Lionel

Lionel
Lionel 7



...“Mulai sekarang, lo harus turutin dan ikuti perintah yang gue kasih buat lo.”...


...—Lionel Adriano Siregar...


...HAPPY READING ❤️...


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Toilet SMA Dirgantara.


Di sinilah Lionel dkk sekarang berada. Mereka di hukum oleh Bu Widia tadi saat tidak sengaja ketahuan bolos jam pelajaran.


"Heh kutil, lo geseran dikit dong, sempit nih" ujar Marcel mendorong pantat Adly yang sedang merunduk untuk menyikat lantai sedikit kencang membuat Adly langsung tersungkur ke lantai, hal itu membuat tawa teman-teman nya pecah kecuali Lionel dan Adly yang kini telah mengendus kesal.


"Kurang ajar banget sih lo, nyungseb kan gue jadinya," decak Adly menatap Marcel dengan sengit yang di balas Marcel dengan mengedikkan kedua bahu nya acuh.


"Kesel banget gue sama tuh guru, lagian kok bisa sih dia nemuin kita lagi bolos kaya tadi, biasanya juga nggak ketauan" dumel Zaki yang sedari tadi memang tak henti-hentinya berdecak kesal karena harus mendapat hukuman membersihkan seluruh toilet yang ada di SMA Dirgantara.


"Emang dia kira toilet di sini cuma satu atau dua doang kali, ada lima coyy, bayangin. Encok dah gue kalo kaya gini mah. Udah bau lagi, mending kalau wangi" lanjut Zaki lagi.


"Berisik banget sih lo dari tadi, misuh-misuh mulu. Lo kira dengan lo misuh-misuh mulu kaya tadi, nih hukuman langsung beres, nggak kan." decak Fazar yang sudah pegel mendengar ocehan Zaki sedari tadi.


"Tau lo, mending sekarang buruan selesain nih hukuman, jangan pada ngomong doang, yang ada nanti kaga kelar-kelar." sambung Aldi membenarkan.


Mereka semua akhirnya kembali fokus pada hukuman nya. Adly, Marcel, Aden, dan Maulana bertugas untuk menyikat lantai toilet. Lionel, Zaki, Adji, dan Afwan bertugas untuk mengepel lantai toilet. Martin, Putra, Aldi,dan Fajar bertugas membersihkan bagian wastafel.


"Ekhem..."


Mereka yang tadinya sedang fokus pada hukumannya masing-masing sontak menoleh ke arah sumber suara tersebut.


"Bersihin yang bener, jangan sampai kalian kabur lagi untuk hukuman yang kali ini" ujar Bu Widia menatap mereka bergantian.


"Iya bu" jawab mereka serentak kecuali Lionel dengan nada yang malas-malasan.


"Bagus, ibu akan pantau kalian terus"


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


"AAARGH.... pinggang gue encok *****" gerang Putra sembari merenggangkan otot pinggang nya yang terasa sangat pegal.


"Sama *****, gue juga." timpal Marcel menyahuti.


"Gila tuh guru satu, ngasih hukuman kaga mikir dulu. Tadi bilangnya cuma bersihin toilet doang, eh malah nyuruh nganter buku ke perpus juga. Mending kalau buku yang di bawa tipis-tipis dan dikit, lah ini udah tebel-tebel semua terus banyak lagi, gila emang." oceh Adji panjang lebar.


Lionel CS sekarang memang sudah berada di meja pojok kantin tempat tongkrongan mereka seperti biasa, mereka baru saja menyelesaikan hukuman yang di berikan Bu Widia tadi. Dan sekarang sudah waktunya jam istirahat ke dua.


Suasana kantin saat ini tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa siswa saja.


Mata Lionel menelusuri area kantin dengan sebatang rokok yang berada di sela-sela jarinya. Tanpa sengaja manik mata nya terpaku pada seorang siswi yang sedang membeli minuman di salah satu kedai kantin yang memang letak nya tidak terlalu jauh dari tempat Lionel CS berada.


Lionel tergerak untuk menghampiri siswi tersebut, teman-teman nya yang melihat Lionel segera memandangnya bingung.


