
Empat Tahun Kemudian...
Malam itu Yonghwa pulang agak terlambat. Dan kini, Yonghwa menduduki jabatan tertinggi di Jeju Villa World yang semula milik ayahnya dan sekarang ditangani olehnya. Yonghwa merasa lelah sekali dengan segudang tugas yang menggentayanginya setiap detik. Terlebih lagi tidak ada yang ingat kalau hari ini ulang tahunnya. Bahkan, sahabat seperjuangannya pun tidak ada yang ingat bahwa sebentar lagi hari bersejarah baginya, usianya telah genap 24 tahun. Hanya satu jam lagi ia akan menambah usianya menjadi 24 tahun.
Sebelum menginjakkan kaki ke apartemennya ia memutuskan untuk pergi ke suatu tempat dan menemui sang kekasih yang sudah sangat ia rindukan sambil tersenyum, Yonghwa memandangi cincin yang sudah menemaninya hampir empat tahun terakhir ini, cincin itu seharusnya sudah bertengger di jari manis wanita yang sangat ia cintai sebagai bukti bahwa ia benar-benar mencintai wanita itu. Yonghwa ingin menjadikan cincin itu sebagai bukti kepemilikannya atas wanita yang dicintainya.
"Hai, Youngmi. Lama tidak berjumpa," sapanya. Yonghwa lalu menaruh seikat bunga kecil di sana.
"Bagaimana kabarmu? Kamu pasti sudah tahu bagaimana kabarku, bukan?" tanya Yonghwa sambil tersenyum getir. "Ternyata, tak terasa ya, empat tahun sudah kamu berada di surga sana. Apa rasa sakitmu sudah hilang? Kamu sudah berada di sisinya, aku yakin rasa sakitmu itu sudah hilang."
Tak bisa terkendali, air mata Yonghwa berhasil lolos. "Aku ... aku ... merindukkanmu, Youngmi!" ungkapnya terbata-bata, sambil terisak tangisannya. Yonghwa menghela napas panjang lalu meletakan sekotak perhiasan kecil di sebelah pasu Youngmi.
"Sampai kapan pun kamu adalah wanita yang berhak ada di hatiku dan menerima cincin itu. Aku akan kembali lagi, Youngmi. Sampai jumpa!" Pamitnya, segera meninggalkan rumah duka.
⎯⎯⎯⎯⎯
"Suprise!"
Yonghwa terlonjak kaget ketika ia menyalakan lampu ruang tengah yang sejak kedatangannya memang gelap gulita. Yonghwa mengabsen satu per satu sahabatnya di dalam hati sambil tersenyum. Mereka semua ada di sini.
Di antara ketiga sahabat seperjuangannya, hanya Yonghwa yang belum menikah. Kyungsoo sudah menikah dan memiliki satu anak yang masih bayi, Minho sudah menikah dan memiliki satu anak yang hampir menginjak satu tahun, bisa dilihat istrinya hamil kembali. sedangkan Jaehyun, ia baru saja menikah beberapa bulan yang lalu.
"Ka... kalian," gumam Yonghwa terharu.
"Lama sekali. Kenapa jam segini kau baru pulang?" omel Minho yang membawa terompet besar sambil menggendong anak perempuannya. Yonghwa menggaruk tengkuknya merasa bersalah. Ia tidak menyangka akan ada suprise party di apartemennya pada jam segini. Yonghwa pikir hari jadinya hanya tinggal kenangan.
"Maaf, aku mengunjungi Youngmi lebih dulu. Aku merindukannya," ujarnya lirih.
Hening seketika.
Mereka semua terdiam ketika Yonghwa terdengar ingin menangis setelah mengucapkan kata 'merindukannya. Ya, ketiga sahabatnya sangat mengkhawatirkan keadaan Yonghwa, bahkan ia pernah berkata kepada ketiganya, ia tidak akan pernah mau menikah dan akan terus mencintai Youngmi sampai ajal menjemputnya.
"Hey! sekarang make a wish lalu tiup lilinmu," Jaehyun mencairkan suasana dan menyodorkan cake ukuran besar ke hadapan Yonghwa. Terdapat lilin angka 24 di sana. Tanpa pikir panjang, Yonghwa memejamkan mata dan segera make a wish.
Yonghwa memadamkan api lilin dengan satu kali tiupan besar. semua bertepuk tangan dan mulai berpesta.
