
...“Hanya kalian yang ngerti posisi gue sekarang, dan cuma dengan kalian gue bisa merasa tenang.”...
...—Lionel Adriano Siregar...
...HAPPY READING ❤️...
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Jam pelajaran tengah berlangsung tetapi sekumpulan remaja ini malah menghabiskan waktu nya untuk bersantai di rooftop. Terlihat kini Marcel, Zaki, Aden, dan Fajar yang sibuk memperebutkan posisi ter-enak mereka untuk tidur. Adly, Afwan, Putra, Maulana, Aldi, dan Martin yang kini sedang asik bermain game di ponsel mereka masing-masing. Lionel sedari tadi hanya diam memandang ramai nya jalanan ibu kota yang terlihat dari atas sana dengan sesekali menghisap lalu menghembuskan asap rokok yang kini berada di antara sela-sela jari nya, dia sudah menghabiskan dua batang rokok sekaligus kini, sepertinya fikiran nya saat ini sedang kacau. Sedangkan Adji? Dia pamit untuk pergi ke toilet dari tadi, tapi entahlah kenapa lama sekali.
"Nel lo kenapa sih? Kayaknya gue liatin dari tadi kaya lagi banyak fikiran banget." tanya Afwan memecah keheningan.
"Tau tuh, cerita atuh Nel sama kita, siapa tau kita bisa ngasih solusi sama lo, kan?" timpal Zaki.
Lionel yang enggan membalas perkataan teman-teman nya itu hanya mengedikkan bahu nya acuh sembari menghembuskan asap rokok nya kembali, matanya masih fokus pada pemandangan di bawah sana.
"HEY EPRIBADEEHH, KALIAN KANGEN YA SAMA GUE, Ya elah baru aja di tinggal sebentar masa udah kangen aja, iya gue tau gue emang ngengenin." tiba-tiba Adji datang sambil mendobrak pintu dengan keras di susul dengan suara teriakan nya membuat semua temannya yang berada di rooftop terjungkal kaget, bahkan Putra hampir saja menjatuhkan ponsel yang berada di genggaman nya kini karena kaget dengan Adji yang datang dengan tiba-tiba itu.
"****, ngagetin banget sih lo dateng-dateng" umpat Aden menatap Adji kesal, pasalnya tadi Aden sedang asik rebahan di sofa yang memang tersedia di rooftop tersebut dan tiba-tiba Adji datang dengan mendobrak pintu membuat Aden sontak langsung terjatuh dari sofa dengan posisi mencium lantai rooftop.
"Yaelah selow kali, nggak sengaja gue" ucap Adji dan memilih duduk di samping Marcel.
"Nggak sengaja gigi lo maju," umpat Aden lagi-lagi merasa kesal dengan temannya yang satu itu.
"Perasaan gigi gue nggak maju." cibir Adji pelan tetapi masih dapat di dengar oleh Aden.
"Kalau bukan temen gue, udah gue tenggelemin lo ke rawa, Dji. Kesel gue sala lo." ujar Aden.
"Dih emang kita temen, sejak kapan lo jadi temen gue." balas Adji enteng dan sontak membuat Aden semakin kesal.
"Astagfirullah sabar gue, orang sabar di sayang degem" gumam Aden mengusap dada nya prihatin.
"Degem mulu pikiran lo, herman gue" ujar Fajar menoyor pala Aden pelan.
"Heh kang gamon, mending lo diem aja deh" sambar Aden membuat Fajar mencebik kesal.
"AH ***** KALAH KAN GUE," sorak Putra heboh membuat yang lain menatap ke arah nya.
"Gara-gara kalian nih," tuduh Putra menunjuk Aden, Fajar, dan Adji bergantian.
"Lah kenapa malah jadi kita?" tanya Adji bingung.
"Iyalah, gara-gara kalian ribut mulu gue jadi kalah kan." tuduh Putra lagi.
"Astatang apa salah gue, kayaknya gue mulu yang di salahin" ucap Fajar nelangsa.
"Berisik lo kang gamon" ledek Putra.
"Dahlah, cogan mah cuma bisa sabar aja di giniin terus" pasrah Fajar.
"Najis, cogan,"
"Gantengan juga gue kali,"
"Pedemu negri,"
"Cogan bapak kao sendal,"
"Mana ada cogan yang di tinggal selingkuh,"
"Cogan gigi lo belah enam."
Sahutan demi sahutan di lontarkan begitu saja dengan teman-teman nya membuat Fajal lagi, lagi, lagi, dan lagi mencebik kesal menatap teman-teman nya satu per satu.
Lionel hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat teman-teman nya yang kini sedang asik melontarkan ledekan demi ledekan untuk Fajar. Punya temen pada gini amat, batin Lionel nelangsa.
"Iri tanda tak mampu. Jadi sorry aja nih, ngapain juga gue iri sama lo" ucap Martin menimpali.
"Udah-udah stop. Yang adil, gue yang paling ganteng di sini." ujar Maulana tiba-tiba menimpali di tengah keributan.
"Dih ini lagi, muka modelan gerobak batagor aja songong lo." balas Marcel membuat Maulana mendelik ke arah nya.
"Udah-udah lo pada ngapain sih ngeributin kaya beginian, kaga penting banget." ucap Aldi menengahi.
"Noh dia duluan," ucap Fajar menunjuk ke arah Zaki.
"Dih ngape malah jadi gue sih *****, dari tadi perasaan gue cuma nyimak doang" tanya Zaki bingung bercampur kesal.
"Justru karena lo dari tadi nyimak makanya lo yang salah" jawab Fajar membuat Zaki melongo.
"Tuh si Lionel dari tadi juga kan nyimak, kenapa malah gue doang yang salah" tanya Zaki lagi menunjuk Lionel yang kini masih terlihat anteng-anteng saja.
