Lionel

Lionel
Lionel 11



...“Mereka itu terlalu memandang seseorang dari luar, tanpa tahu jati diri orang itu yang sesungguhnya.” ...


...—Mutia Anggraeni...


.... ...


.... ...


.... ...


...HAPPY READING ❤️...


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


"LIONEL, MARCEL, ADLY, MARTIN, ZAKI..... BERHENTI KALIAN!!!" teriakan yang sangat memeking di telinga itu berasal dari Bu Widia yang kini sedang mengejar 5 siswa yang namanya di sebut tadi.


Seperti biasa, mereka datang terlambat dan mendapatkan hukuman dari guru kesayangan mereka itu. Tapi bukannya melaksanakan hukuman, mereka lebih memilih kabur dan berakhir dengan acara kejar-kejaran dengan Bu Widia seperti yang sedang mereka lakukan saat ini.


Nafas Bu Widia terpenggal-penggal, bahkan sepertinya ia sangat tidak sanggup lagi untuk mengejar kelima muridnya itu.


Zaki berhenti saat merasa Bu Widia berhenti mengejar mereka, ia membalikkan badannya di ikuti dengan Lionel, Adly, Marcel, dan Martin.


"Ayo dong bu, kejar kita. Masa segini doang udah kecapean," teriak Zaki pada Bu Widia yang kini terlihat sedang menopang badannya dengan kedua tangan yang di letakkan di kedua lututnya, tak lupa juga dengan deru nafasnya yang memburu.


"Ka-kalian ini.....k-kan sudah ibu bilang...jangan berani-beraninya...untuk k-kabur...hosh...hosh," ujar Bu Widia sembari terus menetralkan deru nafasnya yang masih memburu.


"Lagian kita bosen bu, hukuman nya itu-itu mulu, sama sekali nggak menantang. Emang nggak ada hukuman lain gitu selain berdiri di lapangan? Yang ekstrim dikit gitu bu, kayak misalnya baku hantam gitu, kan seru tuh bu, nanti yang menang di kasih hadiah, dari ibu." ujar Adly yang langsung mendapatkan pelototan gratis dari ibu Widia tersayang.


"Iya bu, atau nggak hukuman nya challenge aja bu, macarin 20 siswi Dirgantara dalam waktu 5 menit" kali ini Marcel si playboy cap kaleng ikan yang berseru memberi usul, dan tentu saja mendapatkan pelitotan yang tak kalah tajam dari bu Widia. Sedangkan Lionel, dia malah terlihat santai menonton temannya yang sedang mengerjai guru BK tersebut, membuat bu Widia jadi terpancing emosi.


"Elo mah emang paling semangat kalo urusan yang kek gitu mah,"


"Ngeliatin kitanya biasa aja dong bu, ntar bentar lagi mau copot tuh mata, serem bu"


"APA KAMU BILANG?!!"


"KABOOOORRRR!!"


"HEI, JANGAN KABUR LAGI KALIAN....SAYA CAPEK NGEJAR NYAAAAAAA... BERHENTI!!,"


"AYO DONG BUU, SEMANGAT NGEJAR NYAAA, KAPAN LAGI COBA KITA MAIN KEJAR-KEJARAN KAYA GINI, SAMA COGAN LAGI, BU"


Mereka terus saja berlari dengan bu Widia yang mengejar mereka. Kebanyakan siswa dan siswi kini sedang mengintip aksi mereka itu melalui jendela kelas. Tidak perduli dengan guru yang sedang mengajar, yang penting mereka bisa menyaksikan most wanted Dirgantara yang sedang memperlihatkan adegan kejar-kejaran dengan guru BK, fikir mereka. Tidak jauh beda dengan yang lain, teman-teman Mutia juga kini sedang mengintip aksi mereka yang sedang berlari menelusuri koridor dengan bu Widia yang terus mengejar di belakang nya, kecuali Mutia. Kelas mereka memang sedang tidak ada guru saat ini.


"Gila, gue bener-bener nggak habis fikir sama jalan pikiran mereka itu" ucap Anjani sembari menggelengkan kepalanya, ucapannya barusan mendapat anggukan setuju dari temannya yang lain kecuali Mutia yang kini lebih fokus pada novel yang ada di genggaman nya.


"Bar-bar banget emang tuh mereka, sampe bu Widia aja di ajak kejar-kejaran sama mereka" ucap Raisyah yang di balas gelak tawa dari yang lain.


"Emang nggak salah sih kalau mereka di juluki sebagai badboy"


"Tapi bosen gue, setiap hari nyaksiin adegan mereka yang suka buat onar mulu"


"Tau tuh, emang mereka nggak takut apa, sama omongan orang yang di luaran sana"


"Takut kenapa?" tanya Mutia mulai membuka suara.


