
...“Gue tertarik sama dia, salah kalau gue deketin dia?”...
...—Reynan Alexander Siregar...
...HAPPY READING ❤️...
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Pagi ini Lionel sudah berkumpul dengan teman-teman nya di warung belakang sekolah, di mana lagi kalau bukan di warung neng Ayla. Sesuai dengan apa yang Lionel perintahkan dengan Mutia kemarin, dia sedang menunggu gadis itu sembari memainkan ponselnya anteng tidak seperti teman-teman nya yang lain, terutama Adly dan Martin yang terus saja berebut gorengan.
"Wih pagi-pagi gini tumben ada ciwi-ciwi cantik dateng ke sini," seru Marcel menatap sekumpulan siswi yang datang menghampiri mereka.
"Gue cuma mau nganterin ini buat Lionel" ujar Mutia sembari menyodorkan kotak makan yang ia genggam dan menaruh di meja tepat di hadapan Lionel. Lionel menatap sejenak kotak makan itu dan beralih menatap Mutia. Lionel menerima kotak makan itu.
Teman-teman Lionel yang lain sukses di buat terkejut akibat pemandangan yang ada di hadapan mereka kini. Seorang Lionel mau nerima makanan dari orang lain, cewek pula, WTF apa yang terjadi?!
"Kalau gitu gue permisi,"
"Tunggu" baru saja ingin membalikkan badan, ucapan Lionel membuat Mutia kembali membalikkan badan menghadap lelaki itu.
"Cuma ini?," ujar Lionel menunjuk kotak makan yang Mutia berikan tadi.
"Iya lah, kan lo nyuruh gue bawain lo makanan kan, tuh udah gue bawain, masih kurang?!" tanya Mutia sensi. Teman-teman Lionel lagi-lagi di buat terkejut atas kalimat yang di lontarkan Mutia tadi.
"Wah ada apa nih, rame-rame" ujar Ayla tiba-tiba datang menghampiri.
"Eh, lo anak baru itu kan?" tanya Ayla menunjuk Mutia yang di balas anggukan dan seulas senyum dari Mutia.
"Oh, kalau gitu gue duluan, bye semua" ujar Ayla melambaikan tangan ke arah mereka semua dan berlalu pergi meninggalkan warung untuk ke sekolah.
Entah kenapa setelah Ayla pergi meninggalkan warung, suasana warung kini berubah menjadi lebih mencekam. Citra sedari tadi terus saja menundukkan kepala nya, tidak berani mendongak.
"Cit, Putra kok kayaknya dari tadi ngeliatin lo mulu ya? Apa cuma perasaan gue doang?," bisik Raisyah ke telinga Citra yang kini berada di sebelah nya. Citra gelagapan, bingung harus menjawab apa.
"Perasaan lo aja kali," balas Citra kikuk.
"Ikut gue," Lionel kembali membuka suara. Lagi, lagi, dan lagi, Lionel menarik tangan Mutia tiba-tiba meninggalkan warung itu, tangan kirinya menggenggam kotak makan Mutia, sedangkan tangan kanannya menarik tangan Mutia yang terus saja memberontak.
"Nggak usah narik-narik bisa nggak sih, gue bisa jalan sendiri" Lionel tidak menghiraukan Mutia yang terus memberontak di belakang nya untuk melepaskan tarikan nya. Ia terus menarik tangn Mutia ke suatu tempat.
Sedangkan di warung neng Ayla tadi, teman-teman Mutia ingin kembali ke sekolah. Tapi baru saja mereka berbalik, sebuah panggilan mampu membuat mereka menghentikan pergerakan untuk kembali ke sekolah.
"Citra" panggilan itu berasal dari Putra yang kini sudah berdiri dari tempatnya duduk tadi. Sekujur tubuh Citra tiba-tiba saja menjadi tegang saat Putra memanggil namanya.
Citra membalikkan badannya begitu juga dengan temannya yang lain, kepalanya terus menunduk menatap ke bawah dengan jemari yang terus ia mainkan. Lionel CS pun kini sudah memusatkan perhatian mereka pada Putra yang kini justru berjalan mendekat ke arah Citra berdiri.
