Lionel

Lionel
Lionel 2



...“Jangan pernah meremehkan orang lain kalau diri lo sendiri aja masih banyak kekurangannya.”...


...—Lionel Adriano Siregar...


...HAPPY READING ❤️...


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Bel pulang sekolah sudah berbunyi semenjak setengah jam yang lalu, tetapi kini Lionel dan teman-teman nya masih berada di warung belakang sekolah yang biasa menjadi tempat tongkrongan mereka saat pulang sekolah, warung itu sering di sebut dengan mereka dengan warung neng Ayla.


"Ayla bikinin gue kopi satu dong, jangan terlalu panas, jangan terlalu dingin juga, pokoknya yang pas aja lah." teriak Aldi pada Ayla. Ayla adalah teman satu sekolah mereka yaitu SMA Dirgantara sekaligus teman sekelas mereka. Pemilik warung tersebut sebenarnya ibu nya Ayla, tetapi juga Ayla sering kali membantu ibu nya menjaga warung saat pulang sekolah untuk melayani Lionel dan teman-temannya itu.


"Siap deh" balas Ayla mengacungkan jempol nya ke arah Aldi.


"NENG AYLA, GORENGAN NYA ABIS LAA" teriak Maulana salah satu teman Lionel.


"Hah abis, perasaan tadi baru juga di tambahin masa udah abis lagi" ujar Ayla heran.


"Nih" ucap Ayla menyodorkan kopi yang di pesan Aldi tadi.


"Thank, La" balas Aldi yang di angguki Ayla.


"Nih gorengan nya abis gara-gara mereka berdua tuh, berebut gorengan mulu heran gue jadinya" ujar Putra menunjuk Adly dan Martin bergantian, sedangkan yang di tunjuk hanya memperlihatkan wajah sok polos mereka membuat mereka yang berada di warung itu rasanya ingin sekali menendang wajah sok polos Adly dan Martin itu.


"Udah-udah nih, gorengan nya" ujar bi E'em selaku mamah Ayla datang membawa senampan gorengan hangat yang baru saja selesai di goreng.


"Wiih ini baru mantep, makasih ya, bi" ucap Adji berbinar menatap gorengan yang di bawa bi E'em tadi.


"Fwan, Den, Jar" panggil Ayla pada Afwan, Aden, dan Fajar sontak membuat semua menoleh ke arah Ayla. Yang di panggil siapa, yang noleh semuanya.


"Gue cuma manggil Afwan, Aden, sama Fajar doang kenapa lo semua juga malah nengok" sinis Ayla memutar bola matanya jengah.


"Nape?" tanya Fajar.


"Mabar yuk lah" ajak Ayla pada ketiga nya.


"Ayok aja lah gue mah" balas Afwan yang di angguki Fajar dan Aden.


"Gue juga ikutan dong, masa kalian mabar kaga ngajak-ngajak gue sih" celetuk Maulana.


"Yaudah ayok lah, gasss." ujar Ayla semangat dan langsung mengeluarkan ponselnya dari saku untuk mabar.


"Yon," panggil Marcel pada Lionel yang kini sedang asik berkutat pada ponselnya sendiri.


"Hmm" balas Lionel hanya dengan deheman.


"Ntar malem si Gilang mau nantangin lo balapan, seperti biasa" ucapan itu sontak langsung membuat Lionel mengalihkan pandangan nya yang semula ke layar ponsel beralih ke Marcel yang duduk di hadapannya.


"Apa?" tanya Lionel singkat membuat Marcel bingung.


"Maksudnya?" tanya ulang Marcel yang belum paham apa yang di maksud Lionel. Lionel menghembuskan nafasnya kasar.


"Kalau menang" lanjut Lionel. Marcel yang paham maksud Lionel pun hanya mengangguk.


"Motor" balas Marcel singkat. Lionel hanya mengangguk.


"Terima nggak?" tanya Marcel.


"Nggak minat," balas Lionel acuh.


Ting...


Suara notifikasi berasal dari ponsel Lionel membuat sang empu nya langsung membuka notif tersebut.


