
...“Rumah adalah tempat di mana saya menyimpan luka.”...
...—Lionel Adriano Siregar...
...•...
...•...
...•...
...Aku mengerti...
...Perjalanan hidup yang kini kau lalui...
...Kuberharap...
...Meski berat, kau tak merasa sendiri...
...Kau telah berjuang...
...Menaklukkan hari-harimu yang tak mudah...
...Biar kumenemanimu...
...Membasuh lelahmu...
...Izinkan kulukis senja...
...Mengukir namamu di sana...
...Mendengar kamu bercerita...
...Menangis, tertawa...
...Biar kulukis malam...
...Bawa kamu bintang-bintang...
...'Tuk temanimu yang terluka...
...Hingga kau bahagia...
...🎶🎵Melukis Senja — Budi Doremi🎵🎶...
...HAPPY READING!...
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Pukul 01.28 Lionel baru sampai di pekarangan rumahnya. Lelaki berbadan jangkung dan tegap itu melangkahkan kakinya dengan gontai memasuki rumah nya.
Baru saja selangkah memasuki rumah, suara bariton yang berasal dari arah ruang tamu berhasil membuat pergerakan Lionel yang sedang menutup pintu terhenti.
"Anak nakal, jam segini baru pulang"
Lionel hanya menganggap ucapan papa nya itu sebagai angin lalu, ia mengabaikannya dan memilih berbalik dan berjalan melewati Devano menuju kamarnya.
"Lionel kamu ini apa-apaan, kamu tidak tahu kalau Mamah kamu sedari tadi khawatir nunggu kamu pulang. Apa kamu tidak bisa mencontoh kakak kamu itu, dia selalu pulang tepat waktu, kalaupun tidak dia pasti ngasih kabar, dan yang paling penting dia tidak suka mencari masalah, tidak seperti kamu." ucap Devano yang tentu sangat melukai perasaan Lionel, tapi lelaki itu tetap bersikap acuh menanggapi omongan Devano tersebut.
Lionel menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Devano.
"Mamah? Mamah saya hanya satu, dan dia sudah pergi. Tidak ada yang bisa menggantikan dia, dia adalah mamah saya satu-satunya." ujar Lionel membuat emosi Devano terpancing.
"Tapi sekarang Clara adalah istri saya yang otomatis adalah mamah kamu sekarang" balas Devano. Wajah lelaki paruh baya itu kini memerah menahan emosi nya.
"Pernikahan yang membuat mamah pergi untuk selama-lamanya, dan sampai kapanpun saya tidak akan menganggap dia mamah saya." ucap Lionel dengan penekanan di setiap kalimatnya.
"LIONEL!" bentak Devano lantang menatap anaknya itu tajam.
"Kenapa? Anda mau marah sama saya? Silahkan, saya tidak peduli dengan itu." ujar Lionel tenang.
Plak.
Tangan kekar Devano menampar pipi kiri Lionel dengan cukup keras membuat kepala Lionel sedikit menoleh ke samping. Lionel memegang pipi nya yang terasa panas akibat tamparan dari Devano, sembari terkekeh sinis.
Clara yang mendengar suara bising di lantai bawah lantas terbangun dan menghampiri asal suaranya. Saat berada di anak tangga, pandangan Clara langsung menuju ke arah Devano yang baru saja menampar Lionel.
"Mas," panggil Clara membuat keduanya menoleh. Clara menghampiri mereka dengan tergesa.
"Kamu kenapa tampar Lionel?" tanya Clara saat sudah berada di hadapan mereka, Lionel hanya menatap Clara dengan tajam.
"Kamu baru pulang, nak? Abis dari mana aja? Kok nggak ngabarin dulu kalau pulang telat? Mamah khawatir sama kamu, nak." tanya Clara pada Lionel dengan nada bicara yang lembut, pacaran matanya menatap Lionel khawatir.
