
...“Lo udah berhasil mengusik ketenangan singa Dirgantara, dan mulai sekarang lo berurusan sama gue”...
...—Lionel Adriano Siregar...
...HAPPY READING ❤️...
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Pagi hari ini Lionel sudah rapih dengan seragam yang melekat di tubuhnya. Jam masih menunjukkan pukul 06.15 tumben sekali lelaki itu susah rapih saat jam segini, biasanya juga masih berpetualang di alam mimpi. Entahlah, rasanya Lionel ingin datang ke sekolah tepat waktu hanya untuk hari ini saja, ingat hanya hari ini saja.
Lionel jalan menuruni anak tangga dengan tas yang di sampirkan di sebelah pundak nya, ia berjalan menuju ruang makan untuk sarapan.
"Eh den Onel, tumben sudah bangun den," kaget bibi saat mendapati Lionel yang sudah duduk manis di kursi meja makan sembari mengoleskan selai pada roti.
"Lagi pengen." jawab Lionel singkat yang mendapat gelengan kepala dari bibi. Ada-ada aja..
"Nih susu nya, den" kata bibi sambil menaruh susu di hadapan Lionel.
"Makasih, bi." ucap Lionel dan langsung melahap roti nya yang sudah di oles kan selai tadi. Setelah roti habis, Lionel lalu meminum susu yang sudah di buatkan oleh bibinya tadi hingga habis.
"Bi, Onel berangkat," pamit Lionel pada bibi nya.
"Hati-hati, den." peringat bibi yang di angguki Lionel.
Lionel melajukan motor nya membelah jalanan ibu kota yang mulai agak ramai karena mungkin banyak yang akan pergi bekerja di jam segini.
Sesampainya di sekolah, Lionel mendapatkan tatapan bingung dari para siswa siswi yang melihat nya datang pagi, tumben sekali fikir mereka.
Lionel turun dari motor nya dan melepaskan helm nya. Ia menatap tajam para siswa maupun siswi yang sedari tadi menatapnya dengan berbagai ekspresi, ada yang menatapnya dengan tatapan aneh, bingung, memuja, bahkan kagum.
Lionel berjalan menelusuri koridor sekolah menuju kelas nya. Sesampainya di kelas, Lionel kembali mendapatkan tatapan bingung dari teman-teman sekelasnya.
"Kalau kalian masih natep gue kaya gitu, gue tusuk mata kalian." ucap Lionel dingin dan sarkas membuat mereka langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan gugup.
Lionel berjalan menuju kursi nya berada, ia menghembuskan nafasnya lelah. Kenapa teman-teman nya menjadi menatap Lionel seperti tadi, memang salah kalau ia datang pagi seperti ini. Lionel menjadi berfikir dateng telat salah, dateng pagi salah juga, yang bener apa coba. Serba salah kaya Raisa, eh:v
"SELAMAT PAG—... ASTATANG LIONEL, KESAMBET APAAN LO DATENG JAM SEGINI, HAH?"
Plak
Aldi memukul mulut Maulana yang dengan seenak jidatnya teriak-teriak seperti tadi membuat mereka semua yang ada di sana menutup telinga karena suara toa Maulana tadi, kecuali Lionel yang kini sudah tenang anteng earphone yang berada di telinga nya.
"Berisik ****." ucap Aldi kesal sembari mengusap-usap telinga nya yang terasa pengang, pasalnya tadi saat Maulana teriak Aldi berada tepat di samping membuat telinga Aldi rasanya pengang seperti tertusuk-tusuk.
"Ya maap, hehe" cengir Maulana yang mendapatkan tatapan datar dari teman-teman sekelas nya.
"Tumben jam segini udah anteng di kelas, biasanya juga bolos." tanya Marcel yang kini sudah duduk di kursi sebelah Lionel. Lionel hanya membalas pertanyaan Marcel dengan mengedikkan kedua bahu nya acuh.
"Eh guys, hari ini ada siswi baru pindahan dari Bandung loh. Cakep sih katanya," ucap Putra membuka suara.
"Kelas mana dia?" tanya Fajar.
"Gak tau deh, tapi kalau gak salah sih kayaknya kelas ipa 5, deh" balas Putra sembari mengingat kembali.
"Serius cakep siswi nya?" tanya Marcel antusias.
"Katanya sih gitu," balas Putra manggut-manggut.
"Kalo gitu nanti gue coba pepet lah, siapa tau nyantol kan sama gue." ujar Marcel semangat sambil menaik turunkan sebelah alis nya.