Gilang:


Gue tantang lo untuk balapan nanti malam, kalau lo nolak tantangan gue ini, itu tandanya lo pengecut.


Pesan tersebut sontak membuat Lionel kesal. Sorot matanya menajam, tangan nya terkepal dengan kuat. Lionel sangat tidak suka kalau dirinya di remehkan begitu saja dengan orang lain. Kalau sudah seperti ini maka dengan terpaksa Lionel akan menerima tantangan itu.


"Gue terima tantangan itu. Nanti malem kumpul di tempat balap, seperti biasa." ucap Lionel membuat semua yang berada di sana menoleh ke arah Lionel. Pancaran mata Lionel terlihat seperti sedang menahan emosi. Mereka hanya membalas perkataan Lionel dengan sekali anggukan.


Setelah mengucapkan kata itu Lionel segera bangkit dari tempatnya duduk dan pergi dari warung tersebut untuk pulang. Sebenarnya Lionel sangat malas untuk pulang ke rumah saat ini, tapi entah kenapa ia merasa sangat capek sekali dan memutuskan untuk pulang saja dan beristirahat.


Lionel melakukan motornya meninggalkan warung neng Ayla dan jalan membelah perjalanan ibu kota yang sudah mulai padat karena hari semakin sore dan langit sudah mulai gelap.


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Lionel sudah sampai di rumah nya yang dari luar terlihat sunyi itu. Dia memarkirkan motornya di garasi rumahnya yang terbilang cukup luas itu.


"Den Onel, tadi ada telpon dari tuan," ucap bibi membuat Lionel membalikkan badannya.


"Kenapa?" tanya Lionel.


"Tadi tuan ngasih kabar, katanya dia malam ini mau pergi ke Surabaya buat ngurusin perusahaan nya yang ada di sana. Katanya kemungkinan sampai empat hari, den," jelas bibi tersebut membuat Lionel menghembuskan nafasnya kasar.


"Makasih, bi." ucap Lionel yang di balas anggukan kepala dari bibi nya tersebut.


Lionel melanjutkan langkah nya kembali yang tadi sempat tertunda menaiki anak tangga menuju kamar nya.


Sesampainya di kamar, Lionel langsung melempar tas nya sembarang arah dan langsung menghempaskan tubuhnya begitu saja ke kasur.


Lionel mengambil bingkai foto yang berada di nakas kamarnya. Memandangi bingkai tersebut dengan tatapan yang sulit di artikan.


Tes..


Tak terasa setetes cairan bening lolos begitu saja dari sudut mata Lionel. Lionel mengusap bingkai foto tersebut menggunakan jemari nya.


"Onel kangen mamah" Lionel mengucapkan kata tersebut dengan lirih.


Bingkai tersebut memperlihatkan seorang wanita paruh baya yang sedang tersenyum manis ke arah kamera, di sebuah taman. Sekilas bayangan-bayangan masa lalu Lionel kembali berputar di otaknya bagaikan kaset rusak.


Lionel memeluk bingkai tersebut. Lionel mencoba memejamkan matanya sembari mengingat kenangan-kenangan masa lalu nya bersama orang yang sangat dia sayang hingga membuat nya terlelap dengan pakaian yang masih menggunakan seragam sekolah.


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Malam ini Lionel sudah berada di area balapan. Ia akan menjalani tantangan dari musuh bebuyutan nya, Gilang. Tadi siang Gilang mengancam dan meremehkan Lionel untuk balapan, dan Lionel menerima tantangan dari Gilang.


Kini di area balapan tersebut sudah ramai. Teman-teman Lionel serta para pendukung juga sudah datang berkumpul semua untuk menyaksikan balapan tersebut.


Di lawan arah tempat Lionel dan teman-teman nya berada, terlihat Gilang dan teman-teman nya yang menatap Lionel. Gilang menatap Lionel dengan senyum miring nya seperti menantang.


