Love Monsters

Love Monsters
putus asa



Hari demi hari ku lewati tak terasa aku sudah bertahun tahun tinggal bersama Geo baik di istana maupun di rumah kami, hubungan ku dan Geo tetap sama sebagai seorang sahabat, perasaan ku ku simpan rapat sampai saat ini pada Geo.


pagi yang cerah seperti biasa aku membersihkan halaman rumah dan Geo mengumpulkan ranting pohon yang jatuh.


"Zee, aku menyukai mu!" ucapan Geo mendadak.


aku melongo mendengar ucapan Geo barusan apa ini mimpi apa hanya halusinasi, aku terus termenung.


" Zee! kau dengar aku kan?". geo menepuk pundak ku dari arah samping memastikan aku baik baik saja.


"hmm maaf, tadi kau bilang apa?" jawabku spontan tak lupa cengiran kuda.


geo hanya tersenyum dan mengacak rambut ku seraya membawa ranting kering ke dapur, aku mengekor pada geo menuju dapur.


"Ge!" panggil ku pada geo


Geo spontan menengok kearah ku seraya mengangkat sebelah alisnya tanda dia berkata ada apa?, aku merasa gugup dipandang Geo intens padahal kami tinggal bersama sudah lebih dari 5 tahun tetapi aku masih gugup jika Geo memandang ku seperti itu.


"Ge apa hubungan kita ga bisa lebih dari ini?. tanyaku penasaran.


"hmmm?" geo menautkan kedua alisnya tak paham dengan pertanyaan ku


"maksudku apa kita bisa jadi kekasih? maaf aku lancang tetapi apa kau tak mau mempunyai keluarga?" ucap ku


"Zee kau tahu kan kita beda alam? kita tidak mungkin bersama!" ketus Geo


" kenapa kalau kita beda alam ge, apa kita ga bisa bersama? jika kau tak mau kita beda alam kalau begitu aku akan ikut dengan mu menjadi siluman!" meluapkan emosiku


aku mendekati Geo dan langsung memeluk tubuhnya dari belakang seraya berbisik "ge ayo kita lakukan, aku mau menjadi siluman seperti mu!.


Geo melepaskan genggaman tanganku di pinggangnya dan menjaga jarak, wajahnya terlihat menahan emosi. aku tak berani mendekat karena kalau Geo emosi bisa membahayakan nyawaku, aku mundur dan masuk ke kamarku menunggu Geo tenang dan kembali bisa berdiskusi.


Dercitan suara pintu terdengar di daun telinga ku, aku menoleh ke arah sumber suara ternyata Geo yang membuka pintu menuju ke arahku. aku merasa gugup sorotan mata Geo tak lagi bersahabat.


Geo berdehem menetralkan kan suara seraknya, Menurut ku itu seperti bunyi ancaman, Geo semakin dekat dan akhirnya kami hanya berjarak 1 meter lumayan jauh untuk pemberontakan jantung.


"sungguh kau mau menjadi siluman seperti ku?" pertanyaan Geo to the point membuatku diam seribu bahasa.


Geo memandang ku dengan sorot yang tak terbaca, dia terus memandangi ku menunggu jawaban atas pertanyaan nya barusan. ku telan Saliva ku yang tersendat di kerongkongan, aku mencoba bersikap tenang akan pertanyaan Geo.


"Iyah aku serius" jawabku yakin tanpa halangan.


Geo menunduk sebelum ia kembali menatapku lekat, aku semakin gugup dengan adegan ini siapapun tolong.. aku sudah tidak kuat dengan tatapan nya.


Geo menyeringai licik seraya menatapku, dia semakin mendekat ke arahku. aku tak berani melihat Geo dan menutup mataku menunggu apa yang akan Geo lakukan terhadap ku.


"aaaaaaaauuu" teriak ku mendapati Geo menyentil keningku, aku yang kesal memonyongkan bibirku seraya komat Kamit mencela Geo.


geo tertawa tanpa dosa seraya melenggangkan kakinya kembali ke arah dapur dan berkata " bocah kecil sekarang sudah besar".


aku yang paham arah pembicaraan Geo merasa malu, pipiku mulai merah padam.


hari demi hari kami lalui dengan kebahagiaan kami layak dikatakan sebagai keluarga bahagia harusnya tetapi itu hanya sebatas impian ku saja kenyataan nya kami bukanlah keluarga melainkan sebatas teman, sungguh menyakitkan aku mencintainya tetapi tidak dapat memiliki nya.