"Urusin dulu noh pacar lo yang katanya ke 102 itu, katanya lagi ngambek sama lo." ledek Zaki pada Marcel.
"Itu mah gampang, tinggal putusin aja terus nyari deh yang baru." balas Marcel enteng.
"Gila lo, kasian anak orang lu painin mulu perasaan nya," ucap Afwan heran "kalo kata Kekeyi, aku bukan boneka mu bisa kau rayu-rayu kalau kau bosan pergi dan menghilang." lanjut Afwan sembari menyanyikan lagu yang sempat hits tersebut. Sontak ucapan Afwan barusan mengundang gelak tawa dari mereka kecuali Lionel dan juga Marcel yang saat itu menjadi bahan ejekan.
"Dari pada tuh siswi sama lo mending sama gue, sekalian jadi pelampiasan gue supaya gue bisa move on dari si Caca," ucap Fajar bangga yang langsung mendapatkan sorakan dari teman-teman nya.
"Yaah sama aja ****"
"Tulul"
"Yhaa kasian yang di putusin"
"Mamam tuh gamon"
"Kasian anak orang lu jadiin pelampiasan ******,"
Sorakan demi sorakan di berikan untuk Fajar dari teman-teman nya itu. Kasian yang gamon, wkwk.
"Yaudah sih, kan gue cuma bercanda." sungut Fajar yang lelah di ejek teman-teman nya.
"Cewek paling gak suka di jadiin pelampiasan, apa lagi di gantungin" ujar Aden yang baru membuka suara.
"Wiih, tumben lo bijak, Den" sorak Putra heboh yang mendapat dengusan dari Aden.
"Yon, ngomong napa. Diem mulu lo, udah kaya kesambet pintu aja" celetuk Martin menatap Lionel.
"Gak penting" balas Lionel singkat padat dan jelas.
"Eh buset, nih bocah dari tadi pantes diem mulu kaga ada suara nya, ternyata malah molor." ucap Zaki kaget saat mendapati Adji yang tertidur dengan kepala yang di taruh pada lipatan tangan yang di taruhnya di meja.
"Selamat pagi anak-anak," suara sapaan tersebut berhasil membuat mereka terlonjak kaget, kelas mendadak menjadi hening karena Bu Wati selaku guru terkiller SMA Dirgantara datang memasuki kelas untuk memulai pembelajaran hari ini.
"Dji bangun woi, udah ada Bu Wati" ucap Adly mencoba membangunkan Adji yang masih tidur.
"Woi bangun ****, astaga kebo banget nih anak" ucap Adly lagi sembari menoel-noel lengan Adji.
"Enghh" enguh Adji pelan dan membuka matanya, melihat Bu Wati sudah ada di dalam kelas membuatnya segera mengusap wajahnya dengan telapak tangan agar rasa kantuk nya hilang.
"Pada pembelajaran kali ini ibu tidak bisa mengawasi kalian karena ibu sedang ada rapat dengan guru-guru yang lain bersama kepala sekolah, jadi hari ini ibu hanya memberi kalian tugas yaitu silahkan kalian catat materi buku paket dari halaman 68 sampai halaman 76, kerjakan sampai waktu istirahat tiba dan langsung di kumpulkan di meja ibu. Kalau begitu ibu tinggal dulu, jangan ada yang ribut." jelas Bu Wati panjang kali lebar kali tinggi. Udah kaya rumus gak tuh, wkwk.
Wajah siswa siswi yang semula nampak berbinar karena guru-guru ada rapat sontak langsung berubah drastis saat mendengar tugas yang di berikan oleh Bu Wati tadi. Apa gak salah, tugas sebanyak itu di beri waktu mengerjakan sampai waktu istirahat tiba dan langsung di kumpulkan, bisa bayangkan bakal seperti apa tulisan mereka nantinya akibat terburu-buru menulis.
Bu Wati sudah pergi meninggalkan kelas menyisahkan siswa siswi yang kini masih saja melongo atas apa yang di ucapkan Bu Wati tadi.
"WOI KENAPA MALAH JADI PADA BENGONG, KERJAIN CEPETAN ****." mendengar teriakan tersebut membuat mereka langsung dengan cepat mencatat materi yang sudah di berikan Bu Wati tadi.
JEMPOL GUE APA KABAR WOI batin siswa siswi kelas ipa 2 histeris.
