Love Monsters

Love Monsters
tragedi



Badai pun berlalu, tepat seperti ucapan Geo, aku dipaksa mengemas perlengkapan bekal untuk tengah perjalanan nanti. aku merasa tidak rela pergi meninggalkan Geo aku sangat menyesal meloloskan tiga kata tersebut tetapi aku malu merengek tak mau pulang setelah ucapan tak pantas dari mulut ku.


"hiks..hiks..., aku ga mau pulang!!" aku tertunduk lesu menahan buliran air mata yang meronta ingin membanjiri pipiku.


Geo mengangkat sebelah alisnya tak paham apa yang sebenarnya aku inginkan.


"aku mau disini aja!" rengek Ku pada geo.


"tadi kau ingin pulang??" tanya Geo heran seraya menatap ku.


"kau tak dengar kah? aku mau disini! aku ga mau pulang! titik!". bentakan ku Lolos begitu saja dari mulut ku.


Geo tak lagi menjawab dia hanya menatap lurus ke dalam manik mataku menelisik apa yang sedang aku inginkan, dia terlihat cukup kaget mungkin tidak menyangka dengan bentakan ku yang tiba-tiba.


Geo berdehem dan memberi jeda sebelum kembali melontarkan pertanyaan padaku. Geo cukup paham akan situasi dan kondisi yang terjadi diantara kami, Geo semakin paham dengan sikap kekanak-kanakan dalam diriku sehingga dia memberikan ruang untuk ku lebih tenang.


"takut merindukan aku kah?". Geo tersenyum menggoda mendekati ku ingin mencoba meraih tubuhku kedalam pelukannya.


"Iyah, aku ingin selamanya disini bersama mu! aku mohon jangan bawa aku pulang!". tangisan ku mulai pecah seraya mengeratkan pelukanku pada Geo.


"stssshhhh.... udah jangan nangis!". jawab Geo.


tidak ada pembahasan setelah itu. aku hanya menikmati pelukan hangat Geo yang begitu nyaman. aku merasa beruntung bertemu Geo dengan begitu aku bisa kembali merasakan kehangatan mempunyai sebuah keluarga tetapi dengan bodohnya aku mau merusak nya dengan permintaan konyol ku ingin kembali kedunia manusia yang penuh sandiwara.


"jangan hawatir Zee dunia mu dan dunia ku berdampingan, jika kau ingin pulang kedunia mu tidak masalah kita masih bisa bertemu!". Geo menyunggingkan senyuman yang terlihat dipaksakan.


aku tidak mampu menjawab pernyataan Geo, aku semakin mengeratkan pelukanku padanya aku hanya ingin momen bahagia ini terjadi selamanya.


"apa bisa seperti itu?". tanyaku penasaran.


"tentu bisa!". geo memandangi ku lekat.


aku kembali terisak menenggelamkan wajahku ke dada bidangnya, aku menyesal mengucapkan kata itu aku mohon padamu geo mengertilah jika seorang wanita mengomel tak jelas itu hanya butuh perhatian bukan perpisahan yang diinginkan.


"Zee?".


"hmm!". jawabku cuek


" Zee?". panggil Geo kembali.


"apa?". judesku


"Zee.. bisa lepas dulu?". seraya menjaga jarak diantara kami.


"kenapa?". jawabku menahan Isak.


Tak ada jawaban dari Geo, dia tersenyum manis dan sekarang yang ku lihat Geo mulai menutup mata nya seraya duduk menyilang kan kaki seperti orang bertapa, aku tak paham apa yang sedang Geo lakukan aku yang penasaran mendekati Geo mencoba menyentuh tangan nya tetapi aku dibuat kaget olehnya aku tak mampu memegang tangannya. tanganku menembus tubuh Geo, dia semakin terlihat kabur dan tembus pandang. aku semakin panik saat tubuh Geo mulai menghilang dan entah ada dimana.


"Geo?". panggil ku


aku terus memanggil nama Geo sebanyak mungkin tetapi nihil Geo sudah tidak ada.


aku mempraktekkan cara Geo sebelum pergi menghilang, ku duduk bertapa dan menutup mata, ku atur nafasku agar tenang tetapi aku tak tahu apa yang dilafalkan Geo agar bisa menghilang, jadi sudah ku putuskan aku melafalkan nama Geo dengan penuh harapan dan isak agar dia kembali kesini.


detik kemudian aku masih terpejam duduk dengan posisi seperti semula, aku tersentak mendengar suara Geo.


"ada apa zee?" suara pelan geo menyadarkan ku dari kekonyolan yang aku buat.


ku buka mataku dan benar Geo ada di hadapan, perasaan ku campur aduk aku sangat senang sekaligus kesal padanya.