Lionel

Lionel
Lionel 13



...“Mungkin ini memang sulit, tapi aku akan berusaha untuk menjalani dan menerima ini semua.” ...


...—Aprilia Citra Nermala. ...


...“Kita bisa melewati ini semua bersama.”...


...—Putra Gildan Antariska. ...


.... ...


.... ...


.... ...


...Happy reading! ...


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Suasana taman belakang sekolah terasa sangat tenang. Angin yang berhembus menerpa wajah kedua remaja yang kini sedang duduk di bangku kayu taman tersebut.


"Gue mau batalin ini semua," ucap Putra membuat Citra menoleh ke arahnya.


"Lo serius?" tanya Citra yang di balas anggukan singkat dari Putra.


"Tapi nggak gampang, buat ngebatalin ini semua, Put"


"Gue tau, tapi ini soal perasaan, Cit" balas Putra menatap lekat manik mata Citra.


"Kalau ini tetap berlanjut, perasaan gue makin tersiksa, gue nggak mau"


"Lo pikir perasaan gue nggak tersiksa?" sahut Citra lantang menatap marah ke arah Putra, matanya terlihat sudah berkaca-kaca. Sedangkan Putra hanya menatap sendu manik mata Citra.


"Tapi nggak pa-pa kan, kita bersikap egois sedikit, untuk menolak dan ngebatalin semuanya. Kita juga punya pilihan sendiri" ucap Putra membuat Citra terkekeh miris.


"Tapi apa lo nggak mikirin, gimana nanti perasaan mereka saat tau kita ngebatalin perjodohan ini. Mereka pasti bakal ngerasa sedih dan kecewa banget, Put. Dan gue nggak mau ngeliat mereka sedih" lirih Citra, butiran cairan bening kini sudah terjatuh bebas dari kelopak mata gadis itu. "Kita nggak punya pilihan untuk menolak." lirih Citra lagi menatap Putra sendu.


Putra yang melihat Citra menatapnya sendu dengan air mata yang terus berjatuhan dari kelompok mata Citra jadi tidak tega. Sejujurnya Putra sama sekali tidak menyukai perjodohan yang di buat oleh kedua orangtua nya dan Citra. Sedangkan Putra sama sekali tidak mempunyai rasa terhadap gadis itu, begitupun sebaliknya. Apalagi kini mereka masih menginjak kelas XI.


Tangan putra terulur menarik Citra ke dalam dekapannya. Tangis Citra semakin pecah saat tangan kekar Putra mengelus rambut panjangnya.


"Gue akan nyoba nerima semua ini," ujar Putra pelan masih dengan mengelus rambut Citra.


"Dan gue juga akan belajar untuk mencintai lo, Citra" lanjut Putra berbisik tepat di telinga Citra, membuat Citra menguraikan sedikit pelukannya dan menatap manik Putra dengan lekat.


Tangan Putra yang sedari tadi mengelus rambut Citra, kini beralih untuk menghapus jejak air mata yang berada di pipi gadis itu.


"Gue akan mencoba berusaha, walau gue tau kalau ini tidak mudah."


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Malam minggu kali ini Mutia dkk berencana untuk jalan-jalan mengelilingi mall. Kini mereka sudah kumpul di rumah Monika.


"Berangkat sekarang?" tanya Michell.


"Iya, sekarang aja"


Mereka kini beranjak memasuki mobil milik Raisyah bergantian dengan Raisyah yang duduk di kursi kemudi. Selama perjalanan mereka terus mengoceh entah membicarakan hal penting atau tidak. Di iringi musik yang berasal dari audio mobil, membuat suasana begitu asik. Sesekali mereka juga bersenandung mengikuti alunan musik tersebut.


Ting.


Suara notifikasi berasal dari ponsel Citra membuat sang empunya langsung melihat notifikasi tersebut.


PutraG: Lo dimana?


Citra membaca pesan yang ternyata dari Putra itu dengan dahi yang berkerut bingung. Memang semenjak kejadian di taman belakang sekolah waktu itu, sikap Putra terhadapnya mulai berubah. Walaupun Citra masih merasa belum terbiasa, begitupun dengan Putra, tapi mereka mencoba untuk menjalani ini semua.


CitraA: Di jalan


PutraG: Ke mana?


CitraA: Mall, sama Mutia dn yg lain


PutraG: Ohh, nanti plng mau d jemput?


CitraA: G usah, ntar gw bareng sama Monika aja


PutraG: Yaudah, hati-hati, plng jangan trlalu mlm!


CitraA: Iya.


Read.


