ME

ME
BAB 18



Yonghwa memasukkan dua roti sandwich ke dalam kotak bekal, kemudian menutupnya. Ia menatap para pelayan dengan tatapan lega kemudian melenggang meninggalkan dapur. Sepeninggal Yonghwa, dapur menjadi berisik dengan bisik-bisikan para pelayan yang saling mengeluarkan estimasi terkait keganjilan yang Tuan mudanya lakukan. Ini adalah kedua kalinya Yonghwa bangun sepagi ini lalu membuat sesuatu untuk bekal sekolah.


Sehabis mandi, berpakaian lengkap, serta sarapan, Yonghwa menyambar tasnya. Matahari sebentar lagi hampir muncul. Yonghwa berlari kecil menuju mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh Pak Baek⎯sopir pribadinya. Yonghwa duduk di kursi penumpang dengan nyaman sementara Pak Baek yang menyetir. Di sepanjang perjalanan, Pak Baek terus mengawasi spion dan menemukan Tuan Mudanya⎯Yonghwa⎯terus tersenyum. Yonghwa tampak begitu bahagia. Pak Baek ikut tersenyum setiap kali melihat Yonghwa melalui spion.


Meskipun matahari belum sepenuhnya terbit, ia sudah tiba di sekolah. Pintu gerbang untung saja sudah di buka setengah. Yonghwa langsung menuju kelas 3-2 yakni kelas Youngmi yang terlihat masih sepi belum ada satu pun yang datang. Ia mencari-cari meja milik Youngmi.


"Apakah ini mejanya? Sudahlah, aku yakin di sini."


Yonghwa mengeluarkan kotak bekalnya lalu meletakannya di atas meja. Tidak lupa ia meninggalkan satu kotak susu dan botol minum yang berisi air mineral di sebelah kotak bekal. Ia mengenakan kembali tasnya.


"Semoga harimu menyenangkan," gumamnya dan beranjak pergi meninggalkan kelas Youngmi.


Dua puluh menit berlalu, satu persatu teman kelas Youngmi mulai berdatangan, suasana menjadi ramai dan berisik.


"Kira-kira siapa ya yang meletakkan kotak bekal itu di meja Youngmi?" gumam Seo Yi yang sudah terduduk di bangkunya.


"Iya, kira-kira siapa ya?" sahut seorang gadis di sebelah Seo Yi. "Apa mungkin Youngmi sudah datang? Dan sengaja menaruhnya?"


"Mana mungkin, setahu aku dia datang lima belas sebelum bel." Seo Yi menerka-nerka.


Tidak lama kemudian, Youngmi muncul dari pintu kelas yang terbuka. Wajahnya datar-datar saja seperti biasnya. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai.


Youngmi langsung tertuju pada mejanya yang terdapat kotak bekal dan botol minum. "Seo Yi-ah, ini semua milik siapa?" tanyanya pada gadis yang duduk di depannya.


Seo Yi menoleh lalu menggeleng cepat. "Aku tidak tahu. Menurut wakil ketua kelas yang datang pertama kali, kotak bekal itu sudah berada di mejamu."


"Ah, begitu!" Aku mendudukkan diri ke bangku.


"Pasti ada seseorang yang sengaja memberikan itu kepadaku," batin Youngmi.


Youngmi menautkan alis. Ia baru menyadari ada sepucuk surat yang terselip diantara kotak bekal dan botol minum. Seseorang menulis suratnya di atas kertas polos.


Annyeong Youngmi,


Maaf telah mengejutkanmu. Aku memberimu roti sandwich, satu kotak susu dan air mineral sebagai pilihan jika kamu tidak menyukai susu. Aku harap kamu menyukainya. Semoga harimu menyenangkan!


Lee Yong Hwa.


"Omona! Bahagianya dibuatkan bekal oleh sang kekasih!" goda Seo Yi, ia yang ikut membaca dan menemukan Youngmi sedang tersenyum bahagia membaca sepucuk surat.


Aku menoleh pada Seo Yi dan kami tertawa bersama.


*****


⎯ Ruang Musik ⎯


"Sunbae," panggilnya.


Aku menengok pada sumber suara dan jari jemariku masih asik memainkan tuts pada piano. "Eoh, Soojung."


"Instrumen itu lagi?" tanyanya semakin mendekat lalu ia duduk di lantai.


"Ne, aku sangat-sangat suka instrumen ini!" Youngmi tersenyum lebar setelah menyelesaikan latihan hari ini.


"Oh iya, sunbae apa kamu tidak mau ikut lomba musik?" Soojung merogoh sesuatu di dalam tasnya.


"Lomba musik?" Aku bertanya balik lalu beranjak duduk di sampingnya.


"Iya, lihat ini," suruhnya memberiku selembar kertas yang bertuliskan 'Lomba musik tingkat nasional untuk para pemusik muda'. Aku segera meraih kertas itu dan membacanya dengan teliti.


"Bagaimana kamu tertarik?" Soojung menatapku. "Jika kamu ikut, aku juga akan ikut, sunbae!"


