Lionel

Lionel
Lionel 12



...“Kenapa lo mau tau banget sama urusan pribadi gue?” ...


...—Lionel Adriano Siregar ...


.... ...


.... ...


.... ...


...HAPPY READING ❤️...


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Pelajaran kini tengah berlangsung setelah istirahat jam pertama selesai.


"Siang, anak-anak" sapa pak Guntur saat memasuki kelas IPA 5.


"Siang pak," balas mereka serentak.


Pak Guntur terlihat sedang menatap seluruh siswa dan tatapannya berhenti ketika melihat Mutia.


"Mutia" panggil pak Guntur membuat Mutia menunjuk dirinya sendiri bingung.


"Saya pak?" tanya Mutia.


"Iya kamu, bapak mau minta tolong boleh?," tanya pak Guntur membuat Mutia mengangguk.


"Boleh pak, minta tolong apa?" tanya Mutia sembari beranjak mendekati pak Guntur.


"Kamu kenal dengan Lionel kan?"


"Kenal pak, ada apa ya pak?" tanya Mutia sembari mengernyitkan dahinya bingung.


"Kalau gitu, tolong carikan Lionel ya, tadi dia di panggil ke ruangan bu Widia" suruh pak Guntur menatap Mutia penuh harap.


"Sekarang pak?" tanya Mutia ragu.


"Tahun depan, ya sekarang dong" jawab pak Guntur lalu terkekeh di akhir kalimatnya.


"B-baik pak." jawab Mutia terbata. Dalam hati Mutia terus bertanya sembari berdecak kesal. Kenapa harus dia yang nyari cowok rese itu? Kenapa nggak yang lain.


Ck, nyusahin lo, dasar singa! Batin mutia mencak-mencak.


Mutia berjalan gontai keluar kelas untuk mencari keberadaan Lionel yang entah dimana, Mutiapun tidak tahu. Selama perjalanan, Mutia tidak pernah berhenti untuk mengumpati cowok itu, ia terlanjur sebal dengan cowok yang satu itu, siapa lagi kalau bukan Lionel Adriano Siregar.


"Eh, lo liat Lionel di mana, nggak?" tanya Mutia pada seorang siswa yang kebetulan lewat di hadapannya.


"Tadi sih gue liat dia jalan ke arah rooftop, kalau nggak salah. Coba aja di cek" ujar siswa tadi yang di balas anggukan oleh Mutia.


"Thanks, ya"


Lagi, dengan langkah yang gontai Mutia melanjutkan perjalanan nya menuju rooftop untuk memastikan apakah benar Lionel ada di sana. Mutia kesal, Lionel kali ini benar-benar merepotkan. Mutia menaiki anak tangga satu persatu hingga sampai di depan pintu rooftop.


Tanpa pikir panjang lagi, Mutia segera membuka pintu tersebut. Mutia sempat terkejut sekaligus kagum atas apa yang Mutia lihat, pemandangan di rooftop ini sangat indah. Tatapan Mutia kini beralih pada sofa usang yang berada di pojok. Di sana terlihat Lionel yang sedang duduk dengan mata terpejam dan sebatang rokok di sela jarinya. Sepertinya lelaki bertubuh tegap itu belum menyadari kehadiran Mutia di sana.


Kaki jenjang Mutia kini berjalan melangkah ke arah sofa usang, tempat Lionel berada. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Mutia segera mendudukkan dirinya di sebelah Lionel. Tatapannya mengarah lurus ke depan.


Menyadari ada seseorang yang duduk di sebelahnya, Lionel membuka matanya dan beralih menatap ke samping tempat Mutia duduk. Sempat terkejut saat melihat Mutia ada di sampingnya sekarang. Untuk apa dia di sini?.


"Lo di suruh ke ruangan bu Widia, katanya" ucap Mutia seakan menjawab pertanyaan yang sedari tadi bersarang di otak Lionel.


"Tau dari mana, gue di sini?" tanya Lionel mengabaikan ucapan Mutia tadi.


Mutia beralih menatap Lionel yang masih menatapnya, tatapan keduanya bertemu. Namun tidak lama, karena setelahnya Mutia kembali memutuskan kontak mata tersebut dan kembali menatap lurus ke depan.


"Tadi ada siswa yang lewat, terus katanya dia ngeliat lo jalan ke arah rooftop, yaudah gue samperin" jelas Mutia singkat namun jelas.


Lionel tidak mengeluarkan sepatah katapun lagi setelah itu. Tatapannya kini juga sudah beralih menatap lurus ke depan, sama seperti apa yang di lakukan Mutia. Lionel membuang dan mematikan puntung rokok yang sedari tadi di apit oleh jarinya.


