
...“Nyaman bukan berarti suka!” ...
...—Lionel Mutia. ...
.... ...
.... ...
.... ...
...Sejak pertama kita ...
...Menjalin kisah cinta ...
...Tak ada yang bisa...
...Merubah kisah kita...
...Ternyata, aku salah...
...Iman yang berbicara ...
...Tolong aku, Tuhan...
...Mengapa semuanya terjadi ...
...Tolong tanyakan pada Tuhanmu...
...Bolehkah aku yang bukan umat-Nya...
...Mencintai hamba-Nya...
...Bila memang cinta ini salah ...
...Mengapa kita yang harus terjatuh ...
...Terlalu dalam. ...
...🎶🎵Aku Yang Salah — Elmatu🎵🎶 ...
...HAPPY READING!! ...
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Selasa, SMA Dirgantara.
Hari yang paling membosankan bagi sebagian siswa, karena setiap hari Selasa mereka akan menghadapi pelajaran Sejarah yang sangat membosankan. Menceritakan kejadian masa lalu yang bahkan sudah beberapa kali di ceritakan. Dan pada akhirnya mereka pasti akan menghadapkan kuis dadakan.
"Ah ***** lah, bosen gue" kesal Aden sembari tangannya terus memainkan pulpen.
"Bolos yuk lah" usul Martin.
"Perhatian yang ibu jelaskan, dan tidak ada alasan untuk kalian membolos!" suara lantang itu mengintruksi mereka semua, terutama Lionel CS.
"***** lah, rasanya pengen menghilangkan aja gue dari sini" gerang Adly.
"Marcel, sedang apa kamu?" tanya Bu Tantri menatap galak Marcel, membuat sang empu gelagapan sendiri.
"An-anu bu, ng-nggak ngapa-ngapain kok, hehe" jawab Marcel sembari menggaruk teungkuk nya kikuk.
Bu Tantri tidak percaya. Ia berjalan menghampiri Marcel dengan langkah tegasnya. Sedangkan Marcel sendiri semakin panik melihat guru Sejarah itu yang semakin mendekat ke arahnya, hingga kini berada di hadapannya.
Bu Tantri mengulurkan tangannya ke arah laci bawah meja dan meraba sekitarnya. Marcel tampak memejamkan matanya.
"Apa ini?" tanya bu Tantri sembari mengengkat sebelah tangannya yang menggenggam ponsel milik Marcel yang di sembunyikan di laci bawah meja itu dengan keadaan layar menyla.
"Handphone lah bu, masa itu aja ibu nggak tau," Marcel menjawab nya dengan sangat kelewat santainya, membuat bu Tantri justru terpancing emosinya.
"Jadi kamu tidak mendengarkan penjelasan ibu sedari tadi?!" tanya bu Tantri garang.
"Hehe, abisnya saya bosen bu, ibu ceritanya panjang banget. Yaudah lebih baik saya mainin ponsel saya, balesin chat dari ciwi-ciwi yang nge-fans sama saya." balas Marcel dengan penuh percaya dirinya membuat bu Tantri mendengus kesal. Sedangkan temannya yang lain sedang menahan tawanya mendengar jawaban dari Marcel tadi, bahkan ada sebagian dari mereka yang secara terang-terangan meledek Marcel.
"Ponsel kamu ini sekarang ibu sita, selama pembelajaran ibu selesai!"
"Yah jangan dong bu," balas Marcel memohon.
"Sudah, kamu diam dan perhatian yang ibu jelaskan. UNTUK KALIAN JUGA, KALAU IBU SEDANG MENJELASKAN, KALIAN PERHATIKAN, KARENA AKAN ADA KUIS SEPERTI BIASANYA DI AKHIR PEMBELAJARAN." suara lantang bu Tantri menggelegar di sepenjuru kelas.
"Baik bu" jawab mereka semua serempak.