"Yakan mereka itu udah di cap jelek dengan kelakuan mereka yang suka buat  onar itu, emang mereka nggak takut kalau andai orang lain semakin men-cap jelek kelakuan buruk mereka?" jelas Michell.


"Mereka itu terlalu memandang seseorang dari luar, tanpa tahu jati diri orang itu yang sesungguhnya" ujar Mutia.


Teman-teman Mutia kompak mengernyitkan dahi mereka sambil menatap Mutia bingung.


"Kok lo tiba-tiba ngomong gitu?" tanya Meidy.


"Kenapa emang?" bukan jawaban yang Mutia berikan, malah Mutia balik melontarkan pertanyaan.


"Ya nggak pa-pa sih, cuma kesannya lo kayak ngebela mereka gitu,"


Mutia hanya membalasnya dengan sekali kedikan bahu.


Sedangkan di sisi lain.... Lionel beserta keempat temannya masih melanjutkan acara kejar-kejaran mereka tadi dengan Bu Widia. Terlihat wajah bu Widia yang sudah memerah dan laju larinya yang kian melambat di sertai nafas yang memburu dan tersenggal.


"CUKUP... BERHENTI"


"YAH KOK UDAHAN SIH BU, AYO DONG LANJUT, TANGGUNG BU KALAU NGGAK DI LANJUT" balas Zaki berteriak.


"SUDAAAAH... SAYA SUDAH TIDAK KUAT LAGI UNTUK NGEJAR KALIAN" bu Widia kembali berteriak sambil berjalan terseok-seok mengejar mereka yang memperlambat larinya dan menghadap ke arah bu Widia.


"BERHENTI KALIAN, STOP"


"KAU MENCURI HATIKU," balas Adly malah bernyanyi.


"HATIKU" kini Marcel pula ikut menimpali membuat bu Widia rasanya ingin menenggelamkan mereka berlima ke api neraka.


"TARIK SIIIISSSST," kini giliran Zaki yang memulainya.


"SEMONGKO" seru Adly, Martin, dan Marcel bersamaan, Lionel masih mempertahankan wajah tembok nya sedari tadi sembari melipat kedua tangannya di dada.


"KINI TINGGAL AKU SENDIRI"


"HANYA BERTEMAN DENGAN SEPI"


"DUMPAK DIDING, JOSS" sahut Martin.


"MENANTI DIRIMU KEMBALI"


Mereka malah melanjutkan konser dadakan itu tanpa menghiraukan tatapan tajam bu Widia yang tertuju ke arah mereka. Mereka kini justru dengan asik dan santainya malah bergoyang kesana kemari, kecuali Lionel yang hanya memperhatikan mereka.


"MIPAN ZUZUZU"


"Kaga nyambung, bedon" ujar Zaki menempeleng pala Martin.


"AKANG GENDANG NYA JUGA JANGAN LUPA, OYY" seru Martin.


"WEHHH GANTI,"


"IBU WIDIAAAA, KALAU SAYA BILANG LARI-LARI YAAAAA,"


"LARI"


"DIAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAMMMMMMM" pada akhirnya kesabaran bu Widia pun lenyap sudah. Dan sudah di pastikan kelima siswa itu tidak akan lolos begitu saja setelah ini.


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


"Anjirlah, apes banget gue, cubitan dan jeweran kasih sayang dari bu Widia kaga maen-maen hyung"


"Lo kira cuma lo doang apa, gue juga kali" sungut Zaki berdecak kesal. Mereka kini sedang ada di kantin.


"Ribut banget lo pada, diem bentar napa noh kayak si Onel, dari tadi anteng-anteng bae nggak kayak lo pada, berisik" sahut Martin.


"Yeee si bambang, lo kaya nggak tau dia aja, dia emang dari sononya juga begono kali, udah nggak aneh lagi" balas Marcel.


"Bapak gue kenapa lu panggil ****, ntar kalo dateng gimana?" ujar Adly menggeplak pala Marcel.


"Hehe, maapkeun, cogan kelepasan"


"Halah tayik, cogan" balas Martin.


"IRI? BILANG BOSSSS... AHAY... PAPALE.. PAPALE.. PAPALE.. PA.. PALE.. PALE.." balas Marcel dengan menirukan dance tiktok membuat teman-temannya yang lain menatap ke arahnya datar. Marcel yang merasa kikuk akibat tatapan datar merekapun akhirnya menggaruk teungkuknya yang tak gatal sembari meringis kikuk.


"Bukan temen gue" ucap Adly menatap Marcel menggeleng.


"Bukan temen gue juga, sorry nggak kenal" ucap Martin ikutan.


