
...“Ternyata lo nggak seburuk yang orang lain kira.”...
...—Mutia Anggraeni...
...HAPPY READING ❤️...
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Malam ini Mutia berencana untuk pergi ke supermarket depan komplek untuk membeli cemilan karena stok cemilan di rumahnya sudah habis dan mengharuskannya untuk membeli lagi.
Mutia jalan menuruni tangga untuk meminta izin terlebih dahulu dengan mamah nya.
"Mah, Muti mau ke supermarket depan komlpek dulu ya sebentar, mau beli stok cemilan soalnya udah abis." pamit Mutia pada mamah nya yang sekarang sedang menonton televisi di ruang keluarga.
"Iya, hati-hati ya." jawab mamah nya yang di balas anggulan oleh Mutia.
Mutia berjalan kaki menuju supermarket yang berada di depan komplek nya, ia hanya menggunakan kaos hitam yang di balut dengan sweeter dan hot pants.
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Di tempat lain, Lionel kini sedang berada di salah satu club yang ada di Jakarta bersama teman-teman nya yang lain.
"Gila cewek yang di sana cakep banget," ujar Marcel menunjuk seorang gadis yang terlihat sedang tertawa bersama temannya yang lain.
"Inget, lo udah punya pacar" ucapan Aldi barusan sontak membuat Marcel mencebik kesal.
"Gak usah monyong-monyong gitu bisa? Geli gue liat lo kaya gitu," ucap Fajar membuat Marcel semakin kesal.
"Yang abis di putusin diem aja mendingan." balas Marcel kini berhasil membuat Fajar bungkam.
"Eh gue jadi keinget sama cewe yang tadi berani misahin Lionel berantem waktu di sekolah deh," celetuk Aden tiba-tiba membuat yang lainnya sontak langsung menatapnya begitupun dengan Lionel.
"Iya juga ya, berani banget tuh cewek" timpal Martin, "tapi cakep juga sih dia" lanjut Martin sambil senyum-senyum seperti orang gila.
"Tapi kayaknya gue belum pernah liat dia sebelumnya di Dirgantara, apa dia siswi baru yang waktu itu pernah Putra bilang?" tanya Maulana.
"Bisa jadi sih," balas Putra mengangguk.
"Eh Yon, terus tadi cewek itu lo apain sape di tarik-tarik gitu sama lo?" tanya Zaki beralih menatap Lionel.
"Namanya Mutia" ucap Lionel dingin sembari meneguk kembali vodka nya.
"Oh jadi lo udah kenalan sama dia, terus tadi lo ngapain dia?" tanya Afwan yang langsung mendapatkan jitakan dari Aden.
"Kok gue malah di jitak sih, orang gue cuma nanya doang" sahut Afwan tidak terima.
"Omongan lo ambigu nyet" balas Aden menatap Afwan.
"Yaudah sih santai, gak usah di jitak juga pala gue, nanti kalau gue makin ****** tanggung jawab lo" sungut Afwan.
"Ngaku juga lo kalau ******," ucap Aden setelahnya tertawa terbahak-bahak.
"Gimana cewek itu?" tanya Martin kembali menatap Lionel.
"Gue cuma nyuruh dia obatin luka gue" balas Lionel sekenannya.
"Gak macem-macem kan lo sama dia?" tanya Afwan lagi dan mendapatkan jitakan yang kedua kalinya dari Aden.
"Otak lo ngeres banget sih, pantesan ****" sarkas Aden yang di balas cebikkan dari Afwan.
"Mau kemana lo, Nel?" tanya Maulana saat melihat Lionel berdiri dari tempatnya duduk tadi.
"Pulang" balas Lionel singkat.
"Yaelah baru juga bentar, masa udah mau pulang aja. Gak seru lo," sahut Zaki yang di angguki yang lainnya.
"Kalau kalian masih mau di sini yaudah, nanti biar gue yang traktir." balas Lionel yang langsung mendapat sorakan gembira dari teman-teman nya itu.
"Gini baru seru," sorak Adji gembira.
"Gue cabut" setelah mengatakan itu, Lionel langsung melangkahkan kakinya pergi dari club tersebut.
"Hati-hati bro" teriak Martin yang tentu tidak di dengar oleh Lionel karena laki-laki itu sudah cukup jauh.