Bu Tantri melangkahkan kakinya kembali ke tempat mejanya berada sembari membawa ponsel milik Marcel yang berada di genggamannya. Semuanya kini benar-benar fokus mendengarkan cerita sejarah dari bu Tantri. Lionel CS sesekali menganggukkan kepala mereka saat mendengar cerita dari bu Tantri di depan sana, padahal merekapun tidak paham apa yang sedang di ceritakan.
"Baiklah, sekarang ibu akan memberikan pertanyaan." ucap bu Tantri.
"Apa alasan utama bangsa Eropa melakukan penjelajahan dunia?" tanya bu Tantri.
Maulana mengacungkan tangan kanannya membuat bu Tantri dan yang lain menujukan pandangan mereka ke arah Maulana.
"Saya nggak mau jawab bu, tapi saya heran, apa duit mereka sebanyak itu sampai melakukan penjelajahan dunia segala?" tanya Maulana membuat tawa seisi kelas pecah, tapi tidak dengan Lionel dan bu Tantri.
"Weh *****, Maulana, ****"
"Gila ****"
"Tapi bener juga sih, banyak juga duit mereka ya, haha" Aden ikut menimpali.
"Sudah cukup," suara tegas bu Tantri membuat semuanya terdiam.
"Maulana, tolong serius dikit" ucap bu Tantri menatap tajam muridnya itu.
"Ibu mau saya seriusin? Jangan ah, bu. Saya takut suami ibu ngamuk, kan jadi saya yang kena" bu Tantri semakin menatap tajam Maulana setelah mendengar jawaban lelaki itu. Dan lagi, tawa seisi kelas kembali pecah.
"*****, BU TANTRI PENGEN DI SERIUSIN TUH, MAU" teriak Afwan yang di susul kembali dengan gelak tawa.
"Nggak ah, bu Tantri udah punya suami, tentara lagi. Ntar kalau gue di tembak suaminya karena ketauan nyeriusin bini nya, kan bahaya, kalau gue mati gimana? Gue juga masih pengen ketemu jodoh gue kali, kasian jodoh gue nanti kalau gue mati duluan sebelum kita ketemu dan nikah, masa dia jadi perawan tua ntar." cerocos Maulana.
"***** PIKIRAN LO TERLALU JAUH, PE'A."
"IKHLAS GUE KALAU LO MATI."
"PERAWAN TUA WOYYY, GILAAA BENGEK GUE."
Maulana hanya menyengir melihat tatapan menusuk dari pancaran mata bu Tantri.
Kring.
"ALHAMDULILLAH AKHIRNYA BISA BEBAS DARI PELAJARAN YANG PALING MEMBOSANKAN INIIIIII" Adji berteriak dengan kencang sembari berdiri dari duduknya, tangannya ia rentagkan ke atas dengan kepala yang juga menengadah ke atas, melupakan jika masih ada bu Tantri yang memperhatikan dirinya kini dengan tatapan kilatnya.
"Woy, Dji. Bu Tantri masih ada di depan, ****"
Adji menengokkan palanya menatap ke arah bu Tantri berdiri. Dan detik berikutnya Adji hanya bisa meringis kecil sembari menggaruk teungkuknya saat melihat tatapan bu Tantri yang sangat menghunus baginya.
"Punten bu, keceplosan, hehe. Mulut saya emang nakal nih, bu." ucap Adji malu sendiri.
"Pusing saya mengajar di kelas ini. Sudah, kalian bisa istirahat sekarang" setelah mengucapkan kata itu, bu Tantri segera merapikan buku di mejanya dan bergegas keluar kelas, begitu juga dengan siswa yang lain termasuk Lionel CS.
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Mutia dkk kini sedang berjalan di koridor untuk menuju kantin. Tapi tak jauh dari tempat mereka berjalan kini, ada segerombolan Lionel CS yang nampaknya baru keluar kelas dan menuju kantin juga. Citra yang melihat itu berniat memanggil Putra.
"Putra" panggil Citra membuat sekumpulan lelaki di hadapan mereka itu menghentikan langkahnya dan membalikkan badan mereka serempak, menghadap Mutia dkk.