"Fokus banget main hp nya, chatting sama siapa sih?" ucap Meidy yang duduk di sebelah Citra sembari mengintip sedikit ke arah ponsel Citra.


Citra segera mematikan layar ponselnya dan kembali memasukkan ponselnya ke tas yang di bawanya.


"Nggak kok," balas Citra kikuk, hampir saja dirinya ketahuan.


"Lo lagi deket sama Putra ya?" tunjuk Meidy ke arah Citra, membuat Citra membelalakkan matanya.


"Ng-nggak kok, sok tau lo" jawab Citra terbata membuat Meidy semakin yakin dengan ucapannya tadi.


"Masa, sih?" tanya Meidy lagi dengan menatap Citra mengintimidasi.


"I-iya"


Meidy hanya mengangguk membalasnya, walaupun perasaan nya mengatakan bahwa ada yang sedang di sembunyikan dari Citra. Tapi Meidy tidak terlalu memusingkan hal itu, mungkin nanti Citra akan menceritakan semua dengan sendirinya.


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Kini sepuluh gadis itu sedang berada di salah satu cafe yang berada di dalam mall yang sedang mereka kunjungi saat ini.


"Mau pesen apa, mbak?" tanya salah satu waitress menghampiri mereka dengan buku catatan dan pulpen yang ada di genggamannya.


Mereka terlihat sedang membulak-balik buku menu untuk memilih makanan atau minuman apa yang akan mereka pesan.


"Saya Milkshake Cappucino nya dong, mbak" ujar Mutia yang di angguki waitress tersebut sembari menyatat pesanannya.


"Kita ber-tiga samain aja" ujar Aurynt menunjuk dirinya, Raisyah, dan Monika.


"Kalau saya Milkshake Choco Oreo nya, mbak" ucap Michell.


"Saya juga," ujar Ara yang di angguki Meidy dan Citra.


"Baik, ada lagi?"


"Sama Milkshake Red Velvet nya, dua mbak" ujar Ayu.


"Itu saja?" tanya waitress yang di angguki mereka dengan serempak.


"Baik biar saya ulang pesanannya. Milkshake Cappucino nya empat, Milkshake Choco Oreo nya empat, dan Milkshake Red Velvet nya dua." ucap waitress tersebut yang di balas anggukan dari mereka, setelah selesai mencatat seluruh pesanan, waitress tersebut berlalu pergi sembari membawa buku menu meninggalkan meja yang di tempati Mutia dkk tersebut.


"Citra," panggil Raisyah membuat sang empunya menoleh.


"Ada yang lo sembunyiin dari kita?" tanya Raisyah membuat Citra lagi-lagi di buat kikuk. Mereka semua kini memusatkan perhatiannya pada Citra.


"Hah? Sembunyiin? Apa? Nggak kok." balas Citra kikuk membuat yang lainnya merasa memang ada hal yang di Sembunyikan oleh gadis itu.


"Lo jujur aja sama kita" ujar Mutia yang di angguki yang lain. Citra menghela nafasnya pelan, ia rasa memang teman-teman nya perlu tau tentang ini. Mungkin dengan menceritakan ini semua ke mereka juga pilihan yang tepat.


"Gue....." Citra menjeda ucapannya sembari menatap wajah teman-teman nya satu persatu.


"Gue di jodohin"


"WHAT?!!" teriak mereka serempak membuat Citra gelagapan sendiri, karena mereka kini sudah menjadi pusat perhatian cafe.


"Permisi, ini pesanannya." mereka hening sebentar hingga waitress tersebut pergi.


"Lo serius, Cit?" tanya Aurynt yang di balas anggukan lesu dari Citra.


"Sama siapa, emang?" tanya Anjani.


"S-sama.....it-itu sama...."


"Sama siapa?" tanya Meidy mengulang.


"Sama Putra" balas Citra pelan namun masih dapat terdengar oleh teman-teman nya. Mereka membelalakkan matanya terkejut mendengar pengakuan dari Citra.


"APA?!!" lagi, kini pusat perhatian seisi cafe sudah menuju ke arah mereka. Citra hanya menundukkan kepalanya saja melihat respon teman-temannya.


"Lo lagi nggak bercanda kan, Cit?" tanya Monika menatap Citra meminta penjelasan.


"Gue nggak mungkin lagi bercanda, Mon. Emang wajah gue kali ini keliatan lagi bercanda?" tanya Citra kesal, membuat mereka menghela nafas.


"Lo harus jelasih ini semua ke kita, sekarang juga." ujar Mutia tegas yang di balas anggukan semangat dari yang lain.


"Jadi waktu itu....."


Flash back.


Tok.


Tok.


Tok.