"Gue perlu bicara sama lo," ujar Putra saat sudah sampai di hadapan Citra yang kini masih setia menundukkan kepalanya.
"Kalau gitu kita duluan ya, Cit" pamit Raisyah di ikuti temannya yang lain.
"Ikut gue." Citra hanya mengikuti arah kemana Putra berjalan, fikiran nya sejak tadi terus saja menerka apa yang ingin Putra bicarakan. Sedangkan Lionel CS yang lain kini saling melemparkan pandangan mereka, menatap bingung ke arah Putra dan Citra pergi tadi.
"Tadi Lionel, sekarang Putra. Mereka lagi kenapa sih?" tanya Maulana yang hanya di balas dengan kedikan bahu dari yang lain.
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Lionel dan Mutia kini sedang berada di UKS, entah kenapa tiba-tiba Lionel menarik Mutia hingga tiba di UKS. Lionel mendudukkan dirinya di sofa yang terdapat di ujung ruangan UKS tersebut. Matanya seperti membari kode ke arah Mutia yang kini masih berdiri di depan pintu UKS, untuk ikut mendudukkan diri di sebelahnya.
Dengan perlahan Mutia berjalan mendekat dan berakhir mendudukkan diri di sebelah Lionel, Mutia sengaja memberikan jarak antara dirinya dan Lionel.
"Lo ngapain sih, ngajak gue ke UKS kaya gini?" tanya Mutia mulai membuka suara.
"Sepi" balas Lionel yang sama sekali tidak di mengerti oleh Mutia.
"Maksud lo?," tanya Mutia lagi. Lionel menghembuskan nafasnya kasar.
"Nggak perlu" tanpa menjawab pertanyaan Mutia, Lionel justru mengulurkan tangannya yang sedari tadi memegang kotak makan milik Mutia dan menyodorkan nya ke arah Mutia. Tatapan mata lelaki itu menatap lurus ke depan.
Mutia mengerutkan kening nya, pertanda bingung. "Maksudnya apaansi? Lo kalau ngomong nggak usah setengah-setengah gitu, bikin orang bingung tau nggak." lagi dan lagi, Lionel menghembuskan nafasnya kasar, matanya menyorot tajam seperti biasa.
"Gue nggak perlu makanan dari lo itu," ucap Lionel enteng membuat Mutia mendelikkan matanya.
"Apa maksud lo? Kemarin lo sendiri yang nyuruh gue bawain lo makanan, tapi sekarang lo sendiri yang bilang nggak perlu?" geram Mutia menatap nyalang ke arah lelaki di hadapan nya kini. Lionel diam tidak menyahuti perkataan Mutia.
"Lo sengaja mau ngerjain gue ya?!" tuduh Mutia menunjuk wajah datar Lionel menggunakan telunjuk nya. Lionel hanya menjawab dengan gumaman yang terdengar begitu santai, wajah nya pun sama sekali tidak menandakan ekspresi sedikitpun.
"Lo itu ya..." geram Mutia tertahan. Matanya menatap Lionel seakan ingin menerkamnya saat itu juga. Ia lalu langsung menyambar kotak makan miliknya yang di sodorkan Lionel tadi.
Mata Mutia tidak sengaja melihat ke arah lengan sebelah kiri Lionel. Di sana terdapat luka semacam goresan. Mutia menjadi ingat kejadian beberapa hari yang lalu, di saat Lionel menolongnya saat dirinya hampir tertabrak motor. Mutia ingat betul kalau pada saat itu Lionel seperti meringis kecil seperti menahan sakit. Luka itu tidak bisa di bilang kecil, luka nya memanjang dan terlihat memerah. Apa Lionel belum ngobatin luka nya?
"Ini luka lo karena nolongin gue malam itu kan?," tanya Mutia menunjuk luka pada lengan kiri Lionel. Lionel hanya menatap sejenak lengan kirinya, dan setelah itu kembali acuh, sama sekali tidak menjawab pertanyaan Mutia tadi.