Sedangkan Lionel hanya terkekeh sembari menatap tajam Clara di hadapan nya.
"Anda tidak usah sok peduli dengan saya" ucap Lionel menusuk dan setelahnya pergi ke kamarnya, menghiraukan Devano yang terus memanggilnya.
Ucapan Lionel tadi mampu menusuk relung hati Clara. Tapi dia tetap memperlihatkan senyum tipis nya memandang punggung Lionel yang semakin menjauh. Mungkin Lionel memang masih butuh waktu untuk menerima dirinya sebagai ibunya, pikirnya.
"Anak itu benar-benar keterlaluan." gerang Devano.
"Udah, mas, gapapa kok, aku paham perasaan Lionel gimana. Mungkin dia masih butuh waktu." ucap Clara menenangkan suaminya, meski dirinya juga tidak terlalu yakin kalau Lionel akan menerimanya nanti.
"Maafin aku ya," ucap Devano menggenggam tangan Clara.
"Oh iya, kamu kenapa belum tidur?" tanya Devano.
"Tadi kebangun gara-gara dengar ada suara ribut-ribut." jawab Clara yang hanya di tanggapi dengan Devano dengan sekali anggukan.
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Kantin Dirgantara.
"Weh weh, gue punya pertanyaan nih," ujar Fajar semangat.
"Apaan?" tanya Aldi menimpali.
"Apa yang bakalan kalian lakukan, ketika kalian melihat seseorang mencoba bunuh diri dengan melompat dari gedung lantai 10, di lingkungan sepi, tanpa meminta pertolongan orang lain dan tanpa alat?" tanya Fajar membuat Lionel CS yang lain melongo mendengarnya.
"Panik, teriak-teriak mintol, siapa tau kan ada orang" balas Afwan. "Kan nggak boleh minta pertolongan orang lain" ucap Fajar mengingatkan.
"Kabur, pura-pura gak tau dan nggak liat," balas Zaki. "Jahat lo, Zak" ucap Fajar.
"Lari masuk ke gedungnya, nyamperin orangnya, mencoba nahan dia supaya nggak lakuin itu, terus kasih nasehat yang baik buat dia" ucap Aldi. "Kalau nggak keburu gimana? Misalkan lo baru nyampe lantai 10,eh ternyata dia udah keburu loncat dan jatoh ke bawah gimana?" tanya Fajar lagi.
"Taulah, lo pikir aja sendiri." balas Aldi kesal.
"Kalau lo, apa yang bakalan lo lakuin?" tanya Fajar menatap Martin.
"Berusaha siaga di bawah, dengan mengadahkan tangan gue ke atas, jadi kalau dia siap mau jatoh biar gue tangkep" balas Martin. "Kalau lo salah sasaran dan dia malah jatoh di sisi lain gimana?" tanya Fajar lagi.
"Ya gue kabur" balas Martin seadanya yang langsung dapat jitakan dari Adly.
"Kalau lo, gimana?" tanya Fajar beralih ke Maulana.
"Kalau gue ya bodo amat. Kalau dia emang mau bunuh diri, ya tinggal lompat aja. Kalau dia mati juga gue gak peduli. Mati tinggal mati, simple, gitu aja ribet." balas Maulana dengan tidak punya hatinya berucap dengan santai.
"***** nggak punya hati banget lo" ujar Fajar.
"Tapi gue setuju juga sama lo. Toh, dia bukan siapa-siapa gue, HAHA." lanjut Fajar yang di akhiri dengan tawanya yang menggelegar. Sedangkan teman-temannya sudah menatapnya datar.
"Belom aja gue bunuh, nih anak."
"Pengen gue cekek, nih anak."
"Sesat *****."
"Lama-lama gue buang lo ke Segitiga Bermuda."
"Pantesan Caca mutusin lo, orang elo nya nggak punya hati."
Deg.
Fajar langsung kicep seketika mendengar ucapan Marcel barusan.