"Eh, mamah. Ada apa, mah?" tanya Citra setelah membuka pintu kamarnya dan melihat sang mama yang kini berdiri di hadapannya.


"kamu siap-siap ya, sekarang" ujar sang mama dengan menampilkan senyuman manisnya membuat Citra mengerutkan dahinya bingung.


"Loh, emang kita mau kemana?" tanya Citra.


"Kita mau pergi makan malam sama teman papah, udah sekarang kamu siap-siap ya, mama sama papa tunggu di bawah" balas nya dan langsung berbalik meninggalkan Citra yang kini sedang berkecamuk dengan pikiran nya.


"Tumben banget, perasaan gue nggak enak" gumam Citra.


"CITRA, BURUAN YA, JANGAN LAMA-LAMA!" mendengar teriakan tersebut membuat Citra terlonjak kaget.


"IYA MAH" Citra segera memasuki kembali kamarnya dan mengganti pakaiannya.


Setelah selesai, Citra segera keluar dan menghampiri orang tuanya yang juga sudah rapi di ruang tamu.


"Mah, pah" panggil Citra membuat sepasang suami istri itu menoleh menatapnya.


"Putri papa cantik banget" puji sang papa yang hanya di balas senyuman manis oleh Citra.


"Yaudah, kita langsung berangkat sekarang aja yuk, takut udah di tungguin" ujar sang mama yang di angguki mereka berdua.


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Vendoria Restaurant.


Citra menatap sang mama dan papa nya bergantian dengan tatapan bingung nya. Sedangkan mereka yang di tatap hanya mengulas senyum lebarnya menatap putri mereka.


"Ayo masuk, mereka pasti udah nunggu"


Mereka bertiga berjalan memasuki restaurant tersebut. Citra hanya mengikuti kedua orangtua nya saja.


"Hai, maaf nunggu lama" ucap Rangga--papa Citra pada temannya itu.


"Iya gapapa, santai aja kali"


"Ayo silahkan duduk" ujar wanita paruh baya kini mempersilahkan mereka untuk duduk. Citra duduk di samping mama nya.


"Ini pasti Citra" tebak wanita paruh baya tersebut sambil menunjuk Citra yang hanya mengulas senyum manisnya saja.


"Cantik" puji wanita paruh baya tersebut membuat Citra kikuk sendiri.


"Terima kasih tante."


"Eh, anak kamu mana?" tanya mama Citra.


"Ben-"


"Maaf telat"


Ucapan itu berhasil membuat tatapan mereka teralihkan. Citra menoleh menatap orang yang baru datang dan kini duduk di hadapannya. Sempat terkejut saat mengetahui siapa pemilik suara tadi.


"Nah ini dia, baru di omongin"


"Putra?" tanya Citra menatap Putra bingung.


"Eh,Citra? Kok lo di sini?" tanya Putra menunjuk Citra. Citra hanya mengedikkan bahunya.


Sedangkan kedua orangtua mereka sedari tadi yang memperhatikan interaksi keduanya hanya tersenyum manis menatap mereka.


"Jadi udah saling kenal, ternyata" ujar Resti--mamah Putra tersenyum geli menatap Putra dan Citra bergantian.


"Yasudahlah kalau udah saling kenal, jadi kita bisa langsung ke intinya aja, iya kan?"


"Maksud mamah?" tanya Putra menatap mama nya bingung. Resti tersenyum manis menatap Putra dan Citra, begitupun dengan suami nya beserta kedua orangtua Citra.


Citra mengernyit bingung menatap mereka. "Ini kenapa sih? Ada apa sebenarnya?" tanya Citra.


"Iya, kalian jadi kayak aneh banget, perasaan Putra jadi nggak enak." ujar Putra menimpali yang di angguki Citra.


Cinta selaku mama Citra menatap manik mata Citra sendu. Tangannya kini menggenggam kedua tangan Citra dan mengelusnya lembut.


"Citra," panggil Cinta lembut.


"Kenapa, ma?" tanya Citra menatap mama nya bingung.


"Kamu sekarang sudah besar, bukan lagi gadis kecil yang dulu suka mama gendong. Sekarang kamu sudah tumbuh menjadi gadis cantik yang dewasa. Sudah sepantasnya juga kamu memiliki seorang kekasih, bukan? Mama mau, ada seseorang yang bisa menjaga kamu nanti dengan penuh tanggung jawab." ucap Cinta lembut membuat jantung Citra berdebar lebih cepat dari biasanya, perasaannya kini berkecamuk.


"Iya mah, Citra tau" ujar Citra membalas mengelus punggung tangan sang mama.


"Citra" panggil Rado--papa Putra membuat Citra menoleh.


