyungsoo dan Sora. Aku memberitahukan ini agar kamu tidak terkejut, pihak sekolah baru menyadari di koridor lantai 3 ternyata terpasang CCTV jadi kami baru bisa menemukannya. Bicaralah apa adanya nanti, tidak perlu takut. Jika kamu tidak memberi kesaksianmu dengan jujur, aku tidak tahu nasib keduanya akan seperti apa. Ah iya, salah satu murid sudah memberikan kesaksiannya juga dan itu sudah meringankan hukuman Kyungsoo dan Sora."


"Salah satu saksi? Apakah Yonghwa?" Gumamku pelan.


"Ye?"


.....