"Mau ke mana lo?" tanya Maulana.


"Urusan" balas Lionel seadanya dan dengan nada dinginnya seperti biasa.


Teman-teman nya hanya mengangguk mendengar jawaban Lionel. Mereka justru malah melanjutkan acara mengumpati guru BK kesayangan mereka itu yang sudah tega nya memberi mereka hukuman yang bertubi-tubi.


Kesayangan kok malah di umpatin, wkwk—Author


Kita kan sayang banget sama dia Thor, saking sayangnya makanya kita umpatin—Zaki gada akhlak


Ketauan Bu Widia ****** lo pada, hahaha—Author


Author mending diem-diem aja deh, nggak usah banyak comel—Marcel ngelunjak


Heh playboy biadab, lo juga mending diem deh, ntar gue bikin cewe-cewe ilfil sama lo, baru tau rasa lo—Author ngancem


Yaelah ibu negara berani nya ngancem—Fajar


Heh yang abis di putusin terus gamon juga mending diem aja deh—Author Nge-jleb


KU MENANGISSSSSS—Lionel CS kecuali Fajar


SKIP.....


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


"Nih mbak uang nya, makasih ya" ucap Mutia sembari menyodorkan selembaran uang pada penjual minuman di kantin tersebut.


Mutia membalikkan badannya berniat untuk kembali ke kelas. Namun baru saja membalikkan badan...


Bruk..


Mutia merasa ia menabrak dada bidang seseorang, ia dapat memungkiri kalau yang ia tabrak saat ini adalah seorang lelaki, tetahuan dari dada nya yang bidang dan badannya yang tegap.


"Eh sorry" ucap Mutia sembari mengangkat kepalanya berniat memandang wajah lelaki itu yang memang lebih tinggi dari nya.


"Elo?!" kaget Mutia setelah melihat orang yang di tabrak nya tadi, Mutia memandang lelaki di hadapannya ini dengan tampang bingung dan kesal, tak lupa jari telunjuk nya yang menunjuk wajah lelaki itu.


Lelaki yang di tabrak tadi hanya mengangkat sebelah alis nya sembari menatap Mutia tajam.


"Ngap—Eh lo mau ngapain" belum sempat Mutia melanjutkan omongannya, tetapi lelaki itu tanpa aba-aba langsung menarik lengan tangannya menuju keluar area kantin. Mutia sontak saja memberontak meminta agar tarikan di tangannya di lepas oleh lelaki yang ada di hadapannya sekarang.


"Diem" tukas Lionel tajam dengan suara berat dan datarnya mampu membuat Mutia langsung menciut.


Diam-diam Mutia mengercutkan bibir nya mencibik kesal. Ini kali keduanya lelaki itu menarik tangannya dengan seenaknya saja.


Nih cowo suka banget narik-narik orang seenak nya aja sih, mending kalau cengkraman nya nggak keras, ini mah keras banget coyy batin Mutia terus saja menggerutu mengumpati lelaki yang menarik tangan nya kini tanpa henti.


"Nggak usah ngumpat" ucap Lionel tiba-tiba membuat Mutia melebarkan matanya, pandangan Lionel tetap fokus ke depan dengan tangan yang masih setia menarik tangan Mutia.


Nih orang titisan cenayang apa gimana sih? batin Mutia bertanya-tanya.


"Lo cenayang ya? Ngaku lo!" tanya Mutia, lebih tepatnya menuduh.


"Berisik" balas Lionel. Mutia lagi-lagi hanya bisa mengumpati Lionel dalam hati.


"Lo sebenarnya mau bawa gue ke mana sih?" tanya Mutia yang kesal karena sejak tadi lelaki itu terus saja menarik nya entah kemana.


Lionel diam, tidak ada niatan sama sekali untuk sekadar menjawab pertanyaan Mutia.


"Lo budek ya?" decak Mutia, lagi-lagi tidah di hiraukan oleh Lionel.


"Helaaaw, gue nggak lagi ngomong sama tembok loh yaa," Mutia kesal karena Lionel sejak tadi tidak membalas ucapannya barang sedikit pun.