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Mutia baru saja keluar dari supermarket dengan dua kantong plastik di genggaman tangannya.
Ia berjalan kembali menuju komplek perumahannya untuk pulang. Ia berniat ingin nonton drakor kesukaannya sepulang dari supermarket nanti.
Di tengah perjalanan, Mutia mendengar suara derum motor yang sangat keras berasal dari arah belakang nya.
Mutia membalikkan badannya melihat ke arah suara tersebut. Dan ternyata di sana terlihat sebuah motor yang berjalan dengan kecepatan tinggi mengarah tepat ke arah Mutia sekarang.
Mutia membelalak kaget, ia berdiri mematung dengan tatapan kosong memandang motor tadi. Sampai akhirnya...
"AWAAS,"
Bruk...
Motor itu berhasil menyerempet Mutia hingga membuatnya terjatuh. Ingat hanya terserempet.
Mutia menengokkan kepalanya ke belakang, di sana terlihat seorang lelaki sedang memegang tangannya seperti menahan sakit. Suara ringisan dari lelaki itu terdengar oleh Mutia. Ia tau kalau tadi ada seseorang yang sengaja mendorong nya agar tidak tertabrak tadi.
Dengan gerakan pelan Mutia mencoba untuk bangkit dan menghampiri lelaki yang menolong nya tadi.
"Makasih ya, lo gak pa-pa kan?" tanya Mutia pada lelaki yang sedang berada di hadapannya kini.
Lelaki itu mendongakkan kepalanya menatap seseorang yang di tolong nya tadi. Setelah mengetahui gadis yang di tolong nya tadi, lelaki itu membelalakkan matanya begitu pun dengan Mutia.
"Elo?" ucap mereka berbarengan dengan Mutia yang menunjuk Lionel dan Lionel yang menunjuk Mutia juga. Ya, orang yang menolong Mutia tadi adalah Lionel.
"Kok lo ada di sini?" tanya Mutia heran menatap Lionel.
"Seharusnya gue yang nanya sama lo, ngapain lo malem-malem gini masih keluyuran keluar?" tanya Lionel balik.
"Dari supermarket" balas Mutia seadanya dan memilih untuk membereskan plastik beserta isinya yang berserakan tadi.
"Lain kali kalau udah tau ada motor mau lewat itu minggir, bukannya malah diem aja kaya tadi, lo mau ketabrak terus mati?" ucap Lionel begitu menusuk dan tajam membuat Mutia rasanya ingin menyumpal mulut lelaki itu dengan cabe satu kilo.
"Diem lo," balas Mutia sewot.
"Udah di tolongin bukannya bilang makasih malah sewot, cewek gila" gumam Lionel yang tentunya masih dapat Mutia dengar.
"Heh, apa tadi lo bilang?" tanya Mutia bangkit dan menatap Lionel sengit.
"Gue rasa gue gak perlu ngulang, karena lo juga pasti denger" balas Lionel acuh.
"Ih rese banget sih lo, ternyata ucapan temen-temen gue bahkan siswa siswi Dirgantara tentang lo itu salah, mereka bilang katanya kalau lo itu galak, menakutkan, dingin, cuek, cool. Tapi pada kenyataannya lo itu nyebelin, aneh, rese orang nya" jelas Mutia menatap Lionel masih dengan tatapan sengit nya tadi.
"Jangan pernah menilai buku dari sampul nya, begitupun manusia. Jangan pernah menilai orang lain dari cover nya saja, karena mereka gak akan tau kebenarannya nya seperti apa." ucapan Lionel berhasil membuat Mutia menganga tidak menyangka. Ternyata Lionel bisa berkata bijak seperti tadi juga, pikir nya.
"Ternyata lo bijak juga ya, baru tau gue" ujar Mutia terkekeh.
"Bacot," seperti sekarang Lionel kembali dengan sifat nya yang dingin dan datar itu, terlihat dengan wajahnya yang berubah datar, tatapan mata yang kembali menajam, dan juga nada bicaranya yang kembali dingin dan cuek.
"Sekarang lo gue anter pulang." ucap Lionel tak terbantahkan.
Mutia hanya mengikuti Lionel dari belakang. Lionel berjalan menuju tempat motor nya terparkir tadi dengan Mutia yang mengikuti di belakang.