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Sedang di kelas lain tepatnya di kelas ipa 5, suasana kelas itu kini sangat gaduh lantaran mereka sedang free class karena para guru akan mengadakan rapat dengan kepala sekolah.
Seorang siswi baru yang kini nampak sedang berbincang dengan teman baru nya itu dengan asik di selingi canda tawa.
"Lo beruntung banget tau, baru pertama masuk udah langsung dapet free class kerena guru-guru pada rapat." celetuk Raisyah, salah satu siswi itu yang di balas kekehan yang lainnya.
"Mungkin emang ini rezeki nya si Mutia kali," timpal Meidy yang di angguki semua.
"WOI DIKA, PENGHAPUS GUE LO APAIN SAMPE GAK BERBENTUK LAGI KAYA GINI?!" teriak Michell marah ketika melihat penghapus nya yang sudah terbagi menjadi bagian-bagian yang sangat kecil.
"Gue potong-potong jadi kecil, kenapa emang?," balas Dika polos membuat Michell geram dengan teman sebangku nya tersebut.
"Gue baru beli penghapus itu kemaren asal lo tau, dan sekarang malah lo potong-potong penghapus nya," ucap Michell marah.
"Yah elah, tinggal beli lagi aja di koperasi susah amat, lagian penghapus harganya murah kok, kaga sampe seratus ribu." balas Dika dengan wajah tanpa dosa nya membuat Michell rasanya ingin sekali mencakar wajah Dika.
"Udah si Chell, tinggal beli lagi aja." celetuk Mutia yang di angguki Dika.
"Tapi Mut asal lo tau, dia ini sering banget ngerusakin alat tulis gue tau gak. Waktu itu penggaris gue dia mainin sampe patah belah empat, dia minjem pensil gue dan ternyatadia malah matahin pensil gue sampe belah tiga, lable gue juga di coret-coret sama dia pake pensil warna, pulpen gue pecah gara-gara di injek sama dia, bahkan kostak gue juga waktu itu pernah dia coret-coret sama dia." jelas Michell panjang lebar sambil menatap Dika marah.
Mutia, Meidy, Raisyah, Ara, Monika, Ayu, Anjani, Citra, dan Auryn yang mendengar cerita Michell tadi lantas tertawa terbahak-bahak.
"Ck, kok kalian malah ketawa sih, gak ada yang lucu tau" decak Michell masih kesal. Mereka justru tambah ngakak saat melihat wajah Michell yang merah padam menahan kekesalannya. Emang lucu ya, garing banget sih mereka wkwk.
"Aduh gue gak tahan, kebelet. Gue ke toilet dulu ya," pamit Mutia karena terlalu banyak tertawa sampai-sampai membuatnya kebelet.
Mutia keluar kelas menuju toilet. Setelah selesai, ia langsung bergegas kembali menuju kelas. Tapi tiba-tiba..
Brukk..
Mutia seperti menabrak dada bidang seseorang. Ia mengusap dahi nya yang terasa sakit dan mendongak untuk melihat siapa orang yang bertabrakan dengannya tadi.
"Lo kalau jalan liat-liat kek, sakit tau dahi gue" omel Mutia pada orang tersebut membuat orang tersebut langsung menatap tajam Mutia. Bukannya takut, Mutia malah kembali membalas menatap tajam lelaki di hadapannya kini.
"Lo berani bentak gue?," tanya lelaki tadi sarkas.
"Ya berani lah, ngapain gue harus takut sama lo" ucap Mutia sambil menunjuk orang itu.
Lionel. Lelaki itu kini sudah tersulut emosi karena Mutia yang dengan beraninya membentak bahkan kenunjuk dirinya seperti tadi.
Lionel membaca name tag perempuan yang ada di hadapannya kini. Mutia Anggraeni, batin Lionel.
"Lo udah berani macem-macen sama gue," ucap Lionel menatap tajam manik mata Mutia.
"Lo udah berhasil mengusik ketenangan singa Dirgantara, dan mulai sekarang lo berurusan sama gue" ucap Lionel penuh tekanan di setiap kata yang di lontarkan nya.
"Idih emang nya lo siapa sih, belagu banget jadi orang" ujar Mutia memutar bola matanya malas meladeni cowok yang ada di hadapannya sekarang.
"Gue, Lionel Adriano Siregar." ucap Lionel dingin dan setelah itu langsung pergi begitu saja meninggalkan Mutia yang bingung.
"Tuh cowok gak jelas banget sih jadi orang," gumam Mutia "stres kali ya, gak tau lah bodo." lanjut Mutia.
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Bersambung...