Budek beneran baru tau rasa lo batin Mutia mengumpati.


Lionel melepaskan cengkraman tangannya pada Mutia begitu juga dengan langkah kaki nya yang berhenti. Mutia mengikuti Lionel untuk menghentikan langkah nya, ia mengusap pergelangan tangannya yang lagi-lagi memerah karena cengkraman Lionel.


Lionel membalikkan badannya untuk menghadap ke arah Mutia. Tatapan matanya menatap Mutia tajam. Sedangkan Mutia masih sibuk mengusap pergelangan tangannya yang terasa perih,dengan sesekali meringis.


"Lo ngapain sih bawa gue ke sini?" tanya Mutia mulai membuka suara karena Lionel sejak tadi hanya diam. Mereka berdua kini sedang berada di taman belakang sekolah, entah untuk apa Lionel membawanya ke sini, Mutia juga tidak tau.


"Gue pernah bilang kan sama lo," Lionel menjeda ucapannya sebentar.


"Bilang apaan? Kalo ngomong nggak usah di potong-potong bisa nggak sih?" tanya Mutia kesal karena tidak mengerti ucapan Lionel.


"Gue pernah bilang kalau hidup lo nggak bakal tenang kalau seandainya lo udah berurusan sama gue" lanjut Lionel.


"Mulai sekarang, gue akan membuat hidup lo nggak tenang seperti sebelumnya" ucap Lionel tegas menatap lurus ke arah Mutia.


"Coba aja kalau bisa," ucap Mutia terdengar meremehkan Lionel, dan kalian tau bahwa Lionel paling tidak suka jika ada seseorang yang berani meremehkannya. Tangan Lionel sudah terkepal, urat lehernya juga sudah terlihat, menandakan bahwa lelaki itu sedang menahan emosi nya untuk saat ini. Mutia sontak langsung menciut melihat tatapan menghunus dari Lionel yang di tunjukkan untuk nya kini, begitu memancarkan emosi yang terpendam.


"Mulai sekarang, lo harus turutin dan ikuti perintah yang gue kasih buat lo," ucap Lionel penuh penekanan di setiap kalimat yang terlontar dari mulut nya.


"Ko—"


"Gue nggak suka bantahan dan penolakan" sambar Lionel lagi saat Mutia seperti ingin melontarkan penolakan. Ingat, Lionel sangat tidak suka di bantah.


Setelah mengucapkan itu, Lionel langsung pergi begitu saja meninggalkan Mutia yang masih berdiri di sana sembari memikirkan ucapan Lionel tadi.


"Maksudnya, gue jadi babu dia gitu?" tanya Mutia entah pada siapa sembari menunjuk dirinya sendiri.


"Dih ogah banget, masa gue jadi babu manusia kutub itu" lanjut Mutia mencibir.


"Dasar, singa."


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


"WHAT?! SERIOUSLY?!"


"Duh...kalian nggak usah teriak bisa nggak sih? Malu tau tuh di liatin," ujar Mutia kepada teman-teman nya itu sembari mengedarkan pandangan nya ke seisi Cafe. Mereka memang sepakat akan pergi ke salah satu cafe yang berada di dekat sekolah saat pulang sekolah. Dan di saat itulah Mutia menceritakan tentang kejadian saat berada di taman belakang sekolah tadi bersama Lionel.


Respon yang di beri teman-teman nya begitu berlebihan menurut Mutia, lihat saja sekarang, sebagian dari pengunjung cafe yang lain kini pandangan nya tertuju pada meja Mutia dkk berada. Mutia sampai meringis melihat nya. Sedangkan teman-teman nya itu malah cengar-cengir tak berdosa.


"Gue bilang juga apa, hidup lo pasti nggak bakalan tenang kalau udah berurusan sama singa yang satu itu" celetuk Anjani yang di angguki yang lain.


"Terus dia ngomong gitu sama gue maksudnya mau jadiin gue babu dia gitu? Ogah banget tau,"


"Mut, gue cuma mau bilang, selamat menikmati siksaan dari singa Dirgantara" ujar Ara yang langsung mendapat pelototan dari Mutia.


