Lionel

Lionel
Lionel 18



...“Jangan senyum-senyum kayak gitu, jantung gue berdebar-debar liatnya!.”...


...—Putra Gildan Antariska ...


...•...


...•...


...•...


...Sejak pertama kita ...


...Menjalin kisah cinta ...


...Tak ada yang bisa...


...Merubah kisah kita...


...Ternyata, aku salah...


...Iman yang berbicara ...


...Tolong aku, Tuhan...


...Mengapa semuanya terjadi ...


...Tolong tanyakan pada Tuhanmu...


...Bolehkah aku yang bukan umat-Nya...


...Mencintai hamba-Nya...


...Bila memang cinta ini salah ...


...Mengapa kita yang harus terjatuh ...


...Terlalu dalam. ...


...🎶🎵Aku Yang Salah — Elmatu🎵🎶 ...


...HAPPY READING! ...


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Suasana lapangan Dirgantara kini sedang diramaikan dengan teriakan histeris dari para fans most wanted mereka. Lionel CS kini sedang melakukan latihan futsal untuk pertandingan futsal antar sekolah yang akan diadakan bulan depan. Dengan posisi Lionel yang sebagai kapten, ia nampak begitu fokus pada bola yang sedang di giring nya. Kakinya dengan lihai menendang bola untuk menghindari serangan lawan.


Teriakan para siswi yang notabenya fans Lionel CS juga tak henti-hentinya meneriaki nama mereka untuk memberikan semangat.


Adji semangat yaaa!


Marcel omaygatttt, semangat sayang!


Lionel keringat nya mau aku bantu lapin nggak?


Yuhuuuu semangat sayang-sayangnya akuuuhh!


Aden rambutnya makin hari, makin cuco.


Ayang mbeb Lionel semangat, babe!


Kurang lebih seperti itulah teriakan dari mereka. Tapi tidak dengan Mutia dkk yang hanya menonton mereka dari pinggir lapangan dengan tenang. Mutia yang sedari tadi sudah bosan mendengar teriakan para siswa disana dengan sesekali memutar bola matanya malas. Sejujurnya Mutia sangat malas menonton ini, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa lagi ketika Citra dan teman-temannya yang memaksanya untuk ikut mereka menonton latihan ini.


Sedangkan Citra sendiri masih sangat antusias melihat Putra yang berusaha menghindari lawan dan menger bola tersebut ke Aldi.


"PUTRA SEMANGAT, SAYANG!!" teriakan tersebut sudah pasti berasal dari Citra. Putra yang mendengarnyapun menoleh kearah Citra dan membalasnya dengan seulas senyum manisnya dan kedipan matanya membuat Citra rasanya seperti berbunga-bunga. Namun itu tak berakhir lama setelah para siswi justru dibuat heboh saat melihat Putra mengedipkan matanya.


OMAYGAT gilaaaaaa, tadi Putra ngedipin gue kan?


Pede lo! Jelas-jelas kalau dia ngedipin gue!


Putput omaygat senyuman dan kedipan matamu itu sungguh berdamage bagiku.


Citra yang melihat dan mendengar teriakan itu menjadi kesal sendiri, ia menatap datar ke arah siswi-siswi yang secara terang-terangan menyoraki Putra tadi. Sedangkan para siswi itu yang tak menyadari tatapan sengit dari Citra malah semakin asik memberikan semangat untuk Lionel CS.


Mutia dkk yang melihat raut wajah Citra yang tiba-tiba berubah akhirnya hanya bisa berusaha menahan tawa mereka agar tidak pecah begitu saja.


"Yang sabar ya, Cit, ini adalah resiko lo jadi terima aja, oke." ucap Raisyah yang diakhiri dengan tawanya yang pecah disusul dengan tawa mereka yang lainnya.


"Ck ish, kesel gue ngeliat mereka yang keganjenan sama Putra. Mereka belom tau aja sih kalau Putra udah ada pawangnya." balas citra dengan emosi yang menggebu-gebu.


"Yaelah, Cit, seganjen-ganjennya mereka Putra juga pasti bakalan tetep milih lo kali. Lagian Putra mana mau sama modelan cabe kayak mereka, palingan juga itu mah seleranya si panji." ucap Auryn membuat teman-temannya langsung menoleh kearahnya dengan tatapan bingung termasuk Citra.


"Panji? Panji siapa?" tanya Meidy.


"Iya panji, singkatan dari pantat anjing." balas Auryn santai yang malah menambah kerutan di dahi mereka.


"Tapi orang yang lo maksud pantat anjing, siapa?" tanya Monika.


"Marcel." jawab Auryn lagi.


"Sejak kapan lo punya panggilan khusus kayak gitu untuk Marcel? Apa Jangan-jangan..."


