
...“Berbeda bukan berarti tidak bisa bersama.”...
...—Lionel Adriano Siregar...
...•...
...•...
...•...
...Kau satu terkasih...
...Kulihat di sinar matamu...
...Tersimpan kekayaan batinmu...
...Di dalam senyummu...
...Kudengar bahasa kalbumu...
...Mengalun bening menggetarkan...
...Kini dirimu yang selalu...
...Bertahta di benakku...
...Dan aku kan mengiringi...
...Bersama...
...Di setiap langkahmu...
...Percayalah...
...Hanya diriku paling mengerti ...
...Kegelisahan jiwamu, kasih...
...Dan arti kata kecewamu...
...Kasih, yakinlah...
...Hanya aku yang paling memahami...
...Besar arti kejujuran diri...
...Indah sanubarimu, kasih...
...Percayalah...
...🎶🎵Bahasa Kalbu — Raisa🎵🎶...
...HAPPY READING! ...
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Semua siswa siswi Dirgantara sudah siap-siap merapihkan buku mereka masing-masing dan memasukkannya ke dalam tas.
Mutia menyampirkan tas nya di punggung.
"Eh guys, gue duluan ya, udah di tungguin sama Putra." ujar Citra yang sudah bersiap. Putra baru saja mengirimkan nya pesan singkat bahwa lelaki itu sudah menunggu di parkiran.
Sedangkan teman-teman nya hanya membalasnya dengan senyuman jahil.
"Hati-hati ya" ucap Mutia yang di angguki Citra, dan setelahnya pergi keluar kelas.
"Udah kan, yok." ujar Ayu yang di angguki yang lain.
Mereka akhirnya berjalan bersama menelusuri koridor sekolah, menuju gerbang.
Monika, Anjani, Ayu, dan Michell sudah pulang terlebih dahulu karena sudah di jemput, katanya. Dan kini menyisakan Mutia, Ara, Meidy, Raisyah, dan Aurynt yang masih berada di halte dekat sekolah menunggu jemputan.
Sebenarnya Mutia sendiri pun tidak tahu papa nya menjemput atau tidak. Di tambah dengan ponselnya yang mati, membuat Mutia tidak bisa menghubungi papa nya. Hingga teman-temannya yang lain sudah pulang, Mutia masih berada di halte di temani dengan Ara.
"Mut, lo mau bareng gue aja nggak? Sopir gue udah jemput tuh" tawar Ara membuat Mutia tampak berfikir.
"Iy--"
"Dia sama gue."
Baru saja Mutia ingin menerima tawaran Ara, suara bariton itu sudah terlebih dahulu mencela ucapannya, membuat kedua gadis itu segera menoleh ke asal sumber suara tersebut.
"Elo?" tunjuk Mutia bingung menatap Lionel yang berada di motornya dengan helm full face yang kacanya di biarkan terbuka.
"Oh, yaudah. Kalau gitu jagain temen gue ya, anterin sampe rumahnya, jangan sampe lecet. Gue duluan, bye." ucap Ara cepat dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua, berlari ke arah jemputannya.
"Eh Ra, tapi--" teriak Mutia terpotong karena melihat Ara yang jaraknya sudah lumayan jauh.
"Naik!" titah Lionel tanpa menatap Mutia.
"Nggak mau, gue bisa naik Taxi." balas Mutia sok cuek.
"Udah sore, jarang ada Taxi yang lewat" ujar Lionel masih dengan suaranya yang terkesan cuek, dan tanpa menatap lawan bicara nya.
Mutia diam, tidak membalas ucapan Lionel tadi. Dalam hati, Mutia mau saja menerima ajakan Lionel. Tapi ego nya mengatakan, tidak. Mutia terlalu gengsi untuk menerima ajakan Lionel tersebut.
"Naik!" titah Lionel saat tidak mendapatkan respon dari Mutia.
"Nggak, ih." balas Mutia dengan decakan kesalnya.
"Naik sendiri, atau gue paksa?!"
"Oke, oke, gue naik." ucap Mutia akhirnya mengalah dan memilih menurunkan sedikit ego nya untuk menerima ajakan Lionel. Lagi pula ini sudah sore, benar kata Lionel, jarang ada angkutan umum ataupun Taxi yang lewat. Jadi mau, tidak mau, dia harus menerima tawaran Lionel untuk mengantarnya pulang.
Mutia menaiki motor Lionel perlahan walau cukup kesusahan, pasalnya motor Lionel ini tinggi, jadi Mutia agak susah untuk menaiki nya.
"Gue beli motor ini juga bukan khusus untuk lo, jadi nggak usah protes." balas Lionel membuat Mutia terdiam menatap punggung lelaki di hadapannya yang sedang mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Benar juga, ucapan Lionel tadi, kenapa Mutia jadi merasa malu sendiri sihhh.
"Eh, lo mau bawa gue kemana? Ini bukan jalan ke rumah gue!" ucap Mutia sedikit berteriak sembari menepuk pelan bahu Lionel.
Lionel tidak membalas ucapan Mutia tadi dan tetap menjalankan motornya ke tempat yang ia tuju.
"Heh, lo mau nyulik gue ya?! Iya kan? Ngaku lo!" tanya Mutia beruntun.