Lionel menatap sinis ke arah Gilang dengan mata elang nya tersebut. Gilang sudah membuatnya marah tadi, dia dengan seenaknya sudah meremehkan Lionel dan Lionel tidak terima itu.


Balap antara Lionel dan Gilang akan segera di mulai. Kini kedua remaja tersebut sudah siap di atas motor mereka masing-masing menuju garis start.


Lionel menatap tajam Gilang di balik helm full face nya. Begitupun dengan Gilang yang juga menatap Lionel tajam.


'Kita liat kali ini siapa yang akan menang' batin Gilang.


Di depan sana ada seorang wanita yang berpakaian sedikit ketat sedang melambaikan kain ke udara, pada hitungan ketiga wanita itu menjatuhkan kain yang ia pegang, sontak membuat Lionel dan Gilang langsung melajukan motor mereka masing-masing dengan kecepatan yang sangat tinggi.


Keduanya terlihat seperti pembalap motor yang sangat ahli. Lionel membelokkan motornya tepat saat di belokkan begitu juga yang di lakukan dengan Gilang. Gilang menyalip Lionel dari samping yang membuat Lionel berada di belakang Gilang saat ini.


Tapi tidak sampai situ, Lionel kembali menyalip Gilang saat keduanya sudah dekat dengan garis finish.


Suara riuh dari penonton dan pendukung dari Lionel dan Gilang suda mulai terdengar. Lionel menambah kecepatan jalan motornya meninggalkan Gilang yang tertinggal cukup jauh di belakang nya.


Suara riuh tepuk tangan terdengar saat Lionel berhasil mencapai garis finish sebelum Gilang, yang berarti pemenang dari balapan kali ini adalah Lionel.


Lionel menghampiri teman-teman nya yang berada di barisan para penonton. Mereka bertos ria bersama.


"Gila gue dari tadu udah yakin banget kalau lo pasti menang, dan sekarang terbukti kalau lo menang." ucap Adly bangga.


"Kali ini lo boleh menang, tapi jangan seneng dulu, kita liat nanti" suara tersebut berasal dari arah belakang Lionel yang menampakkan Gilang di sana.


"Sekarang terbukti kan, siapa pengecut yang sesungguhnya." balas Lionel dengan nada sinis.


"Tadi siang lo ngancem gue dengan meremehkan gue sebagai seorang pengecut, tapi pada kenyataannya lo adalah pengecut yang sesungguhnya" ucap Lionel mengejek Gilang membuat Gilang terpancing emosi.


Gilang melemparkan kunci motor nya kasar ke arah Lionel dan langsung di tangkap oleh Lionel. "Sesuai perjanjian" kata Gilang.


"Gue terima ini" kata Lionel memegang kunci motor yang di berikan Gilang tadi. "dan satu lagi, jangan pernah meremehkan orang lain kalau diri lo sendiri aja masih banyak kekurangan" lanjut Lionel menekan setiap kata yang di ucapkan nya.


"Mending lo sadar diri dulu sebelum meremehkan orang lain" setelah mengucapkan kata itu Lionel langsung pergi meninggalkan area balapan. Kunci motor Gilang ia lempar ke arah Afwan meminta agar Afwan membawa motor itu yang langsung di turuti Afwan.


Lionel menaiki motornya meninggalkan Gilang yang kini wajahnya sudah terpancar emosi.


"Mending lo gak usah banyak gaya buat berurusan sama Lionel. Karena pada akhirnya, nanti lo sendiri juga yang akan kalah dari dia." ucap Aden menatap sinis Gilang dan menepuk bahunya sebelum pergi meninggalkan area balap yang di ikuti teman-teman Lionel yang lain.


Ucapan Aden barusan membuat Gilang semakin tersulut emosi. Dia tidak terima kalau lagi-lagi Lionel menang dari balapan ini dan dia harus menerima kekalahan yang kesekian kalinya dari Lionel. Dia bersumpah akan balas dendam dengan Lionel suatu saat.


'Kita liat nanti pmbalasan dari gue.' batin Gilang menyeringai.


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Bersambung...