Jantung Mutia serasa berdegup dua kali lebih kencang saat Lionel tepat berada di hadapannya, di tambah dengan mata elang lelaki itu dan garis rahang yang sangat tegas, membuat kadar ketampanannya kian meningkat. Pandangan mereka ketemu, tapi Mutia langsung memutuskan kontak mata itu dengan cepat.
"Gue cuma manggil Putra doang, kok kalian ikutan balik?" sinis Citra membuat Putra terkekeh di tempatnya, melihat Citra.
"Suka-suka kita lah, kok sewot."
"Berarti suka-suka gue juga lah, gue ini yang sewot kan" balas Citra tak mau kalah dengan Fajar.
"Kenapa?" tanya Putra membuat Citra menoleh.
"Mau ke kantin kan? Gue sama temen-temen gue boleh bareng kalian nggak?" tanya Citra ragu.
"Gue sih terserah Lionel aja"
"Silahkan" Lionel membalasnya dengan tatapan yang tak lepas dari gadis di hadapannya kini.
"Ekhem, biasa aja kali, liatin temen gue nya." ucap Ayu nyindir. Lionel yang merasa dirinya tersendiripun mengalihkan pandangannya menatap Ayu tajam, membuat Ayu takut sendiri di tatap seperti itu dengan Lionel.
"Eh, kalian kalau mau ke kantin duluan aja deh, gue mau balik ke kelas dulu sebentar, ada yang ketinggalan." ujar Ara yang hanya di angguki yang yang lain.
"Kalian juga duluan aja, deh. Gue ada urusan bentar" ujar Marcel membuat mereka bingung, tapi tetap menganggukkan kepala mendengar ucapan Marcel.
Menghiraukan adanya Marcel yang masih berdiri di hadapannya, Ara membalikkan badannya kembali ke kelas untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.
"Ra," panggil Marcel yang ternyata mengikuti langkah Ara.
"Araaaaaaa" panggil Marcel lagi saat tadi tidak mendapat jawaban.
"Ra, lo denger gue kan, Ara" panggil Marcel sekali lagi, tapi tetap saja tidak mendapatkan respon dari Ara.
"Ra lo--"
"Lo bisa diem nggak sih, ngapain juga lo ngikutin gue" sela Ara berbalik menatap Marcel tajam.
"Nggak" Marcel menggeleng. "Emang salah kalau gue ngikutin lo?" tanya Marcel dengan wajah sok polos nya membuat Ara muak sendiri melihatnya.
"Salah. Salah banget." jawab Ara menusuk dan kembali berbalik melanjutkan langkahnya, begitu juga Marcel yang tetap mengikutinya.
"Ra, lo segitu nggak sukanya sama gue ya?"
Ara diam, tidak membalas.
"Araaa, gue bukan angin loh yaa" geram Marcel.
"Tapi menurut gue, lo itu angin" balas Ara cuek.
"Jahat amat lo, Ra, sama gue" ucap Marcel dramatis sembari mengelus dadanya, sabar.
"Bodo."
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Kantin.
Suasana kantin kini sangat heboh. Hal itu di karenakan dengan Mutia dkk yang ikut bergabung dengan Lionel CS. Terlebih lagi dengan Putra dan Citra yang terlihat sangat dekat sedari tadi, padahal sebelumnya mereka sama sekali tidak pernah sedekat itu, hal itu juga membuat Lionel CS yang lain bingung.
"Neng Monik yang cantik, dari tadi diem aja, sini-sini ngobrol sama abang. Kita bicarain tentang masa depan kita berdua," goda Aden menatap Monika jahil yang justru di balas kedikan bahu dan tatapan tajam dari Monika.
"Ngurus rambut aja belom bener, mau ngobrolin masa depan, belagu lo, kribo" ejek Zaki yang di susul gelak tawa.
"Ekhem, kayaknya sebentar lagi di antara kita-kita, bakalan ada yang tumbuh benih cinta" kata Martin sembari menunjukkan senyum jahilnya.