Soojung tertawa.


"Aigoo! Sunbae, kamu kan belum membaca sampai habis, di sana tertulis pendaftaran dimulai lima hari setelah suneung selesai dan acaranya akan di gelar satu bulan kemudian!" jelasnya.


Aku menepuk dahiku sendiri dan ikut tertawa. "Ah benar. Aigoo bodohnya aku! Aku kira, lima hari setelah suneung adalah lombanya."


"Tentu bukan. Lomba ini sangat menjanjikan, sunbae. Kamu menang atau tidak, bukan masalah karena nanti di sana banyak para perwakilan dari agensi hiburan yang akan hadir. Jadi, mereka bisa saja merekrutmu," jelasnya lagi.


Aku mengangguk mengerti. "Baiklah! Aku akan ikut daftar. Lagi pula, aku tidak yakin untuk kuliah."


"Nah, gitu dong, sunbae! Kan sayang bakat pianomu jika tidak di salurkan."


Youngmi tersenyum. "Ye, gomapta Soojungie!"


*****


Akhir pekan seharusnya menjadi waktu bersantai bagi Youngmi, setelah lima hari panjang diisi dengan belajar dan pekerjaan paruh waktunya. Siang ini aku sudah bersiap untuk pergi bersama Yonghwa. Jadwal kami sangat padat bulan ini, karena sebentar lagi suneung akan segera dilaksanakan.


Asal kalian tahu saja, aku dan Yonghwa pergi bersama bukan untuk berkencan tapi untuk belajar bersama. Alih-alih belajar bersama, aku menyebut ini bagian dari kencan, aku berfirasat kami tidak akan sepenuhnya belajar. Dan, aku tahu, Yonghwa tidak akan mau menganggap hal ini sebagai kencan.


Youngmi tengah duduk di bangku halte bus yang tersedia sambil mengamati sekitar dan memasukan kedua tangannya ke saku mantel yang dipakai. Cuaca di Seoul hari ini sangat dingin, meskipun salju pertama belum kunjung datang.


Drttt .... Drttt ....


Aku sudah di dekatmu, coba cari aku. 12:30


Youngmi tersenyum ketika membaca pesan dari Younghwa di personal message LINE. Aku mendongak perlahan dan menemukan mobil berjenis convertible berwarna moonwalk grey metallic dan di sana terdapat seorang lelaki duduk di kursi depan sambil menatapku dengan senyum yang tak pernah luntur. Youngmi beranjak berdiri dan berjalan mendekatinya.


"Yonghwa-ssi?" panggilnya.


Lelaki itu turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untukku. "Naiklah!" suruhnya masih betah tersenyum. Aku mengangguk dan menurut.


⎯ Dua Puluh Menit Kemudian ⎯


Aku tengah duduk di ruang tamu lantai dua rumah milik Yonghwa, yang sepertinya bagian atas ini kekuasaan Yonghwa bahkan di lantai ini hanya ada tiga kamar dan sebuah kaca besar yang berisi berbagai koleksi di dalamnya. Disetiap pintu terdapat tulisan, di sebelah kananku pintu berwarna hitam bertuliskan hangul dari 'Kamar Lee Yonghwa', di sebelahnya terdapat pintu berwarna putih bertuliskan hangul 'Ruang Koleksi Lee Yonghwa' dan pintu kamar di belakangku tidak ada tulisan apapun, entah kamar apa itu.


Aku selalu merasa kecil ketika berdekatan dengan Yonghwa, sekarang saja aku merasa tidak pantas menjadi pacarnya. Youngmi menghela napas.


Yonghwa saat ini sedang berbicara dengan ayahnya dan aku yang sempat berpapasan dengan ayahnya tadi tidak berani menatapnya lagi, menakutkan.


Sambil menunggunya, aku segera meraih cangkir kopi hangat dengan kedua tangan yang sudah disiapkan salah satu pelayan rumah ini untukku, lalu menyesap perlahan. "Ehm .... ini enak! Kopi yang sesuai seleraku."


Youngmi terdiam ketika mendengar suara keributan yang sepertinya berasal dari arah tangga tidak jauh dari tempatnya berada. Rasa penasaranku mulai menjadi-jadi, aku berjalan dengan hati-hati dan menguping dari balik salah satu pilar.


"Siapa gadis itu?"


"Dia pacarku! Ayah tidak menyukainya?" tanya Yonghwa sengit.


Tuan Lee⎯Ayah Yonghwa⎯ menyeringai. "Pacar katamu? Apa gadis itu pantas untukmu? Di lihat dari penampilannya saja, dia hanya pantas menjadi budakmu."


"ABEOJI!" teriaknya tepat di depan wajah ayahnya. Yonghwa mengepalkan kedua tangannya, tatapannya penuh amarah.


"Putuskan gadis itu, atau aku akan mengirimmu ke Inggris hari ini juga!"


⎯⎯⎯


*Omona ; Ya Tuhan.