Mutia mengendus dan beralih dari duduk nya. Ia berjalan mengambil kotak obat berniat membersihkan luka Lionel.
"Karena hari ini gue lagi baik, dan luka lo itu juga terjadi karena lo nolongin gue waktu itu, jadi gue obatin sekalian luka lo itu, biar nggak infeksi." ucap Mutia setelah kembali ke posisinya semula.
"Luka lo pasti belum di obatin kan, bahkan sampe memerah gini. Kalau infeksi gimana, gimanapun juga kan ini gara-gara lo nolongin gue waktu itu, jadi anggap aja ini sebagai rasa terima kasih gue karena lo mau nolongin gue" jelas Mutia, walau tadi ia sempat kesal dengan lelaki itu, tapi ia juga merasa luka Lionel itu terjadi karenanya. Lionel sontak mengalihkan perhatiannya menatap Mutia karena ucapan gadis itu barusan.
Mutia mulai meneteskan alkohol pada kapas di genggamannya dan menarik lengan Lionel pelan, setelahnya Mutia menempelkan kapas itu pada luka Lionel dengan perlahan. Perlakuan Mutia itu juga tidak lepas dari penglihatan Lionel, ia menatap lamat-lamat ke arah Mutia yang kini sedang serius menempelkan kapas yang sudah di teteskan alkohol tadi ke lengan Lionel.
Sedetik kemudian Lionel menggelengkan kepalanya. Nggak, lo apaan sih Lionel.
Mutia melanjutkan pergerakannya dengan menempelkan kapas baru ke lengan Lionel, dan Mutia menambahkan hansaplast sebagai perekat kapas tersebut.
"Selesai" gumam Mutia setelah merasa selesai mengobati lengan Lionel tadi.
Mutia kembali bangkit sembari membawa kotak obat tadi, untuk di taruh ke tempatnya semula.
Saat Mutia balik menghampiri Lionel di sofa tadi, Mutia menatap Lionel terkejut. Mutia melihat Lionel sedang menyamtap makanan yang di bawa Mutia tadi, yang sempat di tolak lelaki itu.
"Loh, tadi lo bilang—"
"Berisik, gue lagi makan."
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Di taman belakang sekolah kini terdapat sepasang siswa dan siswi yang menggunakan seragam SMA Dirgantara. Mereka duduk bersebelahan di bangku kayu yang terdapat di taman belakang sekolah tersebut. Suasana taman yang sejuk membuat hati mereka merasakan kenyamanan tersendiri. Sudah beberapa menit mereka berada di sana, tetapi hanya kesunyian yang menghampiri keduanya. Tidak ada yang membuka suara lebih dulu, hingga salah satu di antara mereka menghembuskan nafasnya pelan dan mulai bertanya.
"Mau ngomong apa tadi?" tanya Citra setelah beberapa menit hanya keheningan yang tercipta.
"Gue nggak bisa nerima keputusan mereka," gumam Putra menjawab pertanyaan Citra tadi.
Citra menghela nafasnya lelah. Sudah di duga, lelaki di samping nya itu pasti akan membahas perihal masalah itu lagu.
"Gue juga," balas Citra pelan, kepalanya kembali menunduk, jemari nya tak henti ia mainkan, pandangan matanya ke bawah kosong.
"Tapi gue nggak mau ngebuat mereka kecewa," Putra kembali berujar yang hanya di balas anggukan dari Citra.
"Terus kita harus gimana?" tanya Citra membuat Putra menoleh.
"Gue nggak tau. Di satu sisi, gue mau ngeliat mereka bahagia dan nggak mau ngeliat mereka kecewa, tapi di sisi lain, soal perasaan nggak bisa di paksain, Cit. Mungkin harus membutuhkan waktu yang cukup lama bagi gue." jawab Putra, pandangan nya seperti menerawang ke depan.
"Semuanya terlalu serba salah" gumam Citra yang di balas anggukan dari Putra.
