ME

ME
BAB 14



Lelaki itu membawaku ke sungai Han, salah satu sungai cantik milik Seoul dan kami berdiri di salah satu jalanan berpagar. Aku dan Yonghwa terdiam cukup lama sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang telah menyentuh wajah kami. Tak ada satupun dari kami yang berbicara, aku bahkan tidak tahu alasan Yonghwa membawaku ke sungai Han. Kami terhanyut dalam pikiran masing-masing, dan beruntungnya aku, kali ini tidak canggung saat bersamanya karena ada Choco di pelukanku.


Aku menoleh ke arah kiri, pandanganku tertuju pada seorang ayah, dua anak perempuannya sedang berada di atas dudukan sepeda.


Mereka, keluarga itu, menyita perhatianku. Ketika melihat keluarga mereka, aku sangat iri. Dulu meskipun, ayah bisa meluangkan waktunya ia tidak pernah mau mengajakku jalan-jalan. Jika bukan karena kakakku⎯Min Jee⎯ yang memohon pada ayah agar aku ikut, mungkin aku tidak akan pernah diajak olehnya.


Ayah sangat membenciku, ketika melihat wajahku beliau akan mengingat kematian ibu. Ya, karena ibu meninggal saat melahirkanku. Minjee eonni memberitahuku bahwa rahim ibu tidak memungkinkan untuk kembali hamil pada saat itu tapi Tuhan berkehendak lain, ibu kembali hamil setelah dokter mendiagnosa bahwa ia memiliki penyakit kanker rahim yang sudah tumbuh di rahimnya. Ibu memilih melahirkan aku dan juga memilih untuk tidak mengobati penyakitnya.


Rasa bersalah akan hal itu menjadi-jadi. Aku tak tahu sebenarnya untuk apa ibu memilih melahirkanku dan sekarang, aku tak tahu harus ke mana untuk berlari.


"Ya, Han Young Mi!" Seseorang di sebelahku nyaris berseru. Aku terkejut, dan mendapatinya tengah menatapku.


"Kamu sedang memikirkan apa? Aku memanggilmu berkali-kali."


Aku berpikir sejenak. Yonghwa memanggilku berkali-kali? Jadi, berapa lama fokusku tertuju pada ingatan keluargaku setelah melihat keluarga harmonis tadi? Aku menghembuskan napas lalu tersenyum kikuk padanya.


"Maaf, aku hanya merasa nyaman dengan udara di sini," ujarku bohong.


"Ya, aku juga merasakan hal yang sama. Kamu sudah lelah?" tanyanya, sambil menatap langit-langit.


Aku menggeleng cepat.


"Kenapa? Kamu sudah lelah ya?"


"Tidak! Bisakah kamu meluangkan waktumu besok, Youngmi?"


"Ya?" Aku menoleh bingung dan mendapati matanya tengah menelanjangi mataku.


"Apakah kamu bisa meluangkan waktumu besok?" ulangnya.


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Youngmi menganggukan kepala. "Ah .... hahaha ... tentu bisa! kenapa memangnya?"


"Tidak! Nanti kamu akan tahu."


*****


Esoknya, gadis berparas manis pemilik rambut panjang menjuntai sampai punggung dengan poni tipis menutupi dahi putihnya tengah duduk di salah satu bangku halte dekat sekolah sambil menunggu seseorang di sana. Aku dan Yonghwa memiliki janji temu di hari minggu ini, kendati demikian aku tidak tahu ke mana ia akan membawaku.


Youngmi mengusap-usap telapak tangannya sambil merasakan kehangatan di sana. Hari ini, cuaca di Seoul cukup dingin karena musim dingin akan segera tiba dan sebentar lagi kami para kelas akhir menengah atas akan mengikuti suneung sebagai penentu masa depan kami dan penentu diterima tidaknya kami di salah satu perguruan tinggi terbaik.


"Youngmi-ya," seseorang berbisik memanggil namaku. Aku bergidik, dan menoleh ke samping kananku. Lelaki itu tengah tersenyum dan menatapku.


"Oh, Yonghwa-ssi!"


"Maaf, aku terlambat. Apa kamu sudah lama menunggu?" sahut Yonghwa, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Youngmi menggeleng dengan cepat dan beranjak berdiri. "Tidak masalah, aku baru saja sampai sepuluh menit yang lalu."


"Baiklah! Ayo, Youngmi." Yonghwa menggenggam lenganku.


Aku mengangguk. Tanpa sadar, aku membalas genggamnya yang terasa hangat.


Tiga Puluh Menit Kemudian.


Lift berhenti di lantai 16. Gedung apartemen, entah apartemen milik siapa yang ingin Yonghwa kunjungi. Aku hanya mengikutinya, karena ia meminta ditemani olehku. Dan saat ini, langkah kami telah terhenti di depan pintu apartemen berwarna cokelat kayu. Yonghwa tengah fokus memecahkan kode sandi apartemen ini. Aku memandangi sekeliling, pasti di dalam apartemen ini sangat besar karena yang aku lihat hanya ada dua unit di lantai ini.


"Apa ini apartemennya? Bukankah ia tinggal bersama ayahnya di rumah yang besar?" Batin Youngmi.