"Bisa diem nggak, berisik!" balas Lionel menghiraukan Mutia yang kini sedang panik, mau di bawa kemana dia.
"Tapi lo mau bawa gue kemana? Ini bukan jalan ke rumah gue."
"Turun." tanpa menjawab pertanyaan Mutia, Lionel malah menyuruhnya turun.
"Lo--"
"Makan dulu, gue laper." ujar Lionel memotong ucapan Mutia cepat.
Mutia akhirnya menurut saja dan turun dari motor lelaki itu perlahan. Setelah Mutia sudah turun, Lionel memilih tempat parkir terlebih dahulu dan kembali menghampiri tempat Mutia berdiri menunggunya tadi.
"Makan di sini, gapapa kan?" tanya Lionel menatap Mutia yang tampak heran.
"Ah iya, nggak pa-pa kok" balas Mutia dengan sedikit ling-lung.
"Ayok" Mutia hanya mengikuti langkah kaki Lionel yang menghampiri pedagang kaki lima.
Setelah memilih tempat, Lionel duduk di ikuti juga dengan Mutia yang duduk di hadapannya.
"Mang," panggil Lionel pada salah satu penjual di sana.
"Sate sama nasi, dua porsi. Minum nya es teh manis, lo apa?" tanya Lionel menatap Mutia.
"Es teh manis juga" jawab Mutia.
"Es teh manis, dua."
"Sate dan nasi nya dua porsi, minum nya es teh manis dua." ulang pedagang sate tersebut yang di angguki Lionel.
"Lo suka makan di kaki lima kaya gini juga?" tanya Mutia menatap Lionel yang sedang memperhatikan jalanan yang menampilkan lalu lalang kendaraan.
"Hm, kenapa, gak suka?" tanya Lionel balik menatap Mutia.
"Aneh aja gitu, gue kira lo nggak suka sama makanan yang di pinggir jalan kaya gini. Lebih terbiasa yang di Restaurant atau Cafe gitu?" ucap Mutia acuh.
"Gue lebih suka makanan pinggir jalan kaya gini. Murah, tapi enak. Bisa liat pemandangan lalu lalang kendaraan juga. Suasana nya lebih nyaman dan sederhana." balas Lionel kembali memperhatikan lalu lalang kendaraan.
Mutia tertegun mendengar ucapan Lionel. Mutia kira lelaki modelan Lionel seperti ini, paling anti sama yang namanya makanan pinggir jalan atau kaki lima. Tapi ternyata dugaannya salah, Mutia kagum dengan Lionel.
"Ini makannya," ucap penjual sate tadi datang membawa lesanan yang di pesan Lionel tadi, dan menaruh nya di meja hadapan mereka.
"Makasih, mang." ucap Mutia yang di balas anggukan dengan mamang penjual nya.
Mutia dan Lionel mulai melahap makanan nya. Mutia tampak menikmati makanannya.
"Gimana?" tanya Lionel membuat Mutia mengernyit bingung, ia tidak faham.
"Enak?" jelas Lionel saat tau kebingungan Mutia.
"Enak." balas Mutia mengangguk.
"Suka?" tanya Lionel lagi.
"Suka." balas Mutia lagi membuat Lionel tersenyum tipis tanpa di ketahui Mutia. Lionel senang, ternyata Mutia suka, bagus lah.
Setelah selesai makan, Lionel beranjak menghampiri penjual nya dan membayar pesanan yang ia pesan tadi.
"Ayok" ajak Lionel saat sudah kembali ke tempat Mutia tadi. Mutia dan Lionel berjalan menuju tempat Lionel memarkirkan motornya tadi.
Setelah keduanya sudah duduk manis di atas motor, Lionel mulai melajukkan motornya kembali membelah ramai nya jalanan ibu kota, menuju rumah Mutia.
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
"Gue pamit," ujar Lionel setelah sampai mengantar Mutia dengan selamat sampai depan gerbang rumah nya.
"Iya, hati-hati" balas Mutia.
Lionel menganggukkan kepalanya dan kembali menyalakan mesin motornya.
"Besok pagi gue jemput." ujar Lionel cepat dan langsung melaju pergi meninggalkan Mutia yang menatap kepergian nya bingung.
"Gue nggak salah denger kan tadi?" tanya Mutia dengan menunjuk dirinya sendiri.
"Kesambet apaan tuh cowo, hari ini baik banget sama gue" gumam Mutia lagi.
"Eh Mutia, kok malah berdiri di situ, sini masuk sayang" suara mama nya yang tiba-tiba muncul dari balik pintu gerbang rumahnya mampu membuat lamunan Mutia buyar.
"Iya, mah" balas Mutia kikuk sendiri.
Mutia berjalan memasuki pekarangan rumah nya di ikuti dengan mama nya.
"Kamu udah makan belum? Mamah udah masak tuh. Kalau lapar, makan dulu sana." ucap mama Mutia saat sudah memasuki rumah bersama Mutia.
Mutia tersenyum menatap mama nya.
"Nggak mah, Mutia udah makan tadi. Mutia mau langsung bersih-bersih aja." ucap Mutia yang di angguki mama nya.
Mutia akhirnya pergi menuju kamarnya untuk membersihkan badannya dan mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Bersambung...