Lionel

Lionel
Lionel 1



...“Kami nakal, bukan berarti kami lelaki pengecut.”...


...— Lionel Adriano Siregar...


...HAPPY READING❤️...


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Seorang lelaki yang memiliki mata elang dan di segani banyak orang itu kini terlihat masih memejamkan matanya di atas kasur empuk yang membuat nya enggan untuk membuka mata. Wajahnya yang biasa berekspresi datar kini terlihat sangat menenangkan, sepertinya ia sangat terlelap sekali.


Sebuah cahaya yang menembus melalui celah-celah jendela yang berada di kamar nya berhasil membuat lelaki itu menggeliat di bawah selimut nya. Ia menarik selimut nya sampai menutupi wajah nya.


Kring...


Suara alarm berbunyi berasal dari nakas yang berada di samping kasur nya. Dengan mata yang masih setia terpejam dan sembari berdecak kesal, lelaki itu mematikan alaram nya dengan kasar. Setelah suara alaram tadi sudah tidak lagi terdengar, ia melanjutkan tidur nya yang tadi sempat terganggu.


Cklek


Pintu kamar di buka perlahan dengan wanita paruh bawa yang di bahu nya tersampir kain lap.


"Den" panggil wanita paruh baya itu sembari mengguncang bahu lelaki itu perlahan.


"Hmmm" gumam lelaki itu bergeliat dengan mata yang masih setia terpejam.


"Den bangun, udah jam tujuh loh, memang aden tidak sekolah." ucap wanita paruh baya itu yang masih berusaha membangunkan lelaki tersebut yang justru malah membalikkan badannya membelakangi wanita paruh baya tadi.


"Den bangun dong"


"Hmm, 5 menit" gumam lelaki tadi masih memejamkan matanya.


"Yaudah bibi tinggal dulu ke bawah, aden bangun, mandi, siap-siap buat sekolah, nanti kalau sudah sarapan, bibi udah buatin sarapan buat aden di bawah" ujar wanita paruh baya tadi yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah itu.


"Hmm" jawab lelaki itu hanya dengan gumaman.


Asisten rumah tangga tadi keluar dari kamar itu lalu kembali untuk menuju dapur.


Sedangkan lelaki tadi malah melanjutkan perjalanan di dalam dunia mimpi nya kembali.


"AARRGH..." teriak lelaki tadi sambil mengacak rambut nya gusar dan merubah posisi nya menjadi duduk.


Ia kesal karena tidur nyenyak nya harus ia akhiri untuk saat ini. Ia melirik jam yang berada di atas nakas, jam sudah menunjukkan pukul 07.04 yang artinya bel masuk sekolah nya sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu. Tetapi bukannya panik lelaki itu justru terlihat sangat santai, menurut nya terlambat adalah hal yang biasa bagi nya bahkan biasanya dia sering kali membolos jam pelajaran.


Lelaki itu adalah Lionel Adriano Siregar. Cowok yang memiliki paras tampan yang membuat nya terkenal sebagai most wanted di sekolahnya. Cowok yang mempunyai mata elang dan tatapan yang sangat tajam, membuat siapapun pasti bakalan menciut saat sudah di tatapnya. Cowok yang sifatnya sangat cuek, tertutup, dan dingin itu mampu membuat orang lain enggan dengannya.


Lionel bangun dari duduk nya dan berjalan menuju kamar mandi yang terdapat di dalam kamar nya itu.


Setelah beberapa menit berada di kamar mandi untuk membersihkan badan, Lionel kembali keluar dengan seragam sekolah yang sudah melekat di tubuh tegap nya. Seperti biasa seragam yang di gunakan nya selalu tidak rapih, baju yang tidak di masukkan, lengan baju yang di gulung, celana yang bolong di lutut karena terkena sundut rokok, kancing baju bagian atas yang sengaja di buka dua, serta rambut basah yang di biarkan acak-acakan begitu saja membuat kesan bad dalam diri Lionel semakin terlihat.