"Dan kita nggak punya pilihan lagi."
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Bel istirahat kini Mutia dkk hanya berdiam diri di kelas. Mereka merasa malas untuk pergi ke kantin untuk saat ini. Jadilah sekarang mereka lebih memilih untuk menyibukkan diri mereka sendiri di dalam kelas. Di sana tidak ada siswa siswi lain selain mereka.
"Kok gue tiba-tiba ngerasa laper ya?" ujar Ara sembari memegang perut nya.
"Gue juga nih, ke kantin yuk, nggak nahan gue laper banget" sahut Michell yang di angguki mereka semua kecuali Citra yang sedari tadi hanya diam.
"Cit, lo ikut ke kantin juga nggak?" tanya Meidy menatap Citra.
"Nggak, gue di sini aja, lagi males" balas Citra lesu.
"Beneran?" tanya Raisyah memastikan yang di balas anggukan dari Citra. "Yaudah kita ke kantin dulu ya, mau nitip makanan nggak?" tanya Auryn kini menimpali, dan hanya di balas gelengan kepala dan seulas senyum tipis dari Citra.
Mereka menatap bingung ke arah Citra, tidak biasanya gadis itu menjadi lesu gini. Apa ada sesuatu yang terjadi hingga membuat Citra seperti kehilangan semangat seperti ini? Sedari tadi juga Citra terlihat lebih diam dan tidak banyak omong, bahkan ia seringkali menundukkan kepalanya dan memilih memainkan jemarinya.
Mereka akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantin walaupun rasa penasaran terus saja menghantui mereka tentang Citra.
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Lionel kini sedang berada di rooftop bersama seorang siswa. Mata Lionel menatap nyalang ke arah lelaki di hadapannya kini.
"Jadi cewek itu yang sekarang lagi deket sama lo?"
Lionel sama sekali tidak ada niatan untuk sekedar membalas pertanyaan tidak bermutu dari lelaki di hadapannya tersebut, matanya terus saja menatap nyalang ke arah lelaki yang kini sedang menyunggingkan smirk nya.
"Cantik juga dia, gue suka"
Reynan Alexander Siregar, kakak tiri Lionel yang sifatnya berbanding terbalik dengan Lionel. Namun di balik sifatnya yang terkenal lembut, terdapat hal licik dalam dirinya tersebut, membuat Lionel merasa benci pada kakak tirinya tersebut. Bahkan Lionel tidak pernah menganggap nya sebagai kakak. Reynan merupakan ketos di SMA Dirgantara. Sifatnya yang lembut membuat kaum hawa juga kebanyakan mengagumi ketos tampan mereka itu.
Dada Lionel bergemuruh mendengar perkataan Reynan barusan. Lelaki di hadapannya kini benar-benar licik, pikirnya. Bisa-bisanya semua orang beransumsi kalau Reynan adalah lelaki yang baik, padahal lelaki itu juga tidak jauh dari kata seorang lelaki pengecut. Reynan sangat pintar dalam urusan memonopoli fikiran orang-orang di sekelilingnya, tapi tak dak dengan Lionel.
Tangan Lionel terkepal, matanya memerah menahan emosi. Reynan tadi meminta dirinya untuk menemui dia di rooftop untuk membahas hal tidak penting seperti ini. Buang waktu, pikir Lionel.
"Licik" geram Lionel menatap Reynan seakan singa yang ingin menerkam mangsa nya.
"Gue tertarik sama dia, salah kalau gue deketin dia?" ujar Reynan dengan smirk yang masih terlihat. Emosi Lionel lagi-lagi tersulut karena lelaki di hadapan nya kini. Lionel mati matian menahan dirinya agar tidak melayangkan bogeman ke wajah lelaki licik di hadapannya kini. Lionel sudah terlanjur muak dengan semua kata-kata yang terlontar dari bibir lelaki itu. Ia sangat membenci lelaki di hadapannya kini.
"you're a sneaky man I've ever met, and I really hate cunning people like you, remember that!."
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Bersambung...