ME

ME
BAB 7



3 Hari Sebelumnya.


"Oppa!" panggilnya tak seceria biasanya.


"Wae?" Jawabnya datar, Ia dan kedua temannya menoleh pada gadis pujaan hati Kyungsoo siapa lagi jika bukan Jeon So Ra.


"Aku ingin bicara, tapi tidak di sini," ujarnya tidak peduli pada tatapan ketiganya.


"Kenapa tidak di sini? Ada masalah apa?" tanyanya sambil memakan roti selai buatan Yonghwa.


"Pekalah, Kyungsoo," senggol Minho dan ditertawakan Jaehyun. Ia tidak menggubris kedua temannya.


"Pokoknya ini sangat penting! Jadi, tidak bisa di bicarakan di sini!" jawabnya.


Kyungsoo menghela napas. "Baiklah, baiklah! Ayo kita bicara. Kalian berdua lanjutkan saja, aku akan bicara dulu dengan Sora!" ujarnya lalu berjalan sambil menggandeng lengan Sora.


"NIKMATILAH!" teriak keduanya.


Lantai 3, Koridor Sekolah.


Sora menatap sekeliling koridor memastikan tidak ada yang mendengar. Lelaki di hadapannya hanya memandanginya tanpa ekspresi lalu melipatkan kedua tangan di dadanya.


"Oppa," panggilnya sudah kesian kalinya. Ia menunduk sambil menggigit bibir bawahnya.


"Sora-ya, apa yang ingin kamu bicarakan? Sudah berapa kali kamu hanya memanggilku oppa, oppa." sergah Kyungsoo menatapnya intens lalu memegang kedua bahu Sora agar ia mau menatapnya.


"Aku ...." Sora mendongak perlahan. "Aku hamil!" ujarnya dalam satu hentakkan.


"MWO? Apa katamu tadi?" Kyungsoo tidak percaya.


"Hamil katamu? Jadi, ini hasil hubungan kamu dengan laki-laki lain? Cih!" Ia tersenyum sinis.


"Aku hamil anakmu, Kyungsoo!" ujarnya, matanya mulai berkaca-kaca.


"Anakku?! Aku bahkan tidak pernah menyentuhmu! Kapan aku melakukannya? Dan di mana?!" Kyungsoo mulai emosi.


PLAK!


Sora menamparnya, air mata yang ia tahan berhasil lolos dan telah membasahi wajahnya.


"Haha .... apa kamu pikir menamparku akan merubah keadaan? Aku tahu sikapmu di belakangku, kamu selalu bermain dengan pria lain, menyuruhku untuk tidak berteman dengan wanita tapi dirimu sendiri? Bercumbu dengan banyak pria!" Kyungsoo tertawa geram.


"Ka-kamu .... kamu mencoba memfitnahku?"


Imbuhnya berusaha menyangkal.


Kyungsoo menyeringai. "Fitnah?"


Ia mengambil ponsel di saku celana seragam sekolahnya lalu memperlihatkan foto yang ada di ponsel itu, seorang wanita dan pria lebih tua darinya sedang tertawa bersama menuju motel. "Apa ini fitnah, Sora-ya?"


Sora membulatkan matanya sempurna lalu menunduk tidak menjawab, tubuhnya terlihat bergetar. Ia tidak bisa menyangkal karena sudah ada bukti di ponselnya.


"JAWAB JEON SORA!" Bentaknya. Membuat sang empu terkejut.


"Kamu pikir dengan pacaran denganku, aku akan bertanggung jawab? Aku bahkan tidak pernah menyentuhmu apalagi sampai melakukan hal itu. Menjijikkan sekali dirimu," ujarnya marah, lalu Kyungsoo menarik kencang lengan Sora dan berjalan ke ruangan yang ada di depan keduanya⎯ruang dance.


Sora meringis kesakitan, ia berusaha menarik kembali lengannya. "LEPASKAN! SAKIT! YA!" teriaknya tak digubris oleh Kyungsoo.


⎯ Ruang Klub Musik ⎯


Youngmi membulak-balik buku instrumen musik yang sedang ia pegang. Pikirannya terpecah belah oleh masalah yang akhir-akhir ini menimpanya, pertama kakaknya meninggalkannya begitu saja tanpa berpamitan langsung dengannya, kedua masalah keuangannya karena apartemen yang ia sewa tak kunjung laku sebab itu Youngmi hanya bisa menunggu gajinya dan yang ketiga masalah orang lain yang ikut membawa namanya.


"Aish!!" Ia mengusap wajahnya lalu beranjak duduk di lantai dan menyadarkan badannya pada kursi piano. Youngmi memandangi buku piano berwarna biru muda yang sudah sangat lusuh, buku ini pemberian teman kecilnya yang sampai sekarang ia tidak tahu nama bahkan keberadaannya. Di buku yang dia berikan pun sama sekali tidak tercantum namanya.


