Lionel

Lionel
Lionel 9



...“Nggak semuanya, orang yang terlihat jahat itu benar-benar jahat. Dan nggak semuanya, orang yang terlihat baik itu benar-benar baik.”...


...—Lionel Adriano Siregar...


...HAPPY READING ❤️...


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Malam ini Lionel menghabiskan waktu nya untuk berdiam diri di balkon kamar nya. Saat ini sudah waktunya makan malam, tapi lelaki berbadan tegap itu terlihat enggan untuk sekedar bangun dan ke ruang makan untuk makan malam.


Pandangan matanya lurus menatap langit malam yang di hiasi bintang-bintang dan bulan di sana. Jari nya mengapit sebatang rokok dan sesekali menghisap lalu menghembuskan kembali asap nya. Semilir angin pada malam hari menerpa wajah Lionel membuat lelaki itu memejamkan sejenak matanya. Angin malam yang dingin tidak membuat Lionel bergerak untuk masuk ke kamarnya atau hanya sekedar memakai baju nya, memang lelaki itu kini sedang shirtless membuat otot perut nya nampak begitu jelas ter-ekspos. Ia hanya menggunakan celana jeans hitam pendek selutut sebagai bawahannya.


Lionel membuang puntung rokok nya yang sudah pendek. Tangannya kini terulur mengambil gitar yang berada di samping nya duduk. Jemari Lionel perlahan memetik senar gitar tersebut dan mengeluarkan suara yang terdengar cukup indah. Tatapan matanya yang tadi fokus menatap langit, kini terfokus ke senar gitar yang sedang di mainkan nya. Lionel mulai membuka sedikit mulutnya untuk menyanyikan lagu yang akan ia nyanyikan.


Tidak ada satu orangpun yang mengetahui bahwa Lionel ini bisa nyanyi. Karena seperti yang di ketahui bahwa lelaki itu memang sangat tertutup terhadap kepribadian nya. Bahkan teman-teman terdekat nya pun tidak mengetahui hal tersebut. Banyak orang mengira bahwa Lionel hanyalah seorang lelaki pembangkang, tidak tau aturan, pembuat onar, suka mengikuti tawuran antar sekolah. Tapi Lionel berfikir, apakah mereka akan mengerti? Mengapa mereka dengan seenaknya menilai dirinya seperti itu tanpa tau yang sebenarnya?


Lagi, Lionel harus menanggung beban hidupnya seorang diri. Menjadi pribadi yang tertutup itu tidak mudah. Banyak masalah yang harus di hadapi Lionel dengan seorang diri, tanpa bantuan siapapun, dan tanpa sepengetahuan siapapu. Papah nya membenci Lionel karena sebuah kejadian. Lionel di tuduh yang pada akhirnya membuat papah nya membenci Lionel. Ayah kandung nya membenci dirinya hanya karena sebuah kejadian yang bahkan bukan Lionel yang melakukannya. Ia sudah beberapa kali mencoba meyakinkan papah nya bahwa bukan dialah penyebab nya. Tapi nihil, papah nya sama sekali tidak mempercayai ucapan dan penjelasan darinya, bahkan sampai saat ini papah nya malah membencinya.


Lionel menghentikan kegiatan menyanyi dan bermain gitar nya. Ia kembali menatap ke arah langit yang kini berubah menjadi mendung, hingga tetes demi tetes air turun begitu saja dari langit. Lionel tersenyum getir masih dengan menatap langit yang kini di penuhi rintikan air yang turun. Lionel berfikir, pasti mereka sedang makan malam sembari berbincang hangat di bawah sana, tanpa adanya kehadiran Lionel di antara mereka. Lionel tidak perduli, toh mereka juga sama sekali tidak menginginkan kehadiran Lionel di sisi mereka, bahkan mungkin sampai Lionel pergipun mereka sama sekali tidak peduli.


Hujan turun semakin deras. Cuaca malam hari semakin dingin, tetapi Lionel masih merasa enggan untuk bangkit dari balkon.


Tok


Tok


Tok


Pintu kamar Lionel di ketuk dari luar. Sang empu hanya menoleh dan bangkit memasuki kamarnya untuk melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya tadi.