"Oh kalau itu mah beda lagi, Lionel kan emang udah dari sono nya kaya begitu, jadi nggak aneh kalau dia dari tadi cuma nyimak" sahut Fajar lagi.
"Iyadeh, iya gue yang salah" balas Zaki pasrah.
"Aneh" gumam Lionel sangat pelan sampai tidak dapat di dengar oleh teman-teman nya yang lain.
Meski merasa aneh dengan sikap teman-teman nya ini, tetapi Lionel sangat senang bisa berkumpul dengan mereka, karena hanya dengan mereka Lionel dapat merasakan kebahagiaan nya tersendiri. Hanya dengan tingkah teman-teman nya yang absurd itu mampu membuat Lionel merasa terhibur dan melupakan sejenak masalah nya.
Lionel merasa sangat bangga dan beruntung sekali bisa mendapatkan teman-teman seperti mereka ini. Meski Lionel tidak pernah cerita apapun kepada mereka tentang yang di alaminya sekarang, tapi teman-teman nya seolah tau kalau Lionel sedang ada masalah dan mencoba untuk menghibur nya dengan berbagai cara. Mereka seakan tau apa yang sedang Lionel alami dan rasakan kalau sedang ada masalah. Lionel akan sangat berterima kasih kepada Tuhan karena sudah mempertemukan nya dengan teman-teman nya ini, ia sangat senang dan bersyukur sekali.
Sedari dulu tidak pernah ada yang memperhatikan nya, hanya teman-teman nya dan ART nya saja yang perhatian dengan nya. Bahkan orang tua nya pun tidak pernah sekedar menanyakan keadaan Lionel. Terkadang Lionel berfikir, apakah hanya dengan menanyakan kabarnya itu mampu membuat perusahaan kedua orang tua nya bangkrut? Apa susah nya hanya menanyakan kabar? Kedua orang tua nya itu hanya sibuk dengan pekerjaan.
Lionel ingin hidup nya kembali seperti dulu. Dimana keluarga nya masih utuh dan di penuhi keceriaan setiap hari nya. Lionel tersenyum pedih saat sekelebatan bayangan itu muncul di fikiran nya. Ia rindu merasakan hangat nya sapaan dari sang ayah, ia rindu merasakan hangat nya pelukan dari sang ibu. Namun semua kebahagiaan yang Lionel rasakan dulu tidak lagi ia rasakan sekarang, semua kebahagiaan itu hancur saat seseorang datang menghancurkan keluarga nya beberapa tahun lalu. Dengan kedatangan seseorang tersebut Lionel harus merasakan kehilangan seseorang yang sangat ia sayangi, seseorang yang sangat ia jaga, dan Lionel juga harus kehilangan kebahagiaan dari keluarga nya. Bahkan pada saat Lionel merasa sangat terpuruk, ayah nya bahkan tidak memberi nya semangat, Lionel merasa hidup nya saat itu sudah hancur hingga membuat Lionel merubah kepribadian nya yang semula humoris menjadi lebih cuek ke semua orang. Itu juga terjadi karena masalah yang terjadi di antara keluarga nya.
Hingga Lionel di pertemukan dengan teman-teman nya yang mampu membangkitkan kembali semangat Lionel, hanya mereka yang mampu membuat Lionel merasa bahagia saat ini, mereka yang memberikan nya semangat untuk bangkit di saat Lionel merasa terpuruk. Lionel bahkan sudah menganggap mereka sebagai keluarga nya sendiri.
"Thanks," ucap Lionel membuat semua temannya mengalihkan pandangannya ke arah Lionel.
"Thanks udah mau jadi temen gue, gue bangga punya temen kaya kalian. Cuma kalian yang bisa membuat gue merasa bahagia, di saat gue ada masalah dan bahkan gue nggak pernah cerita ke kalian tapi kalian selalu memberi solusi apapun ke gue, kalian selalu hibur gue. Gue udah anggap kalian sebagai keluarga gue sendiri, thanks semuanya." lanjut Lionel berucap tulus membuat teman-teman nya semua menatap ke arah Lionel antara bingung, tidak percaya, dan terharu. Bahkan mereka di buat melongo karena ucapan Lionel yang panjang itu, menurut mereka ini adalah hal langka di mana Lionel berbicara panjang, biasanya Lionel hanya berbicara seperlunya saja.
"Pegel gue ngomong panjang banget," gumam Lionel pelan yang masih dapat di dengar temannya.
"Ini serius lo, Nel? Lo lagi nggak kesambet kan?" tanya Martin menatap Lionel tak percaya, Lionel hanya membalas nya dengan sekali anggukan.
"Gila tersentuh banget gue, Nel sumpah"
"Terhura dedeq, bwaang,"
"***** lah pengen nangis gue,"
"Gak khuadd guee"
"Kita melakukan ini semua juga ikhlas kok Nel buat lo, jadi lo nggak usah merasa sungkam sama kita kalau lagi ada masalah apapun. Lo bisa cerita saka kita kalau lo ada masalah, siapa tau kan kita bisa bantu semampu kita." ujar Aldi yang di angguki semuanya.
"Kita juga bangga kok Nel, punya temen kayak lo" timpal Maulana.
"Kita keluarga"
"Kita satu"
Lionel tersenyum tipis menatap teman-teman nya bergantian. Sungguh hanya dengan hal seperti ini saja mampu membuat nya merasa tenang. Ia benar-benar merasa bersyukur kepada Tuhan karena dapat di pertemukan dengan teman-teman nya ini.
"Gue harap nggak bakalan ada perpisahan di antara kita, karena hanya dengan kalian gue bisa merasakan kembali kehangatan sebagai keluarga."
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Bersambung...