"Selamat bersenang-senang, Mutia" Meidy ikut menimpali.


"Gue ngewakilin Aryn, Citra, Ayu, Anjani, Michell, Monika mau ngucapin selamat yang sebesar-besarnya buat lo, Mute" kali ini Raisyah yang juga ikut menimpali membuat Mutia rasanya ingin mengumpati teman-teman nya itu.


"Temen biadab banget ya, lo semua." ujar Mutia yang di balas gelak tawa dari mereka.


"Eh tapi gue juga mau bilang hati-hati," Michell berucap membuat yang lain menghentikan tawa nya dan menoleh.


"Apa?" tanya Mutia sedikit ketus.


"Hati-hati, nanti lo malah jatuh cinta lagi sama si Lionel" lanjut Michell dan lagi-lagi mendapat tatapan mematikan dari Mutia.


"Lah, bukannya mereka beda agama ya?"


"Maksud lo?" tanya Mutia yang kini beralih mematap Ayu.


"Iya, Lionel itu nonim sedangkan lo muslim kan," lanjut Raisyah membuat Mutia mengangguk.


"Yaelah Ca, jaman sekarang mah yang namanya cinta kan bisa aja dateng tanpa di duga kan, siapa tau nanti di antara mereka ada yang tumbuh benih-benih cinta" sambung Ayu.


"Iya juga sih," Raisyah mengangguk.


Fyi, Raisyah biasa di panggil juga dengan sebutan Eca.


"Nggak akan lah, yang bener aja" jawab Mutia.


"Awas lo, nanti kemakan omongan sendiri" ucap Monika.


"Nggak akan." jawab Mutia yakin.


"Kita liat aja nanti," timpal Auryn.


"Cit, lo kenapa dari tadi kayaknya keliatan murung gitu? Lagi ada masalah?" tanya Anjani menatap Citra begitu juga dengan teman-temannya yang lain.


"Gue nggak pa-pa kok," jawab Citra seadanya sembari menatap teman-teman nya bergantian dengan seulas senyum tipis nya.


"Kalau lagi ada masalah, cerita aja sama kita, siapa tau kita bisa bantu cari solusi kan" ujar Ara.


"Iya, gue beneran nggak pa-pa kok" balas Citra berusaha meyakinkan mereka.


Ting...


Suara notifikasi itu berasal dari ponsel milik Mutia. Ia segera melihat siapa yang mengirimkan nya pesan.


1 unread message from +62 8386957****


Nomor nggak di kenal? Siapa? Perasaan gue nggak pernah nyebar nomor telpon ke orang yang nggak di kenal batin Mutia bergumam.


+62 8386957****:


Sv, Lionel


WHAT THE HELL?! Kok dia bisa tau nomer gue? Sedangkan gue nggak pernah ngasih nomer gue ke dia? Dia dapet dari mana?


^^^Me:^^^


^^^Lo dapet dari mana no gue?^^^


Lionel🦁:


Gk prl tw


^^^Me:^^^


^^^Lo tuh kalau ngetik bisa nggak sih yg jelas dikit? Nggak usah di singkat-singkat gitu bisa nggak? Bingung gue baca nya!^^^


Lionel🦁:


Bsk bwin gw mkn, antr k wrg blkg sklh!


^^^Me:^^^


^^^Puyeng gue bacanya^^^


^^^Iya bsk gue bawain, puas lo?!^^^


^^^Read.^^^


"Gila kali nih orang," gumam Mutia saat merasa tidak dapat jawaban lagi dari Lionel.


"Kenapa sih emang, Mut?" tanya Meidy penasaran.


"Masa Lionel nge-chat gue? Dapet nomer gue dari mana coba dia?"


"Terus kenapa muka lo kaya kesel gitu?"


"Gimana nggak kesel, dia ngetik udah kaya kekurangan keyboard tau nggak, singkat-singkat banget, terus dia nyuruh gue bawain dia makanan besok pagi buat dia." jelas Mutia.


"Sabar ya, Mut" ucap Ayu yang di susul gelak tawa dari yang lain kecuali Mutia yang kini malah mencibik kesal.


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Bersambung...