"Siapa tuh, man"
"Tuh,tuh." Marcel menunjuk ke arah Lionel dan Mutia menggunakan dagu nya.
"Kenapa?" tanya Mutia yang merasa dirinya sedang di perhatikan.
"Lo nyadar nggak sih, si Ontel dari tadi ngeliatin lo terus" ujar Ayu membuat Mutia mengalihkan pandangannya menatap Lionel. Tatapan mereka bertemu, dan seperti biasa, Mutia selalu memutuskan tatapan mereka terlebih dahulu. Bukan tanpa alasan, Mutia seperti merasa desiran aneh yang menjolak di dalam hatinya ketika bertatapan seperti itu dengan Lionel, bahkan lelaki itu terus menatapnya tajam dengan mata elangnya.
"Namanya Lionel, Yu, bukan Ontel. Lo kira dia sepedah? Kenapa nggak sekalian Onta?" ujar Afwan.
"Iya udah, beda dikit doang, elah" balas Ayu.
"Nel," panggil Aldi membuat Lionel menoleh.
"Gue udah cari info tentang siapa dalang dari kejadian dimana rem motor lo blong saat balap malam itu. Sebelumnya maaf, karena gue diam-diam nyari info itu sendirian tanpa lo tau." ucap Aldi menjelaskan.
"Hmm, gak pa-pa. Terus gimana?"
"Bener, Gilang adalah dalang dari semua ini. Tapi yang buat rem motor lo blong itu bukan dia," Lionel mengerutkan keningnya pertanda bingung, apa Gilang menyuruh orang lain untuk melakukannya.
"Terus?"
"Iya, kalau nggak salah namanya, Ghufran. Dia adalah salah satu teman sekaligus sepupu Gilang yang mempunyai pemikiran sama, yaitu licik." jelas Aldi.
Mereka tampak mendengarkan penjelasan Aldi tadi dengan seksama, meski Mutia dkk tampak bingung karena tidak tahu inti pembicaraan mereka kini. Lionel tampak mengeraskan rahangnya, tangannya pun mengepal. Mutia tampak seperti sedang mengingat kejadian masa lalu nya, nama itu....Mutia merasa sangat tidak asing, dan Mutia kembali mengingat seseorang yang dulu pernah ada dalam bagian hidupnya, tetapi seseorang itu juga berhasil menaruh luka dalam kehidupan Mutia.
Perlahan Mutia merasa sakit di kepalanya. Air matanya meluruh tanpa diminta. Teman-teman nya dan Lionel CS yang melihat itu jadi panik bercampur khawatir, apa yang terjadi dengan Mutia.
"Mut, lo kenapa?" tanya Meidy yang melihat Mutia memegang kepalanya dan menangis.
"Eh, neng geulis kunaon ini?" tanya Adji yang juga panik.
Lionel tiba-tiba saja bangkit dari duduknya, membuat mereka bingung.
"Ayo,"
Entah sadar atau tidak, dan entah dorongan dari mana, Lionel mengulurkan sebelah tangannya ke arah Mutia. Mutia sempat menatap ragu uluran tangan Lionel, tapi seperkian detik berikutnya Mutia tetap menyambut uluran itu. Teman-teman nya yang melihat sempat terkejut.
Lionel berniat membawa Mutia ke taman belakang sekolah, tujuannya agar membuat Mutia merasa tenang. Dan untuk membantu dirinya merasakan ketenangan dan kenyamanan juga.
Di tengah perjalanan menuju taman belakang sekolah, mereka sempat berpalasan dengan Baron. Lelaki itu menatap Mutia yang berada di samping Lionel, dan tatapannya beralih pada Lionel yang sedang menatapnya tajam. Baron terlihat menunjukkan senyum miringnya dan menatap Lionel seakan berkata, tunggu tanggal mainnya.
Lionel menatap tajam kakak tiri nya itu. Ralat, bahkan dia sama sekali tidak menganggap Baron keluarga nya.
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Taman.
"Duduk." ucap Lionel memberikan instruksi untuk menyuruh Mutia duduk.
