
...“Saya hanya bersikap sopan dengan orang yang juga bisa menghargai saya, tidak seperti anda yang sama sekali tidak pernah menganggap saya ada.” ...
...—Lionel Adriano Siregar ...
...HAPPY READING❤️...
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Malam ini, sekumpulan remaja itu menghabiskan waktu mereka di sebuah tempat balap motor, mereka akan bertanding dengan salah satu musuh bebuyutan mereka, Gilang. Cowok itu kembali menantang Lionel CS untuk bertanding malam ini, Gilang memang tipe orang yang sama sekali tidak terima dengan kata kekalahan, apapun yang di lakukan nya harus membuahkan hasil.
Suara deruman motor yang memeking di telinga terdengar, begitu juga suara sahutan demi sahutan yang di lontarkan dari para pendukung mereka.
Mereka mulai memacu motornya dengan kecepatan di atas rata-rata saat seorang wanita berpakaian sexi itu menjatuhkan kain yang berada di genggamannya. Motor yang di kendarakan Lionel berada di paling depan, sedangkan motor yang di kendarai Gilang berada di belakang Lionel dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Teman-teman Lionel dan Gilang yang lainpun memacu motor mereka tidak kalah cepat.
Tanpa mereka semua sadari, setelah ini akan ada kejadian yang tidak sama sekali mereka duga. Senyum licik terbit di bibir yang tertutup helm full face.
Garis finish sudah mulai terlihat. Suara sorakan dari para pendukung juga mulai terdengar bersahutan. Lionel memacu motornya dengan kecepatan yang lebih tinggi, begitupun dengan yang lainnya termasuk Gilang.
Yeah, Lionel mampu melewati garis itu pertama. Tetapi Lionel merasa ada yang salah. Lionel tidak bisa memberhentikan motornya.
Sedangkan temannya yang lain memandang ke arah Lionel bingung dengan alis mengernyit. Mereka saling tatap satu sama lain tanpa beranjak turun dari motor masing-masing.
"Eh, si Lionel kenapa?"
"Perasaan gue nggak enak, mending kita ikutin aja, ayok"
Mereka semua akhirnya kembali menjalankan motornya dan mengikuti kemana arah Lionel tadi.
Sedangkan di sisi lain, Gilang sedang tersenyum miring menatap kepergian teman-teman Lionel tadi.
...***...
Lionel melajukan motornya ugal-ugalan. Rem motornya blong. Dengan kecepatan yang di atas rata-rata, Lionel menjalankan motornya berusaha mengatur keseimbangan nya.
Bruk
Lionel sengaja menabrakkan motornya dengan pohon yang ada di pinggir jalan, karena tidak ada cara lain lagi untuk memberhentikan nya. Lionel jatuh dan merasakan sakit di bagian lengan kanannya, begitu juga dengan kaki nya. Kepalanya terasa pusing, tapi Lionel mampu menahan segala rasa sakitnya itu.
"Nel, lo nggak pa-pa?" terdengar suara teman-teman nya yang datang tergesa menghampiri Lionel. Mereka membantu Lionel untuk bangkit, begitupun dengan motor Lionel.
Maulana segera menghubungi petugas bengkel langganan mereka untuk membawa motor Lionel yang terdapat kerusakan di bagian depan akibat menabrak pohon tadi.
"Kok bisa kaya gini, sih?" tanya Fajar heran.
"Blong" jawab Lionel datar sembari menahan rasa pening yang datang menghampiri nya.
"Kok bisa? Perasaan tadi baik-baik aja, sebelum balap?," bingung Adly juga.
"Gue rasa ada yang sengaja bikin rem motor Lionel blong,"
"Gilang maksud lo?" tanya Putra.
"Bisa jadi, gue rasa dia bales dendam karena nggak terima atas kekalahan yang dia alami." jawab Aldi.
"Pengecut" gumam Lionel pelan. Tangannya terkepal kuat. Rahang nya mengeras sampai terdengar gemeletuk giginya. Pancaran matanya semakin menajam begitupun dengan wajahnya yang memerah akibat menahan emosi.
"Banci banget sih, tuh si Gilang"
"Ini udah nggak bisa di biarin lagi, Nel. Kita harus buat perhitungan sama tuh bocah" sambar Marcel
"Jangan terlalu cepat ambil tindakan, lagian kita belum punya bukti yang kuat kalau Gilang yang ngelakuin ini" ucap Aldi.
"Iya juga sih," balas Aden mengangguk.
"Tapi gue yakin banget seribu persen, kalau Gilang pelakunya." sambar Aden lagi tiba-tiba membuat semua terkejut atas ucapan Aden yang sedikit.....ngegas.
"Santai,****" ucap Putra sembari menempeleng pala Aden.
Lionel perlahan menarik sebelah sudut bibirnya, menghasilkan senyum miring yang membuat Lionel terlihat begitu menyeramkan. Di kira setan kali..
"Ini biar jadi urusan gue, gue yang akan cari tau semuanya."
...***...
