
Angin malam setelah satu tahun berlalu kembali tak bersahabat, aku bersembunyi dibalik selimut tebal menenggelamkan kepalaku dibawahnya. Geo belum juga kembali dari tugasnya di istana, apa terjadi sesuatu terhadapnya saat ini diluar sedang ada badai yang menerpa, fenomena alam seperti ini rutin terjadi setiap tahun. aku merindukan duniaku biasanya dalam badai seperti ini aku memasak kesukaan sejuta umat yaitu mie instan dan memakannya bersama keluarga ku dengan hikmat tetapi berbanding terbalik sekarang setiap tahunnya aku hanya bersembunyi dibalik selimut sendirian, yah rutinitas Geo setiap tahun tidak akan pulang selama badai berlangsung itu seperti agenda pemerintah menanggulangi bencana banjir di daerah rawan.
Aku membayangkan jika ibuku dan ayah masih hidup aku pasti bahagia, semua kejadian ini takkan terjadi aku masih dalam kehangatan Mereka, ingatan menyayat hati juga datang kembali saat aku terpuruk melihat di mana ibuku memutuskan menikah lagi dengan pria bajingan itu. air mataku mengalir menyisakan sayatan di relung hati terasa begitu menyakitkan. aku semakin terisak menyesali ketidakmampuan untuk menolak permintaan sang ibu menikah, punggung ku semakin bergetar hebat mengikuti irama tangisan ku.
Keberadaan seseorang dibalik pintu tidak meredupkan suara tangisan ku, sebenarnya aku belum menyadari kedatangan Geo yang tepat berada dibelakang ku, suara langkah kaki Geo sangat pelan sampai tak menimbulkan suara gesekan kaki dan Tanah. Geo semakin mendekat dan langsung memeluk ku seraya menenggelamkan kepalaku di dadanya, dengan jelas aku bisa mendengar detak jantung nya yang begitu tenang, tangisan ku kembali pecah setelah menyadari yang memeluk adalah Geo.
Aku mendongak menatap wajah Geo yang begitu tenang menatapku, iris mata kami saling bertemu membuat pipiku merah tomat, aku berdehem menetralkan suara serak Ku menjauhi tubuh Geo.
"Inget balik juga?" tanyaku ketus.
Geo menyenderkan tubuhnya ke tepi ranjang, aku melihat ekspresi wajah nya begitu tenang setelah nya dia terkekeh yang membuat ku bingung apa yang lucu.
"ga ada yang lucu" ku manyun kan bibir ku seraya memalingkan wajahku.
Geo semakin terkekeh dan mengacak-acak rambutku seraya berdiri melangkah untuk mengganti pakaian nya yang basah karena air mataku.
Geo terhenyak mendengar ucapan dariku, Geo berhenti dari aktivitas nya dan berbalik menatapku lekat, aku yang di tatap sedemikian merasa bersalah dengan ucapan ku barusan yang pastinya membuat Geo bingung. aku yang dulu tidak mau kembali pulang sekalipun Geo membujuk, aku tetap bersikukuh untuk selalu berada disisi Geo tetapi apa yang terjadi sekarang aku menelan ludah sendiri meminta pulang terhadap Geo.
Geo tidak menghiraukan ku dan memilih kembali ke aktivitas nya mengganti pakaian yang tertunda, aku menelisik ekspresi wajah Geo dari samping yang terlihat kembali tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
"aku minta maaf!" ucapku lirik seraya mendekap Geo dari belakang.
Geo tak bergeming membungkam mulutnya rapat, detik kemudian dia melepaskan dekapan ku di tubuhnya memasang jarak diantara kami.
"maaf", aku mencoba memeluk Geo tetapi Geo berhasil menghindar sehingga tubuhku terhuyung menabrak lemari.
ku usap dahi ku tak lupa komat Kamit mencela geo. beberapa saat hening sebelum aku kembali ingin mengungkapkan sepatah kata, Geo menutup mulutku dengan telunjuknya.
"pulanglah setelah badai ini!" ucapan itu lolos sempurna dari mulut Geo menusuk hati ku.