
...“Terkadang rasa nyaman membuat kita lupa bahwa sebenarnya hanya sebatas teman.” ...
...—Lionel Adriano Siregar ...
...•...
...•...
...•...
...Pernahkah cinta hadir dalam hidupmu? ...
...Karena kini kumerasakannya...
...Semenjak itu hanya satu harapku...
...'Tuk bersamamu menjalani semua...
...Namun akhirnya kutahu...
...Bahwa cintamu bukanlah untukku, ho-ooh...
...Kasih sakit hati ini yang kau khianati...
...Saat semuanya telah kuberi...
...Kasih jangan kau kembali...
...Ku tak sanggup lagi ...
...Bila kau hanya datang untuk pergi ...
...Awalnya pikirku cinta akan bahagia ...
...Takkan ada sedih ataupun galau...
...Sungguh hebat dirimu bisa berpura-pura ...
...Seakan aku pemilik cintamu...
...🎶🎵Datang Untuk Pergi — Genta🎵🎶...
...HAPPY READING! ...
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Pagi ini seperti biasanya, Mutia sudah bersiap untuk pergi sekolah. Ia sedang kembali menge-cek tas yang di bawanya agar tidak ada buku yang mungkin saja tertinggal.
Setelah dirasa semuanya sudah siap, Mutia menyampirkan tas ke punggung nya. Baru saja melangkah menuju pintu kamar, tetapi pintu itu lebih dahulu terbuka dari luar dan menampilkan mama nya yang ternyata membuka pintu kamarnya tadi.
"Kamu udah siap? Teman kamu udah nunggu di bawah tuh, katanya mau berangkat bareng sama kamu." ujar mama nya membuat Mutia mengernyitkan dahinya bingung.
"Siapa, mah?" tanya Mutia, berjalan menghampiri mama nya.
"Itu, siapa ya namanya, mamah lupa. Oh iya, kalau nggak salah namanya Lionel." jawab sang mama membuat Mutia terkejut bukan main. Jadi lelaki itu serius akan menjemputnya hari ini? batin Mutia.
"Hey, kok kamu malah bengong di sini. Ayok, dia udah nunggu kamu, tuh." ucap mama nya mampu membuyarkan lamunan Mutia.
"Ah, iy-iya mah" jawabnya terbata.
...🦁🦁🦁...
Sesampainya Mutia di lantai bawah rumahnya. Mutia melihat Lionel yang terlihat sedang berbincang dengan papa nya di kursi ruang tamu.
"Papah nggak ke kantor?" tanya Mutia saat sampai di hadapan mereka.
"Iya, nanti siang papa ke kantor." jawab papanya.
"Udah?" tanya Lionel membuka suara, menatap Mutia.
"Udah." jawab Mutia, balas menatap Lionel.
"Pah, mah, Muti berangkat dulu." pamit Mutia sembari menyalimi punggung tangan papa dan mama nya.
Lionel menatap Mutia beserta kedua orang tua Mutia dengan ragu. Apakah ia juga harus bersalaman seperti yang dilakukan oleh Mutia tadi, dengan orang tua gadis itu? Tadi saat datang ke sinipun Lionel tidak bersalaman dengan kedua orang tua Mutia. Lionel hanya takut kedua orang tua Mutia mengira kalau Lionel tidak sopan.
Mutia yang melihat Lionel seperti kebingungan pun paham.
"Nggak usah salim, pamit aja." bisik Mutia pada Lionel. Lionel hanya mengangguk.
"Saya dan Mutia berangkat dulu om, tan." ujar Lionel yang hanya di angguki oleh mereka.
"Hati-hati ya, jangan ngebut bawa motornya, jagain anak saya." balas papa Mutia berujar yang hanya di balas anggukan oleh Lionel.
Lionel dan Mutia akhirnya pergi meninggalkan pekarangan rumah Mutia menggunakan motor Lionel.
"Tadi Mutia sempat cerita, katanya beda keyakinan, jadi maklumin aja." jawab Hilda--mama Mutia menjawab yang hanya di balas dengan sekali anggukan oleh Noval.
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Selama perjalanan, antara Lionel maupun Mutia tidak ada yang membuka pembicaraan terlebih dahulu. Lionel fokus mengendarai motornya dengan kecepatan yang stabil. Mutia sibuk memperhatikan jalanan, meski rasanya Mutia masih tidak yakin kalau Lionel benar-benar menjemputnya tadi.
"Gue kira omongan lo kemarin bohong" ujar Mutia yang akhirnya membuka suara terlebih dahulu.
"Yang mana?" tanya Lionel.
"Lo akan jemput gue pagi ini, dan berangkat bareng." lanjut Mutia.
"Gue nggak pernah main-main sama ucapan yang gue lontarkan." balas Lionel.
"Tapi kenapa lo mau ngelakuin ini? Sedangkan lo aja mempunyai julukan di sekolah sebagai Singa Kutub." ucap Mutia.
"Nggak tau, gue cuma ngerasa beda kalau lagi sama lo." balas Lionel seadanya yang justru membuat semburat merah muncul di pipi Mutia. Apa ini? Kenapa Mutia malah baper sama ucapan Lionel barusan? Oh god.