Lionel menyambar tas nya dan keluar kamar menuju lantai bawah, lebih tepatnya ruang makan untuk sekedar sarapan saja.


Sesampainya di ruang makan, Lionel langsung mendudukkan diri nya di salah satu kursi yang berada di sana. Lionel melahap makanan yang sudah di buat dengan bibi nya tadi dengan lahap.


"Udah jam segini, emang aden gak takut di hukum kalau ketahuan telat." tanya bibi yang muncul dari arah dapur menghampiri Lionel.


"Itu udah biasa" jawab Lionel santai yang masih melahap sarapannya. Bibi nya hanya menggelengkan kepalanya melihat kesantaian Lionel itu, dia sudah biasa menghadapi sikap Lionel yang sangat santai kalau terlambat ke sekolah.


Lionel meneguk habis susu yang sudah di buatkan bibinya setelah sarapannya tadi habis tak tersisa.


"Lionel berangkat, bi." pamit Lionel dan langsung bergegas keluar dan menjalankan motornya menuju sekolah.


"Hati-hati, den." teriak bibi saat Lionel sudah sampai pintu.


Lionel menyalakan terlebih dahulu motornya dan setelah itu ia langsung bergegas meninggalkan komplek perumahan nya menuju sekolah.


Setelah kurang lebih 15 menit Lionel menempuh perjalanan, kini ia sudah sampai di depan gerbang sekolah yang sudah tertutup rapat.


Tin tin...


Lionel menyalakan klakson nya meminta agar satpam segera membuka pagar nya. Satpam akhirnya keluar dan membukakan gerbang untuk Lionel masuk, tapi tidak lama setelah Lionel masuk dan memarkirkan motornya di tempat biasa ia memarkirkan motornya itu sebuah suara teriakan yang sangat melengking itu kembali menyambut Lionel membuat Lionel menghembuskan nafasnya kasar dengan sorot mata yang masih seperti biasa, tajam.


"LIONEL ADRIANO SIREGAR KAMU TERLAMBAT LAGI, HAH?!" teriakan menggelar itu berasal dari Bu Widia yang tak lain adalah guru BK yang sangat di kenal dengan sifat killer nya itu membuat siswa siswi SMA Dirgantara sangat takut padanya, kecuali Lionel.


Lionel hanya memandang malas ke arah guru BK tersebut yang sekarang sedang berjalan menuju ke arah nya. Sepertinya Lionel sudah pasrah atas hukuman yang akan di berikan Bu Widia padanya.


"Kamu itu ya setiap hari kerjaannya kalau nggak bikin onar pasti telat, kamu gak capek apa setiap hari di hukum terus. Apa hukuman yang kamu terima selama ini masih kurang untuk membuat kamu tobat, capek ibu kalau kamu terus kaya gini, Lionel." oceh Bu Widia panjang kali lebar kali tinggi membuat Lionel lagi-lagi menghembuskan nafasnya secara kasar. Menurut Lionel ini terlalu bertele-tele, ia tidak suka. Kalau kata Lionel, kalau memang harus di hukum tinggal hukum aja gak usah harus di ocehin panjang lebar, percuma karena ujung-ujungnya Lionel tidak akan menggubris ocehan tersebut, buang-buang waktu banget—batin Lionel.


"Sekarang cepat kamu berdiri di lapangan dengan posisi hormat ke arah bendera sampai jam istirahat, jangan kamu coba-coba untuk lari dari hukuman yang kali ini" suruh Bu Widia yang di akhiri dengan sebuah ancaman.


Tanpa basa-basi Lionel segera pergi dari hadapan Bu Widia untuk menjalankan hukuman nya tadi, tatapan mata serta ekspresi nya masih sama seperti biasanya yaitu tajam dan datar.


Bu Widia memijat pelipis nya yang terasa pusing sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa sulit sekali ya, untuk menghadapi siswa semacam kulkas berjalan yang satu itu." gumam Bu Widia pelan.