*****
Yonghwa memandangi amplop berwarna merah muda yang masih sangat rapih dan belum di buka sama sekali. Sudah empat tahun lamanya ia masih belum sanggup untuk membaca surat pemberian Youngmi. Dan, sekarang Yonghwa benar-benar akan membaca surat itu.
Sebenarnya, aku tidak tahu ingin menulis apa di kertas ini. Rasanya aneh menuliskan surat untukmu. Aku sempat berkali-kali mencoret-coret, membuang kertas, lalu mengurungkan niat untuk menulis. Aku ... tidak tahu harus memulai dari mana dan tidak tahu tulisan apa dariku yang layak kamu baca.
Tapi, akhirnya aku mencoba menuliskan ini untukmu.
Saat menulis ini, kamu tahu aku berada di mana? Aku berada di ruang klub musik sekolah, duduk di lantai dan di hadapanku sebuah piano. Lalu, memutar alunan instrumen G Minor Bach - Luo Ni di ponsel, kesukaan kita berdua. Sambil kembali meraba memori, tentang segala momen yang pernah kita lewati, lalu mentinjau sendiri dalam hati.
Kamu tahu, kalimat yang berulang kali terbesit di benakku selama berada di sisimu, di saat semua orang yang kusayangi semakin menjauh? "Ah, orang ini memedulikanku. Orang ini mau berada di sisiku." Membuatku bertanya-tanya; peduli atas apa alasannya, apa hanya penasaran? Dan bagaimana caraku membalasnya?
Aku sempat memilih untuk menjauh darimu dan tidak memedulikanmu. Aku berpikir, mungkin kamu hanya ingin main-main. Ya, aku terlalu menjaga dan membentengi diriku sendiri. Maafkan aku. Hehehe... mungkin dengan ini caraku berterima kasih padamu.
Yonghwa-ssi, apa kamu ingat dengan gadis kecil yang kamu temui beberapa tahun lalu? Seorang gadis kecil yang sedang menahan rasa sakit di dadanya lalu kamu mengajak gadis kecil itu mendengarkan piano. Apa kamu masih ingat? Jika iya, gadis kecil itu adalah aku. Pasti kamu tidak menyadarinya, kan? Aku sudah tahu sejak kamu mengajakku ke apartemenmu waktu itu, aku menemukan sebuah bingkai foto di atas pianomu, di sana terdapat lelaki kecil sedang tersenyum lebar bersama ibunya. Aku masih mengingat jelas kamu pada saat itu. Maaf aku tidak memberitahumu lebih awal.
Melalui surat ini, aku ingin berterima kasih padamu atas semua yang kamu berikan padaku. Terima kasih telah memainkan alunan piano yang pertama kali aku dengar, bahkan sampai aku menutup mata, alunan itu masih terdengar dan menjadi yang paling indah di hidupku. Aku harap kamu terus mengingat kenangan itu.
Yonghwa-ssi, kamu pernah bertanya apa alasanku tidak pernah meminta sesuatu darimu atau orang lain? Aku terlalu rapuh, aku selalu ingin menjauhi orang-orang yang kusayangi, dan dengan alasan itu aku mengabaikan perasaan mereka dan perasaanku sendiri. Aku terlalu takut untuk meminta sesuatu dan pasti selalu tidak sesuai dengan keinginanku, egois bukan?
Yonghwa-ssi, kamu adalah alasan aku ingin tetap berada di dunia ini. Maaf, jika aku mengecewakanmu dan tidak bisa berada di sisimu selamanya. Temukan kebahagiaanmu di sana, aku akan mengawasimu! Teruslah bermain piano, aku juga akan mendengarkan dari sini.
Selamat malam, dari sini. Akhirya aku bisa menulis surat untukumu juga. Semoga kamu menyukainya. Ini semua adalah isi hatiku yang ingin sekali aku katakan padamu dan bisa terungkapkan melalui tulisan.
Dari orang yang sangat mencintaimu,
Han Young Mi.
Hal yang bisa Yonghwa ungkapkan setelah membaca surat Youngmi adalah; ia sedih, sekaligus berterima kasih. Karena Youngmi tahu aku benar-benar mencintainya dan aku adalah alasan ia ingin terus bernapas. "Terima kasih!"
Meskipun, Youngmi memang tidak menjelaskan secara terang-terangan apa yang di rasakannya padaku, tapi aku bisa merasakannya lewat ungkapan dalam bentuk lain. Ini juga sebagai balasan cintanya padaku.
Youngmi, dikehidupan selanjutnya aku akan bersamamu lagi dan akan terus mencintaimu. Tunggu aku, di surga sana. Aku mencintaimu.
TAMAT