
"ada apa zee?" suara sapaan geo merasuk ke gendang telinga ku ku cubit tangan kiri ku meyakinkan bahwa aku tak sedang bermimpi.
sedetik itu pun ku hambur kan tangis ku di pelukan Geo meraung-raung disana tanda aku sangat bersyukur Geo tak meninggalkan ku sendirian, ku mendongakkan wajahku melihat wajahnya yang sedikit bingung.
"jangan pergi! aku mohon!". rancu ku tak jelas.
Geo menaikkan sebelah alisnya tak mengerti ucapan ku lebih tepatnya dia tidak mendengar ucapan ku yang terdengar seperti gumam anak bayi.
"apa yang kau bicara apa Zee?" tanya Geo
"bukan hal penting ko! kilahku.
"sebentar ku ambilkan minum yah?" seraya mengusap pipi ku dengan lembut.
hanya sebuah anggukan yang dapat ku sampaikan pada geo. tarikan nafas berat Geo sungguh nyata dia terlihat begitu cemas dan ntah apa yang menggangu pikirannya saat ini.
"apa ada masalah yang terjadi?" pertanyaan bodohku terlontar dari bibir cerewet ini, tanpa di jawab pun dengan jelas wajahnya mencerminkan pasti sedang ada masalah kalau tidak dia tidak mungkin hilang fokusnya.
Geo mengangguk membenarkan pertanyaan ku barusan, aku sedikit lega Geo menggubris pertanyaan ku artinya Geo tak marah dengan drama yang ku buat sebelum drama yang lain kembali berputar.
"apa yang sedang terjadi?" tanyaku
"ada tragedi". jawaban Geo itu sangatlah tidak memuaskan rasa penasaran ku.
"apa itu" aku mencoba mengorek informasi.
tak ada sepatah katapun yang terucap dari mulut manis Geo, usahaku nihil Geo terlalu tertutup kalau soal masalah pekerjaan nya dalam bidang kerajaan apalagi masalah kehidupan pribadi berasa bicara sama tembok sama sekali tidak ada rasa peka, sedih, apalagi rasa cinta. terkadang aku bingung Geo tuh tipe manusia model apa sebelum menjadi siluman, kalaupun ada kejuaraan dunia menurutku Geo memegang rekor cowo paling kaku sekaligus datar yang pernah aku temui.
ku rasa hari semakin gelap, tulang ku merespon setiap hembusan angin penghantar malam yang begitu menusuk. hanya nyala dari obor di sekitar luar rumah sebagai penerangan sedangkan di dalam hanya sebuah lampu petromax yang sudah usang membatasi jarak cahaya yang semakin pendek.
aku masih bersama Geo yang sekarang berada di sampingku, dengan posisinya membelakangiku. kami satu tempat tidur karena rumah ini cuma memiliki 1 ruangan yaitu hanya untuk kamar. tempat ini begitu nyaman bagiku walau tak seluas kamarku yang di dunia manusia tetapi aku sangat bahagia, walau Geo si siluman kutub tetapi terkadang dia perhatian dengan siap sedia memenuhi keperluan ku. kamar mandi dan dapur ada di luar, tidak perlu hawatir disini sangat aman dan pencuri juga mikir mau mencuri apa di rumah ini tidak ada barang berharga.
"ge?"
hmmm
"ngantuk?"
tak ada jawaban
"ge?"
"hoammm.. Iyah?. seraya menguap
"udah ngantuk?".
"kenapa?".
"dingin!" manja ku mencolek punggung geo
tak ada respon dari Geo yang masih setia pada posisi nya.
"ishh dasar cowo ga peka" sindiran menohok seraya membelakangi punggung geo
Geo menoleh kearah ku yang membelakangi nya, geo terkekeh melihat tingkah laku ku yang manja karena setiap malam harus tidur di pelukan Geo kalau tidak aku tidak bisa tidur seperti waktu Geo yang tak bisa pulang selama badai berlangsung.