Baru saja akan pergi dari tempat nya berada saat ini untuk kembali ke ruang BK, kedatangan tiga siswa yang menaikki motornya masing-masing membuat Bu Widia menatap tajam ke arah mereka. Mereka turun dari motor masing-masing dan mendapati guru BK  kesayangan mereka sedang menatap mereka dengan garang, sedangkan tiga siswa itu hanya memperlihatkan deretan gigi rapih mereka sembari menatap Bu Widia.


"Kenapa kalian telat lagi, hah?!" tanya Bu Widia garang.


"Anu bu, kesiangan bangun nya" jawab salah satu dari mereka.


"Salah apa saya sampai mendapatkan murid nakal seperti kalian ini" ujar Bu Widia menggeleng heran.


"Yah ibu, seharusnya ibu bersyukur karena mendapatkan murid ganteng kaya kita-kita gini bu. Lagian wajar lah bu kalau kita ini nakal, kan kalau kita nakal ibu jadi punya kerjaan, sedangkan kalau kita nggak nakal ibu pasti bosen karena gak ada kerjaan untuk ngehukum siswa-siswa yang bandel" ujar salah satu siswa tersebut ngawur yang langsung di setujui oleh kedua temannya yang lain.


"Sudah diam, kalian sekarang ke lapangan hormat ke arah bendera sampai jam istirahat bareng teman kalian yang satu lagi itu" suruh Bu Widia sambil menunjuk ke arah lapangan yang di sana terdapat Lionel.


"Oke siyaaap, ibuu" balas mereka bertiga kompak dan langsung lari ke arah lapangan.


"Astagfirullah, kayaknya saya harus banyak-banyak istighfar menghadapi mereka" Bu Widia berucap sembari mengelus dada nya, sabar.


Mau tau siapa tiga siswa tadi?


Mereka adalah Marcel, Adly, dan Martin. Mereka termasuk teman Lionel juga, sifat mereka sama-sama bad hanya saja beda nya kalau Lionel itu orang nya dingin, bahkan biasa di sebut kulkas berjalan dengan teman-teman nya.


"Woy Nel, lo telat juga hari ini?" tanya Adly saat mereka sudah berada di lapangan.


Lionel diam tak bergeming, menurut Lionel ia sangat malas untuk menjawab pertanyaan unfaedah dari temannya itu, lagian udah tau kalau ia sedang di hukum karena telat tapi temannya itu masih saja nanya.


"Yaelah Dly, percuma lo nanya kaya gitu sama manusia kulkas yang satu ini, gak bakalan dia jawab juga kali pertanyaan lo itu." sahut Marcel yang sudah tau kalau Lionel pasti hanya diam.


"Iya iya gue tau kok, lagian kan gue juga cuma nanya doang kali" sela Adly.


"Berisik" ucap Lionel yang sedari tadi diam dengan sarkas dan menatap ketiga temannya tajam membuat mereka langsung bungkam seketika.


'Mampussss' batin mereka bersamaan.


"Singa Dirgantara nanti ngamuk, makanya kita diem aja" bisik Martin yang di angguki Adly dan Marcel.


"Gue denger" ucap Lionel dingin yang memang mendengar apa yang di ucapkan Martin tadi. Sedangkan mereka bertiga langsung kicep seketika.


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Di sini lah Lionel dan ketiga temannya berada, kantin. Mereka lebih memilih lari dari hukuman yang di berikan Bu Widia tadi dan pergi ke kantin, padahal jam istirahat masih sekitar 15 menit lagi. Tapi bukan mereka namanya kalau tidak lari dari hukuman.


Mereka menghabiskan waktu di kantin sambil menunggu waktu istirahat tiba untuk menunggu teman-temannya yang lain kumpul. Terlihat kini Lionel sedang menghisap rokok yang berada di sela-sela jari nya, Adly dan Martin yang sedang ribut memperebutkan gorengan bi Cucu selaku pedagang yang ada di kantin Dirgantara. Sedangkan Marcel, dia sedang asik memainkan ponselnya sedari tadi paling juga lagi membalas pesan dari pacarnya yang ke-102 itu, ketahuilah kalau Marcel ini merupakan teman sekaligus sahabat Lionel yang merupakan playboy.


