
Setelah perdebatan yang sengit aku menyetujui untuk jalan-jalan ke duniaku, jujur aku sangat merindukan sahabat ku tetapi aku lebih nyaman tinggal disini bersama pujaan hati walaupun tidak bisa memiliki alangkah bahagia nya selalu bisa memandang nya setiap hari, aku sudah siap dengan rapi seraya menunggu Geo memasak makanan untuk ku.
"sudah siap?". tanya nya.
"hmmm". seraya menganggukkan kepalaku tanda setuju.
"makan!". menyodorkan sepiring makanan.
"terimakasih". ucapku tersenyum
Acara makan sudah selesai, Geo menggandeng tanganku sepanjang jalan mengarungi setiap inci pepohonan yang rindang, aku hanya bisa melihat pohon besar yang seperti nya berusia ratusan tahun sampai ku temukan pintu gapura. saat ini penglihatan ku terganggu, ingatan ku tidak selemah itu aku masih ingat saat bolak balik hutan disini tidak ada pintu gapura kenapa hari ini ada pintu.
sebelum aku memasuki pintu gapura, ku tarik tangan Geo untuk tidak memasuki pintu itu dengan cepat. aku menatap wajahnya lekat mencari kekuatan.
"Ge?" panggilku
"Iyah?, kenapa Zee? apakah kamu ragu?". tanyanya bertubi-tubi.
ku eratkan genggaman ku tanda aku belum siap.
"tidak apa-apa, aku ada di samping mu". Geo tersenyum manis membalas genggaman tanganku.
Tanpa aba-aba Geo menarik tanganku memasuki pintu gapura dengan secepat kilat aku sudah berada di depan pintu itu artinya aku berada di dunia manusia saat ini. tidak ada perbedaan yang ketara apa yang ku lihat di dunia siluman dan di dunia manusia, aku hanya melihat pepohonan rindang.
suara kicau burung menghiasi langit, aura yang mencekam saat malam berubah menjadi sejuk nan indah di pagi hari saat mentari menyeruak masuk dalam celah rimbun pepohonan.
"Ge, apa kita sudah memasuki dunia manusia?" tanyaku.
Geo tak menggubris perkataan ku masih setia menggenggam tanganku menarik lembut seraya berjalan beriringan, mataku masih tertuju pada pahatan wajah tegas Geo yang Tuhan ciptakan untuk nya begitu indah.
"hmmm kenapa?" bingung ku.
"Itu tempat kau bunuh diri". respon cepat Geo menjawab rasa penasaran ku.
Aku terkejut mendengar penuturan Geo, terpaku menatap garis polisi yang sudah lusuh. ku langkahkan kakiku mendekat ke arah jurang tetapi tangan kekar menarik tanganku sebelum aku terpeleset jatuh ke dalamnya.
"Mau bunuh diri yang ke sekian kalinya?" sewot geo.
"ishhh lepas ge, siapa juga yang mau bundir!". ketus ku mendelik ke arah Geo.
"bundir??". menaikkan sebelah alisnya tak paham.
"dasar siluman kutub bundir aja tak paham!". dumel ku pelan.
"siapa?". tanyanya kembali.
Sial mati kutu aku di buatnya, ku kira dia tak mendengar ucapan ku barusan tapi telinga nya terlalu peka.
"ehh enggak ko Geo, aku lagi ngobrol sendiri". tak lupa cengiran kuda andalan ku.
Aku menarik tangan Geo mengajak nya berjalan menyusuri hutan belantara dia diam dan hanya mengikuti. nafasku mulai tersengal-sengal rasa nyeri di kakiku mulai terasa aku sangat lelah, ku lirikan mataku ke arah Geo yang kulihat hanya wajah datar aku heran dia tidak merasa lelah aku rasa kami sudah berjalan sangat jauh. bukan yang kali ini saja aku meminta agar istirahat tetapi udah kesekian kali tetapi tak kunjung keluar dari hutan ini.
"Aku lelah ge, berhenti sebentar yah?". mohon ku pada Geo.
"baiklah". ucapnya singkat
Rasa canggung mendera diantara kami, ntah hanya perasaanku atau tidak tetapi setelah kami pergi dari jurang tempat aku dan Geo bunuh diri maksudnya hampir bunuh diri semenjak itu Geo hanya diam dan jawab singkat pertanyaan ku.