"Kenapa, om?"


"Om dan tante, beserta kedua orangtua kamu sepakat untuk.....menjodohkan kamu dengan Putra."


"APA?!" teriak Putra dan Citra bersamaan.


"Kalian bercanda kan?" tanya Citra menatap mama dan papa nya bergantian dengan cairan bening yang kini sudah menumpuk di kelopak matanya.


"Mah, bilang ke Citra kalau kalian bercanda, kalian nggak mungkin mau jodohin kita berdua kan?" Cinta hanya menggeleng sebagai jawaban, air mata Citra sudah keluar melihat jawaban sang mama.


"Kamu sayang mama dan papa kan? Kamu mau melihat kita bahagia kan?"


"Tapi nggak gini juga mah" jawab Citra lirih.


"Saya nggak setuju" ujar Putra dengan suara lantang dan tegasnya membuat mereka menoleh.


"Nak,"


"Nggak mah, Putra bahkan sama sekali nggak punya perasaan ke Citra, bagaimana mungkin kalian bisa seenaknya saja ngejodohin kita berdua" ucapnya lagi cepat menatap marah ke arah mama nya.


"Kita bahkan masih kelas XI" lanjut nya.


"Soal itu bisa di urus nanti, lagian kalian tidak harus menikah dalam waktu dekat ini kok, kalian akan nikah nanti setelah lulus. Jadi kalian masih memiliki banyak waktu untuk mengenal lebih jauh dan pendekatan." balas Resti enteng.


"Tapi tetep Putra nggak setuju. Mah, pah, ini bukan lagi jaman perjodohan kayak gitu. Putra dan Citra juga punya pilihan tersendiri" ujar Putra lagi dengan nada frustasi.


"Iya, Citra setuju sama Putra" Citra ikut menimpali.


"Apa kalian nggak mau ngeliat kita bahagia?" tanya Cinta menatap Putra dan Citra sendu.


"Mah,"


"Mama mohon sayang, terima ya."


"Citra permisi" tanpa membalas ucapan sang mama, Citra lebih memilih pergi keluar restaurant meninggalkan mereka yang menatap kepergian nya dengan sendu.


"Putra juga pamit" Putra ikut keluar meninggalkan mereka dan memilih mengejar Citra. Putra fikir ia harus berbicara empat mata dengan gadis itu.


"Biarin aja, mungkin mereka masih butuh waktu." ujar Rangga mencoba menenangkan istrinya.


Flash back off.


"Terus sekarang lo sama Putra gimana?" tanya Aurynt menatap Citra.


"Kita milih buat nerima ini semua dengan perlahan, kita lagi nyoba untuk saling terbuka" jawab Citra seadanya.


"Gue udah ada firasat sih sebenarnya dari awal, kalau ada yang nggak beres antara lo dan Putra. Kalian ingat kan, waktu Mutia nganter makanan buat Lionel, gue perhatiin di situ si Putra kayak merhatiin Citra mulu" ujar Raisyah.


"Nah bener tuh, tadi juga pas di jalan lo lagi chatting sama Putra kan, iya kan, ngaku?!" tanya Meidy menunjuk Citra yang di balas anggukan singkat.


"Semangat ya, gue tau ini sulit buat lo nerima semua ini, tapi gue yakin lo pasti bisa lewati ini semua" ujar Mutia yang di balas dengan senyuman manis dari Citra.


"Iya, thanks"


"Lo sendiri gimana, Mut?" tanya Raisyah beralih menatap Mutia, membuat sang empu mengernyit bingung.


"Gue? Gue gimana, apanya?" tanya Mutia menunjuk dirinya sendiri.


"Gimana lo sama si Lionel, lo udah suka sama dia?" tanya Raisyah lagi sembari tersenyum mengejek ke arah Mutia yang kini melebarkan matanya mendengar pertanyaan dari Raisyah.


"Apaansi lo, nggak ya. Gue nggak akan mungkin suka sama cowok modelan kayak dia, dan nggak akan pernah." ucap Mutia sewot dengan penekanan di setiap kata yang terlontar.


"Dih kok sewot sih, biasa aja dong, kalau emang nggak suka" Mutia semakin melebarkan matanya menatap Ara tajam, Ara yang si tatap seperti itu dengan Mutia hanya bisa menampilkan deretan gigi rapih nya.


"Awas Mut, kemakan omongan sendiri nanti" ucap Raisyah lagi lagi meledek Mutia.


"Ca, mulut lo minta gue sabet ya, lama-lama" ancam Mutia menatap Raisyah galak.


"Hehe, pisss"


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Bersambung...