"Ish elah ini punya gue tau, orang gue duluan yang ngambil juga" ucap Martin sambil merebut gorengan dari tangan Adly.


"Enak aja orang tadi gue duluan yang ngambil, lo minta lagi aja sana sama bi Cucu" ucap Adly juga tak mau kalah dan merebut kembali gorengan yang tersisa satu tadi dari tangan Martin.


"Dih gak mau, lo aja sana yang minta lagian orang ini punya gue juga"


"Ck, berisik banget sih lo berdua kerjaannya ribut mulu" decak Marcel yang merasa terganggu karena Adly dan Martin yang sejak tadi tak henti-henti nya merebutkan gorengan.


"Diem aja lo, mending urusin aja tuh pacar lo yang ke-102 itu" balas Adly membuat Marcel mendelik tak terima.


"Heh ngom—"


"Lo pada ribut, gue tonjokin satu-satu" belum selesai Marcel melanjutkan ucapannya, kata-kata yang di lontarkan Lionel dengan nada yang bisa di bilang menusuk dan dingin itu kembali membuat mereka yang mendengar nya jadi merinding dan kicep seketika.


"Mampussss" kata Adly berucap tanpa suara sambil menatap Martin dan Marcel bergantian.


"HEYYOO EPRIBADEEHH" suara teriakan menggelar itu berasal dari arah pintu masuk kantin. Di sana terdapat Adji, Aldi, Zaki, Aden, Fajar, dan Putra. Dan yang teriak tadi adalah Aden. Mereka berjalan memasuki area kantin bersamaan dan menuju meja pojok yang kini di duduki Lionel dkk. Mereka berenam memang termasuk teman-teman Lionel juga.


"Kalian udah dari tadi di sini. Kenapa kaga ngajak-ngajak kita dulu kalo mau bolos" tanya Aldi yang kini sudah ikut bergabung di ikuti yang lainnya. Keadaan kantin kini sudah mulai ramai karena memang sudah waktunya istirahat.


"Orang tadi kita dateng telat terus di hukum, dari pada kita ngejalanin hukuman mending kita ngadem di sini kan jadi enak" balas Marcel membuat mereka mengangguk.


"Lo diem-diem aja Nel, ngomong napa" ucap Zaki menatap Lionel jahil.


"Yaelah Ki, lo kaya gak tau Lionel aja. Dia kan emang dari dulu juga udah begitu kali, irit ngomong" balas Putra yang di balas lagi dengan gelak tawa dari teman-teman Lionel yang lain. Sedangkan Lionel sudah menatap tajam mereka.


"Udah-udah ntar kalo Lionel ngamuk ****** lu pada" ujar Adji yang sedikit takut melihat tatapan elang Lionel.


"Ini kaga ada yang mau mesenin makanan gitu? Udah laper nih gue. Den, pesenin gue batagor sana" suruh Aldi pada Aden. Aden menunjuk diri nya sendiri sambil menatap Aldi bingung.


"Kok gue?" tanya Aden.


"Iyalah, kan kemaren udah gue yang mesen, sekarang gantian lo." balas Aldi.


Aden menghembuskan nafasnya pasrah dan menarik tangan Fajar untuk ikut dengannya memesankan makanan teman-temannya yang lain.


"Eh eh, apaan lo narik-narik gue seenaknya aja" ujar Fajar tak terima dirinya di tarik begitu saja dengan Aden.


"Lo ikut gue pesen makanan" ucap Aden yang mendapat dengusan dari Fajar, tapi Fajar tetap mengikuti saja, dia sedang malas berdebat. Lagi patah hati soalnya, wkwk.


...—L.I.O.N.E.L.🦁—...


Bersambung...