"Den, ini makan malam nya, aden belum makan malam kan?" bi Sri, orang yang selama ini sudah mengurus Lionel sejak kejadian itu terjadi. Lionel sudah menganggap bi Sri ini sebagai orang tua nya sendiri, karena hanya bibi Sri yang selama ini masih memperhatikan Lionel di saat papah nya sama sekali tidak memperdulikan nya.


Lionel mengambil nampan yang di sodorkan bi Sri kepadanya tadi, di sana sudah ada makanan dan segelas air putih untuk Lionel. Lionel tersenyum sekilas kepada bi Sri.


"Makasih, bi" ucap Lionel sebelum bi Sri pergi dari hadapannya.


Lionel menghela nafas sembari memperhatikan nampan yang ada di tangannya kini. Kemudian ia lebih memilih masuk kembali ke kamarnya, tak lupa juga menutup pintu kamarnya kembali. Lionel duduk di pinggir kasur dengan nampan ya g masih berada di tangan nya. Lionel menatap makanan itu agak lama sebelum akhirnya menaruh nampan tersebut di nakas dan mengambil piring yang sudah berisikan lauk pauk.


Lionel mulai menyuap sesendok makanan yang di kasih bibi nya. Memori nya kembali flash back ke masa-masa di mana keluarga masih dalam keadaan harmonis, Lionel rindu itu semua.


Baru tiga kali suapan, Lionel kembali menaruh piring tersebut ke nakas dan mengambil air putih dan meminum nya.


Lionel bangkit untuk menutup pintu balkon yang sedari tadi terbuka, hujan masih turun dengan deras membuat cuaca nya semakin dingin. Lionel kemudian beralih ke lemari dan mengambil kaos hitam untuk di pakainya.


Setelahnya Lionel lebih memilih membaringkan badannya di tempat tidur dan memainkan ponselnya,sampai terlelap ke alam mimpi.


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Pagi hari yang cerah setelah semalam hujan deras menghasilkan genangan air yang tersisa di aspal.


Pagi ini Lionel kembali mendapat hukuman karena terlambat datang ke sekolah, padahal dirinya hanya telat 1 jam sesudah bel berbunyi. Hanya???


Lionel berjalan dengan santai ke arah lapangan untuk melaksanakan hukuman nya, hormat ke arah bendera sampai jam istirahat pertama.


Lionel menghentikan langkah nya sejenak kala melihat ada seorang gadis yang juga sedang berdiri hormat di lapangan, sepertinya dia juga terlambat. Tapi bukan itu yang Lionel fikirkan, ia sepertinya kenal dengan gadis itu. Lionel kembali melangkahkan kaki nya mendekat, dan berdiri di samping siswi tadi kemudian membuat gerakan hormat, sama seperti apa yang di lakukan siswi yang ada di samping nya sekarang. Lionel sempat menolehkan kepalanya menatap gadis yang ada di samping nya itu, setelah tau siapa dia........Lionel kembali masa bodo.


"Ck," decakan kecil yang sayang nya masih dapat Lionel dengar, keluar begitu saja dari bibir gadis tersebut. Nampaknya gadis itu masih tidak menyadari kehadiran Lionel di samping nya.


"Ekhem" Lionel sengaja berdehem dengan nada lantang membuat siswi tadi terlonjak kaget.


"Loh, sejak kapan lo ada di samping gue?" tanya gadis itu yang hanya di balas kedikan bahu dari Lionel. Siswi tersebut kembali berdecak kesal karena jawaban Lionel.


Hening. Tidak ada lagi percakapan antara keduanya. Lionel menurunkan tangan kanannya yang sedari tadi melakukan hormat. Setelahnya Lionel menolehkan kepalanya menatap gadis yang berada di sebelah nya. Butiran keringat memenuhi kening gadis itu, muka nya memerah karena panas matahari. Dan, Lionel melihat bibir gadis itu yang pucat.


"Eh, lo mau ngapain?" kaget Mutia saat tiba-tiba Lionel menarik tangan nya meninggalkan area lapangan.


Lionel diam. Tidak membalas.


