Love Monsters

Love Monsters
rumah



Rasa lelah sudah berganti artinya sudah cukup aku bersantai - santai, mentari sudah menampakkan betapa garangnya sedangkan angin mulai malu - malu menyapa, aku mulai berjalan kembali mendahului Geo yang kulihat tertinggal cukup jauh di belakang, sesaat kemudian aku kembali melihat kearah depan sebuah tangan menghentikan langkah kakiku, cukup terkejut dengan hal itu ku tepis pemilik tangan tersebut yang tak lain tak bukan Geo yang sudah berada di samping ku.


"ada apa?". tanyaku menaikkan sebelah alisku.


"hentikan langkahmu! sudah cukup bersenang-senang kamu hanya mengitari satu tempat yang sama!". jelasnya kembali menautkan tangannya ke tanganku.


"hah?". aku terkejut mendengarnya dengan sekuat tenaga aku berkompromi bersama otak untuk berpikir, bukan kah kita berdua sudah berjalan cukup lama dan ku rasa ini sudah sangat jauh dari pintu gapura yang menghubungkan dua dunia tetapi kenapa Geo bilang seperti itu.


aku yang hanya bisa diam membisu menunggu penjelasan selanjutnya.


"jangan terkejut, bukankah salah jalan dalam hutan itu hal yang biasa bagi manusia?. tanyanya tak lepas melihat kearah ku.


"maksudnya gimana Ge? aku tidak paham!" sewotku.


"kita sebut ini tersesat!, disini kamu hanya bisa melihat rimbun pepohonan yang sama sekali tidak ada jejak bekas seseorang atau hewan berjalan!". lanjutnya.


secercah sinar pelangi menyembul di atas kepalaku dengan begitu aku mulai paham perkataan Geo kalau kita berdua tersesat dan itu semakin membuat ku merana, hilang arah dan putus asa. butiran keringat dingin mengucur ke seluruh tubuhku, hal ini seperti Dejavu buatku, tersesat di hutan cuma bedanya aku tidak sendiri sekarang, walaupun bersama Geo tidak bisa membuat ku tenang.


"jangan panik Zee! kamu lupa siapa aku?" hiburnya seraya mensejajarkan tingginya dengan ku.


"aku takut! kalau kita tidak bisa kembali bagaimana?". rancau ku sembari memeluk erat Geo menyalurkan rasa takutku.


"hey jangan takut! aku ini penguasa hutan tidak mungkin tersesat!". mencubit hidungku yang minimalis seraya terkekeh geli.


"jangan bercanda ini hutan!". mencubit perut Geo yang sixpack.


"maaf Ge, kamu sih bercanda nya kelewatan!".


kemudian tidak ada lagi perbincangan maupun perdebatan yang unfaedah, ku dongakkan wajahku ke wajahnya meneliti pahatan indah yang selalu membuat hatiku berdebar dan pemilik pelukan ternyaman setelah ibu.


Tanpa sadar Geo menatap lurus garis wajahku dan mata kami bertemu mengunci satu sama lain, membelai pucuk kepala seraya menghapus keringat yang membasahi dahiku pelan sedangkan mulutnya melafalkan sebuah kalimat tak jelas yang sulit ku baca dan sungguh itupun tidak aku pahami.


"Kamu bilang apa Ge?. tanyaku


"shtttt... diam dan ikuti saja apa yang akan aku lakukan". jawabannya kembali melafalkan kalimat.


sepersekian detik kesadaran ku berangsur - angsur hilang, semua menjadi gelap dan aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.


Tepukan lembut menyadarkan ku, sinar masuk kedalam mata yang membuatku sedikit terusik akan keberadaannya, aku membuka mataku pelan dan yang pertama ku lihat adalah senyum manis Geo dengan pahatan sempurna wajahnya.


"ayo bangun kita sudah sampai!". jelasnya tanpa melunturkan senyuman nya.


" unchh.. kamu manis banget si?". ucapku tidak lupa mencubit kedua pipinya yang merah.


"lihatlah sekeliling mu!".


aku ikuti saran Geo dan mengedarkan pandanganku di sekeliling kami, aku sedikit takjub dan sedih melihat rumah tua yang aku tempati bersama kedua orang tuaku.