Lionel melirik ke arah kaca spion nya dan menampilkan Mutia yang sedang memejampak matanya dengan pipi yang blushing. Lionel tersenyum kecil melihatnya.
Astaga, apaansih gue. Batin Lionel sadar. Lionel akhirnya kembali fokus kejalanan memghiraukan Mutia yang kini masih blushing.
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Lionel memarkirkan motornya di parkiran motor SMA Dirgantara. Sudah Mutia pastikan. Pasti saat ini ia dan Lionel sudah menjadi pusat perhatian para siswa Dirgantara. Mutia turun dari motor Lionel dan mengedarkan pandangan nya.
Sudah ia duga, lihat saja, saat ini Mutia dan juga Lionel sudah menjadi pusat perhatian. Ada yang menatap ke arah Mutia iri, bahkan ada juga yang menatapnya tidak suka. Tapi ada juga yang menghiraukan Mutia dan malah memuji ketampanan Lionel.
Mutia menundukkan kepalanya, tidak berani mendongak.
"Gue duluan, thanks." ucap Mutia masih dengan menundukkan kepalanya. Lionel tidak membalas ucapan Mutia tadi dan lebih memilih melangkahkan kakinya menuju kelas dan menghiraukan siswa siswi lainnya yang masih menatapnya bingung.
Mutia melangkahkan kakinya dengan tergesa memasuki kelasnya. Sesampainya di kelas, tidak terlalu banyak siswa maupun siswi yang sudah datang. Bahkan teman-temannya pun masih belum datang.
Mutia berjalan menghampiri kursinya dan mendudukkan dirinya di sana. Tak lama kemudian, terdengar suara gaduh berasal daru luar kelasnya, Mutia menoleh dan menampilkan teman-teman nya yang berlarian tergesa menuju ke arah Mutia duduk.
Mutia hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Pasti setelah ini dirinya akan di interogasi oleh mereka.
"Mutia, gue nggak mau tau, pokoknya lo harus cerita sama kita, titik." ujar Auryn yang di angguki yang lain.
"Cerita apa?" tanya Mutia pura-pura tidak tau.
"Aduh Muteeee, udah deh ngga usah sok nggak tau." ucap Raisyah menimpali.
"Iya, iyaa. Kemarin Lionel bilang mau jemput gue pagi ini, buat berangkat bareng. Gue kira dia bohong, eh ternyata malah beneran. Tadi padi tiba-tiba dia udah ada di ruang tamu ruangan mah gue, lagi ngobrol sama papa. Simple nya sih gitu." ujar Mutia menjelaskan.
"Ya ampun, ternyata alasan kemarin Lionel ngajak lo pulang bareng tuh karena ini, dia mau ngajak lo berangkat bareng juga hari ini." ucap Ara menggoda.
"What? Jadi kemarin lo pulang bareng Lionel?" tanya Meidy heboh.
"Iya, kemarin kan niatnya gue mau ngajak Mutia pulang bareng, eh tiba-tiba si Lionel dateng dan bilang kalau Mutia pulang sama dia." jelas Ara.
"Jangan-jangan dia suka lagi sama Mutia?" timpal Monika cepat.
"Heh ngadi-ngadi lo, kalau ngomong. Mana ada?!" sela Mutia cepat.
"Ya kan bisa jadi, Mut." ucap Monika sembari terkekeh di akhir kalimatnya.
"Tapi gue sepemikiran sih sama Monik, kan bisa jadi kalau si Lionel itu emang suka sama Mutia." ucap Michell menimpali.
"Udah ah, lo pada apaan sih. Ngawur tau nggak." sergah Mutia.
"WOI PECEL, GUE MINJEM BUKU TUGAS LO, GUE BELUM NGERJAIN TUGAS BIOLOGI." teriak Dika yang tiba-tiba saja datang dan langsung mengacak isi tas Michell untuk meminjam buku tugasnya.
"Nama gue Michell, kampang! Seenaknya aja lo manggil gue pecel!" protes Michell tidak terima.
"Bodo amat, nama lo nggak penting, yang penting BUKU TUGAS LO MANA WOY ELAH, kok kaga ada?!" tanya Dika frustrasi.
"Itu di barisan buku paling depan, kampang. Lo nyari di mana!" ujar Michell kesal menatap Dika.
"Oh iya, ngumpet buku nya, pantes nggak keliatan." ucap Dika santai dan mulai menyalin tugas Michell pada buku tugasnya.
"Ih lo, belom pernah gue tendang ke luar angkasa sih." ujar Michell kesal menatap Dika, tangannya terkepal sembari di layangkan di udara.
"Berisik lo, diem." balas Dika. Michell hanya mampu mengelus dadanya, sabarrrrrrrrr.
Mereka yang menyaksikan drama antara Michell dan Dika hanya bisa tertawa melihat seberapa ngeselinnya Dika dan Michell yang berusaha mati-matian agar tidak membejek wajah Dika.
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Bersambung...