Lionel naik ke motornya dan di susul dengan Mutia yang juga menaik di belakang Lionel. Lionel menjalankan motornya menuju rumah Mutia, Mutia terus mengarahkan Lionel dimana rumahnya berada.
Sebenarnya Mutia ingin menanyakan kenapa Lionel tiba-tiba ada di komplek perumahannya tadi saat menolong dirinya. Tapi pertanyaan itu Mutia pendam terlebih dahulu, ia malas kalau harus berlama-lama dengan Lionel sekarang. Lagi pula pasti mamahnya sedang khawatir karena Mutia belum pulang dari supermarket.
"Yang ini rumah nya?" tanya Lionel.
"Iya, thanks udah mau nganterin dan nolongin tadi," ucap Mutia tulus.
"Hmm" balas Lionel singkat membuat Mutia berdecak.
Tanpa mengucapkan selatah katapun lagi Lionel langsung melajukan motornya meninggalkan Mutia yang masih berdiri di depan gerbang rumahnya.
"Tuh orang kaya punya kepribadian ganda deh. Kadang dingin, kadang ngeselin. Taulah, bingung gue sama tuh orang" ucap Mutia berbicara sendiri.
Mutia berjalan memasuki rumahnya. Di ruang keluarga terlihat mamah dan juga papah nya yang sedang berbincang.
"Pah, udah pulang?" tanya Mutia menghampiri papah nya.
"Udah, kamu dari mana aja. Terus itu lutut kamu kenapa luka gitu?" tanya papah nya dengan nada yang sedikit khawatir.
"Muti abis dari supermarket yang ada di depan komplek tadi pah, terus ini tadi Muti gak sengaja jatuh karena jalan gak liat-liat." jawab Mutia bohong.
"Lain kali hati-hati sayang" ujar mamahnya menatap Mutia yang di balas senyuman dan anggukan dari Mutia.
"Muti ke kamar dulu ya mah, pah" pamit Mutia yang di angguki mamah dan papah nya.
Mutia berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Sesuai rencana nya tadi, ia akan menonton drakor dengan cemilan yang di belinya tadi. Luka yang ada di lutut nya di biarkan begitu saja dengan nya, paling ntar juga sembuh sendiri, pikir nya.
Mutia memasuki kamarnya dan langsung menjatuhkan dirinya ke kasur. Mutia mengambil laptopnya untuk menonton drakor kesukaannya. Cemilan yanh yang di beli nya tadi sudah siap berada di genggaman tangannya.
Hingga tak terasa hari semakin larut dan Mutia mulai merasa ngantuk. Ia mematikan laptopnya dan memilih untuk istirahat karena besok ia akan kembali bersekolah, ia tidak mau menerima resiko terlambat datang ke sekolah hanya karena keasikan nonton drakor sampai larut malam. Perlahan Mutia mulai memasuki alam Mimpi nya.
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Di lain tempat...
"Sial, kenapa bisa salah sasaran?" bentak seorang lelaki menatap tajam seseorang yang berdiri di hadapan nya sekarang.
"Ma-maaf bos, gue juga gak tau kalau bakalan kaya gini," ucap seorang lelaki yang memakai jaket parasut itu terbata-bata.
"Gue nggak peduli sama alasan lo itu, yang gue mau rencana gue harus berhasil, gue harus bisa membuat dia menderita dan merasakan apa yang pernah gue rasain dulu," ucap lelaki yang memakai baju biru tua itu tajam. Seringai di bibirnya dan tatapan yang tajam membuat siapapun yang melihat nya akan bergidik ngeri.
"Pokoknya rencana gue yang seterusnya harus berhasil. Gue nggak mau lagi denger kata gagal kali ini, ngerti?" tanya lelaki yang menggunakan baju biru tua tadi dengan lelaki yang ada di hadapan nya kini.
"Ngerti bos," jawab lelaki tadi mengangguk.
"Sekarang lo boleh pergi"
"Permisi," pamit lelaki yang menggunakan jaket tadi dan setelahnya pergi dari hadapan lelaki yang menggunakan baju biru tua.
"Kita liat pembalasan dari gue selanjutnya, lo nggak akan bisa lolos gitu aja dari gue." ucap nya pelan dengan seringai dan tatapan mata yang kian menajam.
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Bersambung...