Mutia duduk di kursi taman, dan tepat di samping Lionel. Tapi Mutia sengaja memberikan sedikit jarak antara mereka.
"Tadi lo kenapa?" tanya Lionel to the point deng nada cuek khas nya.
"Nggak pa-pa" balas Mutia singkat, membuat Lionel menoleh menatapnya.
"Kalau nggak pa-pa, nggak mungkin lo sampai nangis"
Mutia membalas menatap Lionel. "Lo nggak perlu tau alasan gue, lagian itu juga bukan urusan lo sama sekali." ucap Mutia tajam.
Lionel meluruskan pandangannya ke depan, di ikuti dengan Mutia.
"Nggak tau kenapa, dan sejak kapan, gue ngerasa nyaman kalau deket sama lo" ujar Lionel tiba-tiba membuat Mutia merasakan degup jantungnya yang lebih cepat dari biasanya. Mutia diam, tidak membalas ataupun sekedar merespon ucapan Lionel tadi, dia masih sibuk menetralkan degup jantungnya yang mulai tidak terkendali.
"Dan nggak tau kenapa, gue selalu ingin natap lo terus, dari dekat." ucap Lionel lagi kembali menatap Mutia dari samping. Nada bicaranya pun mulai melunak, tidak cuek seperti biasanya.
"Terus?" hanya kata itu yang bisa Mutia lontarkan. Ia sama sekali tidak tahu dirinya harus merespon ucapan Lionel bagaimana.
"Nabrak" balas Lionel. Mutia menoleh bingung.
"Apanya yang nabrak?" tanya Mutia polos.
"Lo nabrak mang Cecep, tukang batagor yang di depan gerbang sekolah." balas Lionel santai membuat Mutia tampak berfikir, pasalnya dia belum pernah melihat tukang batagor yang berada di depan gerbang.
"Nggak usah di pikirin, nggak penting." ucap Lionel seakan tau yang di fikirkan Mutia.
"Eh tapi gue mau nanya deh," ujar Mutia yang di balas dehaman oleh Lionel.
"Yang lo sama teman lo omongin tadi, maksudnya apaan?" tanya Mutia menatap Lionel.
"Masalah kecil" balas Lionel mengedikkan bahunya.
"Tadi gue ada denger, rem motor lo blong saat balapan? Lo suka ikut balap motor? Terus lo jatuh gitu, karena rem lo blong?" tanya Mutia yang hanya di balas dengan sekali anggukan kepala Lionel.
"Motor lo terus gimana?" tanya Mutia.
"Kirain bakalan nanyain, terus keadaan lo gimana, ternyata malah nanyain motor gue." ujar Lionel sinis.
"Dih, peduli amat gue sampe nanyain keadaan lo" balas Mutia tak kalah sinis.
"Yakin nggak perduli? Terus waktu lo ngobatin luka di tangan gue waktu itu, itu namanya lo nggak perduli?" tanya Lionel.
"Kalau itu kan beda lagi, luka lo waktu itu juga sebabnya karena lo nolongin gue, malam itu. Jadi anggap aja itu sebagai rasa terima kasih gue ke lo." balas Mutia yang di angguki Lionel.
"Mulut gue suka pegel kalau ngomong sama lo," ujar Lionel tiba-tiba.
"Kenapa emangnya?" tanya Mutia bingung.
"Ngomong panjang mulu"
"Dih, lagian gue juga nggak pernah nyuruh lo buat ngomong panjang ke gue" balas Mutia. "Lagian kalau emang pegel, lo nggak perlu ngomong panjang, simpel."
"Tapi kalau sama lo, rasanya gue pengen ngomong panjang, walaupun males banget rasanya." ucap Lionel kembali membalas.
"Aneh lo." ucap Mutia.
"Gue rasa, gue udah bener-bener ngerasa nyaman sama lo. Bahkan hanya dengan waktu yang sesingkat ini, lo berhasil merubah dikit demi sedikit diri gue. You're great."
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Bersambung...