"Heh kagak usah ngadi-ngadi deh lo!" sela Auryn cepat sembari tangannya menggeplak pala Ayu.


"Hey, ngobrolin apaan sih? Seru banget kayaknya?," tanya Putra yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Citra dengan merangkul pundak Citra mengundang tatapan bingung dari Lionel CS.


"Ish dateng-dateng udah ngagetin aja" ujar Citra menyikut perut Putra pelan yang hanya dibalas cengiran oleh Putra.


Ternyata Lionel CS sudah selesai berlatih, bahkan merekapun baru menyadarinya. Dan sekarang banyak dari siswi Dirgantara datang menghampiri mereka hanya untuk sekedar memberikan minuman dingin untuk Lionel CS. Lionel mengabaikan pemberian dari mereka dan dengan senang hati Marcel menerima semua pemberian mereka.


"Kalau sama calon istri, gapapa dong, iya gak by?" tanya Putra menggoda Citra membuat Lionel CS yang mengetahuinya jadi membelalak kaget mendengarnya, terkecuali Lionel.


"Maksud lo?"


"Gue sama Citra dijodohin." jawab Putra apa adanya yang justru malah membuat Lionel CS yang lain menjadi semakin heboh mendengarnya.


"***** KAGA BILANG-BILANG LO BERDUA!" ucap Zaki histeris.


"Lah ini makanya gue bilang, gimana sih kalian."


"Maksudnya kenapa baru bilang sekarang, ogeb!" balas Aden menimpali.


"Lah kalian nggak nanya." jawab Putra santai.


"Tapikan seti--"


"Eh udah-udah, ini kenapa malah jadi ngeributin tentang ginian sih?!" sela Anjani melerai.


"Nih tadi aku bawain minum," ujar Citra menyodorkan tangannya yang menggenggam sebotol minuman dingin ke arah Putra dan tentu saja di terima dengan sangat baik oleh Putra.


"Buat abang mana, neng Citra?" tanya Maulana dengan menampilkan wajah sok polosnya membuat Putra ingin rasanya menggeplak wajah itu dengan panci ibu-ibu komplek.


"Punya duit kan? Beli sendiri." bukan Citra yang membalas, melainkan Putra yang membalasnya.


"Udah ada pawang nya, bro, bisa-bisa di amuk lo ntar." ucap Martin yang langsung disusul gelak tawa dari mereka.


"Temen lo yang satu itu kesambet pintu atau gimana, Den? Diem mulu perasaan dari tadi." tanya Monika pada Aden tetapi matanya menatap Lionel sinis.


"Astaghfirullah neg Citra, kayak gak tau aja si Onta gimana orangnya. Dia kan emang udah bawaan lahir kayak begono." jawab Aden sedikit lebay.


"Mut, samperin atuh, kasih minum kek lapin keringatnya kek, atau apalah gitu buat si Ontel." goda Meidy menyenggol lengan Mutia pelan membuat Mutia mendesis kesal.


"Lionel!" ralat Lionel geram. Sedari tadi di antara mereka tidak ada yang memanggil namanya dengan benar, entah itu Ontel ataupun Onta, membuat Lionel kesal sendiri mendengarnya.


"Iya itu maksud gue, hehe." ucap Meidy tanpa dosa. "Udah sono!" lanjutnya lagi mendorong lengan Mutia pelan.


"Apaan sih lo, ah, ribet banget." balas Mutia geram.


"Lionel, lo bisa beli minum sendiri kan, bisa lap keringet lo sendiri kan?" tanya Mutia kepada Lionel dengan nada yang dibuat selembut mungkin, tapi terdengar dipaksakan. Lionel yang mendengar penuturan Mutia barusan langsung menoleh ke asal sumber suara tersebut. "Tuh dia aja bisa sendiri, ngapain harus gue, emang gue siapanya dia, gajelas." tanpa mendengar jawaban Lionel, Mutia langsung melanjutkan ucapannya dengan kesal, sedangkan Lionel masih tetap memasang wajah tembok ciri khas nya.


"Wah lo lagi ngode ya, Mute?" tanya Raisyah menatap Mutia yang nampak kebingungan.


"Ngode apaan lagi sihhhhh?" desis Mutia gram.


"Tadi kan lo bilang, Emang gue siapanya dia?, berarti lo ngode supaya mau jadi siapa-siapanya Onel dong?" lanjut Raisyah yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Mutia.


"Gak gitu tapi maksudnya gue, Ecaaaaaaa" balas Mutia merengek.


Mereka yang ada disana hanya tertawa menyaksikan perdebatan kecil itu. Sedangkan Lionel hanya tersenyum tipis melihatnya.