"Apalagi gue, kenal kaga" ucap Zaki juga menimpali.


"Jahat amat sih lo pada, Nel bela gue kek, jangan diem-diam aja lo dari tadi" ujar Marcel menatap Lionel meminta pembelaan, namun Lionel hanya terlihat acuh.


"Siapa lo?" tanya Lionel terkesan cuek membuat yang lain tak kuasa menahan tawa karena melihat wajah Marcel yang nampak kesal.


"Temen laknat lo pada, biadab." sungut Marcel membuat tawa teman-temannya semakin pecah, sedangkan Lionel hanya tersenyum tipis melihatnya.


"Apa yang kalian lakukan ke abwang itu....... JAHHHAAADDDD" ucap Marcel lagi dengan nada bicara mengikuti adegan film AADC, namun versi Marcel malah terdengar lebay dan sangat menjijikan bagi teman-teman nya.


"JIJIK, NYET" balas mereka serempak, kecuali Lionel yang hanya menatap datar Marcel.


"WOYYY LO PADA UDAH NYANTOL DI SINI AJA, KEBIASAAN LO KALO BOLOS NGGAK PERNAH NGAJAK-NGAJAK" teriak Aden saat baru saja memasuki kantin bersama Lionel CS yang lainnya.


"Kita abis main kejar-kejaran sama bu Widia" balas Adly santai.


"Tau gue, tadi kita ngeliat kalian lagi di kejar bu Widia, asli ngakak gue ngeliatnya" ujar Afwan yang di angguki yang lainnya.


"Lo pada ngakak, kita yang akhirnya dapet serangan penuh kasih sayang dari bu Widia" sahut Martin kesal.


"Ho'oh, liat nih, kuping gue di tarik kenceng banget, sampe gue rasa kayaknya pen copot nih kuping" balas Adly.


"Makanya, lain kali jangan mancing emosi bu Widia, udah tau dia orangnya gitu..." ucap Maulana sok menasihati kelima karibnya itu, padahal dirinya sendiri pun tak jauh beda.


"KAMU INI JANGAN SOLIMI!!!" sahut Marcel menunjuk Maulana.


"SOLIMI-SOLIMI, SOLEHAH!!" balas Maulana.


"KAMU SIHHHH!" Aden ikut menimpali.


Lionel memijat pelipisnya yang terasa pening. Drama para karibnya pun kini sudah di mulai.


"LAH, MANA SAYA TAHU.... SAYA KAN IKAN!," balas Fajar.


"Udah woy, berisik lo pada, pusing gue liatnya" ucap Aldi menengahi. Lionel menghembuskan nafasnya lega, beruntung ada Aldi yang menengahi, kalau tidak...bisa pecah kepala Lionel lama-lama menyaksikan drama unfaedah dari teman-teman nya itu.


"Pusing??? Minum Paramex Nyeri Otot!" ujar Adji menirukan gaya iklan di tv.


"Nyeri otot, nyeri sendi dan pegal linu? Paramex obatnya...." ujar Putra juga ikut menimpali.


Lionel kembali menghembuskan nafasnya kasar. Selesai sudah drama yang di siarkan mereka, dan kini beralih menjadi mempromosikan iklan Paramex.


"Sakit kepala malah di suruh minum obat nyeri otot, kan ****."


"Yaudah ganti aja, jangan Paramex" ujar Martin.


"Pusing? Ayo, segera ganti seprai anda dengan, california. Di jamin, pusing anda akan hilang tergantikan dengan rasa nyaman anda saat berbaring. California aaaaaaaaa, kalifornia....sepre bagus, kalifornia sepre baguss..." ujar Afwan di akhiri dengan bernyanyi menirukan seperti yang ada di tv. "Kalifornia, ini sepre bagusssss." sambung Afwan.


"SALAH SERVER, ****" sahut teman-temannya semua serempak.


"YANG ADIL MINUM OSKADON AJA UDAH, RIBET LO PADA" sahut Maulana kesal.


"Noh, dia duluan yang ngaco" tunjuk Putra pada Adji.


"Lah, salah kalian juga. Siapa suruh malah ngelanjutin" balas Adji tidak terima.


Sudah, cukup. Lionel sudah tidak tahan lagi mendengarnya. Kepalanya terasa ingin pecah saat ini juga.


"Berisik" tukas Lionel tajam.


Dan, lihatlah. Hanya dengan satu kata yang terlontar dari mulut Lionel, mereka semua bahkan langsung terdiam hingga suasana hening menyapa mereka.


"Unfaedah" lanjut Lionel masih dengan wajah tembok nya yang setia menemani.


"Di tegor Lionel aja, baru pada kicep" decak Aldi menggelengkan kepalanya heran.


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Bersambung...