"Masuklah," suruhnya, setelah Yonghwa berhasil memecahkan kode sandinya.


"Eoh? Iya!" Aku melangkah memasuki apartemen minimalis ini sambil menatap sekeliling, desain interior dan warna cat pada dinding semuanya senada. Suasana nyaman dan tenang menjadi satu dalam ruangan ini.


Langkahku terhenti ketika mendapati piano yang sudah terlihat usang di samping kanan jendela bergorden abu-abu polos. Aku menilik lebih jauh.


Yonghwa menepuk pundakku.


"Kamu kenapa? Duduklah," suruhnya lalu menaruh segelas air di meja ruang tamu yang berdekatan dengan piano itu.


Aku menoleh dan masih betah berdiri. "Piano .... piano itu milikmu?"


"Itu milik aku dan ibu. Karena kamu sudah melihat piano, bagaimana kalau kita berlatih?" ujarnya bersemangat.


"Ye? Berlatih?"


Yonghwa menganggukkan kepalanya. "Aku mengajak kamu ke apartemen ibuku untuk berlatih piano di sini."


"Jadi .... kamu mengajak aku ke sini untuk berlatih di sini? Apa tidak akan mengganggu ibumu? Memangnya, ibumu tidak di sini?" Youngmi nyengir bingung. Sedangkan, Yonghwa hanya tertawa.


"Tidak akan menganggu siapapun. Ibuku .... sudah tidak ada!" jawab Yonghwa lirih.


Pupil Youngmi membesar, dan terdiam. "Pabo! Pabo!" Youngmi merutuki dirinya sendiri karena bertanya hal yang semestinya tidak ditanyakan. "Maaf, Yonghwa-ssi!"


Yonghwa menautkan kedua alisnya. "Maaf untuk apa?" tanyanya bingung.


Aku mendekati Yonghwa yang sedang terduduk di depan piano. "Ibu .... ibumu. Aku tidak seharusnya bertanya begitu."


"Oh, tidak usah dipikirkan. Lagi pula, aku belum pernah memberitahu padamu kan tentang ibuku?" Yonghwa tersenyum lebar.


"Kemarilah, duduk di sini. Ayo mulai berlatih!" ucapnya lagi, sambil menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.


Aku hanya menggangguk lalu mendudukkan diriku di sebelahnya.


*****


Aku menghela napas setelah jauh-jauh datang ke agensi entertainment besar ini dan ternyata mendapat kegagalan, lagi. Apa tidak bisa mereka memberi pengumuman lewat telepon atau pesan saja? Jika tahu aku akan gagal, lebih baik aku tidak usah datang saja.


"Oh, Young Mi? Han Young Mi?"


Aku menoleh ke belakang, pada sumber suara. Dan menemukan gadis berambut hitam-bronze sebahu tengah menatapku. Matanya terbelalak begitu kami bersitatap, sementara aku masih menyipitkan mata mencoba gali ingatan.


"Ya! Han Young Mi!" serunya lagi memanggil namaku. "Masih ingat padaku? Aku Ye Ji, Seo Ye Ji! Kamu sedikit berubah dan aku hampir tak mengenalimu." Serta merta, gadis berpakaian dress kaos di atas lutut gombroh ini mengguncang pelan pundakku agar cepat merespon.


"Seo Ye Ji?" Aku bergumam, detik selanjutnya aku terbelalak begitu mengingat sesuatu yang konyol tentang gadis ini. "Aku ingat! Kamu adalah siswa pindahan yang selalu di marahi guru karena selalu bernyanyi ketika belajar di kelas, bukan?"


Yeji mengangguk mengiyakan. "Iya benar, Akhirnya kamu ingat padaku!" ujarnya, sambil memelukku antusias. Aku membalas pelukan Yeji.


"Sebentar! Kamu sedang apa di sini?" tanya Youngmi sedikit penasaran, lalu menatap Yeji dari ujung kepala hingga kaki, penampilannya seperti seorang idol Kpop dengan rambut yang tidak hanya satu warna. Yeji yang aku kenal sudah berbeda penampilan.


Yeji mendekat. "Aku adalah trainee di agensi ini," bisiknya.


Kontan mata Youngmi membulat. "BENARKAH?!" pekikku saking terkejutnya, membuat Yeji tersentak, lalu mengangguk. "Bagaimana denganmu?" tanyanya ikut penasaran.


"Aku ....."


"Eoh, Yonghwa?" panggil Yeji pada seseorang di belakangku.


Aku menautkan kedua alis. "Yonghwa?" gumamku pelan, lalu berbalik. Aku menangkap sosok lelaki jangkuk tengah berdiri di depanku dan Yeji. Kami bertiga saling bersitatap.


"Kalian saling mengenal?" ucap ketiganya berbarengan.


⎯⎯⎯⎯⎯


*Kanker Rahim ; Kanker rahim adalah tumor ganas yang tumbuh di rahim. Untuk lebih jelasnya bisa search ya.


*Suneung ; ujian Negara untuk seluruh siswa kelas dua belas atau CSAT (College Scholastic Aptitude Test)