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Jam pulang sekolah sudah berbunyi sekitar dupuluh menit yang lalu, tapi kini sebagian siswa siswi Dirgantara masih banyak yang berdiam diri di koridor sekolah. Pasalnya sedari tadi bel pulang berbunyi, hujan turun begitu saja dengan deras membuat mereka mau tak mau memilih untuk berteduh terlebih dahulu, setidaknya sampai hujannya sedikit reda.


Mutia dkk dan Lionel CS juga sedang menunggu hujannya reda. Sebagian dari mereka sudah pulang lebih dulu karena sudah dijemput, seperti Monika, Michell, Anjani, Auryn, serta Ayu. Sedangkan yang lainnya masih berada disana menunggu hujan yang entah kapan redanya itu.


Mutia sedari tadi asik menatap kearah langit yang meneteskan banyak air. Sesekali tangannya ditadahkan kedepan membuat lengan tangannya basah akibat terkena rintikan hujan. Lionel sedari tadi malah asik dengan ponselnya, sesekali ia melirik sekilas kearah Mutia yang asik mengadahkan tangannya ke rintikan hujan tersebut.


Putra dan Citra malah asik bercanda bercanda tanpa memperdulikan yang lainnya. Marcel yang sedari tadi asik menggoda siswi yang menatap kearahnya. Dan juga Martin dan Adji yang justru sedang berdebat sendiri, entah sedang memperdebatkan apa.


"Eh tunggu deh," ucap Ara membuat Mutia dkk dan Lionel CS yang ada disana menoleh ke arahnya.


"Kenapa, Ra?" tanya Meidy.


Ara menatap ke arah gerbang sekolah sembari menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatannya.


"Gue dari tadi merasa ada seseorang yang merhatiin kita dari sana deh," ucap Ara menunjuk ke arah gerbang sekolah. Mereka ikut mengedarkan pandangan mereka ke arah yang Ara tunjuk tadi, tapi mereka sama sekali tidak melihat seseorang yang sepertinya mencurigakan.


"Masa sih? Nggak ada siapa-siapa kok." balas Aden.


"Ih serius, tadi gue juga sempet liat orangnya, pake hoode item gitu, tapi mukanya gak keliatan karena ditutupin. Pas gue liat ke arah dia, dia langsung kayang sembunyi gitu dibalik tembok deket gerbang." jelas Ara membuat mereka mengernyit termasuk Lionel.


"Salah liat kali lo, udahlah gak usah di pikirin, mending buruan balik, udah mulai reda nih ujannya." sambar Meidy yang di angguki yang lainnya.


Lionel langsunh saja menahan lengan Mutia yang hendak ingin melangkah, membuat Mutia mau tak mau berhenti dan berbalik menatap Lionel dengan alis mengernyit.


"Bareng gue." ucap Lionel dan langsung menarik tangan Mutia menuju dimana motornya di parkirkan. Mutia yang sudah terlanjur ditarik tangannya dengan Lionel pun akhirnya mau tak mau hanya mengikuti kemana Lionel menariknya.


Sama halnya dengan Purta dan Citra, mereka sudah sampai diparkiran. Tapi tiba-tiba saja Citra terpeleset yang mengakibatkan dirinya hampir saja akan terjatuh. Dengan refleks Putra menahan lengan Citra yang ingin terjatuh dan menarik Citra kedalam dekapannya, mata Citra terpejam sedangkan tangan Putra sudah bertengger manis di pinggang Citra untuk menahannya. Perlahan Citra membuka matanya saat merasa ada seseorang yang menahannya dan memeluknya. Seketika pipinya merona saat pandangannya terkinci dengan Putra yang jaraknya tidak jauh dengannya.


"Makanya kalau jalan hati-hati." ucap Putra membuat lamunan Citra buyar seketika. Citra yang tersadar kembali akhirnya hanya bisa memperlihatkan deretan giginya membuat matanya sedikit menyipit.


"Jangan senyum-senyum kayak gitu, jantung gue berdebar-debar liatnya!." ujar Putra tiba-tiba dengan menunjukkan wajah sok polosnya. Citra yang mendenganr penuturan Putra barusan langsung dengan cepat menghentikan cengirannya, membuat Putra yang melihat tingkah Citra itu hanya tertawa.


"WOY JANGAN PACARAN TERUS LO, BURUAN AYO, NANTI KEBURU HUJAN LAGI." teriak Aki membuat keduanya tersadar dan langsung menaiki motor Putra dengan Citra yang duduk di belakang Putra.


Setelah semuanya sudah siap, mereka langsung menancapkan gasnya dan melajukan motor mereka meninggalkan pekarangan sekolah. Dengan posisi Mutia yang bersama Lionel, Putra bersama Citra, Ara bersama Aldi, Raisyah bersama Zaki, Meidy bersama Afwan, dan sisanya Lionel CS yang lain sendiri.


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Bersambung...