"Bhaahhahaha." tawa mereka pecah melihat Fajar yang tiba-tiba kicep.
Nyatanya Fajar memang benar-benar belum move on dari mantannya itu. Memang kalau orang sudah sangat sayang dengan seseorang, itu susah buat melupakan kenangan di masa lalu bersama seseorang itu, ya.
"Eh itu orangnya, panjang umur banget di omongin langsung dateng" ujar Adly menunjuk ke arah pintu kantin, membuat mereka juga menolehkan pandangan nya ke arah yang di tunjuk Adly tadi.
Jantung Fajar seketika berdetak lebih cepat melihat siapa yang memasuki kantin, Caca. Terlebih lagi Caca dan kedua temannya sedang berjalan ke arah meja yang berada tak jauh dari tempat Lionel CS. Pandangan Fajar tak pernah lepas memperlihatkan Caca yang sudah duduk di tempatnya, hingga saat Caca menoleh menatapnya juga, pandangan mereka bertemu membuat jantung keduanya saling berdetak dengan cepat.
"CA, SI FAJAR MASIH SAYANG TUH KATANYA, SAMA LO" teriak Putra membuat Caca maupun Fajar memutuskan kontak mata mereka. Terutama Fajar yang kini menatap ke arah Putra tajam.
"TAU CA, TEMEN GUE YANG SATU ITU JADI GALAU TERUS TIAP HARI, SEMENJAK DI PUTUSIN ELO" teriak Aden menimpali, Caca hanya menundukkan kepalanya.
"Apaan sih, lo pada" sergah Fajar.
"CA, JANGAN PERCAYA, MEREKA BOHONG." teriak Fajar membuat Caca mendongak di tempatnya, menatap Fajar.
"KALAU KITA BOHONG NANTI DOSA, CA. JADI KITA JUJUR, KALAU FAJAR GAMON SAMA LO." balas Marcel.
"Heh playboy cap sarden!! Mending lo diem aja deh, nggak usah ikut kompor, tuh kaya si Onel, anteng dari tadi." sahut Fajar menatap tajam Marcel.
"Enak aja lo ngatain gue playboy cap sarden. Elo tuh, Kang gamon cap sambel terasi!." balas Marcel.
"Neng Caca, dari pada sama si Fajar, mending sama gue aja sini" ujar Marcel menggoda Caca membuat Fajar yang melihatnya sudah terbakar api cemburu.
"HEH JANGAN NGADA-NGADA LO!" ucap Fajar cepat dengan suara lantang nya, menunjuk Marcel.
Caca memperhatikan Fajar yang wajahnya kini memerah. Jujur, sebenarnya Caca sendiri juga masih sangat sayang dengan Fajar.
"Dih kenapa lo jadi emosi gitu? Katanya udah move on? Ah iya, lo emang masih sayang kan sama Caca? Ngaku lo!" tanya Maulana beruntun membuat Fajar langsung diam seketika.
"Asal kalian tau ya, move on itu nggak semudah membalikkan telapak tangan. Apa lagi melupakan seseorang yang selama ini udah singgah di hati dan hidup kita. Pernah melewati suka duka dalam sebuah hubungan bersama. Pernah mengukir kenang yang indah bersama. Dan untuk melupakan semua itu, bukanlah hal yang mudah buat gue." ucap Fajar yang masih dapat di dengar oleh Caca. Caca yang mendengarnya hanya bisa menunduk. Dia menjadi merasa bersalah dengan Fajar.
"Kalau kaya gitu, melupakan bukanlah hal yang tepat buat kalian lakukan. Tapi ikhlaskan." ucap Aldi.
"Bener nih kata Aldi. Ikhlasin yang lalu, carilah yang baru." timpal Aden.
"*****, virus playboy Marcel udah nular ke Aden." balas Adji yang langsung dapat toyoran di kepalanya dari Aden.
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Bersambung...