"Lo mau bawa gue ke mana sih?" tanya Mutia yang sudah mulai kesal karena Lionel terus saja menarik tangannya, ini sudah yang ke berapa kali lelaki yang ada di depannya ini menarik tangan nya dengan seenaknya saja.


"Diem."


"Tapi nggak usah tarik-tarik kan bisa, gue bisa jalan sendiri" Lionel masih tidak menghiraukan ocehan gadis yang berada di belakangnya ini. Bawel batin Lionel berdecak.


Kantin?


"Lo pucat, pasti belum sarapan" potong Lionel sebelum Mutia selesai menyelesaikan ucapannya.


"Tapi nanti kalau—"


"Itu urusan gampang, nggak usah di pikirin"


Mutia berdecak kesal karena sedari tadi ucapannya selalu di potong oleh Lionel.


"Lo cari tempat, gue mesen"


Mutia hanya menuruti ucapan Lionel dan berjalan ke salah satu meja yang berada di pojok kantin. Sembari menunggu Lionel yang katanya memesan makanan, Mutia mengedarkan pandangan nya ke seluruh area kantin.


"Nggak usah bengong" suara Lionel yang tiba-tiba sudah berada di hadapan nya dengan makanan yang sudah di pesan lelaki itu, mampu membuat Mutia terlonjak kaget.


"Lo kayak jelangkung tau nggak," decak Mutia yang hanya di hiraukan oleh Lionel. Lionel menyodorkan salah satu makanan yang sudsah di pesan, ke hadapan Mutia.


"Thanks," balas Mutia dengan seulas senyum tipis. Lionel hanya membalas dengan sekali anggukan kepala.


"Eh, tapi kenapa lo jadi baik gini sama gue?" tanya Mutia dengan makanan yang masih berada di mulutnya.


"Telen dulu" balas Lionel.


"Jawab" sahut Mutia saat sudah menelan makanan nya.


"Nggak boleh?" Lionel menanya balik.


"Aneh aja gitu. Jangan-jangan ada maunya"


"Aneh, mau berbuat baik kok malah di tuduh yang nggak-nggak. Apa semua orang selalu beransumsi buruk terhadap orang yang ingin berbuat baik?"


"Nggak semuanya, orang yang terlihat jahat itu benar-benar jahat. Dan nggak semuanya, orang yang terlihat baik itu benar-benar baik."


Mutia diam. Ia merasa tertohok atas ucapan Lionel tadi. Tidak, bukan itu maksud Mutia. Ia sama sekali tidak ada maksud untuk menuduh yang nggak-nggak atas perlakuan baik Lionel terhadap nya barusan.


"Sorry, tapi bukan itu maksud gue."


"Gue paham" balas Lionel mengangguk.


Hening kembali melanda keduanya. Mereka kembali sama-sama fokus pada fikiran masing-masing, bahkan makanan mereka hanya di aduk-aduk saja.


"MUTIA, LIONEL."


Deg


****** batin Mutia dan Lionel bersamaan. Mereka berdua saling tatap kali ini, seolah sedang berbicara lewat tatapan mata tersebut.


"IBU TADI MENYURUH KALIAN HORMAT DI LAPANGAN, BUKAN MALAH ASIK-ASIK MAKAN DI POJOK KANTIN!" teriaknya menggelar, Bu Widia.


Mutia dan Lionel hanya menghela nafasnya pasrah, kalau sudah seperti ini mau kaburpun tidak bisa.


"Lo sih," bisik Mutia menatap Lionel.


"Kok gue" bisik Lionel bertanya dengan wajah datar nya.


"Yakan tadi elo yang ngajak gue ke sini"


"Hmm" Lionel hanya membalas dengan deheman.


"A-aa bu-sakit bu" Mutia meringis saat bu Widia menjewer sebelah telinga Mutia, begitupun Lionel. Tetapi wajah lelaki itu masih sama, datar dan tidak menunjukkan ekspresi.


"Kalian berdua sekarang ikut ibu." ucap bu Widia tak terbantahkan.


Mutia dan Lionel pasrah.


Mamah tolong Muti......  Batin Mutia menjerit.


Nih guru satu ngapain coba pake ke kantin segala, kan jadi ketauan...... Batin Lionel mengumpat.


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Bersambung...