
Terik mentari mulai menyapa, mataku masih setia terjaga sampai dini hari, mata yang indah kini terasa begitu panas dan kantuk mulai melanda, Geo meregangkan otot-otot nyayang kaku, aku sadar Geo akan bangun dari tempat tidur memilih pura pura terlelap. dia bangun sangat hati-hati takut aku yg terlelap merasa terganggu akan guncangan yang dia buat, ku intip Geo yang pergi bersiap untuk mandi seraya bernafas lega takut kalau-kalau tertangkap basah pura pura terlelap. Geo memang tidak akan marah kalaupun aku ketahuan tetapi rasa gengsi ku terlalu tinggi,
Saat bunyi decitan pintu berbunyi buru-buru ku pejamkan mataku kembali melanjutkan drama, bayangan Geo semakin mendekat ke arahku, berdiri tepat didepan ku seraya membungkuk tubuhnya melihat wajahku yang masih terlelap, aku berdoa agar Geo tak melihat rona merah wajah ku saat ini karena rasa panas dan malu dipandang Geo. Geo menaikkan sebelah alisnya kemudian menempelkan punggung tangannya ke pelipis, aku sedikit was-was takut Geo menyadari kepura-puraan ku yang masih setia melakukan adegan drama ftv pagi.
"suhunya normal!".gumamnya yang masih bisa ku dengar
"Zee?". Geo membangunkan ku seraya menepuk pipiku pelan.
"hoammm.. Iyah?" ku jawab senatural mungkin selayaknya orang bangun tidur.
"kamu sakit?" cemasnya.
aku yang masih dalam mode ngambek karena masalah semalam dan gara-gara dia aku tidak bisa tidur mendominasi rasa malas menjawab pertanyaan geo.
"Zee?". kembali menepuk pipiku.
"apa?". singkatku
"kamu sakit? wajahmu merah? tapi suhu tubuh mu ga panas!". jelasnya
ku buka mataku perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk lewat celah-celah pagar bambu. ku regangkan otot-otot ku yang serasa lemas setelah begadang semalaman. aku terkejut saat Geo berada beberapa Senti dari wajahku, mencerna apa yang aku lihat berasa masih di alam mimpi.
"kamu sakit?". ulangnya
"jauh-jauh sana dari wajahku!" sewot ku padanya seraya menutup wajahku menggunakan selimut.
"yakin mau tidur lagi?". nada lembut kembali mencemari pendengaran ku.
"yuk ke dunia mu!". ajakan Geo tak lupa cengiran kudanya yang khas.
tunggu apa yang dia katakan, ke duniaku maksudnya menyuruhku pulang? dia ngusir aku? jahat banget dia!. aku yang kalut sama pikiran sendiri semakin marah terhadap Geo.
"maksudnya?" mode tanduk on siap sedia menyeruduk apa yang di depan.
"hmmm tunggu jangan marah dulu Zee, aku hanya ingin mengajak mu jalan-jalan!" jelasnya.
"kenapa? jalan-jalan di hutan emang enggak bisa?" tanyaku penasaran.
"ehhh bisa si".
"terus?". desak ku
"sahabat mu selalu nangis tiap malam menunggu informasi keberadaan mu selama beberapa tahun, mungkin dia rindu kamu disampingnya!". jelasnya yang membuat hatiku berdenyut nyeri.
Bisa-bisanya aku lupa sahabat ku sendiri, selama ini dia yang selalu ada menguatkan setiap langkah jalan hidupku tetapi sahabat macam apa aku ini setelah menemukan kebahagiaan malah lupa sahabat yang berjuang bersama. kacang lupa kulitnya itu kata yang pas untuk ku ntah apa ada kata yang lebih buruk lagi aku terima lapang dada.
Ku pandangi Geo dalam-dalam menelisik apa ada kebohongan ternyata tidak ada. aku bangkit dan menyalurkan tangis ku di pelukan Geo.
, meraung-raung disana menurunkan ego ngambek ku. Geo menangkup pipiku dan mengusap air mataku dengan ibu jarinya.
"jelek". ejeknya.
"biarin". rengek Ku kembali memeluk erat-erat.