Aku sangat ingin berterima kasih padanya, karena telah memperkenalkan alat musik bernama piano. Berkat dia dan piano, aku mampu mengekspresikan diriku yang sebenarnya, di setiap tuts yang dikeluarkan mampu membuatku meluapkan setiap rasa yang ingin aku sampaikan.


Sejak kecil, aku tidak pernah diajarkan apapun oleh ayah bahkan saat aku meminta diajarkan bersepeda pun, ia sangat enggan untuk mendengar permintaanku. Beliau malah menyuruh Minjee eonni untuk mengajariku.


Ya, hanya kakakku yang mendapat perhatian darinya dan juga diajarkan banyak hal oleh ayah. Bahkan, jika ada tamu menghampiri rumah kami, hanya kakak yang akan diperkenalkan. Aku sangat iri padanya dan sampai sekarang pun aku masih sangat iri dengan kakakku. Minjee eonni sangat cantik, pintar, orang-orang banyak yang menyukainya dan ia mampu melakukan banyak hal dengan baik. Sedangkan aku, berbanding terbalik dengannya.


"Neo eodiya? Aku ingin bertemu denganmu!" (Kamu di mana?) Gumamku sendiri lalu memejamkan mata dan menautkan kedua tangan⎯seperti akan berdoa.


"Oh? Sunbae?!" Panggilnya. Aku tersentak lalu menengok pada gadis berambut shaggy bob sebahu, ia salah satu anggota klub musik dari kelas 1.3 dan namanya Soojung, ia sangat berbakat di bidang musik. Soojung bisa bernyanyi, bermain gitar, biola dan juga drum, hal tersebut hampir membuat semua anggota klub musik iri padanya. Tapi, tidak termasuk aku, karena aku sudah terbiasa dengan orang-orang berbakat disekitarku.


"Soojung-ah! Kamu tidak pulang?" tanyaku tepat setelah ia duduk di sampingku.


"Ne, aku bosan jika sudah di rumah jadi aku memutuskan pulang aga telat saja. Sunbae, kenapa belum pulang?"


"Aku selalu pulang telat dan membunuh waktu di sini sambil mengasah bakatku," jawabku mengalihkan pandangan.


"Ah begitu .... apa ibumu tidak mencari?" tanyanya lagi.


Aku tersenyum simpul dan menggeleng. "Tenang saja, tidak akan ada yang mencariku."


Soojung hanya mengangguk dan mengalihkan pembicaraan. "Gwaenchanayo, sunbae? Aku dengar kamu menjadi saksi kasus teman sekelasmu, apa benar?"


"Ne, maja-yo. Setelah, istirahat tadi aku sudah mengeluarkan kesaksianku. Aku sedikit takut." ( Iya, betul. )


Aku tersenyum kikuk.


"Apa yang harus kamu takutkan? Jika suatu kebenaran diungkapan itu adalah kebaikan, tapi jika kebenaran tidak di akui, orang itu tidak memiliki hati dan dia lebih buruk dari binatang. Lagi pula, kamu hanya perlu mengatakan apa yang kamu lihat jadi katakan saja, sunbae." Soojung pun mengusap bahuku dan menyalurkan ketenangan.


Aku menoleh kearahnya. Bahkan, Soojung bisa berkata begitu, Youngmi malu pada dirinya sendiri. Ia lebih tua dua tahun darinya tapi masih ketakutan dengan masalah yang menghampiri.


*****


Satu pekan berlalu,


Minggu pagi ini aku merasa bangga dan juga gugup yang menjadi satu, karena hari ini aku berangkat sangat pagi tapi bukan ke sekolah melainkan menuju agensi entertainment untuk audisi pertamaku⎯lebih tepatnya, audisi pertama di bangku sekolah menengah atas.


Kali ini, aku menuruti saran dan perkataan dari Jihye eonni untuk audisi. Aku sudah mempertimbangkan baik serta buruknya nanti saat sudah menjadi trainee hingga debut, aku mengambil keputusan ini karena keadaanku sekarang, aku tidak bisa mengandalkan gajiku lagi. Aku akan menjadikan hobi serta bakatku menjadi pundi-pundi uang tapi tidak hanya untuk itu, aku sangat ingin memperdengarkan alunan nada dari piano yang aku mainkan kepada semua orang. Entah, sejak kapan mimpi itu sangat ingin mewujudkannya.


"Semangat, Youngmi!!" ucapku kepada diri sendiri.


Di sisi lain.


"Bos, bukannya itu Youngmi?" Minho bersuara, menyenggol teman di sampingnya. Yonghwa yang berjalan mendahului lalu berbalik dan menoleh ke sisi kanannya.


"Betul, itu Youngmi! Minho, kau duluan saja, aku akan bicara padanya." Yonghwa berlari dengan cepat menyusul Youngmi.


Minho menggeleng. "Ck, memang orang yang sedang jatuh cinta, temannya sendiri akan di tinggalkan."