"Ngapain?" tanya Lionel datar. Mutia mengernyit bingung, ia sama sekali tidak paham maksud pertanyaan Lionel tadi.


"Ngapain, apanya?" tanya Mutia balik membuat Lionel berdecak.


"Ngapain masih di sini?" tanya Lionel kembali memperjelas, membuat Mutia ber'oh'ria.


"Elo sendiri, ngapain masih di sini, nggak ke ruangan bu Widia?" lagi dan lagi, Lionel berdecak sebal. Mutia ini, kalau di tanya selalu menanya balik, apa susahnya sih tinggal menjawab.


"Males" Lionel hanya menjawabnya dengan nada yang terkesan ketus, dingin, dan dengan wajah tembok nya.


"Muka lo kayak kusut banget, lagi ada masalah ya?," tanya Mutia menunjuk Lionel membuat lelaki itu melirik sekilas ke arah Mutia melalui ekor matanya.


"Kepo" jawab Lionel lagi-lagi dengan ketus.


"Kalau ada masalah nggak usah di pendem-lendem sendiri, nggak enak tau. Kan lo bisa berbagi masalah lo ke temen-temen lo, mungkin."


"Lo nggak tau apa-apa, jadi mending diem" ketus Lionel membuat Mutia mengelus dadanya pelan. Sabar Muti, sabar.


"Gimana gue bisa tau, lo sendiri aja nggak pernah berbagi cerita atau masalah ke orang lain. Lo selalu mendem itu sendirian" jawab Mutia.


"Sok tau, lo"


Mutia hanya mengedikkan bahunya acuh.


"Ya gue cuma mau, lo nggak mendem masalah lo sendiri. Mungkin, dengan lo cerita atau berbagai masalah lo ke temen-temen lo, lo bisa ngerasa lega" jawab Mutia membuat Lionel kini menatapnya lekat. Lionel rasanya enggan untuk sekedar mengalihkan pandangannya dari Mutia yang berada di sebelah nya kini.


"Gue nggak suka kalau orang tau masalah pribadi gue, maupun itu teman terdekat gue" tukas Lionel.


"Emang lo nggak cape, mendam semua beban hidup lo sendiri? Lo juga manusia biasa kali, gue tau sebenarnya lo rapuh. Tapi lo seakan nggak mau kalau orang lain sampai tau kalau lo sedang rapuh. Ego lo lebih besar, gue tau itu" ujar Mutia membuat Lionel kini menatapnya lebih lekat. Entah kenapa, seperti ada ribuan kupu-kupu kini yang berterbangan di perutnya saat tau Lionel menatapnya sangat lekat. Mutia juga merasakan kini pipinya yang memanas, mungkin kini pipinya terlihat memerah.


"Belum saatnya mereka tau masalah gue. Dan untuk masalah gue, gue udah terbiasa nanggung itu semua sendiri, tanpa bantuan dari seorangpun. Jadi gue masih merasa fine." jawab Lionel masih dengan menatap Mutia lekat. Mutia terdiam.


"Pipi lo merah"


Mutia melebarkan matanya mendengar kalimat yang terlontar begitu saja dari mulut lelaki di hadapannya kini.


Hanya dengan tiga kata, sebelas huruf. Hanya dengan itu, mampu membuat Mutia merasa sangat salah tingkah. Pipinya justru kini semakin memerah karena ucapan Lionel barusan. Bahkan lelaki itu saja kini sudah meluruskan kembali pandangan nya ke depan.


"Y-ya udah, mending lo sekarang ke ruangan bu Widia. Gue mau balik ke kelas" masih dengan perasaan salting nya, Mutia berdiri dari duduk nya dan berlari kecil menuju pintu rooftop untuk kembali ke kelasnya. Mutia rasanya sudah tidak tahan lagi kalau harus berlama lagi di sana. Pipinya mungkin akan terbakar karena rasa salah tingkah nya.


Lionel menatap Mutia yang kini sudah hilang di balik pintu rooftop tersebut. Entah dorongan dari mana dan entah sadar atau tidak, Lionel menarik tipis kedua sudut bibirnya ke atas, menampilkan senyum tipis di wajah tampannya yang selalu menampilkan ekspresi datarnya.


Entah mengapa, Lionel merasa nyaman ketika berbincang dengan Mutia. Gadis itu sangat asik ketika di ajak bicara. Walaupun terkadang suka membuat Lionel kesal sendiri, dan Mutia juga sangat cerewet. Tapi Lionel terasa nyaman ketika sedang bersama Mutia.