Kaki Lionel berjalan gontai memasuki rumah nya. Begitu membuka pintu, matanya sempat melirik ke arah sofa ruang tamu. Di sana terdapat papahnya yang sedang duduk dan menatap tajam ke arahnya.
Masa bodo dengan kehadiran papahnya tersebut, Lionel tetap melanjutkan langkah nya ke arah tangga untuk menuju kamarnya.
"Anak nggak tau sopan santun, nggak tau diri." suara bariton itu berasal dari papahnya yang masih duduk anteng di sofa ruang tamu.
Lionel menghentikan langkahnya. Menunggu ucapan selanjutnya yang mungkin akan di lontarkan kembali dari mulut papahnya.
"Dari mana saja kamu, jam segini baru pulang, pasti abis nongkrong sama teman-teman kamu yang bera--"
"Dari manapun saya, itu bukan urusan anda. Dan, jangan pernah menjelek-jelekkan teman-teman saya" ucap Lionel memotong perkataan papahnya tadi.
"Dasar anak tidak tau sopan santun, seenaknya saja kamu memotong ucapan saya" ujar Devano---papah Lionel, matanya kini menatap Lionel marah.
"Saya hanya bersikap sopan dengan orang yang juga bisa menghargai saya, tidak seperti anda yang sama sekali tidak pernah menganggap saya ada." ucap Lionel cepat. Badannya kini sudah berbalik menghadap Devano.
"Saya tidak pernah mengajarkan kamu berkata tidak sopan dengan orang yang lebih tua" tunjuk Devano murka.
Lionel terkekeh meremehkan ucapan Devano.
"Bahkan anda tidak pernah ada waktu untuk saya, bagaimana mungkin anda mengajarkan saya seperti yang anda bilang tadi. Anda terlalu sibuk dengan pekerjaan dan anak kesayangan anda itu, yang sangat anda banggakan. Bahkan mungkin anda sama sekali tidak menganggap saya anak, karena yang selalu anda banggakan hanya dia" ucap Lionel membalas dengan tenang, tetapi mampu membuat amarah Devano memuncak.
"Jelas, untuk apa saya membanggakan anak seperti kamu, yang sama sekali tidak mempunyai prestasi, hanya bisa mencari masalah. Tidak seperti kakak kamu yang mempunyai banyak prestasi. Jadi wajar saja kalau saya lebih membanggakan dia di banding kamu." ucap Devano yang mampu membuat Lionel seperti tertusuk beribu belati di hatinya. Kata yang di ucapkan Devano tadi begitu menohok hatinya.
Kakak? Bahkan Lionel sama sekali tidak pernah menganggap dia kakaknya. Dan, Lionel sama sekali tidak suka di beda-bedakan seperti itu, apalagi dengan orang yang sudah berhasil merebut kebahagiaan nya.
Tangan Lionel terkepal kuat. Kalau saja lelaki yang di hadapannya kini bukan papah nya, Lionel mungkin sudah menghajar lelaki itu dengan memberikan bogeman mentah di wajahnya.
Malas berdebat, Lionel lebih memilih membalikkan badannya dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda, menuju kamarnya berada.
"Anak tidak tau di untung" gumam Devano pelan sembari menatap kepergian Lionel barusan.
...***...
Lionel menjatuhkan tubuhnya pada kasus king size nya, setelah menutup pintu kamarnya.
Fikiran Lionel terus terngiang dengan ucapan yang di lontarkan Devano tadi.
"Nggak tau diri"
"Untuk apa saya membanggakan anak seperti kamu, yang sama sekali tidak mempunyai prestasi, hanya bisa mencari masalah."
"Anak tidak tau di untung"
Kata-kata itu terus terngiang di benak Lionel. Lionel mengacak rambutnya frustrasi sembari mengerang tertahan.
Tatapannya kini beralih pada bingkai yang berada di nakas samping tempat tidurnya. Tersenyum tipis ketika melihat foto yang terpajang pada bingkai tersebut. Tangannya perlahan mengelus bingkai foto tersebut. Hingga tanpa sadar, setetes air matanya terjatuh bebas membasahi pipinya. Lionel segera menghapus air matanya yang terjatuh tadi, dan memilih bangkit menuju kamar mandi.
Lionel keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang acak-acakan dan juga celana pendek selutut tanpa menggunakan atasan. Lionel shirtles.
Lionel kembali menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan lebih memilih memejamkan matanya. Sebenarnya tangannya masih terasa ngilu kini, akibat kecelakaan kecil tadi. Tapi bukan Lionel namanya jika luka kecil seperti itu saja sudah mengeluh.
Lionel memejamkan matanya hingga mulai terlelap dan sudah menuju alam mimpi.
...—L.I.O.N.E.L.🦁—...
Bersambung...
*Hai guys, nggak kerasa udah bab 10 yaa
Gimana sejauh ini ceritanya? Seru nggak?
Aku berharap banget kalau kalian suka sama cerita aku ini :(
Semoga suka yaaaaaa
Jangan lupa dukung aku juga ya, untuk lanjut cerita Lionel ini, supaya cepet end :)
Thank you all <3*