Lionel

Lionel
Lionel 4



...“Lo salah karena udah berani masuk ke dalam kehidupan gue tanpa seizin gue dan tanpa sengaja.”...


...—Lionel Adriano Siregar...


...HAPPY READING❤️...


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Jam istirahat kali ini Mutia dan teman teman nya sudah berkumpul di kantin. Mereka berniat untuk mengisi perut yang sedari tadi sudah minta tolong untuk di isi.


"Eh kalian tau gak?," tanya Mutia memulai obrolan.


"Nggak, kan lo belum ngomong apa-apa lagi," jawab Raisyah menanggapi ucapan Mutia tadi.


"Yaudah gue kasih tau makanya. Jadi tadi kan gue pergi ke toilet kan,"


"Iya gue juga tau tadi lo ke toilet, terus masalah nya apa," ucap Anjani memotong ucapan Mutia tadi membuat sang empu geram karena ucapannya sedari tadi terpotong.


"Makanya dengerin dulu sampe abis kenapa sii," geram Mutia.


"Iya iya maap."


"Terus waktu gue jalan mau balik ke kelas, gue tabrakan sama cowok. Sumpah tuh cowok bener-bener aneh, sombong, nyebelin banget" jelas Mutia sambil mengingat kembali kejadian beberapa jam lalu.


"Siapa emang cowoknya, lo kenal?," tanya Auryn penasaran.


"Tadi sih kalau gak salah dia bilang namanya Lionel," balas Mutia sambil kembali mengingat siapa nama cowot itu.


"WHAT?!..." teriak Ara, Raisyah, Michell, Meidy, Monika, Ayu, Anjani, Citra, dan Auryn kompak membuat Mutia terlonjak kaget.


"Kalian kenapa sih, kaget tau gue" ucap Mutia sedikit kesal.


"Lo serius tabrakan sama dia?" tanya Ayu memastikan.


"Iya serius. Terus dia malah ngancem gue lagi, katanya gue sekarang bakalan berurusan sama dia karena gue udah berhasil ganggu hidup dia, kan gak jelas banget" jelas Mutia lagi-lagi membuat mereka membulatkan matanya dengan sempurna.


"Gue jamin, hidup lo gak akan tenang mulai sekarang karena udah berurusan sama singa Dirgantara," celetuk Anjani yang di angguki yang lain.


"Lah kenapa emang, emang dia siapa?" tanya Mutia bingung+menantang.


"Lo belum tau aja Lionel orang nya gimana," balas Meidy membuat Mutia mengerutkan kening nya pertanda bingung.


"Ya iyalah belum tau, orang Mutia aja murid baru, gimana sih lo" sarkas Auryn yang di balas cebikan oleh Meidy.


Saat mereka sedang asik ngobrol bersama, tiba-tiba suara riuh dari seisi kantin berhasil menyita perhatian mereka, banyak yang berlarian ke arah lapangan membuat Mutia dkk mengernyit bingung.


Mutia dkk yang penasaran pun akhirnya lebih memilih untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar sana, mereka berlari keluar area kantin menuju lapangan.


Sesampainya di lapangan, sudah banyak siswa siswi yang berkerumunan di tengah lapangan. Mutia dkk mencoba untuk menerobos kerumunan tersebut agar bisa melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Dan ternyata, di sana terlihat Lionel sedang baku hantam dengan seorang lelaki. Mutia merasa geram sekaligus kaget karena melihat siswa siswi yang lain bukannya membantu memisahkan perkelahian tersebut tapi malah menonton saja.


"Kok malah pada ngeliatin doang sih, pisahin kek," geram Mutia.


"Nggak ada yang berani misahin kalau itu udah bersangkutan dengan Lionel, Mut." celetuk Ara membuat Mutia berdecak.


"STOP." siswa siswi yang tadinya sedang melihat acara baku hantam antara Lionel dan siswa tadi sontak terkejut karena tiba-tiba Mutia muncul di tengah-tengah antara Lionel dan lelaki itu.


"Mutia nyari mati sumpah," gumam Meidy panik melihat Mutia yang kini sedang merentangkan tangannya mencoba menjauhkan Lionel dan siswa tadi.


"Kalian ini apa-apaan si, ini masih di lingkungan sekolah kalau kalian mau berantem jangan di sini. Nanti kalau ketauan guru baru tau rasa," cecar Mutia menatap tajam Lionel dan siswa yang tadi berkelahi dengan Lionel. Di lihatnya sepertinya siswa itu adalah kaka kelas mereka yang artinya kelas 12.


"Lo gak usah ikut campur, ini bukan urusan lo." ucap Lionel menunjuk Mutia menggunakan jari telunjuknya, pancaran matanya menatap tajam Mutia yang kini berdiri di hadapan nya.


"Sekarang lo minggir," ucap Lionel tajam kepada Mutia. Bukannya takut, Mutia justru kembali menatap Lionel menantang.


"Terus kalau gue minggir lo mau lanjut berantem lagi gitu, terus nanti kalau guru liat gimana." ucap Mutia.


"Ada apa ini ribut-ribut" suara itu berasal dari Bu Widia yang kini sudah berada di antara kerumunan tersebut.


"Lionel, kamu bikin ulah lagi?" tanya Bu Widia galak.


"Dia yang memulai ini semua, jadi ini bukan salah saya" ucap Lionel menujuk siswa tadi.