Sadar dengan apa yang sedang dirinya fikirkan, Lionel segera menggelengkan kepalanya dan merubah ekspresi nya kembali menjadi datar. Lionel menepis jauh-jauh fikiran nya yang tadi.


Mikir apaan sih, gue.! Batin Lionel.


Namun tidak sampai tiga detik setelahnya. Senyum Lionel kembali terbit, kali ini bukan hanya senyum tipis, melainkan senyum yang mampu membuat kedua matanya menyipit.


Mungkin kalau para siswi melihat Lionel sedang tersenyum seperti ini, mereka akan menjerit histeris, atau bahkan secara terang-terangan akan memotret dirinya saat itu juga, karena momen seperti ini sangatlah langka.


Begitu juga dengan teman-teman nya, mungkin mereka akan menganga, atau bahkan menuduh Lionel sedang kerasukan atau kurang obat.


Senyuman dari seorang Lionel Adriano Siregar merupakan senyuman langka. Tidak gampang untuk melihat senyuman tersebut. Dan tidak mudah juga membuat seorang Lionel menampilkan senyumnya itu. Dan kini, tercatat dalam sejarah bahwa, Mutia Anggraeni berhasil membuat Lionel Adriano Siregar menampilkan senyuman langkanya tersebut. Bahkan hanya dengan hal sepele yang di tampilkan Mutia, mampu membuat senyum itu terbit.


Mungkin terdengar lebay, tapi memang adanya seperti itu.


...🦁🦁🦁...


Jam istirahat terakhir kali ini sedang berlangsung. Suasana kantin saat ini tidak ramai. Hanya ada beberapa siswa atau siswi saja. Termasuk Lionel CS.


"Si Putra kemana nih, tumben nggak ada" tanya Aden.


"Nggak tau tuh, tadi waktu bel bunyi dia kayak buru-buru gitu keluar kelas, nggak tau mau kemana" balas Afwan.


"Eh, btw lo tadi di suruh ke ruangan bu Widia, Nel" ujar Maulana menatap Lionel yang sedari tadi hanya diam sembari memainkan ponselnya.


Lionel mengangkat kepalanya mendongak, untuk menatap Maulana. Sedetik kemudian kepalanya mengangguk.


"Udah tau" balas Lionel acuh.


BRAK.


Tiba-tiba saja Adji bangkit sembari memukul meja dengan keras membuat semua yang ada di sana terjungkal kaget. Adji hanya menampilkan wajah tanpa dosanya ketika mereka menatap ke arahnya dengan tatap tajam, terutama Lionel yang menampilkan tatapan membunuhnya, membuat Adji merinding sendiri.


"Ngapain sih, lo" tanya Afwan kesal.


"Tau, ngingetin aja lo" timpal Fajar membuat Adji menampilkan cengiran nya.


"Hehe, maap-maap." ucap Adji tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Kenapa sih?" tanya Marcel ketus.


"Nggak pa-pa, biar rame aja gitu" ucap Adji dengan santainya, membuat mereka rasanya ingin membuang Adji sekarang juga ke jurang. Buang aja, nggak pa-pa, author ikhlas.


Saat Adji ingin kembali mendudukkan bokong nya ke kursi, dengan santai nya Aden yang memang duduk di sebelah Adji, kaki Aden menendang kursi yang akan di duduki oleh Adji hingga tergeser ke belakang.


BRUK.


"Bwahahaahaahahahahahaa" tawa mereka pecah saat melihat Adji jatuh ke lantai saat hendak duduk, Lionel hanya menggelengkan kepala nya melihat itu.


"****** lo, emang enak" ejek mereka yang melihat Adji kini sedang meringis sembari mengusap pantatnya yang baru saja mencium lantai kantin.


"Makan tuh lantai"


"Siapa suruh bikin kita kaget, kena karma kan lo"


"SIALAN LO SEMUA" jerit Adji histeris yang justru membuat tawa teman-teman nya semakin pecah.


"Anjirlah perut gue sakit,"


"Rahang gue pegel, astaga"


"Woy lah, kebelet nih gua"


"WOY CARA NGEBERHENTIIN KETAWA GIMANA??!"


"Anjing lah, punya temen pada gini amat, gada akhlak lo pada, nak dakjal dasar" umpat Adji sembari bangkit. Lagi, Adji di buat kesal karena justru tawa mereka semakin gempar.


"Gue doain, lo semua dapet azab."


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Bersambung...