"Kamu ini, sehari saja tidak membuat keributan, bisa?" tanya Bu Widia sambil memijat pelipisnya pening.


Lionel hanya diam menatap tajam lawannya tadi, malas untuk membalas pertanyaan Bu Widia.


"Sekarang kalian silahkan obati dulu luka yang ada di wajah kalian itu, kalau sudah temui ibu di ruang BK." titah Bu Widia tak terbantahkan.


Lionel menarik tangan Mutia keras pergi dari sana, Mutia memberontak meminta agar cekalan tangannya di lepas oleh Lionel. Tapi semakin Mutia memberontak semakin kencang juga Lionel mencekal tangannya, alhasih Mutia hanya bisa pasrah saja dirinya di tarik-tarik ole Lionel, tangannya terasa perih karena Lionel terus saja mencekal tangannya dengan erat.


Lionel terus saja menarik tangan Mutia, ternyata tujuan Lionel adalah UKS. Lionel membuka pintu UKS dengan sebelah tangannya, sedangkan tangannya yang sebelah masih setia mencekal tangan Mutia.


"Sekarang lo obatin luka gue," titah Lionel sembari melepaskan cekalan tangannya dengan Mutia. Mutia mengusap pergelangan tangannya yang terasa perih dan memerah tersebut sambil sesekali meringis.


"Kok gue?" tanya Mutia bingung.


"Nggak usah banyak tanya, sekarang tugas lo adalah turutin semua perintah yang gue kasih buat lo," ujar Lionel tak terbantahkan "gak ada penolakan." sambar Lionel lagi yang melihat Mutia seperti ingin menolak.


Mutia mencebik kesal, menurutnya Lionel sangat semena-mena dengan kemauannya sendiri. Lionel nyebelin.


Lionel duduk di salah satu brankar yang tersedia di dalam UKS tersebut, sedangkan Mutia dengan gerakan yang malas-malasan berjalan mengambil kotak P3K untuk mengobati luka lebam yang ada di wajah Lionel karena perkelahian tadi.


Nyusahin banget sih jadi orang, batin Mutia mencak-mencak.


"Gak usah mencak-mencak dalem hati gitu," ujar Lionel tiba-tiba membuat Mutia kaget.


Dia bisa baca pikiran gue?, batin Mutia bingung


Mutia berjalan mendekati Lionel dengan kotak P3K di tangannya.


"Kok lo tau kalau gue mencak-mencak dalam hati? Lo cenayang ya," tuduh Mutia saat sudah berada di hadapan Lionel dan menuangkan alkohol pada kapas untuk mengobati luka Lionel.


"Nggak," balas Lionel singkat.


"Shh.. Pelan-pelan," ringis Lionel menatap tajam Mutia saat gadis itu dengan sengaja menekan lukanya dengan kapas.


"Makanya jadi orang nggak usah sok jagoan, pake acara berantem segala. Udah merasa diri lo hebat?" cerocos Mutia membuat Lionel menatapnya datar.


"Urusan lelaki, lo gak usah ikut campur" jawab Lionel sarkas membuat Mutia lagi-lagi mencebik.


"Lo tadi ganggu tau gak, ngapain pake acara misahin gue segala tadi. Mau terlihat seperti pahlawan?" tanya Lionel.


"Abisnya gue kesel, siapa suruh tuh siswa siswi yang laen bukannya bantu misahin malah asik nonton doang, yaudah gue yang turun tangan buat misahin kalian. Dan satu lagi, gue sama sekali gak bermaksud buat terlihat seperti pahlawan, niat gue cuma mau misahin doang kok, salah emang?" jelas Mutia.


"Jelas lo salah," ucap Lionel cepat. Mutia menghentikan gerakannya yang tadi sedang mengobati luka Lionel dan membereskan kotak P3K, matanya menatap Lionel bingung.


"Pertama, lo udah mengusik ketenangan gue. Kedua, lo udah berani ikut campur ke dalam urusan gue. Ketiga, lo udah berani cari gara-gara sama gue." ucap Lionel dengan penuh tekanan di setiap kata yang di lontarkan nya. "jadi, lo salah karena udah berani masuk ke dalam kehidupan gue tanpa seizin gue dan tanpa sengaja." lanjut Lionel dingin membuat Mutia yang mendengar nya merinding, tapi dia masih bisa mengontrol ekspresi nya kembali agar terlihat tetap tenang.


"Sekarang tugas gue buat ngobatin luka lo udah selesai, gue permisi." pamit Mutia setelah menaruh kembali kotak P3K tadi ke tempat semula dan berjalan keluar UKS meninggalkan Lionel.


Lionel diam-diam menyeringai di tempatnya sambil menatap kepergian Mutia tadi.


"Siap-siap aja, permainan di mulai. Liat nanti selanjutnya gimana, Mutia Anggraeni..." ucap Lionel pelan bahkan bisa di bilang seperti bisikan, seringai dan tatapan tajam nya membuat Lionel terlihat seperti seorang psychopath.


Lionel turun dari brankar yang di duduki nya sedari tadi dan berjalan meninggalkan UKS menuju ruang BK sesuai perintah Bu Widia tadi. Lionel sudah siap mendapatkan ocehan dari guru BK nya itu, dan bahkan mungkin mendapat hukuman.


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Bersambung...